NovelToon NovelToon
Salah Hati, Tepat Cinta

Salah Hati, Tepat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / BTS
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.

Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.

Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Saat jam kuliah berakhir, tanpa sengaja Ryn Moa pulang melewati ruangan klub penulisan. Biasanya, jalur pulangnya selalu sama. Ia hafal setiap belokan, setiap tangga, bahkan setiap papan pengumuman yang jarang ia baca. Ada kenyamanan dalam rutinitas, dalam kepastian bahwa setelah kelas selesai, ia bisa langsung meninggalkan kampus tanpa perlu menoleh ke belakang. Langkah Ryn Moa sebenarnya sudah terlatih cepat, lurus, dan fokus menuju gerbang keluar. Ia tipe yang tidak suka berlama-lama di kampus setelah kelas selesai, terutama di hari-hari ketika kepalanya sudah penuh oleh terlalu banyak nama, terlalu banyak kemungkinan, dan terlalu banyak perasaan yang tidak pernah ia minta.

Hari itu termasuk hari yang dimaksud itu. Namanya masih bergema di kepalanya, suara-suara, senyum-senyum, tatapan yang tidak sengaja bertahan lebih lama dari seharusnya. Ryn Moa membenci perasaan seperti ini, terlalu sadar, terlalu peka, terlalu banyak memikirkan hal-hal yang seharusnya sederhana.

Namun hari itu, langkahnya melambat. Bukan karena ia lelah. Bukan karena kakinya sakit. Melainkan karena lorong di sisi barat gedung fakultas terasa berbeda. Lorong di sisi barat gedung fakultas terasa lebih sepi dari biasanya. Lampu-lampu menyala setengah terang, menciptakan bayangan panjang di lantai keramik. Udara di sana lebih dingin, berbau samar kertas lama dan pendingin ruangan yang bekerja terlalu lama. Setiap langkahnya memantul pelan, suaranya menggema lebih jelas karena tidak ada mahasiswa lain. Tidak ada tawa, tidak ada obrolan tergesa, tidak ada suara sepatu beradu cepat. Hanya dia dan sebuah pintu.

Di ujung lorong, sebuah pintu dengan papan nama kecil bertuliskan Klub Penulisan, sedikit terbuka. Celah kecil itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Tapi justru karena kecil, karena tidak disengaja, ia terasa seperti undangan yang tidak diucapkan. Dan entah kenapa, rasa ingin tahu Ryn Moa yang biasanya bisa ia kendalikan, memutuskan untuk memberontak. Ia berhenti, Tidak sepenuhnya sadar kapan kakinya berhenti melangkah. Seolah tubuhnya mengambil keputusan lebih dulu, meninggalkan pikirannya yang masih mencoba mencari alasan logis.

“Cuma lihat sebentar,” batinnya.

Alasan itu terdengar lemah, Tapi cukup untuk Ryn Moa mengintip. Pintu itu terbuka tidak lebih dari satu jengkal. Tapi cukup untuk memperlihatkan dunia yang terasa berbeda dari lorong di luar. Di balik pintu itu, suasana berbeda dari hiruk-pikuk kampus di luar. Ruangan terasa tenang, hampir hening, hanya diisi suara halus gesekan pena di atas kertas. Suara itu konsisten, ritmis, menenangkan. Seperti detak jam yang tidak pernah tergesa. Namjoon duduk sendiri di meja panjang, membaca draft tulisan sambil memegang pena. Ryn Moa tidak langsung menyadari bahwa orang itu adalah Namjoon. Yang pertama ia sadari adalah ketenangannya, cara ia duduk, cara bahunya sedikit condong ke depan, cara seluruh perhatiannya tercurah pada kertas di hadapannya.

...⭐⭐⭐...

Namjoon tidak menyadari kehadiran Ryn Moa. Bahunya sedikit membungkuk, satu tangan menopang kertas, tangan lainnya memutar pena dengan kebiasaan kecil yang tampak alami. Di hadapannya, beberapa lembar kertas terhampar rapi, penuh coretan dan catatan kecil di pinggirnya. Tidak ada laptop. Tidak ada ponsel. Hanya kertas, pena, dan fokus yang nyaris sakral. Wajahnya serius, dengan dahi yang sedikit berkerut, bibir terkatup rapat serta matanya yang bergerak cepat mengikuti baris demi baris tulisan.

