NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15~Langit yang sama,langkah yang baru

Sore itu, langit Jakarta tampak tenang.

Matahari perlahan turun, meninggalkan warna jingga keemasan di antara awan yang lembut.

Di taman kecil tempat kami dulu menanam janji, suara burung sore terdengar pelan, seolah menyambut kepulangan seseorang yang lama ditunggu.

Dan di bangku kayu yang sama, aku dan Raka duduk berdampingan.

Tidak banyak kata yang terucap.

Kadang, keheningan bisa lebih bercerita daripada ribuan kalimat.

Aku melirik ke arahnya. “Kamu kurusan, ya.”

Dia tertawa kecil. “Efek proyek dan makan seadanya.”

“Padahal dulu aku yang suka lupa makan,” kataku sambil tersenyum kecil.

Dia menatapku. “Sekarang gantian aku yang butuh diingetin.”

Aku pura-pura menghela napas. “Berarti aku harus jadi pengingat profesional.”

Dia nyengir. “Cocok banget. Aku gajinya cinta, kamu kerjanya nyayangin.”

Aku menahan tawa. “Astaga, kamu pulang-pulang gombalnya makin parah.”

“Tanda aku masih hidup,” katanya santai.

Dan untuk pertama kalinya setelah enam bulan, kami tertawa lepas tanpa rasa canggung.

Setelah tawa mereda, Raka bersandar ke bangku. “Ly, kamu tahu nggak? Selama di Surabaya, aku sering banget kepikiran tentang masa depan.”

Aku menoleh. “Maksudnya?”

Dia menatap langit yang mulai berubah warna. “Tentang arah hidup, kerja, dan… tentang kamu.”

Aku diam, membiarkan dia melanjutkan.

“Dulu aku pikir cinta cukup bikin semua hal jadi mudah. Tapi ternyata nggak. Cinta harus tumbuh bareng waktu, bareng pengertian, bareng mimpi.”

Aku tersenyum kecil. “Dan kamu belajar itu di sana?”

Dia mengangguk. “Iya. Aku sadar, cinta bukan cuma tentang saling suka, tapi saling dorong biar jadi versi terbaik dari diri kita sendiri.”

Aku menatap wajahnya lama — wajah yang kini terlihat sedikit lebih dewasa dari terakhir kali kulihat. “Kalau gitu, kita udah lulus ujian jarak, ya?”

Dia tertawa kecil. “Kayaknya belum. Tapi kita udah naik tingkat.”

Aku ikut tertawa. “Naik tingkat jadi apa, Pak Raka?”

Dia menatapku, senyumnya lembut. “Naik tingkat jadi dua orang yang tahu cara tetap bersama, meski dunia berubah.”

Kami berjalan berdua mengelilingi taman.

Bunga matahari di sisi barat mulai menunduk perlahan karena senja, tapi warnanya tetap hangat.

Raka berhenti di dekat papan taman bertuliskan “Taman Alya”. Papan itu masih berdiri kokoh, catnya sedikit pudar, tapi indah.

“Lihat ini,” katanya sambil menepuk papan itu pelan. “Dulu aku buat ini waktu masih bingung arah hidup. Tapi sekarang, setiap kali aku liat tulisan ini, aku tahu kenapa aku mulai.”

Aku menatap tulisan itu juga. “Dan aku tahu kenapa aku nunggu.”

Dia menatapku. “Kamu nggak capek?”

Aku menggeleng pelan. “Aku capek kalau berhenti. Tapi selama kamu tetap berjuang, aku tetap di sini.”

Raka terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Terima kasih, Ly.”

Aku menatapnya heran. “Untuk apa?”

“Untuk nggak pernah nyerah, bahkan pas aku jauh. Untuk selalu percaya.”

Aku tersenyum lembut. “Kita sama, Rak. Aku juga harusnya yang berterima kasih. Karena kamu nggak pernah janji yang muluk-muluk, tapi kamu selalu nepatin hal-hal kecil.”

Dia tertawa kecil. “Hal kecil?”

Aku mengangguk. “Kayak ngucapin selamat pagi. Kayak kirim pesan kalau hujan. Kayak bilang ‘aku pulang’.”

