NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kriminal
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6 - Iya atau tidak?

Kota itu beraktifitas seperti biasa, orang kantoran bekerja di kantor, anak-anak pergi ke sekolah, para pedagang berjualan demi memenuhi nafkah, namun ada satu hal yang menjadi ketakutan mereka, pembunuhan. Belum selesainya kasus satu, kasus dua, kasus tiga, hingga kasus lima, membuat masyarakat berada dibawah bayangan ketakutan, mereka tidak berani keluar malam, keluar rumah hanya seperlunya saja, tida mempercayai satu sama lain.

Lima kasus pembunuhan beruntun dalam waktu singkat membuat semua pihak kehilangan pijakan. Bukan hanya masyarakat, bukan hanya media—bahkan kepolisian sendiri mulai berjalan tanpa arah yang jelas. Setiap hari, judul berita berubah, namun nadanya tetap sama: ketidakpercayaan.

Karina Intan merasakannya sejak pagi.

Ia berdiri di depan wastafel kamar mandi rumahnya, menatap pantulan wajah sendiri yang terlihat asing. Lingkar gelap di bawah mata tidak bisa disembunyikan oleh air dingin. Rambutnya terikat seadanya. Bahunya kaku, seolah menahan beban yang terlalu berat untuk satu tubuh.

Ia membuka keran sedikit lebih deras, membiarkan suara air menenggelamkan pikirannya. Namun gagal. Semua tetap masuk.

Korban tergantung.

Korban di hutan.

Korban tanpa jejak.

Tanpa kesalahan.

Tanpa sisa.

Dan yang paling mengganggu: tanpa emosi.

Karina mematikan keran. Ia menyandarkan kedua telapak tangan di sisi wastafel, menunduk. Nafasnya tertahan sesaat, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa ia telah berenang terlalu jauh dari tepi.

“Apa aku masih bisa mengendalikan ini?” gumamnya pelan, hampir seperti doa.

Karina pun bersiap menuju tempat yang sudah mulai ia benci, kantor polisi. Rasa ingin kabur dari semua mimpi buruk ini, tapi apa daya dia adalah salah satu orang yang diperhatikan berita atau media, sehingga membuat Karina haris berperang batin dengan dirinya sendiri.

Tekanan yang Tidak Terlihat

Di kantor polisi, suasana jauh lebih sunyi dari biasanya—sunyi yang bukan menenangkan, melainkan mencekam. Beberapa anggota duduk dengan bahu menunduk, layar ponsel mereka menyala memperlihatkan potongan berita dan komentar warganet.

“Polisi ke mana? Lima nyawa melayang dan masih nol hasil.”

“Mereka cuma pintar konferensi pers.”

“Kalau begini, mending kami jaga diri sendiri.”

Karina melewati mereka tanpa menoleh, namun setiap kata seakan menempel di punggungnya.

Ruang rapat sudah penuh saat ia masuk. Antono Wijaya duduk di ujung meja, posturnya tegak, ekspresinya datar seperti biasa. Arga Suseno berada di sisi lain, terlihat lebih gelisah dari biasanya—pena di tangannya diputar tanpa henti.

Tidak ada yang langsung bicara.

Keheningan itu bukan karena hormat, melainkan karena kelelahan kolektif.

“Lima kasus,” ujar Arga akhirnya, suaranya parau. “Dan semuanya… bersih.”

"Terdengar tidak masuk akal. Tapi dibuat masuk akal," balas Antono menambahi perkataan Arga.

Karina duduk, membuka mapnya. Tangannya sedikit gemetar, namun ia menahannya. Ia tidak boleh terlihat rapuh. Tidak sekarang.

“Media menuntut jawaban,” lanjut Arga. “Petinggi minta progres. Publik minta kepala.”

“Kita bukan tukang sulap,” balas Karina cepat, nadanya lebih tajam dari yang ia maksudkan. “Kasus ini—”

“—kasus ini sudah di luar kendali,” potong Arga. “Dan mereka ingin kita mengakuinya.”

Karina hendak membalas, namun Antono mengangkat tangan perlahan. Gerakan kecil itu cukup untuk menghentikan semua suara.

“Kalau pelaku bisa membuat permainannya sendiri,” ucap Antono tenang, “kita juga harus bisa membuat permainan kita sendiri.”

Kalimat itu menggantung di udara.

“Bagaimana, Pak?” tanya Karina, kali ini kelelahan benar-benar terdengar di suaranya. “Semuanya sudah sulit dikendalikan. Beberapa bahkan sudah lepas kendali. Pelaku ini—dia memegang permainan. Kita cuma bereaksi.”

