NovelToon NovelToon
Dari Ribut Jadi Jodoh

Dari Ribut Jadi Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Kisah cinta masa kecil / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***

"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."

Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.

***

"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama Pasutri

Abidzar membuka pintu kamar dengan sangat pelan, seolah takut suara engselnya saja bisa memperkeruh suasana. Dari ambang pintu, ia langsung melihat Azzura sudah berbaring menyamping, punggungnya membelakangi pintu. Selimut ditarik tinggi hingga sebatas leher, menyisakan hanya sedikit rambut hitam yang terurai di bantal.

Ia melangkah masuk dengan hati-hati, lalu duduk di lantai tepat di sisi ranjang tempat istrinya berbaring. Untuk beberapa detik, Abidzar hanya diam, menatap punggung kecil itu dengan perasaan bersalah yang menekan dadanya.

Perlahan, ia mengulurkan tangan. Jarinya menyentuh helaian rambut Azzura yang menutupi wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan penuh kehati-hatian.

"Sayang, Mas minta maaf udah marah dan bentak kamu tadi. Mas tuh cuma khawatir sama kamu. Maaf kalau sikap aku salah. Maaf juga udah buat kamu nungguin mas sampai tengah malam kayak gini. Kata Ayza kamu belum makan, kan? Kita makan yuk. Mas gak bisa biarin kamu tidur dengan perut kosong kayak gini. Mas gak mau, lambung kamu bisa perih lagi karena gak makan."

Azzura diam saja, tidak berniat menjawab.

Abidzar tidak menyerah dan kembali mengelus pipi istrinya itu. "Sayang, bangun dong. Kita makan ya?"

Masih tidak ada pergerakan dari Azzura. Tapi melihat bibir istrinya yang mengerucut lucu membuat Abidzar tau bahwa istrinya belum tidur. Ia sebenernya ingin menggoda tapi takut kalau Azzura akan bertambah marah padanya.

Abidzar kemudian ikut naik ke atas ranjang, setelah melepas hoodie dan kaus kakinya, masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh istrinya dari belakang, menghirup wangi rambut Azzura yang selalu menjadi candu untuknya.

"Zuya, jangan gini dong. Mas gak bisa kamu diem kaya gini. Mending kamu keluarin kekesalan kamu, semuanya. Kalau perlu kamu bisa pukul aku, tapi tolong sayang jangan diem kaya gini."

Abidzar semakin mengeratkan pelukannya, membuat Azzura mau tidak mau protes karena pelukannya terlalu erat membuat Azzura sesak nafas.

"Lepas!" Azzura memberontak dan langsung menyikut perut suaminya lumayan keras. Suaminya mengaduh kesakitan tapi ia abaikan karena usahanya berhasil untuk membuat istrinya terbangun.

"Maafin Mas ya, cantik."

Pujian itu tidak akan membuat Azzura luluh.

Azzura masih diam. Abidzar kembali mencoba untuk memeluk tubuh istrinya itu tapi langsung di tolak mentah-mentah oleh Azzura dengan kembali menyikut perut suaminya.

"Zuya, ngomong dong sayang."

“Aku gak mau ngomong sama kamu,” jawab Azzura akhirnya, suaranya dingin. “Sana, nginep aja sekalian di kampus. Nggak usah pulang ke sini.”

Abidzar menggeleng cepat. “Kamu itu tempat Mas pulang. Mana mungkin Mas nggak pulang ke kamu. Jangan marah lagi ya…”

Tidak berhasil memeluk Azzura, laki-laki itu beralih meriah tangan istrinya untuk ia genggam tapi lantas langsung ditarik dengan cepat oleh istrinya yang masih menolak menatapnya itu.

"Kita makan ya? Kata Ayza kamu belum makan malam dari tadi. Aku panasin makananya dulu gimana? Kamu tunggu disini. Biar aku ke dapur dulu."

“Nggak usah,” potong Azzura tajam. “Aku udah nggak niat makan. Lagian yang aku masakin juga udah makan, kan? Jadi buat apa dipanasin segala.”

Nada jutek itu membuat Abidzar menelan ludah. Rasa bersalahnya kian menumpuk.

“Maaf…” cicitnya pelan, nyaris tak terdengar.

Azzura lagi-lagi diam, tidak menanggapi permintaan maaf suaminya.

Abidzar ikut diam, tidak tau harus membujuk Azzura giimana lagi.

