‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembah kematian 7 : Air Yin Murni
Kegelapan di dasar Jurang Hitam Lembah Kematian bukanlah sekadar absennya cahaya. Ini adalah kegelapan yang pekat, basah, dan membekap layaknya rahim iblis yang menolak kelahiran. Kabut beracun setebal lumpur menggantung di udara, memblokir sinar sekecil apa pun dari langit merah di atas sana.
Di dasar jurang yang berbatu tajam itu, terbaring sesosok tubuh yang hancur.
Sebuah pedang giok pusaka yang memancarkan pendar cahaya ungu lemah menancap dalam, menembus dari dada kiri hingga menembus tulang belikat di punggungnya. Darah yang menggenang di bawahnya berwarna campuran antara merah gelap manusia dan kehitaman.
Keheningan mutlak berkuasa selama beberapa menit, sebelum sebuah suara memecahnya.
"AARRRGHHHHH!"
Lu Daimeng tersentak bangun. Matanya terbelalak lebar, memuntahkan segumpal darah beku dari tenggorokannya. Rasa sakit yang melumpuhkan akal sehat meledak di setiap inci jaringan sarafnya. Jantung kirinya—jantung manusianya—telah terkoyak habis oleh ketajaman Manifestasi Roh Lu Zhuxin.
Tangan kanannya yang gemetar bergerak secara naluriah menuju gagang pedang giok di dadanya. Namun, beberapa milimeter sebelum jari-jarinya menyentuh gagang itu, rasionalitasnya yang sedingin es mengambil alih insting biologisnya.
"Jangan dicabut," perintah otaknya dengan kejam. "Bilah pedang ini sekarang bertindak sebagai sumbat untuk pembuluh darah arteri utama. Mencabutnya sebelum mencapai sumber air yin penyembuh sama dengan mati kehabisan darah dalam sepuluh langkah."
Lu Daimeng menurunkan tangannya. Dia menggertakkan giginya hingga mengeluarkan suara gemeretak yang ngilu. Dengan sisa tenaga yang dipompa secara brutal oleh Jantung Naga di dada kanannya, dia memaksa tubuhnya yang setinggi 2,3 meter itu untuk bangkit.
Dia berdiri terhuyung-huyung. Pedang giok panjang itu menonjol di dada dan punggungnya, membuatnya tampak seperti boneka kutukan raksasa yang dibuang dewa.
Namun, di balik wajah yang pucat pasi dan penuh keringat dingin itu, senyum miring perlahan terbentuk di bibir Lu Daimeng.
Sebuah senyum kemenangan yang gila, kelam, dan sunyi.
Bagi Lu Huang, Qin Chen, Lei Zuan, dan para tetua yang tersisa di atas sana, apa yang terjadi barusan adalah sebuah tragedi tak terduga, sebuah kebetulan di mana sang jenius pembunuh berhasil disergap di titik terlemahnya.
Tapi bagi Lu Daimeng?
Tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatu yang terjadi dalam satu jam terakhir adalah naskah yang dia tulis sendiri.
Lu Daimeng menyeret kakinya yang berat melintasi tanah berbatu dasar jurang, melangkah menuju sebuah gua tersembunyi yang telah dia lihat sebelumnya menggunakan mata Tripel Pupil miliknya.
Pikirannya berputar, meninjau kembali mahakarya dari strategi-nya.
Pertama, saat Lu Daimeng memakan batu spiritual dia melihat Kolam yang berisi Air mata yin kuno. Menggunakan mata Triple Pupil, pengelihatannya menembus bawah Jurang Hitam dan menemukan anomali energi ekstrem di dasarnya.
Sebuah kolam yang berisi Air Mata Yin Kuno (Ancient Yin Pure Water)—esensi cair dari energi Yin murni yang membutuhkan waktu ratusan ribu tahun untuk terbentuk. Satu tetes air itu sebanding dengan seratus Buah Darah Bodhi.
Kedua dia sengaja memancing emosi dari Lu Huang untuk bertarung dengannya.
Ketiga Dia tahu Lu Zhuxin sedang mengintai. Dia tahu kakaknya itu menunggu momen di mana dia kelelahan setelah beradu tinju dengan Lu Huang.
Keempat dia sengaja mengarakan tusukan Lu Zhuxin ke jantung manusianya.
