NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09. Maya, Wanita Simp*anan

Di ruangan Vanya.

Sosok kepala sekolah yang biasanya terlihat “liar” dan galak itu kini sedang berjongkok di samping baby car seat (keranjang bayi portable) yang diletakkan di atas lantai.

“Leon, ganteng banget sih kamu. Anak siapa ini? Kok hidungnya bisa semancung ini?” gurau Vanya sambil mencolek gemas dagu Leon.

Leon sendiri hanya menanggapi dengan tatapan datar yang sangat mirip dengan ekspresi Arkan, sebelum akhirnya ia menguap lebar, mengabaikan godaan Vanya.

Maya yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa terpaku. Ia bergumam dalam hati, “Ternyata Bu Vanya bisa semanis itu pada bayi. Padahal kemarin dia terlihat sangat garang pada Kak Arkan.”

Pikiran Maya mulai melayang liar. Ia melirik Arkan yang berdiri tegap di sampingnya, lalu beralih menatap Vanya yang masih asyik mengajak Leon bercanda.

“Mereka terlihat sangat akrab. Kalau mereka sedekat ini, kenapa Kak Arkan tidak memilih Bu Vanya saja untuk menjadi ibu sambung Leon? Bu Vanya cantik, kaya, dan punya sekolah ini. Mereka sangat serasi,” batin Maya tanpa sadar wajahnya menunjukkan ekspresi menyelidik.

“Ehem!”

Suara deheman berat Arkan memecah lamunan Maya. Tanpa diduga, Arkan sedikit menunduk dan mendekatkan wajahnya ke telinga Maya.

“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan di ota*k kecilmu itu, Maya. Sekarang, hentikan itu!” bisik Arkan dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Maya meremang.

Maya tersentak hebat. Ia segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, matanya membulat karena malu karena tertangkap basah sedang menjodohkan pria di sampingnya dalam hati.

Vanya yang mendegar bisikan itu langsung mendongak. “Apa? Kalian sedang membicarakanku, ya? Ar, jangan berani-berani menjelekkanku di depan murid baruku!”

Arkan hanya mengangkat bahu dengan wajah datar andalannya. “Aku tidak bicara apa-apa. Cepat panggilkan stafmu, Maya harus segera masuk ke kelas sebelum jam pelajaran pertama dimulai.”

Vanya, menatap Maya dengan binary mata yang suportif. “Tenang saja, Maya. Di kelasmu nanti ada kursi paling depan yang sudah kusiapkan. Dan Ar.” Vanya melirik Arkan dengan senyum penuh arti, “Leon akan tetap di sini bersamaku sampai perawatmu menjemputnya nanti. Aku masih ingin bermain dengan ‘Arkan versi mini’ ini.”

Arkan langsung mendorong pelan bahu Vanya, namun karena posisi Vanya yang sedang berjongkok tidak siap, wanita itu kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh terduduk di atas lantai. Matanya melotot tajam, benar-benar tidak percaya dengan perlakuan kasar namun santai dari sahabatnya itu.

“Jangan terlalu lama menyentuh Leon,” ucap Arkan dengan wajah tanpa dosa. “Nanti dia bisa ketularan ‘nggak ngo*tak’ seperti kamu.”

“APA?! Apa tadi kau bilang, Arkan?!” teriak Vanya, wajahnya merah padam karena merasa harga dirinya sebagai kepala sekolah jatuh di depan murid barunya.

Arkan sama sekali tidak menjawab. Dengan gerakan taktis dan cepat, ia mengangkat Leon ke dalam pelukannya sebentar sebelum mengaitkan jari-jarinya pada gagang baby car seat. Ia menoleh ke arah Maya yang masih terpaku melihat pertengkaran mereka.

“Maya, aku pamit duluan. Aku ada jadwal operasi besar pagi ini, jadi aku tidak bisa menunggumu sampai bel masuk,” ucap Arkan, suaranya mendadak berubah menjadi hangat saat bicara pada Maya.

