Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***
"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."
Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.
***
"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azzura yang Lempeng
Setelah beristirahat selama dua hari di rumah yang terasa seperti dua aba bagi Abidzar, akhirnya hari ini ia berhasil membujuk Azzura untuk mengizinkannya kembali ke kampus.
Setelah membuat sang istri panik, cemas, dan begadang semalaman karena demamnya yang tinggi, Abidzar akhirnya belajar bersikap kooperatif. Ia menuruti semua titah Sang Ratu: istirahat penuh, minum obat tepat waktu, dan makan teratur tanpa banyak protes. Hingga pada akhirnya, Azzura melunak dan memberinya izin keluar rumah hari ini.
Azzura sendiri tidak memiliki jadwal kuliah. Namun Abidzar tetap memaksanya ikut menghadiri penutupan kegiatan pameran bisnis yang diadakan fakultasnya. Acara yang sama seperti tempo hari—saat Abidzar tanpa aba-aba mengumumkan kepada semua orang bahwa dirinya telah menikah, dan Azzura adalah istrinya.
Begitu mereka tiba di pelataran gedung Fakultas FEBI, Azzura cukup terkejut dengan sambutan teman-teman suaminya.
Terlalu meriah.
Seolah Abidzar baru saja kembali dari medan perang, bukan sekadar absen dua hari karena sakit. Padahal yang ia lakukan hanya terbaring di rumah dengan pengawasan ketat istrinya. Namun reaksi mereka seakan Abidzar menghilang selama dua dekade.
Azzura memilih duduk di bagian belakang aula. Dari sana, ia menyaksikan Abidzar yang kini berdiri di depan, memberikan pengarahan kepada para panitia untuk acara penutupan yang akan segera dimulai. Wajahnya serius, posturnya tegap, auranya penuh wibawa.
Saat itulah seorang laki-laki menghampirinya.
“Permisi.” Laki-laki itu duduk dengan jarak dua kursi darinya. “Azzura, apa kabar? Masih kenal saya, kan?”
Azzura menoleh dan mengamati wajahnya sejenak sebelum mengangguk. “Iya… Evan, kan?”
Evan langsung tersenyum lebar, jelas antusias. “Wah, masih diingat. Kirain udah dilupakan.”
“Panggil Zura aja,” balas Azzura ramah.
“Oke, Zura,” Evan mengangguk. “Eh, tapi kenapa El manggil kamu Zuya?”
“Itu panggilan kesayangan dia,” jawab Azzura ringan. “Dari dulu.”
“Oalah… pantes.”
Evan lalu melirik sekeliling. “Saya gapapa duduk di sini, kan? Dari tadi lihat kamu bengong sendirian, kayak anak ilang.”
Azzura tertawa kecil. “Lebay.”
Memang benar, sejak tadi ia tidak berbaur dengan para panitia. Bukan karena tidak mau, melainkan karena ia merasa… agak segan. Beberapa orang tampak menjaga jarak. Ia sudah berusaha menyapa, tersenyum, bahkan membuka obrolan, tapi tetap terasa ada sekat yang tak kasat mata.
Terutama dari beberapa mahasiswi.
Tatapan mereka—sejak tau Abidzar sudah menikah—terasa dingin. Seolah belum bisa menerima kenyataan, dan Azzura menjadi sosok yang dinilai tanpa diberi kesempatan.
“Kamu gak mau gabung sama anak-anak yang di sana?” tanya Evan sambil menunjuk sekelompok mahasiswa ber-ID card panitia yang sedang bercanda.
“Daripada sendirian di sini kayak kambing congek.”
“Kak!” Azzura kembali tertawa. "Takutnya malah jadi awkward kalau aku gabung.”
“Gapapa,” Evan menggeleng mantap. “Mereka semua malah pengen kenalan sama istrinya El.”
Ia lalu mencondongkan tubuhnya sedikit dan berbisik, “Jangan bilang-bilang ya… sebenernya yang nyuruh saya ke sini itu mereka semua.”
“Hah?”