Ryn Moa menelan ludah. Ia belum pernah melihat ekspresi seperti itu secara langsung, ekspresi seseorang yang benar-benar hadir, sepenuhnya tenggelam dalam sesuatu yang ia cintai. Tapi ketika Namjoon menemukan bagian yang ia suka, matanya melembut. Perubahannya halus, nyaris tak kentara. Tapi Ryn Moa melihatnya. Kerutan di dahinya menghilang. Sudut bibirnya naik tipis, nyaris tak terlihat, seperti seseorang yang menemukan kalimat yang terasa benar, jujur, dan hidup. Ada kepuasan sunyi di sana. Bukan kebanggaan yang ingin dilihat orang lain, melainkan pengakuan pribadi. Ryn Moa terpaku beberapa detik, Ia lupa bernapas. Lupa bahwa ia hanya berniat lewat. Kenapa… dia terlihat begitu damai?

Pertanyaan itu muncul begitu saja, tanpa jawaban. Ada sesuatu dalam cara Namjoon membaca, tenang, penuh perhatian, seolah dunia di luar ruangan itu tidak penting. Seolah kata-kata di hadapannya adalah satu-satunya hal yang layak diperhatikan. Ryn Moa merasa seperti mengintip dunia yang tidak seharusnya ia lihat. Dunia pribadi, Dunia yang tidak dipamerkan. Dan mungkin karena itu, dadanya terasa sesak, bukan karena takut, tapi karena perasaan asing yang tidak ia beri nama.

Namjoon tiba-tiba mendongak. Gerakannya cepat, naluriah seperti seseorang yang terbiasa menyadari perubahan di sekitarnya. Ryn Moa kaget, Jantungnya seolah melompat ke tenggorokan. Ia langsung hendak kabur, tapi...

“Ryn?” panggil Namjoon lembut.

Suaranya tidak terkejut. Tidak juga curiga. Hanya lembut, hangat, dan… familiar. Nama itu terdengar berbeda ketika keluar dari mulutnya, bukan sekadar panggilan. Gadis itu membeku, lalu perlahan menoleh. Tubuhnya terasa kaku, seolah sendi-sendinya lupa cara bekerja. Tangannya mencengkeram tali tas, pikirannya berputar mencari alasan yang terdengar masuk akal.

“Ah… senior Namjoon. Maaf… aku cuma lewat.”

Kalimat itu terdengar terlalu cepat, terlalu defensif. Ia sendiri mendengarnya dan tahu itu. Namjoon tersenyum kecil. Senyum yang tidak memaksa, tidak juga menekan.

“Kau bisa masuk kalau mau. Tidak usah sungkan.”

Nada suaranya santai, seolah mengundang orang lama, bukan mahasiswa baru yang kebetulan lewat.

“Hah? E… tidak, aku...”

Ryn Moa refleks mundur setengah langkah. Ia hampir berhasil melarikan diri secara mental.

“Ini tulisanmu dari minggu lalu,” potong Namjoon sambil mengangkat beberapa lembar kertas. “Aku sudah baca. Menarik sekali.”

Ryn Moa terpaku, Kata-kata itu menghantamnya tanpa peringatan. Tulisan… miliknya?. Ruang itu terasa mengecil. Suara lorong di luar menghilang sepenuhnya.

“Benarkah?”

Suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia harapkan, nyaris seperti bisikan.

“Ya. Kau punya cara bercerita yang jujur. Tidak banyak mahasiswa baru yang bisa begitu.”

Kalimat itu sederhana. Tidak dilebih-lebihkan. Tapi justru karena itu, terasa tulus. Tidak ada pujian kosong. Tidak ada nada basa-basi. Ryn Moa langsung merasa jantungnya dipeluk halus. Perasaan itu tidak meledak. Tidak membuatnya ingin melompat atau berteriak. Hanya… hangat. Seperti selimut tipis di pagi dingin.

“Kau mau aku beri catatan?” tanya Namjoon.

