Kisah seorang dokter tentara berpangkat mayor yang jatuh hati kepada seorang apoteker di rumah sakit tempat mereka bekerja waktu pertama kali sang gadis datang wawancara. Mayor Jonathan Benjamin nama sang dokter, dia memiliki seorang anak perempuan usia enam tahun. Bertemu dengan Sophia Abigail seorang apoteker yang sudah memiliki seorang pacar yang adalah CEO David Alexander. Bagaimana kisah mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya
Chynthia menjadi tidak terkendali, ketika di cueki oleh David. Dia mengira David adalah laki - laki yang mudah di kendali, karena popularitasnya dan kecantikannya. Namun Chynthia tidak mengenal baik siapa sebenarnya David.
Sebenarnya David ada rasa, buatnya. Namun melihat tingkahnya waktu launcing produk kemarin. David merasa bahwa perempuan inj sakit. Dan dia tidak mau terlibat jauh. Cukup perusahaannya saja yang terlibat kontrak kerja.
Selesai acara Nathan mengajak istri dan kedua anaknya jalan - jalan ke mall bersama mama dan papa Nathan juga. Nathan ingin waktu ini bersama dengan keluarganya.
"Kamu lelah sayang??"
"Tidak mas."
"Terima kasih ya, sudah mau mengikuti keinginan mas." Nathan langsung mencium bibir istrinya.
Di mall yang sama juga, restoran yang sama. Tidak sengaja Nathan bertemu dengan dokter Nathalia bersama mama dan adeknya.
"Nat, apa itu Nathan??"
"Iya mami."
"Sudah berumah tangga??? Ada juga cewek yang mau dengan dia. Pasti bukan cewek baik - baik."
"Cukup mami, jangan menghakimi orang."
"Iya betul mami, apa yang mba katakan. Tetapi itu seperti Sophia Abigail Stevanus, pengusahan muda yang lagi naik daun. COO Xander Company."
"Kamu kenal dek???"
"Mba di media sosial lagi tranding berita mereka." Adenya Steven langsung membuka media sosial. Dan tertera foto dokter Nathan bersama keluarga. Akhirnya Nathalia tahu, siapa istri dari Nathan. Begitu juga maminya.
"Bukannya kamu sedang memasukan lamaran ke perusahaan itu dek???"
"Iya, sudah wawancara, sisa wawancara terakhir dengan pimpinannya. Doain adek biar diterima kerja di perusahaan itu ya mba."
"Iya, mba akan berdoa."
Sementara makan, mata Nathalia tidak perna berpindah dari meja yang ditempati Nathan bersama keluarganya. Dan hal itu di perhatikan oleh Sofi. Waktu Sofi melihat Nathalia ke toilet dengan cepat dia pun mengikuti. Hati kecilnya berkata bahwa dia harus mengikuti perempuan itu. Tatapannya berbeda.
"Mohon maaf, dari tadi saya melihat bahwa mba selalu melihat ke arah meja keluarga saya. Ada apa ya??"
Nathalia tidak bisa mengelak karena hanya di ruangan restoran itu sedikit hanya tiga meja yang terpakai, satu meja berada di posisi belakang dan satu di depan berisi keluarga Nathan. Suami Sofi mulai gelisah, dia baru sadar bahwa sekarang direstoran ini dia berada bersama dengan keluarganya Nathalia, dan perempuan ke toilet itu adalah Nathalia.
"Sayang, kenapa lama sekali."
"Saya curiga dengan perempuan yang ada di dalam, tatapannya selalu melihat ke meja kita mas." Nathalia keluar dari toilet.
"Dokter Nathalia???" Nathalia kaget, karena Nathan baru mau menyapa dia semenjak peristiwa makanan jebakan.
"Ehh dokter Nathan."
"Mas, kenal. Pantas mbanya dari tadi matanya tidak berpindah dari kita. Salam kenal mba saya Sophia Abigail Stevanus, istrinya dokter Jonathan Benjamin."
Nathan tidak mau istrinya berpikir yang tidak - tidak. Akhirnya dia terus terang kepada istrinya tentang siapa itu Nathalia.
"Jadi mantan pacar to, pantas tatapannya berbeda." Sophia cemburu dia sudah tidur membelakangi suaminya. Nathan tersenyum dia tahu istrinya sedang cemburu. Akhirnya dia langsung memeluk istrinya. Namun Sofi melepaskan pelukan itu. Nathan tidak menyerah. Dia tetap melancarkan aksinya memeluk istrinya. Dia langsung mengendong dan membawa Sofi kedalam pelukannya.
