NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keranjang Harapan di Kaki Gunung

Waktu seolah membeku di desa kami. Langit Gunung Prau tetap sama, biru dan angkuh, sementara di bawah atap seng kami, nasib masih enggan beranjak. Ekonomi keluarga masih stuck di titik yang sama, memaksa Ayah dan Ibu memutar otak lebih keras agar dapur tetap mengepul. Namun, jika ada satu hal yang paling aku kagumi dari Ibu, itu adalah ketangguhannya yang melampaui logika. Ibu tidak pernah kekurangan ide. Baginya, kemiskinan hanyalah sebuah tantangan yang harus dikalahkan setiap hari.

Saat bulan puasa tiba, rutinitas rumah kami berubah total. Ibu memutuskan untuk menjadi pedagang sayur dadakan. Aku masih ingat betul suara alarm alami di rumah kami, bukan bunyi jam digital, melainkan derit pelan pintu kayu dan suara gemerisik kain jarik yang Ibu ikat kuat-kuat di pinggangnya.

Dini hari, saat kabut bahkan belum berani turun ke tanah, Ibu sudah terjaga. Ia tidak lagi pergi ke hutan mencari kayu bakar, melainkan bersiap menuju pasar tradisional yang letaknya sangat jauh dari desaku. Hebatnya, Ibu menempuh jarak puluhan kilometer itu dengan berjalan kaki. Ia menggendong sebuah keranjang rotan besar yang kosong, yang nantinya akan penuh dengan beban harapan kami.

"Bu, kenapa tidak minta di antar saja? Jalannya jauh sekali," tanyaku suatu pagi dengan suara serak khas anak baru bangun tidur, sambil mengucek mata di ambang pintu.

Ibu menoleh, mengikat ujung jilbabnya, lalu tersenyum tipis. "Kalau minta di antar nanti uang untungnya habis buat bayar bensin, Nok. Lebih baik uangnya ditabung buat beli buku sekolahmu."

"Tapi kaki Ibu pasti sakit," bisikku pelan.

Ibu berjongkok, mengusap pipiku dengan tangannya yang dingin oleh udara subuh. "Kaki Ibu sudah punya mesin sendiri. Selama Ibu ingat wajahmu dan Kakak, capeknya hilang. Sudah, tidur lagi sana. Nanti kalau Ibu pulang, ada kejutan."

Aku kembali ke balik selimut, namun pikiranku melayang. Aku membayangkan Ibu berjalan di kegelapan, menyusuri aspal dingin dan jalanan setapak yang sepi, hanya ditemani suara jangkrik dan doa-doa yang ia gumamkan. Hatiku mencelos. Di usiaku yang sekecil itu, membayangkan Ibu berjalan puluhan kilometer membuatku merasa sangat kerdil. Aku ingin sekali berlari di sampingnya, memegangi ujung bajunya, agar bebannya sedikit terbagi. Namun, kenyataannya aku hanyalah anak kecil yang hanya bisa menunggu di balik pintu.

Waktu berputar, matahari mulai naik, dan perutku mulai berbunyi. Kerinduan akan sosok Ibu selalu mencapai puncaknya saat jarum jam menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Dari kejauhan, di ujung jalan yang menanjak, sosok itu akhirnya muncul.

Ibu berjalan dengan langkah yang tetap mantap meski punggungnya melengkung menahan beban keranjang yang kini penuh sesak. Keringat bercucuran di pelipisnya, membasahi kain jilbabnya yang mulai kusam. Namun, matanya selalu berbinar saat melihatku dan Kakak sudah berdiri di depan rumah menyambutnya.

"Ibu pulang!" teriakku girang.

Ibu meletakkan keranjang besar itu di teras rumah dengan napas yang memburu. Di dalamnya, tumpukan sayur mayur terlihat begitu segar. Namun, yang paling menarik perhatianku bukanlah sayuran itu, melainkan sebuah bungkusan plastik di sudut keranjang.

"Sini, Nok, Kak... lihat Ibu bawa apa," panggil Ibu sambil menyeka keringat dengan ujung lengannya.