“Tentu! Maksudnya… iya… kalau tidak merepotkan…”

Ryn Moa langsung menyesal karena terdengar terlalu bersemangat. Ia menggaruk pipinya gugup, matanya melirik ke lantai. Namjoon menunjuk kursi di sampingnya.

“Duduklah.”

Kata itu diucapkan sederhana tanpa tekanan. Ryn Moa mendekat, langkahnya hati-hati, matanya tidak lepas dari kursi yang ditunjuk. dan akhirnya malah salah langkah. Ujung sepatunya tersangkut kaki kursi. Segalanya terjadi terlalu cepat, Keseimbangannya hilang. Tasnya bergeser, dunia terasa miring.

“AKH!”

Suara itu keluar refleks, lebih kaget daripada sakit. Namun lantai tidak pernah ia cium. Namjoon refleks menangkap lengannya sebelum ia mencium lantai ruangan. Pegangannya kuat tapi tidak kasar. Tepat waktu. Seolah tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya. Ryn Moa tertegun. Wajahnya… sangat dekat dengan Namjoon, Ter...lalu dekat. Ia bisa melihat detail yang sebelumnya tidak ia sadari, bintik kecil di dekat matanya, napasnya yang hangat, dan mata itu… penuh perhatian, bukan keterkejutan.

“Pelan-pelan,” kata Namjoon sambil membantu menegakkan tubuhnya.

Nada suaranya tetap tenang, seolah hampir jatuh adalah kejadian biasa.

“S-Saya baik-baik saja,” ujar Ryn Moa sambil menutupi wajah.

Pipinya panas. Kepalanya berisik oleh rasa malu.

“Ya… aku sudah menduga,” jawab Namjoon sambil tertawa kecil.

Tawa itu ringan, tidak mengejek, justru terdengar seperti ingin menenangkan. Tawa itu… membuat wajah Ryn Moa makin panas. Setelah duduk, mereka membahas tulisan Ryn Moa. Namjoon meletakkan kertas di antara mereka, menunjuk beberapa bagian, memberi catatan dengan nada sabar, detail, dan… penuh perhatian. Ia tidak menggurui. Tidak mengubah gaya Ryn Moa. Ia hanya mengarahkan, bertanya, dan sesekali tersenyum ketika Ryn Moa menjelaskan maksudnya. Dan Ryn Moa merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan euforia seperti melihat Taehyung. Perasaan yang berisik, berdebar, penuh harap dan cemas. Bukan tawa lepas seperti bersama J-Hope. Yang ringan, cerah, dan penuh energi. Tapi… tenang, Hangat, Aman. Seolah Namjoon bisa membaca pikirannya tanpa ia jelaskan. Seolah diam pun tidak canggung.

Waktu berjalan tanpa terasa. Matahari di luar mulai turun, cahaya jingga menyusup masuk melalui jendela. Debu-debu kecil menari di udara, memantulkan cahaya sore yang lembut. Setelah selesai, Namjoon berkata pelan,

“Kau punya potensi besar, Ryn. Tulisanmu mengalir.”

“Terima kasih… senior.” Ryn Moa menjawab lirih.

Namjoon tersenyum. Dan tubuh Ryn Moa memanas entah kenapa. Saat ia melangkah keluar dari ruangan klub penulisan sore itu, Ryn Moa sadar satu hal yang membuatnya panik sekaligus bingung, Hidupnya sekarang… terlalu banyak rasa. Dan ia tidak tahu harus memilih yang mana atau apakah ia siap memilih sama sekali.

...⭐⭐⭐...

Bersambung....

1
Amiera Syaqilla
romantis 💕
Rania Venus Aurora: terimakasih 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
author penggemar bts ya/Scream/
Rania Venus Aurora: Aku pernah dimasukan ke grup ARMY, karena teman-temanku ARMY semua. Cerita yang ada tentang BTS juga terinspirasi dari para ARMY disana.😊
total 1 replies
Ai_Li
Namanya unik-unik yaa
Ai_Li
Saya mampir kak, bagus ceritanya
Rania Venus Aurora: Makasih, kalau suka ceritanya 🥰
total 1 replies
Livia Aira
Lanjut thor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!