Lalu, mengapa Lu Daimeng, seorang jenius taktis, membiarkan dirinya ditusuk?
Alasannya sederhana, brutal, dan sangat rasional.
Hukum yang dianut Lu Daimeng adalah hukum Keserakahan Absolut. Lu Daimeng tidak ingin berbagi setetes pun air Yin itu dengan siapa pun.
Dan dengan mengorbankan bidak kecil (jantung manusia yang memang sudah sekarat), dia mencapai skakmat: Dia berhasil melukai Lu Zhuxin, mengusir Keluarga Lu, Qin, dan Lei dari lembah karena mereka mengira dia telah mati, dan kini dia menguasai seluruh harta karun di dasar jurang sendirian.
"Orang-orang bodoh itu..," bisik Lu Daimeng, batuk darah menodai dagunya. "...langsung pergi setelah mereka pikir, mustahil melanjutkan perjalanan dengan sedikit orang."
Langkah kakinya yang berat akhirnya membawa Lu Daimeng masuk ke dalam gua basal yang memancarkan pendar cahaya biru pucat. Suhu udara di dalam gua ini turun drastis, hingga napas Lu Daimeng langsung membeku menjadi kristal es di udara.
Di tengah gua tersebut, terdapat sebuah cekungan batu alami berdiameter lima meter. Di dalamnya, tergenang cairan yang lebih pekat dari raksa, memancarkan aura dingin yang sangat kuno.
Air Mata Yin Murni.
Mata Lu Daimeng berbinar liar. Rencananya berhasil sempurna.
Namun, waktu berpihak pada kematian.
Tanpa jantung manusia yang berfungsi sebagai "penyeimbang" dan "pendingin" biologis, Jantung Naga di dada kanannya kini memompa darah ke seluruh tubuhnya secara tunggal.
DUM! DUM! DUM!
Detak jantung naga itu bergema di dalam gua seperti tabuhan genderang perang yang menggila. Darah naga adalah api murni. Tanpa jantung manusia untuk menetralkannya, suhu tubuh Lu Daimeng melonjak drastis.
Kulit pucatnya mulai berubah menjadi merah menyala. Uap panas mengepul dari pori-porinya. Matanya memerah, pembuluh darah di kepalanya menonjol seolah siap meledak. Dia benar-benar sedang mendidih dari dalam.
Lu Daimeng merobek sisa jubah hitamnya yang hangus, membiarkan tubuh atasnya yang berotot namun berlubang pedang itu terekspos ke udara dingin.
Dia mencengkeram gagang pedang giok Lu Zhuxin dengan tangan kanannya.
"Waktunya... membuang sampah," geramnya.
SREEEK!
Dengan satu tarikan kasar dan brutal, dia mencabut pedang itu dari dadanya.
"ARGHHH!"
Darah menyembur seperti air mancur kecil dari lubang menganga di dadanya. Namun darah itu mendidih dan menguap saat menyentuh lantai gua yang dingin.
Lu Daimeng menatap pedang giok pusaka yang berlumuran darahnya itu. Pedang kelas atas, dibentuk dari Qi dan material giok roh.
Keserakahan Anti-Dao di perutnya meraung lapar.
Lu Daimeng membuka mulutnya, memfokuskan Dark Null ke gigi-giginya hingga menjadi hitam absolut. Dia mendekatkan bilah pedang giok itu ke mulutnya dan... menggigitnya.
KRAK! KRAK! CRUNCH!
Bunyi logam dan giok yang dihancurkan bergema mengerikan. Dia mengunyah pedang pusaka itu seperti memakan es batu, membiarkan energi giok roh dan Dark Null mencerna senjata pembunuhnya menjadi nutrisi mineral murni untuk memperbaiki tulangnya. Dia memakannya hingga tersisa gagangnya saja, lalu membuangnya.
Tapi operasi belum selesai.
Lubang di dada kirinya memperlihatkan sisa-sisa jantung manusianya yang telah hancur. Daging itu mulai menghitam, bukan karena Dark Null, melainkan karena nekrosis (pembusukan jaringan). Jika jaringan busuk ini dibiarkan, infeksi mematikan akan meracuni darah naganya.
Lu Daimeng menatap lubang di dadanya sendiri. Ekspresinya tidak menunjukkan ketakutan, hanya resolusi seorang psikopat yang rasional.