“Iya,” Evan nyengir. “Soalnya yang paling berani sama El ya saya. Yang lain takut ganggu kamu, takut digalakin El. Jadilah saya dikirim sebagai tumbal.”
Azzura terkekeh. “Emangnya El segalak itu?”
“Galak banget.” Evan menunjuk ke arah Abidzar yang tengah berbicara serius dengan beberapa panitia. “Coba lihat. Kalau dia lagi kerja, gak ada tuh senyum tengil yang biasa kamu lihat.”
Azzura memperhatikan lebih saksama.
Wajah Abidzar di sana tampak dingin, tegas, penuh fokus. Aura main-mainnya hilang sama sekali. Ia nyaris tak percaya kalau sosok itu adalah laki-laki yang semalam merengek minta dielus dan dipeluk.
“Kamu lihat, kan?” lanjut Evan. “Kalau udah serius, dia gak bisa diajak bercanda. Kerja ya kerja.”
Evan menghela napas kecil. “Makanya saya gak terlalu kaget waktu El ngenalin kamu sebagai istrinya. Dia itu tipe orang yang kalau udah punya tujuan, dikejar sampai dapat.”
Ia tersenyum kecil. “Dulu, hidupnya cuma dua: kuliah dan organisasi. Sampai kami sering ngejek, organisasi itu pacarnya.”
Azzura tersenyum mendengarnya.
“Dia gak pernah nunjukin ketertarikan sama perempuan mana pun,” lanjut Evan. “Makanya pas ngenalin kamu, kami semua lega. Alhamdulillah… ternyata El masih suka sama perempuan.”
Azzura dan Evan sama-sama tertawa. Lalu nada Evan berubah sedikit lebih serius. “Saya cuma berharap… kamu gak pernah dinomorduakan sama semua kesibukan organisasinya.”
Kalimat itu membuat Azzura terdiam sejenak. Ia hanya mengangguk pelan.
Belum sempat menanggapi, Evan sudah berdiri. “Ayo, ikut saya. Biar gak bengong sendirian lagi.”
Azzura menarik napas pelan, lalu bangkit mengikuti langkah Evan—dengan pandangan yang sempat kembali tertuju pada Abidzar di kejauhan.
***
Acara penutupan pameran bisnis yang diadakan Himpunan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam itu mendapat apresiasi dari semua tamu yang hadir. Bisa dibilang, pameran tahun ini menjadi yang paling sukses dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Keberhasilan itu tentu bukan hasil kerja satu orang saja, melainkan buah dari kerja keras seluruh panitia. Namun dari obrolannya bersama Evan dan beberapa teman Abidzar yang kini mulai akrab dengannya—Azzura mengetahui satu hal penting. Kesuksesan acara ini tidak lepas dari ide brilian suaminya.
Abidzar menggandeng beberapa start-up yang cukup dikenal untuk ikut berpartisipasi dan membantu promosi. Langkah itu membuat pameran ini mendapat sorotan lebih luas, bahkan di luar lingkungan kampus.
Dari tempatnya berdiri, Azzura bisa melihat bagaimana beberapa dosen bergantian menyalami Abidzar. Tatapan bangga jelas terpancar dari wajah mereka. Nama kampus mereka ikut terangkat berkat acara ini—dan Abidzar menjadi salah satu sosok di baliknya.
“Nah, yang itu dekan Fakultas FEBI,” ucap Evan sambil menunjuk seorang pria berkumis yang mengenakan jas abu-abu, duduk di samping Abidzar. “Namanya Pak Hendrawan.”
Azzura mengangguk pelan.
“Yang di sebelahnya lagi itu anaknya,” lanjut Evan tanpa diminta. “Bu Anita. Baru lulus S2 dari Universitas Negeri Jakarta, terus direkrut langsung sama bapaknya buat ngajar di sini.”
Azzura kembali mengangguk, mendengarkan.
Ada untungnya ia tadi menolak permintaan Abidzar untuk duduk bersamanya di barisan depan. Selain karena merasa tidak punya peran penting dalam acara ini—yang melibatkan para dosen dan tamu kehormatan—Azzura juga lebih nyaman berada agak jauh dari pusat perhatian. Di sini, bersama Evan dan teman-teman Abidzar, suasananya terasa lebih santai.
