NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelucon Di Pinggir Lapangan

Bel istirahat berakhir dengan suara yang memekakkan telinga, memicu arus murid-murid untuk berhamburan keluar dari kantin. Lorong sekolah menjadi riuh oleh suara langkah kaki menuju loker masing-masing, termasuk Greta, Clara, dan geng Norah yang bersiap untuk pelajaran olahraga.

​Sesampainya di ruang ganti wanita yang lembap dan penuh sesak, suasana terasa sibuk. Di tengah kerumunan loker, Greta dan Clara bertukar pandang penuh arti. Mereka melihat Norah dan Revelyn yang sedang asyik bersolek sambil setengah berganti baju, merasa paling berkuasa di ruangan itu.

​Tiba-tiba, Clara yang entah sejak kapan sudah memegang sapu kayu panjang, melompat maju.

​PLAK!

​Ia memukul lantai tepat di bawah kaki Norah dan Revelyn dengan kekuatan penuh. "AWAS! ADA KECOA TERBANG! KECOA RAKSASA!!!" teriak Clara dengan suara melengking yang dramatis.

​"KYAAAAA!!" Revelyn yang baru saja melepas seragamnya langsung melompat ke atas kursi kayu, menutupi tubuhnya dengan handuk kecil sambil gemetar hebat. Norah yang sedang memakai legging kehilangan keseimbangan; ia melompat-lompat dengan satu kaki karena ketakutan, hingga akhirnya jatuh terduduk di lantai dengan pose yang sangat tidak elegan.

​"Mana?! Mana kecoanya?!" jerit Norah panik, rambutnya yang tertata rapi kini acak-adukan.

​Di saat kekacauan humor itu terjadi, Greta bergerak secepat kilat. Sesuai rencana yang mereka tertawakan di kantin tadi, ia menyelinap ke loker Norah yang terbuka lebar. Tangannya meraih sebuah botol kaca elegan berwarna rose gold parfum edisi terbatas milik Norah yang harganya selangit.

​"Dapat!" bisik Greta. Tanpa menunggu lama, ia langsung berbalik dan berlari keluar dari ruang ganti yang masih dipenuhi teriakan "kecoa" dari Clara.

​Karena terlalu fokus menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengejar, Greta berlari dengan kecepatan penuh tanpa melihat jalan di depannya. Hingga ia sampai di luar ruang loker pintu keluar...

​DUAAK!

​Greta menabrak sesuatu yang keras, bukan dinding, tapi dada seseorang. Karena momentum larinya, tubuh kecil Greta terpental, namun sebelum ia jatuh menghantam lantai, sepasang lengan yang kuat dengan sigap melingkar di pinggangnya, menariknya kembali hingga wajahnya terkubur di dada orang tersebut.

​Aroma maskulin yang dingin dan segar.

campuran antara mint dan hutan pinus, langsung memenuhi indra penciuman Greta. Ia mendongak dengan napas terengah-engah, dan matanya langsung bertemu dengan mata tajam Leon Weiss.

​Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Leon menatapnya dengan satu alis terangkat, masih memegangi pinggang Greta agar gadis itu tidak jatuh.

​Greta membeku, tangannya masih mencengkeram botol parfum Norah dengan erat di balik punggungnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, bukan lagi karena berlari, tapi karena tatapan Leon yang seolah bisa menembus rahasianya.

​"I-itu... maaf," gagap Greta, wajahnya memerah padam.

​Leon tidak segera melepaskannya. Ia melirik ke tangan Greta yang disembunyikan di belakang punggung, lalu kembali menatap mata Greta dengan senyum tipis yang misterius. "Hati-hati, Kalau kamu menabrak orang lain seperti ini, parfum itu bisa pecah."

​Greta terbelalak. Dia tahu?!.

Greta segera melepaskan diri dari dekapan Leon dengan wajah yang masih terasa panas, lalu melesat menuju toilet siswi seolah nyawanya terancam. Begitu sampai di dalam, ia mengunci pintu bilik paling ujung dan menyandarkan punggungnya sambil mengatur napas yang memburu.

​"Oke, Greta... fokus," bisiknya pada diri sendiri.

​Ia mengeluarkan botol parfum rose gold milik Norah yang tampak sangat mewah. Dengan cekatan, Greta membuka tutup botolnya. Ia sudah menyiapkan sebuah botol kaca kecil kosong dari tasnya. Dengan tangan yang stabil, ia memindahkan sekitar tiga perempat isi parfum mahal itu ke botol kecilnya, ia tidak ingin membuangnya begitu saja, parfum itu terlalu mahal untuk disia-siakan.

​Kini, botol parfum Norah tinggal tersisa sedikit cairan di dasarnya. Saatnya "formulasi" dimulai.

​Greta menatap sekeliling bilik mandi, mencari bahan-bahan yang bisa ia gunakan.

Ia melihat botol pembersih lantai yang tertinggal di sudut toilet. Ia mengambil sedikit cairannya. Bahan ini memiliki aroma kimia yang tajam dan menyengat.