Dia melapisi tangan kirinya dengan Dark Null yang sangat tipis—berfungsi sebagai sarung tangan bedah yang mensterilkan segala sesuatu yang disentuhnya.
Lalu, dia memasukkan jari-jarinya langsung ke dalam rongga dadanya sendiri.
Rasa sakit yang melampaui batas penahanan manusia mana pun meledak di sistem sarafnya. Lu Daimeng menggigit bibirnya hingga robek. Dia mencengkeram sisa-sisa daging jantung manusianya, urat-urat nadi yang putus, dan jaringan yang membusuk.
SRAAK!
Dengan satu sentakan mengerikan, dia menarik keluar gumpalan daging busuk dari jantung manusianya sendiri.
Dia melemparkan daging mati itu ke tanah.
Napas Lu Daimeng tersengal-sengal, nyaris putus. Tubuhnya terhuyung ke depan.
Kini, dia bukan lagi manusia setengah naga. Jantung manusianya telah hilang sepenuhnya. Dia adalah monster seutuhnya, dikendalikan sepenuhnya oleh otak hibrida dan Jantung Naga Hitam.
DUM! DUM! DUM!
Kehilangan organ penyeimbang membuat Jantung Naga mengamuk tak terkendali. Api naga merambat melalui pembuluh darahnya. Kulit Lu Daimeng mulai retak, memancarkan cahaya keemasan dari dalam. Jika dia tidak melakukan sesuatu dalam sepuluh detik, dia akan terbakar menjadi abu dari dalam ke luar.
Lu Daimeng melemparkan tubuhnya ke depan, melompat langsung ke dalam kolam Air Mata Yin Murni.
BYUUR!
Benturan antara suhu tubuh Lu Daimeng yang mencapai ribuan derajat Celcius dengan Air Yin Kuno yang berada pada suhu nol mutlak menciptakan reaksi ledakan suhu yang ekstrem.
TSSSSSSSS!!!
Asap putih tebal seketika memenuhi seluruh gua.
Di dalam kolam, penyiksaan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Air Yin Kuno itu sekeras jarum es. Saat air itu meresap masuk ke dalam lubang di dadanya dan merembes ke dalam pori-porinya, suhu ekstremnya membekukan darah Lu Daimeng seketika.
Dalam hitungan tiga detik, Lu Daimeng berubah menjadi patung es padat di dasar kolam.
Namun, Jantung Naga di dadanya menolak untuk mati. Jantung itu berdetak satu kali dengan kekuatan ekstrem, memancarkan gelombang panas Yang murni.
KRAK!
Es yang membungkusnya meleleh dan pecah. Air kolam mendidih. Lu Daimeng meronta, mengeluarkan raungan yang mengguncang gua.
Tapi sedetik kemudian, hukum alam Air Yin Kuno kembali menekan, membekukannya menjadi balok es lagi.
Siklus penyiksaan ini berlanjut tanpa henti. Membeku. Mencair. Membakar. Membeku lagi. Sel-sel dalam tubuh Lu Daimeng dihancurkan dan direkonstruksi jutaan kali setiap detiknya. Sisa-sisa kelemahan manusiawinya dibakar habis, digantikan oleh keseimbangan sempurna antara Yang (Naga) dan Yin (Air Kuno).
Sementara tubuh fisiknya ditempa layaknya pedang dewa di dalam tungku kosmik, di dalam dimensi perutnya, fenomena yang jauh lebih megah sedang terjadi.
Tujuh Singularitas Anti-Dao hitam yang sebelumnya membentuk formasi Bintang Biduk mulai berputar dengan kecepatan yang mengoyak ruang. Energi Yin absolut dari luar masuk bagaikan air bah ke dalam perutnya, ditelan oleh singularitas-singularitas tersebut.
Mereka menyerap energi hingga mencapai batas massa kritis.
Lu Daimeng, di tengah kondisi setengah sadar antara beku dan terbakar, memfokuskan Singularitas Psikis di otaknya.
"Waktunya... memecah batas langit!" raung pikirannya.
Kedelapan singularitas itu (tujuh di perut, satu di otak) beresonansi. Mereka menciptakan gaya tarik-menarik yang sangat masif, memadatkan sisa-sisa esensi Dark Null dan energi Yin ke satu titik pusat di tengah formasi Bintang Biduk.
Sebuah titik hitam absolut sebesar biji sawi muncul.