Antono menatap Karina lama. Tatapan yang tidak menghakimi, namun juga tidak menghibur.

“Kamu bekerja tulus sebagai pelindung masyarakat,” tanyanya pelan, “atau bekerja untuk mendapat pujian?”

Pertanyaan itu jatuh seperti palu.

Karina terdiam.

Ia membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Dadanya terasa sempit. Bukan karena marah—melainkan karena takut pada jawaban sendiri.

“Saya tahu kamu masih muda,” lanjut Antono. “Ambisimu besar. Tapi ingat satu hal: ambisi yang tidak terkendali bisa menjatuhkanmu lebih cepat daripada kegagalan.”

Ruangan kembali sunyi. AC berdengung pelan. Karina menatap meja, melihat pantulan samar wajahnya di permukaan kayu yang mengilap. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa… kecil.

Ia berdiri tiba-tiba.

“Permisi,” ucapnya singkat.

Ia keluar tanpa menunggu jawaban.

Arga hanya menoleh tidak berani mengeluarkan kata, ia mengerti perasaan Karina. Berat. Tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Media dan publik semakin menekan, perwira tinggi pun ingin adanya sebuah progres dari setiap kasus-kasus.

Antono tidak memedulikan Karina keluar ruangan, ia hanya fokus dengan foto-foto TKP dan setumpuk berkas yang serasa tidak ada gunanya apabila dibaca.

Pelarian Sementara

Karina tidak langsung menyalakan mesin mobilnya. Matahari siang itu berada tepat di atas kepala, menyilaukan aspal dan kaca-kaca gedung di sekitarnya. Panas merambat perlahan masuk ke dalam mobil, membuat udara terasa pengap, namun Karina tidak membuka jendela. Ia duduk diam, tangan masih bertumpu di setir, seolah jika ia bergerak sedikit saja, sesuatu di dalam dirinya akan runtuh tanpa aba-aba.

Kata-kata Antono belum pergi.

Pertanyaan itu masih menggantung, tidak terucap ulang, tapi terasa semakin berat setiap detiknya.

“Kamu bekerja tulus sebagai pelindung masyarakat, atau bekerja untuk mendapat pujian?”

Karina menarik napas panjang. Ia mencoba menepisnya, meyakinkan diri bahwa pertanyaan itu hanya cara Antono mengguncang mental tim. Tapi semakin ia mencoba menolaknya, semakin jelas gema itu berputar di kepalanya.

Ia selalu tahu siapa dirinya di mata orang lain. Polisi berprestasi. Detektif dengan insting tajam. Perempuan yang dianggap “lahir untuk pekerjaan ini”. Semua label itu melekat rapi, seperti seragam yang selalu ia kenakan dengan bangga.

Namun siang itu, untuk pertama kalinya, seragam itu terasa berat.

Kalau memang aku tulus… kenapa pertanyaan itu menyakitkan?

Kenapa aku tidak bisa langsung menjawabnya tanpa ragu?

Karina memejamkan mata sesaat. Bayangan wajah korban-korban sebelumnya melintas cepat. Mereka semua menuntut hal yang sama: keadilan. Tapi di balik tuntutan itu, Karina mulai bertanya pada dirinya sendiri—apakah ia mengejar keadilan, atau mengejar rasa lega karena dianggap berhasil?

Karina pun mencoba membuyarkan lamunannya dan menekan nama yang tidak asing bagi Karina.

Adelia Christy.

Karina berencana mengajak Adelia bertemu hanya untuk meluangkan waktu mendengarkan kata per kata yang keluar dari mulut Karina.

"Del, kamu lagi luang ga? Kita bisa ketemu ga ya?" tanya Karina dengan nada putus asa.

Adelia yang mendengar suara Karina sedang putus asa langsung mengiyakan dan meluangkan waktunya untuk bertemu, "Eh bisa kok Kar, tapi aku agak sibuk gapapa ya? Tunggu bentar aja kok."

"Gapapa kok del, aku tunggu deh, makasih ya," balas Karina sambil menutup teleponnya.

Karina pun melajukan mobilnya menuju tempat Adelia bekerja. Jalanan saat itu ramai, Karina teringat kemarin waktu jalan pulang, ia melihat hal yang seharusnya tidak dilihat. Namun Karina mencoba untuk tidak terlalu larut dalam ingatan itu.

...----------------...

Kantor kepolisian sektor tempat Adelia bertugas tidak jauh dari pusat kota, namun atmosfernya jauh berbeda. Tidak ada wartawan, tidak ada kerumunan. Hanya lalu lalang anggota yang sibuk dengan urusan masing-masing, seolah dunia di luar sana tidak sedang terbakar.