Mereka masih diam-diaman hingga Abidzar memilih untuk bangkit lalu keluar kamar. Sebelum keluar dari kamar, ia melirik jam yang berada di dinding kamarnya, sudah pukul dia belas malam. Sudah cukup lama juga ia membujuk istrinya.

“Sayang,” ucapnya pelan sebelum melangkah pergi, “Mas pamit keluar sebentar ya. Kamu jangan khawatir. Mas gak lama.”

Azzura tak menjawab.

Namun kali ini, Abidzar tetap berpamitan. Ia sadar, setelah malam ini, ia tak ingin lagi membuat istrinya menunggu tanpa kabar.

Ia menutup pintu kamar perlahan.

Meninggalkan Azzura yang masih diam—namun hatinya sama gaduhnya dengan hati laki-laki yang baru saja keluar dari kamarnya.

Abidzar turun ke bawah, langkahnya pelan. Ia langsung membuka kulkas, berharap masih ada cokelat—senjata andalan yang biasanya ampuh memperbaiki suasana hati istrinya saat sedang ngambek. Namun harapannya pupus. Rak pendingin itu kosong dari apa yang ia cari.

Ia menghela napas pelan.

Tanpa banyak pikir lagi, Abidzar meraih kunci motor yang tergantung rapi di gantungan, lalu melangkah keluar rumah. Demi istrinya, ia rela mengendarai motor ke minimarket 24 jam yang jaraknya cukup jauh dari pesantren. Hanya untuk membeli cokelat dan es krim—dua hal yang hampir selalu berhasil melunakkan hati Azzura.

Setengah jam kemudian, ia kembali.

Dari halaman depan rumah, Abidzar menangkap bayangan tubuh kecil di balik jendela. Azzura mengintip. Begitu menyadari keberadaannya, wanita itu buru-buru menghilang, berlari menjauh.

Abidzar tersenyum tanpa sadar.

Tingkah istrinya selalu berhasil membuatnya gemas. Rasanya ingin langsung memeluk, mencubit pipi chubby itu, lalu menciumnya berkali-kali. Ia sudah membayangkan—begitu Azzura baikan, hal pertama yang akan ia lakukan adalah memeluk dan mencium istrinya selama dan sebanyak yang ia bisa.

Setelah mengunci pintu depan, Abidzar langsung menuju kamar. Benar saja, Azzura masih dalam posisi yang sama seperti sebelumnya—berbaring menyamping, memunggunginya, selimut tetap ditarik tinggi.

Diam-diam Abidzar tersenyum, membayangkan betapa cepat istrinya tadi berlari kembali ke kamar dan pura-pura tidur.

Ia berjongkok di tepi ranjang, tepat di sisi wajah Azzura. Setengah mati ia menahan tawa, jelas-jelas tau istrinya hanya berpura-pura terlelap.

Abidzar menjentik lembut hidung mancung itu, lalu berbisik,

“Sayangku… bangun deh. Lihat aku bawa apa?”

Ia sengaja menggoyangkan kantong plastik berisi cokelat dan es krim di dekat telinga Azzura.

Tak sampai hitungan detik, mata itu terbuka.

Abidzar tersenyum lebar.

Namun Azzura tetap memasang wajah dingin, bahkan saat Abidzar memperlihatkan belanjaannya.

“Aku beli cokelat kesukaan kamu sama es krim Paddle Pop pelangi yang kamu suka,” ucapnya lembut.

“Ini semua buat kamu. Tapi syaratnya kamu makan dulu ya. Kita makan bareng. Gimana?”

Azzura memutar bola matanya.

“Gak. Udah malam. Aku udah sikat gigi. Aku gak mau.”

“Biasanya, dalam kondisi apa pun, kamu selalu mau.”

“Ya tapi sekarang aku gak mau,” balasnya ketus.

“Kamu nyogok aku kan? Biar aku gak marah? Enak aja.”

Abidzar menggaruk tengkuknya, salah tingkah. Usahanya ternyata belum berhasil.

“Bukan gitu, sayang,” katanya pelan.

“Mas cuma pengen kamu makan. Mas khawatir. Kata Ayza kamu belum makan malam karena nungguin Mas pulang.”

Ia menatap Azzura dengan serius.

“Mas gak masalah kamu marah sama Mas. Beneran. Mas salah. Tapi jangan nyiksa diri kamu sendiri. Mas gak bisa nerima itu. Yang salah Mas, jadi Mas yang seharusnya kena akibatnya, bukan kamu.”

