"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."
Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.
Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Kantin fakultas siang itu terasa begitu panas, bukan hanya karena teriknya matahari Jakarta, tapi karena aura ketegangan yang mulai mengental di meja panjang tempat mereka berkumpul.
Danesha duduk di tengah, seperti biasa, dengan satu lengan merangkul bahu Evangeline dan tangan lainnya sibuk mengacak rambut Pricillia yang duduk di sisi kirinya.
Bagi Danesha, ini adalah pemandangan sempurna, pacar cantik di kanan, sahabat sejati di kiri.
Namun, geng teman-teman populer Evangeline yang duduk di seberang mereka mulai melempar tatapan sinis. Salah satu teman Evangeline, Sherly, menyesap es kopinya sambil menatap Pricillia dengan tatapan menilai.
"Vang," panggil Sherly, suaranya cukup keras untuk memutus obrolan Danesha. "Lo beneran nggak papa ya mereka nempel kayak prangko gitu? Gue denger-denger sih, hampir semua mantan Danesha, lo tahu sendiri jumlahnya berapa, ujung-ujungnya putus cuma gara-gara satu alasan."
Danesha mengerutkan kening. "Hah? Alasan apa?"
Sherly tersenyum miring. "Gara-gara mereka cemburu sama si sahabat kecil ini. Kabarnya, nggak ada cewek yang bisa menang kalau udah dibandingin sama kedekatan mereka.
Danesha bakal selalu lebih milih Pricillia kalau disuruh milih, kan?"
Pricillia merasa tenggorokannya mendadak kering. Dia ingin menjauhkan diri dari Danesha, tapi tangan Danesha justru semakin erat merangkul bahunya, menganggap itu hanya candaan.
"Ah, itu mah mantan gue aja yang insecure," sahut Danesha santai sambil tertawa.
"Pris mah beda, dia udah kayak bagian dari diri gue sendiri. Ya kan, Pris?"
Evangeline tidak tertawa. Dia melepaskan tangan Danesha dari bahunya dengan gerakan halus namun tegas.
Matanya yang tajam menatap Pricillia, menembus lapisan pertahanan yang coba dibangun gadis Hutapea itu.
"Danesha," suara Evangeline terdengar tenang, namun ada nada otoritas di sana. "Mungkin mantan-mantan kamu ada benarnya. Nggak ada hubungan yang sehat kalau ada orang ketiga yang terlalu masuk ke ruang privat, meskipun labelnya sahabat."
Evangeline beralih menatap Pricillia secara langsung. "Pricillia, aku tahu kalian sudah kenal sejak kecil. Tapi sekarang Danesha punya aku. Kamu nggak merasa ada yang salah dengan caramu menempel padanya? Atau mungkin... kamu memang sengaja membiarkan mantan-mantannya cemburu supaya kamu tetap jadi yang nomor satu di hidup Danesha?"
Seluruh meja mendadak sunyi. Danesha tertegun, menatap Evangeline dengan bingung. "Vang, kok lo ngomong gitu? Pris nggak pernah..."
"Aku nggak nanya kamu, Danesha," potong Evangeline tajam. "Aku nanya Pricillia. Kamu tahu kan batasannya? Atau kamu butuh aku buat gambarin garis pembatasnya buat kamu?"
Pricillia merasakan jantungnya berdegup menyakitkan. Dia menatap Danesha, berharap pria itu membela dirinya lebih keras, namun Danesha hanya diam, tampak terkejut melihat sisi posesif Evangeline yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Pricillia menarik napas panjang, mencoba menjaga martabatnya di depan semua orang. "Gue cuma mau Danesha bahagia, Vang. Itu aja."
"Kalau gitu," Evangeline tersenyum dingin, "buktiin. Mulai dari berhenti menginap di kamarnya, atau membiarkan dia tidur di paha kamu di depan umum. Bisa?"
Suasana kantin yang tadinya bising mendadak senyap, seolah mesin waktu berhenti berputar. Semua mata tertuju pada meja mereka, menunggu ledakan atau air mata.
Danesha terdiam selama beberapa detik, namun rahangnya mengeras. Dia melepaskan rangkulannya dari bahu Evangeline, gerakan yang membuat gadis populer itu tersentak.
"Vang, cukup," suara Danesha rendah, tidak lagi terdengar santai atau jenaka seperti biasanya. Ada nada peringatan yang dingin di sana.
"Apa yang cukup, Dan? Aku cuma mau memperjelas batasan..."
"Gak ada yang perlu diperjelas," potong Danesha tegas. Dia berdiri, membuat kursi kantin berderit keras di lantai. "Pricillia bukan orang ketiga. Dia orang pertama yang ada di hidup gue sebelum ada siapapun di kampus ini, termasuk lo."
Teman-teman Evangeline saling berpandangan, terkejut melihat Danesha yang biasanya penurut dan ceria berubah menjadi begitu protektif.
Danesha menatap Evangeline dengan tatapan kecewa yang mendalam.
"Lo minta dia berhenti nginep? Lo minta dia menjauh? Vang, lo baru jadi pacar gue kemarin sore. Pricillia itu keluarga gue. Dia yang dengerin semua sampah gue, dia yang ada pas gue jatuh, dan dia yang selalu dukung gue buat dapetin lo."
"Tapi Dan, dia itu cewek! Mana ada sahabat lawan jenis yang sedekat itu kalau nggak ada perasaan apa-apa?" Evangeline mulai terpancing emosi, suaranya naik satu oktav.
Danesha malah terkekeh sinis, lalu dia meraih tangan Pricillia dan menariknya berdiri. "Kalau lo nggak bisa terima Pricillia, berarti lo nggak bisa terima gue. Karena gue dan dia itu satu paket. Gue nggak bakal buang sahabat yang udah ada buat gue selama 20 tahun cuma demi ego pacar yang bahkan belum sebulan."
Pricillia terpaku. Tangannya yang digenggam Danesha terasa dingin sekaligus panas. Di satu sisi, hatinya melambung melihat Danesha membelanya di depan umum.
Namun di sisi lain, dia merasa hancur karena tahu alasan Danesha membelanya adalah karena kasih sayang saudara, bukan cinta yang ia dambakan.
"Ayo, Pris. Kita cabut. Selera makan gue hilang," ajak Danesha tanpa menoleh lagi pada Evangeline yang kini wajahnya merah padam karena malu dan marah.
Danesha menarik Pricillia menjauh dari kantin. Saat mereka sudah di area parkir yang sepi, Danesha tiba-tiba berhenti dan berbalik, menatap Pricillia dengan cemas.
"Lo nggak papa kan, Pris? Maafin Evangeline ya, dia keterlaluan. Gue nggak bakal biarin siapa pun bikin lo ngerasa nggak nyaman, bahkan pacar gue sendiri sekalipun," ucap Danesha sambil mengusap kepala Pricillia dengan lembut.
Pricillia hanya bisa mengangguk lemah. "Makasih, Dan. Tapi... lo nggak takut putus sama dia? Lo kan ngejar dia setengah mati."
Danesha terdiam sejenak, lalu mendesah. "Kalau buat dapetin dia gue harus kehilangan lo, mending gue jomblo seumur hidup, Pris. Lo itu rumah gue. Mana ada orang waras yang mau ngebakar rumahnya sendiri?"
Kalimat itu lo itu rumah gue terasa seperti belati yang dilapisi madu. Manis, tapi tetap saja menusuk tepat di jantung Pricillia.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
masih nyimak 🤣