“Dia itu dulu sempat naksir Abidzar, loh, Zura.”
Azzura menoleh. Evan tampak sangat bersemangat, seolah sepuluh menit tanpa berbicara membuat mulutnya terasa gatal. Bahkan kini, ia ikut-ikutan memanggil Abidzar tanpa embel-embel apapun, tanpa nama El, sama seperti Azzura.
“Tapi ya sama aja,” lanjut Evan. “Gak pernah digubris sama suami kamu. Padahal orangnya cantik, pintar, anak dekan pula. Kurang apa coba?”
Azzura hanya menanggapi dengan anggukan kecil.
Evan tidak menyerah. Ia terus melanjutkan ceritanya tentang mahasiswi-mahasiswi yang diam-diam menyukai Abidzar, tentang beberapa dosen yang dulu terang-terangan ingin menjadikannya menantu, hingga kisah-kisah lama yang bahkan Azzura sendiri belum pernah dengar.
Namun setiap cerita Evan hanya dibalas dengan reaksi yang sama: anggukan singkat, senyum tipis, atau sekadar,
“Oh.”
Akhirnya Evan menghela napas panjang dan mengerang kesal. “Zura, kamu tuh bener-bener pendengar paling gak ekspresif yang pernah saya temui. Apa kamu gak cemburu?"
Azzura hanya mengangkat bahunya. "Enggak."
Dan Evan menepuk keningnya.
Evan masih ingin membuka mulut lagi ketika suara tepuk tangan menggema di seluruh aula. Acara penutupan resmi dimulai. Abidzar kini berdiri di podium, mikrofon di tangannya, raut wajahnya kembali serius dan berwibawa.
Azzura otomatis mengalihkan pandangannya ke depan. Ada rasa bangga yang menghangat di dadanya setiap kali melihat Abidzar dalam mode seperti itu—tenang, tegas, dan penuh kendali. Sangat berbeda dengan Abidzar yang manja, clingy, dan suka mencari perhatian ketika sedang bersamanya.
“Kelihatan banget ya bedanya,” celetuk Evan pelan, seolah membaca isi kepala Azzura. “Kalau di depan umum kayak gitu, auranya ketua banget. Tapi kalau sama kamu… hancur semua wibawanya.”
Azzura tersenyum kecil, tak membantah.
Tak lama, Abidzar selesai memberikan sambutan. Tepuk tangan kembali memenuhi ruangan. Ia turun dari podium dan tanpa ragu menoleh ke arah belakang—tepat ke tempat Azzura berdiri. Tatapan mereka bertemu. Abidzar tersenyum kecil, senyum yang hanya Azzura tau artinya.
“Wah,” Evan berdecak pelan. “Itu tatapan khas suami kamu kalau lagi nyari istrinya.”
***
Saat Azzura berpamitan hendak ke toilet, Evan langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Abidzar.
“Wah, parah sih, El. Istri kamu itu lempengnya kebangetan,” ucap Evan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Abidzar menoleh, alisnya terangkat. “Memangnya kenapa?”
“Mulut aku udah berbusa, El,” lanjut Evan dramatis. “Aku ngabsenin satu-satu nama mahasiswi yang dulu pernah naksir kamu, tapi istri kamu sama sekali gak bereaksi. Dosen-dosen yang pengin kamu jadi menantunya juga udah aku ceritain, tetap aja datar. Bahkan soal Bu Anita yang dulu ngejar-ngejar kamu itu—”
Evan menepuk keningnya sendiri. “Balasannya cuma satu kata. ‘Oh.’ Lempeng banget! Aku sampai nanya, masa iya nggak cemburu. Tau jawabannya apa?”
Abidzar menghela napas pelan, firasatnya mulai tidak enak. “Apa?”
“Dia jawab, ‘nggak.’ Udah. Gitu doang. Haduh!” Evan kembali menepuk keningnya, frustasi.
Abidzar menutup mata sesaat. Di kepalanya, satu kata itu justru bergaung keras.