Ia membuka bungkusan itu. Isinya adalah aneka jajanan pasar, ada lupis dengan siraman gula merah, nagasari yang harum daun pisang, dan cenil warna-warni yang menggoda selera.

"Ayo, pilih dulu mana yang kalian mau buat buka puasa nanti. Sebelum nanti Ibu jual," kata Ibu dengan penuh semangat.

Kakak ragu-ragu sejenak. "Bu, kalau kami makan banyak, nanti untung Ibu berkurang. Bukannya ini untuk dijual lagi?"

Ibu tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus meski guratan lelah tak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Rezeki itu sudah ada yang atur, Kak. Untung atau rugi itu urusan belakangan. Yang penting anak-anak Ibu kenyang dan senang dulu. Kalau kalian senang, jualan Ibu pasti lebih berkah."

Aku pun mengambil sepotong lupis, sementara Kakak memilih nagasari. Ibu memperhatikan kami dengan tatapan yang sangat dalam. Ia sendiri tidak menyentuh jajanan itu sepotong pun.

Setelah kami puas memilih jajanan, Ibu mulai menata kembali dagangannya. Ia akan berkeliling desa, dari pintu ke pintu, menawarkan sayuran itu dengan ramah. Tak jarang, aku mendengar tetangga menawar dengan harga yang sangat rendah, atau bahkan mengeluh tentang kualitas sayur yang sebenarnya sangat segar.

Ayah, yang biasanya baru pulang dari buruh ladang, akan segera membantu Ibu memindahkan sayuran ke wadah yang lebih kecil. Mereka tidak banyak bicara, tapi sorot mata mereka saling menguatkan. Ayah akan mengambil alih pekerjaan berat di rumah agar Ibu bisa beristirahat sejenak sebelum berkeliling lagi.

"Bu, kalau besok Ibu mau ke pasar lagi, aku mau ikut," kataku suatu sore saat Ibu sedang menghitung uang receh hasil jualan hari itu.

Ibu tersenyum, lalu menarikku ke pangkuannya. "Nanti, kalau kakimu sudah sekuat kaki Ibu. Sekarang, tugasmu adalah melihat bagaimana Ibu dan Ayah berjuang. Supaya nanti, kalau kamu sudah besar, kamu tidak mudah menyerah pada keadaan."

Aku memeluk leher Ibu erat. Bau tubuhnya adalah perpaduan antara aroma sayuran segar, tanah, dan matahari. Di balik aroma itu, ada aroma kasih sayang yang tak terbatas. Aku baru menyadari bahwa kemiskinan yang kami alami tidak pernah mampu merampas kemuliaan hati Ibu. Ia tetap mengutamakan kebahagiaan kami di atas untung-rugi dagangannya.

Ekonomi keluarga kami memang masih stuck. Dinding kayu kami masih berlubang, dan kursi hijau Ayah makin pudar. Namun, di dalam rumah ini, kami memiliki kekayaan yang tidak dimiliki orang lain, seorang Ibu yang menjadikan dirinya jembatan agar anak-anaknya bisa menyeberangi jurang kesulitan.

Aku berjanji dalam hati, setiap langkah kaki Ibu ke pasar, setiap peluh yang jatuh, dan setiap jajanan pasar yang aku makan dengan lahap, akan menjadi bahan bakar bagi ambisiku. Aku memang masih kecil, aku memang belum bisa memikul keranjang rotan itu. Tapi suatu hari nanti, aku yang akan menjemput Ibu dengan kemudahan, agar ia tak perlu lagi berjalan puluhan kilometer di kegelapan subuh.

Kini, setiap kali aku melihat pedagang sayur di pinggir jalan, aku selalu teringat pada Ibu. Pada lupis gula merah dan ketulusannya yang luar biasa. Ibu telah mengajariku bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, tapi tentang seberapa besar cinta yang kita berikan dalam setiap keterbatasan. Dan bagiku, Ibu adalah pedagang sayur paling kaya di seluruh dunia.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!