"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 19
Malam itu, ruang tengah kediaman Baskoro terasa lebih dingin dari biasanya. Siska masih ada di sana, duduk dengan tenang sambil menyesap teh melati, seolah-olah dia adalah bagian dari keluarga ini. Baskoro duduk di hadapannya, tampak kelelahan dengan beban pikiran yang terlihat jelas dari gurat wajahnya.
Tak lama, Keyla yang baru saja pulang dari kampus, melangkah masuk.
"Belum pulang juga, Tante?" sapa Keyla dengan sinisnya.
Siska meletakkan cangkirnya, lalu tersenyum tipis. "Tante hanya sedang menemani Papamu, Keyla. Mas Baskoro butuh teman bicara yang dewasa untuk menghadapi masalah ini."
"Dewasa?" Keyla terkekeh
"Papa, aku punya sesuatu yang jauh lebih menarik daripada obrolan dewasa Tante Siska. Boleh aku pinjam laptop Papa sebentar?"
Baskoro mengernyit. "Keyla, jangan sekarang. Papa sedang tidak ingin berdebat."
"Aku nggak mau debat, Pa. Aku cuma mau kasih lihat tugas kuliah aku... judulnya Cara Membuat Fitnah dengan Sudut Kamera. Sangat edukatif," ucap Keyla sambil membuka laptop ayahnya yang tergeletak di meja.
Siska mulai terlihat tidak nyaman. Ia merapikan tatanan rambutnya dengan matanya yang melirik gelisah ke arah layar laptop. "Keyla, jangan kekanak-kanakan. Papamu sedang pusing."
"Oh, ini nggak kekanak-kanakan, Tante. Ini sangat profesional."
Keyla mencolokkan flashdisknya. "Pa, lihat ini."
Layar laptop menampilkan rekaman hitam-putih dari gerbang utara kampus. Waktunya menunjukkan pukul 18.45, hari yang sama dengan foto-foto fitnah itu diambil. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas sebuah mobil Honda Jazz perak yang parkir secara ilegal. Tak lama kemudian, seorang pria dengan kamera lensa panjang keluar dari pintu kemudi, memotret ke arah mobil Arlan yang baru saja tiba.
"Lihat pria itu, Pa," tunjuk Keyla. "Dan sekarang, perhatikan apa yang terjadi dua menit kemudian."
Di layar, pria itu berjalan menghampiri mobil mewah berwarna krem yang parkir tak jauh dari sana. Kaca mobil itu turun, dan meskipun resolusinya tidak setajam kamera film, profil wajah wanita di dalamnya sangat jelas. Dan itu adalah Siska.
Wajah Baskoro mendadak mengeras. Ia menatap layar, lalu menatap Siska dengan tatapan dingin.
"Mas, itu... itu bukan seperti yang kamu lihat. Saya hanya... saya hanya ingin memastikan Arlan tidak melakukan hal buruk!" Siska gagap, suaranya naik satu oktav.
"Memastikan dengan cara menyewa fotografer untuk mengambil foto dari sudut yang merusak nama baik anak saya? Siska, saya pikir kamu tulus peduli. Ternyata kamu hanya menggunakan saya sebagai alat untuk balas dendam pada mantan suamimu."
"Papa, lihat bagian akhirnya," tambah Keyla. "Dia bayar pria itu langsung di sana. Transaksi tunai untuk menghancurkan reputasi aku di mata Papa."
Baskoro menutup laptop dengan keras. "Keluar dari rumah saya, Siska."
"Mas, tolong dengarkan dulu—"
"KELUAR!" bentak Baskoro. "Jangan pernah injakkan kaki di sini lagi, atau saya sendiri yang akan membawa rekaman ini ke pihak kepolisian dengan tuntutan pencemaran nama baik!"
Siska menyambar tasnya, lalu menatap Keyla dengan tajam. "Kamu pikir kamu menang? Arlan tetap akan meninggalkanmu. Kamu hanya mainan baginya!"
"Setidaknya aku mainan yang lebih pintar daripada Tante," balas Keyla telak.
Setelah Siska pergi, suasana kembali sunyi. Baskoro duduk kembali.
"Keyla... Papa minta maaf," ucapnya lirih. "Papa terlalu cepat percaya pada orang luar daripada pada anak Papa sendiri."
Keyla mendekat, menggenggam tangan ayahnya. "Nggak apa-apa, Pa. Aku tau Papa cuma mau jaga aku. Tapi sekarang Papa tau kan, Om Arlan nggak seburuk itu? Dia bahkan milih menjauh supaya aku nggak makin kena masalah."
Baskoro menghela napas panjang. "Dia pria yang baik. Tapi Keyla... Papa tetap pada syarat Papa. Kuliah nomor satu. Dan mengenai Arlan... suruh dia datang ke sini besok. Papa ingin bicara secara jantan, tanpa ada campur tangan orang ketiga."
Keyla nyaris melompat kegirangan. "Beneran, Pa?! Makasih!"
Ia segera berlari ke kamarnya untuk menelepon Arlan. Namun, di tengah kegembiraannya, sebuah pesan dari Vino masuk.
Vino: Gimana misinya? Berhasil kan? Jangan lupa janji lo, Key. Sabtu malam. Dress code Elegan. Gue bakal bikin malam itu nggak terlupakan.
Senyum Keyla sedikit memudar. Ia baru saja membersihkan satu masalah, tapi ia tau ia sedang berjalan masuk ke masalah lain. Genggaman Vino atas dirinya kini nyata, dan ia tidak tau bagaimana reaksi Arlan jika tau biaya dari bukti CCTV tersebut adalah sebuah kencan dengan pria lain.
Keyla menatap ponselnya dengan bimbang. Ia baru saja akan mengetik pesan untuk Arlan, namun egonya sedikit berontak.
"Om Arlan kan sempet mau ninggalin gue demi reputasi. Mungkin nggak ada salahnya gue bikin dia sedikit panas hari Sabtu nanti."
Pikiran nakal Keyla mulai bekerja. Ia merasa sudah cukup menjadi pihak yang terus-menerus mengejar. Kali ini, ia ingin melihat sejauh mana Arlan Dirgantara bisa berjuang saat posisinya terancam oleh kehadiran pria yang lebih muda.
"Lagi pula ini bukan pengkhianatan," gumam Keyla pada dirinya sendiri. "Ini namanya... tes ombak."