Oh.
Ia ingin sekali menjebloskan Evan ke kandang harimau saat itu juga. Bisa-bisanya temannya membuat masalah sebesar ini. Evan jelas tidak paham—diamnya Azzura justru jauh lebih mengerikan daripada amarah.
“Van,” ucap Abidzar pelan tapi berbahaya, menatap tajam sahabatnya itu, “kamu tau gak?”
Evan refleks menelan ludah. “Tau apa?”
“Rasanya aku pengin banget jahit mulut kamu sekarang juga.”
Evan nyengir lebar, sama sekali tak merasa bersalah. “Loh, kan aku cuma jujur. Aku pikir kamu harus tau sedini mungkin sebelum badai datang.”
Abidzar menghela napas panjang, tangannya mengusap wajah frustasi. “Kamu itu bukan jujur, Van. Kamu provokator.”
“Lah terus aku salah dong?” Evan memasang wajah polos pura-pura. “Aku kan cuma pengen tau reaksi istri kamu.”
“Reaksi dia itu bukan buat kamu analisis,” balas Abidzar datar tapi mengandung ancaman. “Dan satu lagi, mulai sekarang, stop cerita kaya tadi lagi. Paham?”
Evan langsung mengangguk cepat. “Paham, Ketua. Serius. Aku kapok.”
“Bagus.”
Abidzar melirik ke arah lorong toilet, memastikan Azzura belum kembali. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia terlalu hafal istrinya. Justru Azzura yang terlalu tenang itu yang paling berbahaya.
“Aku tuh lebih takut sama reaksi diamnya dia,” gumam Abidzar tanpa sadar.
“Hah?” Evan menajamkan telinga. “Maksudnya?”
Abidzar menatap Evan dengan sorot mata lelah. “Kalau dia marah, cemburu, atau ngomel, itu masih aman. Tapi kalau dia cuma bilang ‘oh’, itu artinya dia nyimpen semuanya di kepala. Dan nanti… aku yang kena.”
Evan menelan ludah. “Serius segitunya?”
“Serius,” jawab Abidzar mantap. “Makanya aku bilang, kamu itu bahaya. Laki-laki itu harus tau apa arti dari kata singkat perempuan."
Belum sempat Evan menimpali, langkah Azzura sudah terdengar mendekat. Abidzar refleks berdiri lebih tegak, ekspresinya berubah seolah tak terjadi apa-apa.
Azzura berhenti di depan mereka. Tatapannya bergantian antara Abidzar dan Evan. “Lagi ngomongin apa?”
“Enggak ada,” jawab Abidzar terlalu cepat.
Evan berdeham. “Iya, gak ada apa-apa kok. Ngomongin… cuaca.”
Azzura mengangkat alis. “Di dalam gedung?”
“Cuaca batin,” Evan menambahkan cepat, lalu tertawa garing. “Aku duluan ya, El. Zura.”
Tanpa menunggu jawaban, Evan langsung cabut secepat mungkin.
Azzura memandang punggung Evan yang menjauh, lalu menoleh ke Abidzar.
“Mas ngapain dia sampe kabur gitu?”
Abidzar tersenyum kecil, tangannya otomatis meraih jemari Azzura. "Gapapa, sayang."
zuya lnh mirip umi hafiza saat awl hamil
ya allah semoga kluarga kcil ini sllu dlm lindnganMu.amiin
AUra ga bisa ngerjain lg nih suami nya uda tau klo ngidam nya pira2 😀😀😀
zuya srpemikiran dgn umma arsyila dlm wktu dnyatakan hamil,smoga slmat pei debay lhir,apapun kdpnnya cobaan yg akn ada smoga psangan muda ini bisa sling mlngkapi st sm lain
jd ortu apa lgi dlm usia muda pasti bnyak rintangan,insyallah dgn adanya kluarga dan org" skitar yg mndukung dan mnemani smua akn brjln sesui hrpn
dasar zura polos banget
mksih kay kmu tuh mski dingin tp positif thinking👍👍👍
lanjut dong kk🥰🥰