Karina menunggu di ruang kecil dekat area parkir. Bau kopi instan dan kertas arsip bercampur di udara. Matahari siang masuk dari sela jendela, membentuk bayangan panjang di lantai.

Adelia muncul beberapa menit kemudian, masih mengenakan seragam dinasnya. Rambutnya diikat rapi, wajahnya lelah tapi tetap tenang. Begitu melihat Karina, ia tersenyum kecil—senyum yang tidak dibuat-buat.

“Maaf, tadi lagi urus laporan,” katanya sambil duduk di seberang Karina. “Kamu kelihatan… beda.”

Karina tersenyum tipis. “Aku nggak tahu lagi kelihatannya harus gimana.”

Adelia menatapnya lekat, seperti biasa. Sejak SMA, tatapan itu tidak pernah berubah—tatapan seseorang yang mengenalmu sebelum dunia menuntut terlalu banyak darimu.

Mereka pernah duduk di bangku yang sama delapan belas tahun lalu. Dua remaja yang sama-sama keras kepala, sama-sama yakin ingin masuk akademi kepolisian, dan sama-sama percaya bahwa menjadi polisi berarti selalu berada di sisi yang benar.

Adelia memilih jalur yang lebih “tenang”. Penempatan daerah, kerja administratif lapangan, jauh dari sorotan media. Ia bukan tipe yang mengejar kasus besar. Ia mengejar keteraturan. Kejelasan. Hal-hal yang bisa dikendalikan.

Karina memilih sebaliknya.

“Ada apa?” tanya Adelia pelan.

Karina menatap meja di antara mereka. “Aku mulai capek, Del. Tapi bukan capek fisik.”

Adelia mengangguk, seolah sudah menduga. “Capek mikir?”

“Capek ngerasa harus selalu yakin,” jawab Karina. “Semua orang lihat aku seolah aku nggak boleh ragu. Sekali aja aku goyah, semuanya runtuh.”

Adelia bersandar di kursinya. “Kamu takut ragu?”

“Aku takut… ragu itu bikin aku lambat. Dan lambat itu bisa bikin orang mati.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Adelia menunduk sejenak, lalu berkata, “Kamu tahu nggak kenapa aku nggak pernah pindah ke unit seperti kamu?”

Karina mengangkat wajahnya.

“Karena aku tahu batasku,” lanjut Adelia. “Aku tahu, ada hal-hal yang kalau aku bawa pulang ke kepala, aku nggak bakal bisa tidur.”

Karina terdiam. Ia teringat malam-malam tanpa tidur, pikiran yang berputar, wajah korban yang muncul tiba-tiba di sela keheningan.

“Masalahnya,” kata Karina lirih, “aku nggak tahu lagi batasanku di mana.”

Ia menarik napas, lalu melanjutkan, suaranya lebih pelan, lebih jujur. “Kadang aku mikir, Del… kalau kasus ini selesai cepat, aku bisa bernapas lagi. Tapi terus aku benci diriku sendiri karena mikir kayak gitu.”

Adelia menatapnya lama. “Itu bukan pikiran orang jahat, Kar. Itu pikiran orang yang sudah terlalu lama menahan.”

Karina menggeleng pelan. “Antono bilang sesuatu hari ini. Sesuatu yang bikin aku… mempertanyakan niatku sendiri.”

“Dan kamu nggak suka jawabannya?”

Karina tersenyum pahit. “Aku bahkan belum berani nyari jawabannya.”

Hening menyelimuti mereka sejenak. Dari luar terdengar suara radio komunikasi, potongan percakapan yang tidak utuh. Dunia terus bergerak, tanpa menunggu Karina siap atau tidak.

“Kamu masih peduli,” kata Adelia akhirnya. “Dan selama kamu masih peduli sampai sakit kayak gini, aku percaya kamu belum salah jalan.”

Karina menatap sahabatnya. Ada kelegaan kecil di sana, tapi juga rasa takut yang belum pergi.

Karena ia tahu, begitu ia kembali ke kantor pusat, kembali ke ruang rapat, kembali ke bayangan Antono dan tekanan publik, keraguan ini tidak akan diberi ruang.

Ia harus memilih.

Dan pilihan itu—iya atau tidak—tidak pernah sesederhana yang orang kira.

...----------------...

Pelaku yang Tidak Terburu-buru

Sementara itu, di tempat lain, Antono berdiri sendirian di ruang rapat. Ia menatap foto-foto TKP yang terpampang di layar. Tidak ada kekacauan yang berarti. Tidak ada jejak panik. Tidak ada kesalahan emosional.