​Lalu Ia mengambil beberapa pencetan sabun cair dari dispenser toilet yang aromanya sangat menyengat, jenis aroma bunga mawar sintetis yang terlalu kuat hingga bikin pusing.

​Dan terakhir,dari kotak P3K kecil di tasnya, ia menambahkan beberapa tetes cairan antiseptik yang memiliki bau khas "rumah sakit" yang sangat kuat.

​Greta mencampurkan semua bahan itu ke dalam botol parfum Norah yang tersisa sedikit isinya tadi. Ia menutup botol itu dan mengocoknya perlahan. Hasilnya? Cairan itu tetap terlihat jernih seperti parfum asli, namun jika disemprotkan, baunya akan berubah dari aroma bunga mewah menjadi aroma campuran bangkai, pemutih, dan bau amis kimia yang tidak akan hilang meski dicuci berkali-kali.

​"Ini baru namanya Limited Edition, Norah," gumam Greta dengan senyum puas yang dingin.

Greta bergerak dengan presisi seorang agen rahasia. Memanfaatkan kekacauan yang diciptakan Clara, ia menyelinap di antara siswi-siswi yang masih menjerit panik. Norah dan Revelyn benar-benar kehilangan martabat mereka, Norah berlari kencang keluar ruangan dengan satu sepatu yang belum terpasang sempurna, sementara Revelyn menutupi kepalanya dengan tas sekolah seolah kecoa itu bisa menerkam wajahnya kapan saja.

​Kesempatan emas. Greta meluncur ke arah loker Norah yang masih menganga, meletakkan kembali botol parfum rose gold itu ke posisi semula dengan sangat hati-hati agar tidak terlihat berbeda. Setelah botol itu mendarat, Greta segera berbalik dan memberikan kode jempol kecil ke arah Clara yang berdiri di kejauhan.

​Clara yang melihat sinyal itu langsung beraksi. Ia berjongkok di dekat sudut loker, lalu dengan gerakan dramatis menggunakan sapu, ia menyodok sesuatu ke dalam serokan sampahnya.

​"DAPAT!! Kecoanya sudah masuk jebakan!" teriak Clara dengan suara lantang yang penuh kemenangan.

​Semua siswi yang tadinya berkerumun di pintu masuk langsung menghentikan lari mereka. Clara mengangkat serokannya tinggi-tinggi seolah sedang membawa trofi, lalu berjalan dengan langkah tegap keluar ruangan. "Tenang semuanya! Aku akan membuang monster ini ke tempat sampah luar! Area sudah aman!"

​Begitu Clara keluar, suasana ruang ganti perlahan menjadi tenang, meski masih diiringi helaan napas lega dan sisa-sisa wajah pucat. Greta segera berdiri di depan lokernya sendiri, berpura-pura baru saja selesai mengganti baju, sementara Norah dan Revelyn kembali masuk dengan wajah yang sangat merah karena malu sekaligus kesal.

​"Sialan! Kenapa sekolah ini bisa ada kecoa sebesar itu?!" gerutu Norah sambil menghentakkan kakinya.

Pelajaran olahraga dimulai di bawah terik matahari yang cukup menyengat. Mr. Derrick, guru olahraga bertubuh kekar dengan peluit yang selalu menggantung di lehernya, meniup peluit panjang tanda pemanasan dimulai.

​"Ayo, semuanya! Dua putaran lapangan, sekarang! Jangan ada yang malas-malasan!" teriaknya tegas.

​Seluruh murid mulai berlari mengelilingi lapangan. Luca memimpin di barisan paling depan dengan langkah tegap dan stabil, sementara Greta dan Clara berlari santai di barisan belakang, sesekali bertukar lirik penuh rahasia. Norah dan Revelyn tampak berlari dengan ogah-ogahan, masih merasa kesal karena insiden "kecoa" di ruang ganti tadi.

​Setelah pemanasan selesai, Mr. Derrick mengumpulkan mereka di tengah lapangan basket yang megah.

​"Anak-anak, hari ini kita akan berlatih basket. Sesuai dengan kebanggaan sekolah kita," ucap Mr. Derrick sambil menoleh ke arah Luca dengan bangga. "Kita tidak boleh membiarkan standar kita turun."

​"Luca Blight! Maju ke depan!" panggil Mr. Derrick. Luca melangkah maju dengan penuh percaya diri, menangkap bola yang dilempar gurunya dengan satu tangan.

​"Luca, tunjukkan pada teman-temanmu bagaimana teknik serangan cepat fast break, yang efektif. Aku ingin kamu mendemonstrasikan penetrasi ke area lawan dan penyelesaian akhir yang tajam," instruksi Mr. Derrick. Ia kemudian menunjuk tiga murid laki-laki bertubuh besar. "Kalian bertiga, coba halau Luca sebisanya. Jangan biarkan dia lewat!"