Nada suaranya penuh permohonan. Tatapannya lembut, nyaris memelas.

Azzura masih kesal, tapi hatinya sedikit melunak melihat ekspresi suaminya.

“Oke,” katanya akhirnya.

“Aku mau makan. Tapi—”

“Tapi apa?” Abidzar langsung sigap.

“Kamu mau apa? Bilang aja.”

Azzura sebenarnya tak benar-benar menginginkan apa pun. Tapi melihat Abidzar yang tampak siap mengabulkan apa saja, ia tergoda untuk memanfaatkan situasi.

“Gak usah deh,” gumamnya pura-pura ragu.

“Takut ngerepotin.”

Abidzar menggeleng cepat.

“Gak ngerepotin. Sama sekali nggak. Kamu bilang aja.”

Azzura berpikir sejenak, lalu menyebutkan makanan yang selama ini selalu dilarang Abidzar.

“Aku pengen martabak keju. Kejunya yang banyak. Terus seblak level sepuluh. Aku juga mau minum yang seger—es jeruk, tapi jangan yang asem. Terus cemilan dari minimarket. Chitato rasa sapi panggang, popcorn juga. Sama bagelen keju. Udah itu aja kok… gak banyak, kan?”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,

“Eh tapi bentar, aku juga mau—”

“Zuuuyaaa,” potong Abidzar sambil melongo. “Kamu yakin mau makan itu semua?”

Azzura mendelik.

“Jadi kamu gak ikhlas? Ya udah, gak usah. Kan tadi kamu sendiri yang nawarin. Aku cuma nyebutin doang.”

“Bukan gitu!” Abidzar langsung panik. “Aku ikhlas, sayang. Ikhlas banget. Aku beliin semua, ya. Kamu kirim pesan aja pesanan kamu barusan. Aku takut lupa.”

Ia berdiri cepat, mengecup kening Azzura, lalu mencuri satu kecupan singkat di bibirnya sebelum istrinya sempat protes.

“Jangan ke mana-mana. Tunggu Mas.”

Abidzar bergegas keluar kamar, mengambil kunci motor, lalu melesat pergi—kali ini dengan satu tujuan: menebus kesalahannya, satu martabak dan seblak level sepuluh sekaligus.

***

Azzura baru saja hendak menelepon suaminya, berniat memintanya pulang saja, ketika suara pintu ruang tamu terdengar terbuka.

Ia refleks berlari keluar kamar.

Di depan pintu, Abidzar sudah berdiri dengan pakaian basah kuyup. Rambutnya menempel di dahi, wajahnya pucat, dan bibirnya bergetar menahan dingin. Padahal hujan yang turun sejak Abidzar pergi tadi semakin deras—dan Azzura sudah diliputi rasa khawatir.

“Maaf ya,” ucap Abidzar sambil memaksakan senyum. Suaranya sedikit bergetar. “Kamu pasti nunggu lama. Tadi hujannya sempat pengen Mas terobos aja, tapi takut martabak kamu ikut basah.”

Ia menyodorkan kantong plastik berisi semua pesanan Azzura.

Dada Azzura mendadak sesak. Tangannya gemetar saat menerima kantong itu. Rasa marah yang sejak tadi ia tahan luruh begitu saja, digantikan perasaan ingin menangis.

Kalau sudah begini, bagaimana mungkin ia masih sanggup marah?

“Mas, masuk,” ucapnya cepat. “Langsung ke kamar mandi. Mandi air hangat. Bajunya nanti aku siapin.”

Abidzar mengangguk patuh tanpa membantah.

Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah dan pakaian bersih. Tubuhnya sudah terlihat lebih segar, meski sisa dingin masih tampak dari cara ia mengusap lengan sendiri.

Di meja makan, Azzura sedang menata martabak, seblak, dan cemilan lainnya.

“Itu aku buatin teh jahe,” katanya tanpa menoleh.

“Diminum dulu. Biar badan Mas hangat.”

Abidzar tersenyum lebar. Ia menarik kursi dan duduk di dekat istrinya, menatapnya dengan mata yang penuh rasa hangat.

“Mas mau makan apa?” tanya Azzura. “Biar aku ambilin.”