“Dia sabar,” gumam Antono. “Dan kesabaran seperti ini… bukan kebetulan.”

Ia memejamkan mata, membayangkan sudut pandang lain.

Bukan korban.

Bukan polisi.

Pelaku.

Seseorang yang tidak terburu-buru.

Yang menunggu waktu tepat.

Yang tidak ingin dikenali, bahkan oleh dirinya sendiri.

“Dia bukan ingin dilihat,” lanjut Antono pelan. “Dia ingin diuji.”

Dan yang diuji… adalah mereka.

...----------------...

Lokasi Keenam

Hutan pinggiran kota terasa lebih sunyi dari biasanya. Garis polisi membentang di antara pepohonan. Tanah masih lembap. Udara dingin menempel di kulit.

Karina kembali bergabung dengan tim beberapa jam kemudian. Wajahnya lebih tenang, namun matanya menyimpan sesuatu yang berbeda—keraguan yang mulai berakar.

Korban tergeletak di antara dua pohon besar. Posisi tubuhnya rapi. Terlalu rapi.

“Tidak ada perlawanan,” ujar Arga pelan.

“Tidak ada jejak masuk,” tambah anggota forensik. “Tidak ada jejak keluar.”

Karina menelan ludah. Ia menatap sekeliling, mencoba merasakan sesuatu—apa pun.

“Kenapa?” bisiknya. “Apa maksud semua ini?”

Antono berdiri di belakangnya.

“Karena kita terlalu fokus pada apa,” jawabnya, “dan lupa bertanya mengapa.”

Karina menoleh.

“Pelaku ini tidak hanya cerdas,” lanjut Antono. “Dia sabar. Dan orang sabar… tidak pernah bergerak tanpa tujuan.”

Karina memejamkan mata sesaat. Dalam pikirannya, potongan-potongan kasus mulai menyatu—bukan sebagai bukti, melainkan sebagai cerita.

Cerita tentang seseorang yang bermain dengan waktu.

Dengan ekspektasi.

Dengan ego polisi.

Dan tiba-tiba, untuk pertama kalinya, Karina merasa takut—bukan pada pelaku, melainkan pada dirinya sendiri.

Pada kemungkinan bahwa selama ini… ia bermain di papan permainan orang lain.

...----------------...

Iya atau Tidak

Saat matahari mulai condong ke barat, Karina berdiri sendiri di tepi hutan. Angin menggerakkan dedaunan pelan. Tidak ada suara. Tidak ada jawaban.

Hanya satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya:

Apakah aku masih pantas berada di sini?

Tidak ada jawaban pasti.

Hanya pilihan.

Iya.

Atau tidak.

Dan apa pun jawabannya…

konsekuensinya akan berdarah.

1
Amelia
Bab ini sangat menegangkan 😢
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y
Amelia
😱😱😱😱😱
Amelia
😱😱😱
Amelia
Udah terjawab. Jangan tamat dl dong
Amelia
Dari awal emang udah curiga sama orang ini. Semangat thor
Amelia
Antono😱
Amelia
Semangat ya author 👍
Amelia
Semangat up thor👍
Emily
Alur ceritanya seru. Penulisan juga udah rapi, kata2nya hampir nggak ada yg typo. Semangat ya
Delyana.P
Terjawab sudah. ternyata tebakan ku benar siapa yg jahat thor 😂 Karina ibumu dalam bahaya, buruan selamatkan 🤔
Dinda Wei
Next
Dinda Wei
Aduhh masih juga mikir Agra pelakunya. keburu kamu yang di gorok Antono 😂 aku ngarah ya sipelaku ya Antono 🤔
Dinda Wei
Polisinya persis di Konoha, mudah terkecoh wkwk
Dinda Wei
Kayaknya sengaja bikin agra di tahan trus pelaku bebas ngancem karin. artinya yg di buru pelaku itu ya karin, korban2 itu hanya pengalihan
Amiera Syaqilla
semangat author
Amelia
Agra harus bebas, takut banget Karina di habisin psikopat gila
Dinda Wei: yup 👍
total 1 replies
Amelia
Agra harus di lepas. Bisa jd skenario pelaku buat ngabisin karina. Jd nggak ada yg bantu karin. Waspada lah karinaa
Amelia
Kok aku curiga sama atasan karina ya. Mencurigakan 🤔
Dinda Wei: sepemikiran. Antono mencurigakan
total 1 replies
Amelia
Hati2 Karina, pembunuh sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Kamu pasti masuk targetnya juga
Dinda Wei: iya takut banget, pelakunya nyasar ke kariin😡
total 1 replies
Amelia
Next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!