"Mas sudah berjanji sama Tuhan, akan selalu mencintai dan melindungi kamu sayang ku. Tidak ada yang memisahkan kita, hanya maut. Dan mas selalu mas berdoa kalau boleh kita bersama sampai maut pun tetap bersama." Sophia yang mendengar perkataan suaminya langsung melihat ke arah suaminya yang sudah membawa tubuhnya berada dalam pelukan Nathan.
"I love you Sophia Abigail istriku, ibu dari anak - anakku. I love you." Nathan mencium bibir istrinya, sangat menuntut karena setiap akses dalam mulut istrinya di absen semuanya.
"I love you nyonya Benjamin." Ciuman berpindah ke leher Sofi istrinya. Nathan meninggalkan tatto berwarna merah.
"Ahhhhkkk sayang." Sofi sudah mendesah saja. Bagaimana salah satu tangannya sudah mengakses bagian dalam tubuh istrinya. Dan dengan gerakan cepat, penyatuan terjadi. Dan ronde pertama sudah selesai. Nathan menyelimuti tubuh polos mereka.
"Sophia Abigail Stevanus, lihat suamimu. Hanya kamu yang ada di hati mas. I love you."
"Biar mantan - mantan kamu ada disamping kamu."
"Mereka hanya mantan. Kamu istriku. Cintaku. Hanya kamu seorang."
"Gombal." Penyatuan cepat ronde kedua terjadi. Tanpa aba - aba. Suara tubuh menyatu terdengar sangat merangsang. Memaju adrenalin Nathan untuk menikatkan kecepatan gerakan tubuhnya. Sesuatu yang nikmat, yang tertahan dalam tubuh mereka pun keluar secara bersamaan.
"Do you love me istriku???"
"I love you mas. Love you more." Nathan mencium kening istrinya, dan berpindah ke bibir dan dia melepaskan penyatuan itu. Sofi sudah lemas, dia langsung memeluk suaminya. Dan memeluk dan membujuk istrinya.
"Terima kasih sayangku. Terima kasih istriku."
Seperti biasa Nathan yang akan mengakhiri pertempuran cinta mereka dengan membersihkan setiap peluh - peluh cinta mereka, setelah dia membersihkan diri. Nathan terlihat sangat bertanggung jawab. Setelah melap seluruh tubuh istrinya yang tertidur nyenyak dia langsung mengenakan pakaian lagi di tubuhnya. Dan dia masuk dalam selimut yang sama, membawa tubuh istrinya ada dalam pelukannya. Nathan akan merasa nyaman jika Sofi tidur bersandar pada tubuhnya. Memang bahasa cinta mereka adalah bersentuhan.
Pagi - pagi Sofi sudah berada di dapur rumah dinas mereka. Semenjak pulang dari penugasan Sofi dan Nathan sudah menempati rumah dinas lagi. Sesekali baru mereka ke apartemen Sofi atau ke rumah orangtua Nathan. Dengan di bantu susternya Baby Liu. Selesai menyiapkan sarapan. Sofi menyusui Liu, yang sudah bangun. Sampai sekarang Sofi masih menyusui anaknya. Dia sudah bertekat memberikan ASI buat anaknya sampai umur dua tahun.
Nathan datang dengan secangkir kopi hitam di tangannya melihat istri dan anaknya yang sedang menyusui.
"Selamat pagi sayang." Nathan menyapa memberi ciuman di kening dan bibir istrinya. Liu yang melihat aksi papinya langsung berhenti menyusui. Air susu maminya sedang banyak - banyaknya akhirnya keluar seperti air mancur.
"Ade, mimik lagi." Langsung Liu menyusui lagi mendengar suara maminya. Papinya mau mencium susu maminya langsung di pukul dengan tangannya.
"Liu, ini istri papi. Jadi kita berdua punya hak yang sama."
"Mas, jangan ganggu adeknya."
"Ini kopi tok sayang, mas butuh di tambah susu."
"Mas, stop iseng ya." Nathan tertawa. Akhirnya dia duduk disamping kursi yang digunakan untuk menyusui. Memperhatikan interaksi Liu anaknya dengan maminya.
"Mas, yang antar ke kantor ya??"
"Iya."
"Mas sudah dapat pesan dari apotek belum??"
"Sudah sayang, katanya pasien mas banyak yang menunggu. Sebentar sore mas akan praktek. Mas sudah minta tolong Ners Debby membersihkan ruangan praktek kemarin."
"Berarti sebentar kita ke apotek bersama, ada hal- hal yang harus saya buat. Mas ngak perlu kuatir ruangan buat Liu juga sudah siap." Nathan mencium kening istrinya.
"Mas percaya sama kamu sayang tentang perkembangan anak - anak."