Maya hanya bisa mengangguk kaku. “I-iya, Kak Arkan. Hati-hati di jalan.”

Setelah berpamitan singkat, Arkan melenggang pergi keluar ruangan dengan langkah lebar, membawa Leon bersamanya. Ia benar-benar mengabaikan Vanya yang kini sedang berjuang berdiri sambil membersihkan debu di rok span mahalnya.

Begitu pintu jati itu tertutup rapat, BAM! Suara teriakan Vanya meledak di dalam ruangan.

“ARKAN BRENG*SEK! DOKTER GI*LA! AWAS KAU YA, AKAN KUADUKAN KAU PADA TANTE!” maki Vanya sambil menunjuk-nunjuk pintu yang sudah tertutup.

Napas Vanya memburu, ia membetulkan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Namun, sedetik kemudian, ia menatap Maya yang tampak ketakutan melihat amukannya. Vanya langsung menghentikan teriakannya dan berdehem kecil, mencoba kembali ke mode “Kepala Sekolah Elegan”.

“Ehem, lupakan apa yang kau lihat tadi, Maya. Temanmu… maksudku Kak Arkan-mu itu memang sudah gi*la sejak lahir,” ucap Vanya sambil tersenyum paksa, meski matanya masih menyiratan keinginan untuk mence*kik Arkan.

Vanya kemudian melangkah menuju meja kerjanya dan menekan tombol intercom. “Bu Siska, tolong ke ruangan saya. Antarkan siswi baru kita ke kelas XI-A.”

Vanya kembali menatap Maya, kali ini dengan tatapan yang lebih tenang. “Nanti ada guru yang akan mengantarkanmu ke kelas. Soal Leon, percayalah, Arkan akan menjaganya lebih baik dari nyawanya sendiri. Dan jika ada yang berani mengganggumu di kelas, kau tahu harus lari ke mana, kan?”

Maya mengangguk pelan. “Terima kasih, Bu Vanya.”

Tak lama kemudian, pintu ruangan Vanya diketuk dengan irama yang mantap. Setelah dipersilakan masuk, seorang wanita melangkah ke dalam dan seketika mencuri perhatian Maya.

Wanita itu adalah Bu Siska. Di usianya yang sekitar 35 tahun, ia tampak sangat menjaga penampilannya. Rambut panjangnya ditata dengan keriting gantung yang sempurna di bagian bawah. Namun, yang membuat Maya takjub hingga tersipu adalah bentuk tubuhnya yang sangat matang dan ideal, posturnya tegak, dengan bentuk tubuh yang sangat proposional bahkan Maya sempat merasa minder melihat betapa tegap dan berisinya Bu Siska dibandingkan dirinya. Bibirnya yang tebal dipulas lipstick merah menyala, memberikan kesan berani.

“Selamat pagi, Bu Vanya,” sapa Bu Siska dengan nada yang sedikit centil dan penuh percaya diri.

Vanya hanya menanggapi dengan gumaman singkat, seolah sudah terbiasa dengan gaya asistennya itu. “Hem. Siska, ini anak barunya. Namanya Maya. Kamu tahu kan harus membawanya ke kelas mana?” tanya Vanya sambil merangkul pundah Maya.

“Tentu dong, Sexy Boss,” jawab Siska sambil mengedipkan sebelah mata, membuat Vanya hanya bisa memutar bola matanya.

Vanya mengelus kedua bahu Maya dengan lembut, memberikan sedikit kekuatan. “Ikuti Bu Siska, ya. Dia memang sedikit ‘ajaib’, tapi dia akan menjagamu sampai ke kelas.”

Maya mengangguk patuh. “Baik, Bu Vanya. Permisi.”

Maya kemudian melangkah keluar mengikuti Bu Siska. Di sepanjang koridor sekolah yang mewah dan berlantai marmer itu, Bu Siska berjalan dengan pinggul yang bergoyang mengikuti irama langkah kaki high heels-nya yang berbunyi tuk, tuk, tuk.