Lalu, ia membesar.
BOOOOOOOOOOM!
Tribulasi terobosan Lu Daimeng tidak terjadi di langit.
Tribulasinya terjadi di dalam tubuhnya sendiri. Sebuah implosi ruang tak bersuara.
Gua itu bergetar hebat. Air Yin Kuno di dalam kolam mulai berpusar liar, membentuk pusaran air yang berpusat pada tubuh Lu Daimeng. Air itu tidak lagi sekadar meresap; ia dihisap dengan rakus oleh pori-pori dan lubang di dada Lu Daimeng.
Sebuah Singularitas Anti-Dao ke-8 terbentuk di perutnya.
Total, dengan otaknya, Lu Daimeng kini memiliki 9 Singularitas. Sembilan lubang hitam mikro yang menjadi sumber tenaganya.
Angka sembilan adalah angka kesempurnaan dalam memahami hukum alam semesta. Formasi Anti-Dao-nya kini telah mencapai harmoni yang solid. Kecepatan penyerapan energinya meningkat seratus kali lipat.
Volume kolam Air Mata Yin Murni yang telah berkumpul selama ratusan ribu tahun, menyusut dengan kecepatan yang mengerikan, tertelan masuk ke dalam tubuh besarnya.
Suhu tubuh Lu Daimeng akhirnya stabil. Jantung naganya kini ditenangkan dan dibalut oleh lapisan energi Yin yang sejuk, berdetak dengan ritme yang kuat, elegan, dan abadi. Keseimbangan Yin dan Yang tercapai dalam satu tubuh tunggal.
Satu jam kemudian.
Kolam itu kering kerontang. Tidak tersisa setetes pun Air Mata Yin.
Di dasar kolam yang kini hanya berupa kawah batu kering, sosok Lu Daimeng terbaring.
Perlahan, jari tangannya bergerak.
Dia bangkit dan berdiri.
Tubuhnya telah mengalami kelahiran kembali yang utuh. Tinggi badannya menyusut sedikit ke ukuran 2,1 meter—lebih proporsional, namun memancarkan kepadatan otot yang menakutkan, layaknya baja yang dikompresi menjadi sutra.
Luka menganga di dada kirinya telah menutup sempurna. Kulitnya tidak lagi pucat keabu-abuan seperti mayat hidup, melainkan berwarna putih bersih dan sehat, memancarkan kilau halus seperti pualam kuno. Rambut hitamnya tumbuh panjang hingga menyentuh pinggang, segelap malam tanpa bintang.
Dia tidak memancarkan aura biadab yang meledak-ledak lagi. Sebaliknya, dia memancarkan ketenangan yang absolut. Ketenangan sebuah lubang dalam yang bisa menelan apapun yang masuk kedalamnya. Dia tampak seperti sosok dewa kuno yang baru saja terbangun dari tidur ribuan tahun.
Lu Daimeng mengepalkan tangannya.
Ruang di sekitar tinjunya terdistorsi.
Secara kuantitas energi dan kekuatan destruktif, kesembilan Singularitas Anti-Dao miliknya kini memancarkan kepadatan yang lebih solid dari sebelumnya. Dia telah melompati batas kemacetan terbesar di dunia kultivasi.
"Kapasitas murni," bisik Lu Daimeng, suaranya kini memiliki resonansi magnetis yang menggetarkan udara. "Mungkin akan terlihat seperti Ranah Roh (Spirit Realm) Tahap 1 jika di samakan dengan jalan kultivasi dunia ini."
Dia bukan lagi anomali di tingkat Jiwa. Dia sekarang berdiri di panggung yang sama dengan para Jenius dari keluarga dan sekte besar lainnya. Kekuatan dasarnya telah mencapai Ranah Roh tahap 1, namun energinya cukup untuk menumbangkan kultivator Roh tahap 6 biasa.
Perlahan, Lu Daimeng membuka matanya.
Di dalam lautan iris merah yang memukau, enam pupil berputar perlahan dengan keanggunan yang mematikan. Matanya yang merah berubah kembali menjadi ungu.
Lu Daimeng mendongak, melihat ke arah lubang kecil di atap gua yang menampakkan secercah langit kelabu.
Senyum tipis yang tenang, cerdas, dan penuh perhitungan menghiasi wajah dewa-nya.
"Mari kita pulang!!," gumamnya.
Bersambung...