Abidzar hanya mengulum senyum, menikmati perhatian itu dalam diam. Dalam hati ia merasa perjuangannya tadi tidak sia-sia. Menerjang hujan, dingin, dan lelah—semuanya terbayar saat melihat Azzura kembali seperti ini.

“Masakan kamu mana?” tanyanya kemudian.

“Kok gak ada?”

“Sop ayamnya udah dingin,” jawab Azzura jujur.

“Belum aku panasin. Kamu makan ini aja dulu, masih hangat.”

“Gak,” Abidzar menggeleng.

“Aku maunya masakan kamu.”

“Tapi udah dingin, Mas.”

“Gapapa. Aku suka. Pokoknya aku mau itu.”

Azzura menatap suaminya lama, lalu menghela napas kecil.

“Oke. Tapi aku panasin dulu. Kamu jangan ngebantah lagi.”

“Iya,” sahut Abidzar cepat.

“Asal aku makan masakan kamu. Tapi kamu juga harus habisin makanan yang aku beliin. Biar gak mubazir.”

Azzura bergidik pelan, menatap martabak dan seblak di meja.

Habis ini timbangan pasti naik, batinnya pasrah.

Ia lalu memanaskan sop ayam hingga kembali mengepul hangat. Tak lama, mereka pun makan bersama.

Tak ada lagi pertengkaran. Tak ada suara tinggi. Yang ada hanya obrolan pelan, tawa kecil, dan sesekali tatapan penuh makna.

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari ketika mereka selesai.

Abidzar menghabiskan sop ayam buatan Azzura sampai licin. Sementara Azzura hanya menghabiskan seblak dan sedikit martabak—sisanya disimpan.

Setelah membereskan meja, Azzura masuk ke kamar lebih dulu. Abidzar menyusul setelah memastikan semua lampu dimatikan.

Di kamar, Azzura sudah berbaring dengan selimut setengah badan. Wajahnya terlihat lelah, tapi jauh lebih tenang.

Abidzar naik ke ranjang dan berbaring di sampingnya.

"Zuya,” panggilnya pelan. “Makasih.”

“Buat apa?” Azzura menoleh malas.

“Buat nungguin Mas. Buat masak. Buat marah karena peduli.”

Ia tersenyum lembut. “Dan buat maafin Mas.”

Azzura diam sejenak, lalu menarik selimut lebih tinggi.

“Lain kali jangan bikin aku nunggu sambil khawatir lagi.”

“Iya,” jawab Abidzar tanpa ragu. “Mas janji.”

Ia menarik tubuh Azzura ke dalam pelukannya. Kali ini, Azzura tidak menolak. Bahkan kepalanya bersandar pas di dada Abidzar, mendengar detak jantung yang menenangkan.

“Tidur ya,” bisik Abidzar sambil mengecup puncak kepala istrinya.

“Iya,” balas Azzura pelan.

Dalam pelukan hangat itu, amarah benar-benar luruh. Yang tersisa hanya rasa aman—dan dua hati yang akhirnya kembali menemukan tempat pulangnya.

1
Alana kalista
lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
makanya bid pamit kalo pulang telat
Siti Java
up ge dong kk... gw seru ni🥰🥰
syora
wahhh ujian ya abidz,,,,kdng org tipe ceria klau dah marah DIEM itu yg bth ksbran nghadapinya
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh yang mulai cemburu
darsih
adyh bikin azura salah paham abidzar
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh pasangan ini bikin iri aja
Anak manis
cie cie😍
syora
nggak la zuya
awas kamu abidz bilang telat🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
enggak telat kok malah seneng
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ea yang sudah mulai membuka diri
Fegajon: zuya luluh juga🤭
total 1 replies
syora
berasa berdampingan dg athar versi abidzar❤❤❤❤❤
mereka yg cerita,aku yang masyallah dag dig dug
Fegajon: iya ya🤭 seperti mengulang kisah mereka
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
abid jangan bikin jantung zuya copot
Siti Java
up ge dong kk🥰🥰🥰
Fegajon: nanti malam ya😁
total 1 replies
syora
alhamdulillah nggak harus tergesa cukup komitnen,doa dqn keikhlasan
❤❤❤❤❤❤❤ samawa ya zuya abid dunya till jannah
Siti Java
lanjut kk🥰🥰
cutegirl
semangat terus thor 💪🏻
Anak manis
ceritany gak kalah seru dri orangtuanya😂
Alana kalista
semangatt 🔥💪
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh zuya, abid cemburu nih. ayo beri penawarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!