“Aku dengar kamu tinggal di rumah dr. Arkan ya?” tanya Bu Siska tiba-tiba sambil melirik Maya dari sudut matanya yang tajam. “Beruntung sekali kamu, manis. Dokter itu terlihat dingin-dingin empuk, lho. Banyak guru di sini yang mengantre hanya untuk mendapatkan lirikan matanya.”

Maya hanya bisa menunduk malu, bingung harus menjawab apa. Pikirannya masih melayang pada Leon dan bagaimana perasaannya nanti saat duduk di bangku kelas setelah sekian lama.

Langkah Bu Siska terhenti di depan sebuah pintu kelas bertuliskan XI-A. Suasana di dalam terdengar cukup riuh sebelum mereka masuk.

“Nah, ini kandangmu yang baru,” bisik Bu Siska sambil tersenyum misterius. Ia kemudian membuka pintu kelas dengan gerakan dramatis.

Seketika, seluruh pasang mata di dalam kelas tertuju ke arah pintu. Suasana yang tadinya bising mendadak sunyi senyap saat mereka melihat siswi baru yang tampak begitu polos dan cantik berdiri di samping Bu Siska yang mencolok.

*****

Di depan rumah Ibu Aminah.

Sekelompok ibu-ibu berkumpul mengelilingi tukang sayur, namun fokus mereka bukan pada harga cabai, bawang, dan sayur, melainkan pada kabar miring tentang Maya.

“Eh, dengar-dengar si Maya sudah pergi ya? Katanya diceraikan sama Rian,” bisik seorang ibu sambil memilih bayam.

“Ya pantas saja! Mana ada laki-laki yang tahan punya istri teledor begitu. Masa kandungan sendiri tidak bisa dijaga sampai bisa meninggal,” sahut yang lain dengan nada menindas. “Gadis muda zaman sekarang memang begitu, cuma tau gaya, tapi mengurus kehamilan sendiri tidak becus.”

“Hush, jangan begitu. Aku dengar Maya itu diusir keluarganya karena hamil duluan, makanya Rian mau menampung. Eh, sekarang malah diceraikan. Kasihan sekali, sudah tidak punya apa-apa, sebatang kara lagi,” timpal wanita lainnya dengan nada simpati yang dibuat-buat.

Di tengah asyiknya mereka membuka aib orang, Rian muncul dari ujung gang. Ia berjalan santai, mengenakan kaos oblong yang bersih, sambil menyedot es kocok dari plastik di tangannya. Tidak ada kesedihan atau penyesalan di wajahnya setelah kehilangan anak dan istrinya dalam waktu singkat.

Ibu-ibu itu mendadak diam saat Rian melintas. Rian hanya melirik sekilas tanpa menyapa, lalu masuk ke rumahnya dan membanting pintu kayu yang sudah rapuh itu.

Begitu pintu tertutup, suara bisik-bisik itu kembali meledak, bahkan lebih kencang dari sebelumnya.

“Lihat itu! Si Rian benar-benar seperti tidak punya beban!” ucap Bu Siti yang baru keluar rumah. “Istrinya baru saja keguguran, dia malah asyik minum es kocok. Benar-benar laki-laki tidak punya hati nurani.”

“Iya, Bu. Padahal dulu dia yang manis-manis janji sama si Maya. Sekarang setelah Maya hancur, ditinggal begitu saja. Aku curiga di Rian itu sudah punya simpanan lain,” sahut tetangga sebelahnya sambil geleng-geleng.

Urat leher Rian menegang. Karena tidak tahan lagi mendengar namanya terus-menerus diseret dalam gunjingan, ia membanting pintu rumahnya dan melangkah lebar mendekati kumpulan ibu-ibu yang sedang asyik memegang plastik belanjaan itu.