Raka menatapku lama, lalu berkata dengan nada pelan tapi yakin, “Kalau suatu hari nanti aku bilang ‘aku pulang’, itu bukan cuma berarti aku balik ke kota ini, tapi aku balik ke kamu.”

Aku menatapnya — mata kami bertemu, dan di antara pandangan itu, ada banyak hal yang tidak perlu dijelaskan.

Kepercayaan. Kenangan. Dan cinta yang tumbuh bersama waktu.

Malam mulai turun perlahan. Lampu-lampu taman menyala, membuat suasana terasa hangat dan tenang.

Kami duduk kembali di bangku yang sama, memandangi bintang pertama yang muncul di langit.

“Rak,” kataku pelan. “Kamu masih ingat nggak, dulu kita cuma anak SMA yang dijodohin tanpa tahu apa-apa?”

Dia tertawa kecil. “Ingat banget. Aku bahkan sempat nyangka Mama kamu bercanda waktu bilang kamu calon tunanganku.”

Aku ikut tertawa. “Dan lihat sekarang, dua orang yang dulu bingung itu malah tumbuh bareng.”

Dia menatapku lembut. “Mungkin memang benar, ya. Kadang jodoh bukan tentang siapa yang kita pilih, tapi siapa yang tetap tinggal bahkan setelah waktu mengubah segalanya.”

Aku menunduk, menatap gelang hijau yang masih melingkar di pergelangan tanganku. Warnanya memang sudah agak pudar, tapi setiap kali kulihat, aku selalu teringat pada satu hal: awal dari semua ini.

Aku tersenyum kecil. “Dan ternyata, dari perjodohan yang aneh itu, aku dapat seseorang yang luar biasa.”

Dia menatapku penuh arti. “Kalau gitu, aku juga beruntung. Karena dari ‘rencana orang tua’, aku nemuin rumah buat hati aku.”

Kami saling tersenyum.

Tidak ada yang lebih indah dari momen ketika dua hati yang pernah berjuang akhirnya bisa bernapas lega di bawah langit yang sama.

Beberapa hari setelah itu, kami mulai menjalani hari-hari seperti biasa lagi — tapi dengan hati yang lebih tenang.

Raka mulai bekerja di Jakarta sebagai asisten arsitek tetap, sementara aku melanjutkan penelitian untuk skripsiku.

Kami tidak selalu bisa bertemu setiap hari, tapi setiap pertemuan terasa berarti.

Suatu sore, setelah aku selesai kuliah, dia menjemputku di depan kampus.

Kami berjalan santai di trotoar yang penuh pepohonan, dan tiba-tiba, dia berkata, “Ly, aku punya satu impian baru.”

Aku menatapnya penasaran. “Apa?”

Dia tersenyum kecil. “Aku pengen bikin taman yang namanya bukan cuma dari kamu, tapi tentang kita. Taman yang nyeritain perjalanan dua orang yang tumbuh bareng dari SMA sampai sekarang.”

Aku tertawa pelan. “Taman cinta SMA edisi dewasa?”

Dia ikut tertawa. “Kurang lebih. Tapi nanti aku mau kasih satu kursi di tengahnya. Buat siapa pun yang duduk di situ, biar mereka percaya — cinta yang tumbuh dengan sabar nggak pernah salah arah.”

Aku menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kamu tahu nggak, Rak? Aku nggak sabar lihat taman itu jadi nyata.”

Dia menatap balik. “Dan aku nggak sabar buat bangunnya, bareng kamu.”

Malam itu, aku pulang dengan hati yang penuh.

Aku menatap langit dari jendela kamarku, langit yang sama yang pernah kulihat waktu Raka jauh di kota lain.

Sekarang dia di sini.

Sekarang kami di bawah langit yang sama — tapi dengan langkah yang baru.

Dan aku tahu, ini bukan akhir dari cerita kami.

Ini hanya awal dari bab baru — bab tentang dua hati yang akhirnya berjalan di jalan yang sama, tumbuh bersama, percaya bersama, dan mencintai dengan cara yang sederhana tapi sejati.

✨ Bersambung ke Bab 16

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!