​Luca mengambil posisi di garis tengah. Matanya menyipit tajam, fokusnya terkunci pada ring. Begitu peluit berbunyi, Luca melakukan dribble rendah yang sangat cepat. Ketiga penghalang itu mencoba mengepungnya, namun dengan gerakan crossover yang mematikan dan spin move yang sangat lincah, Luca berhasil melewati mereka seolah-olah mereka bergerak dalam slow motion.

​Luca melompat tinggi di depan ring, tubuhnya melayang sejenak sebelum melakukan lay-up yang sangat halus.

​Swish!

​Bola masuk dengan sempurna.

​"YEEEEAAAH!!" Sorakan ramai pecah di seluruh lapangan. Murid-murid perempuan berteriak histeris, sementara Clara bertepuk tangan kencang. Greta tersenyum tulus melihat Luca yang tampak begitu bersinar di habitat aslinya.

​Di pinggir lapangan, Leon Weiss hanya berdiri bersandar di tiang, melihat aksi Luca dengan tatapan yang tetap tenang, sambil ikut bertepuk tangan.

Mr. Derrick meniup peluitnya, menenangkan sorak-sorai murid yang masih mengagumi aksi Luca. "Anak-anak, itu tadi adalah teknik serangan cepat yang butuh latihan bertahun-tahun. Tapi untuk hari ini, kita mulai dengan yang dasar dulu, lemparan dua poin. Ada yang berani maju memberikan contoh sebelum kita mulai latihan inti?"

​Suasana hening sejenak, sampai sebuah suara melengking yang penuh nada sarkasme memecah barisan.

​"Greta, Pak!" seru Norah dengan lantang sambil melirik tajam ke arah pojok lapangan. "Dia tadi sempat bilang padaku kalau dia sangat hebat di pelajaran olahraga! Benar kan, Greta? Ayo, tunjukkan pada kami semua kemampuanmu yang terpendam itu!"

​Greta dan Clara langsung tertegun. Clara baru saja ingin memprotes, namun suara sorakan murid-murid lain sudah lebih dulu memenuhi lapangan. "Ayo Greta! Maju! Jangan malu-malu!" ejek beberapa teman Revelyn.

​Mr. Derrick, yang mengira ini adalah bentuk dukungan teman sekelas, tersenyum lebar. "Oh, benarkah? Bagus kalau begitu! Ayo nak, coba satu lemparan!"

​Tanpa aba-aba yang jelas, Mr. Derrick langsung mengoper bola basket itu ke arah Greta dengan lemparan dada yang cukup kencang. Greta, yang masih dalam keadaan bingung dan tidak siap, terlambat bereaksi. Tangannya belum sempat terangkat, dan...

​DUAK!

​Bola basket yang keras itu menghantam kening Greta dengan telak. Tubuh mungilnya tersentak ke belakang, hampir terjatuh jika ia tidak segera menyeimbangkan kakinya.

​"HAHAHA! Hebat sekali cara menangkapnya!" Revelyn tertawa paling kencang, diikuti oleh tawa riuh dari sebagian besar murid di lapangan.

​"Ups! Sepertinya 'kemampuan hebatnya' adalah menangkap bola dengan kepala," celetuk Norah sambil menutup mulutnya pura-pura kaget.

​"Nak! Maafkan bapak!" Mr. Derrick langsung berlari panik menghampiri Greta. Ia segera memegang bahu Greta dan mengelus puncak kepalanya dengan cemas. "Bapak tidak bermaksud... kamu tidak apa-apa? Pusing tidak?"

​Greta hanya bisa memegangi keningnya yang mulai terasa berdenyut dan memerah. Rasa malu yang menjalar di wajahnya jauh lebih menyakitkan daripada hantaman bola tadi. Di tengah tawa riuh itu, Greta bisa merasakan dua pasang mata menatap ke arahnya dengan intensitas yang berbeda.

​Luca sudah melangkah maju dengan wajah yang sangat gelap, tangannya mengepal seolah siap meledak pada siapa pun yang tertawa. Sementara di sisi lain lapangan.

Berbeda dengan Luca yang sudah siap menerjang siapa pun yang menertawakan Greta, Leon Weiss yang duduk di pinggir lapangan justru menunjukkan reaksi yang tak terduga. Ia menurunkan botol minumnya, lalu sebuah senyuman geli muncul di sudut bibirnya.

​Bagi Leon, kejadian itu bukan sekadar intimidasi, melainkan sebuah komedi slapstik yang menarik. Ia memperhatikan bagaimana Greta memegangi keningnya dengan wajah merah padam, lalu beralih menatap Norah yang tampak sangat puas dengan "kemenangan" kecilnya. Leon menyandarkan punggungnya lebih santai ke tiang penyangga, seolah-olah hantaman bola ke kepala Greta adalah bagian paling menghibur dari pertunjukan siang itu.

​"Menarik," gumam Leon pelan, matanya berkilat geli. Ia tidak tampak kasihan, namun ia juga tidak bergabung dengan tawa riuh murid-murid lain. Ia hanya menikmati kekacauan itu dengan caranya yang dingin.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!