“Kalian pikir aku tidak dengar?!” gertak Rian dengan mata melotot, membuat ibu-ibu itu mundur selangkah karena kaget. “Kalian mau tahu kenapa aku menceraikan Maya? Itu karena gadis yang kalian bela itu ternyata simpanan pria hidung belang!”

Ibu-ibu itu saling lirik, wajah mereka yang tadinya sinis pada Rian kini berubah menjadi penuh rasa ingin tahu yang besar.

“Coba saja kalian bayangkan jika pasangan kalian itu berselingkuh. Apa kalian mau menerimanya lagi? Tentu tidak, kan?” lanjut Rian dengan nada yang sangat menyakinkan.

Rian berbalik, pura-pura hendak masuk ke rumah. Namun, setelah melangkah beberapa, ia memuar badannya kembali. Ia merasa kebohongannya belum cukup dalam untuk menghancurkan nama baik Maya.

“Oh, satu lagi,” tambahnya dengan seringai licik. “Aku sebenarnya sangat bersyukur kalau Maya keguguran. Karena kalau bayi itu lahir, belum tentu itu anakku! Soalnya saat aku dulu khilaf dengannya, gadis itu sudah tidak perawan lagi. Rasanya…akh! Pokoknya menyesal lah aku sudah mau menerimanya!”

DEG!

Ibu-ibu itu menutup mulut dengan tangan mereka, benar-benar syok mendengar pengakuan palsu Rian yang begitu keji. Mereka yang tadinya kasihan pada Maya, kini mulai termakan omongan Rian.

“Astaga, jadi begitu aslinya Maya?” bisik salah satu tetangga. “Pantas saja Rian santai-santai saja.”

Rian kembali masuk ke rumahnya dengan langkah angkuh. Begitu pintu kayu itu tertutup rapat, senyum puas yang menjijikkan tersungging di bibirnya. Ia segera berlari kecil menuju jendela, mengintip dari balik celah gorden untuk melihat reaksi para tetangganya yang kini mulai heboh menyebarkan fitnah baru itu.

“Makan tuh kebohongan,” gumam Rian penuh kemenangan. “Dan buat kau Maya, aku harap kau menghilang dari muka bumi ini selamanya. Jangan sampai kau muncul lagi dan merusak reputasiku.”

...❌ Bersambung ❌...

1
~~N..M~~~
Benar, cuci aja pakai pemutih😂😂🤣🤣
~~N..M~~~
enggak, sudah bener itu🤣
~~N..M~~~
Pingin ku tampar itu mulut si Shiti
~~N..M~~~
Bagus. walaupun berat, kau harus menentukan masa depanmu sendiri, Ar
~~N..M~~~
Bener-bener merinding plus campur haru. Akhirnya alm. Lily membuka jalan baru untuk arkan
~~N..M~~~
Iih, merinding aku bacanya.
Manyo
memang bia*dab ibu tirinya. dan yang lebih bi*adab para pria, tapi bukan aku.
Manyo
sih paling fiktor 🤣
Manyo
Miris kali kurasa masa lalunya
Lisa
Arkan udh lega nih karena alm.Lily udh memberi restu supaya dia membuka hati utk wanita lain
Chici👑👑
Vote melayang untuk mu kak
sari. trg: terima kasih kak/Smile/
total 1 replies
~~N..M~~~
Bibinya kayak makcomblang
~~N..M~~~
Jadi gak sabar gebrakan apa yang akan dibut arkan
Lisa
Bersyukur ibu & baby nya selamat..dokter Arkan benar2 dokter yg handal 👍
~~N..M~~~: Bener, kak. Serumit apa pun masalahnya, dia tetap profesinya.
total 1 replies
Sunaryati
Kejam amat Arkan
~~N..M~~~
Zavier lembutnya hanya pada Maya, dan korban lainnya.
~~N..M~~~
Waktu tidak sadar kau bilang tangguh. Enggak teciummu lagi laki laki yang gak mandi berhari-hari itu
Manyo
Hahahaha, belum gosok gigi kali
Manyo
tegas👍
Manyo
banyak bacot mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!