"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa di Atas Bara Api
Gedung hotel bintang lima tempat pesta berlangsung berkilau di bawah siraman lampu kristal yang megah. Alana merasa seolah-olah ia sedang melangkah masuk ke sarang singa. Tangannya yang menggenggam tas clutch kecil terasa basah oleh keringat dingin. Di sampingnya, Arkan berjalan dengan langkah angkuh, satu tangannya dengan santai masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya sesekali menyentuh punggung bawah Alana—sebuah gestur yang terlihat protektif bagi orang luar, namun terasa seperti peringatan bagi Alana.
"Jangan menunduk," bisik Arkan tepat di telinganya. Suaranya rendah, hampir seperti geraman. "Elena yang asli tidak pernah takut pada sorot lampu. Busungkan dadamu dan tatap mereka seolah kamu yang memiliki tempat ini."
Alana menarik napas panjang, mencoba menegakkan punggungnya. "Aku mencoba, Arkan," jawabnya pelan, masih merasa canggung memanggil pria itu tanpa sebutan 'Pak'.
Begitu mereka memasuki ballroom, perhatian semua orang seolah tersedot ke arah mereka. Arkananta adalah magnet bagi media dan rekan bisnis, namun malam ini, wanita di sampingnya lah yang menjadi buah bibir. Alana, dengan gaun merah marun dan wajah tanpa riasan tebal, memancarkan kecantikan alami yang sangat kontras dengan gaya Elena yang biasanya glamor dan provokatif.
"Arkan! Akhirnya kamu datang juga," seorang pria paruh baya dengan setelan jas yang tampak mahal menghampiri mereka. Ia adalah Mr. Tan, yang merupakan investor utama dari Singapura.
Arkan tersenyum tipis—senyum bisnis yang tidak mencapai matanya. "Tentu saja, Mr. Tan. Saya tidak akan melewatkan kesempatan ini. Perkenalkan, ini sekretaris pribadi sekaligus tangan kanan saya, Elena."
Mr. Tan menatap Alana dengan penuh minat. "Luar biasa. Arkan, seleramu memang tidak pernah mengecewakan. Elena, saya dengar Anda adalah orang yang menangani seluruh analisis proyek Cendana Hills. Sangat mengesankan."
Alana membeku. Ia tidak tahu apa-apa tentang analisis itu selain apa yang ia baca sekilas tadi siang. "Terima kasih, Mr. Tan. Saya hanya melakukan tugas saya," jawabnya sesingkat mungkin agar tidak salah bicara.
Percakapan berlanjut dengan bahasa bisnis yang berat. Alana hanya berdiri mematung, mencoba terlihat mengerti sambil sesekali mengangguk. Namun, ketenangan itu hancur saat seorang pria muda dengan gelas sampanye di tangannya berjalan mendekat. Pria itu menatap Alana dengan dahi berkerut, seolah sedang melihat hantu.
"Elena? Benarkah itu kau?" tanya pria itu. Namanya adalah Marco, seorang pengusaha muda yang dikenal sebagai mantan kekasih Elena yang paling bermasalah.
Jantung Alana seakan berhenti berdetak. Ia tahu tentang Marco dari cerita kakaknya; pria ini adalah alasan kenapa Elena terjerat banyak utang.
"Oh, lihatlah dirimu. Riasanmu berbeda, gayamu berbeda... tapi aku tidak akan pernah lupa wajah wanita yang berutang padaku lima ratus juta," ucap Marco dengan suara yang cukup keras hingga beberapa orang di sekitar mereka menoleh.
Alana mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Maaf, Anda salah orang," suaranya bergetar.
Marco tertawa meremehkan. Ia melangkah maju, hendak menyentuh lengan Alana. "Salah orang? Jangan bercanda! Kita menghabiskan malam di Bali dua minggu lalu, dan sekarang kamu pura-pura—"
Brak!
Sebelum tangan Marco sempat menyentuh Alana, Arkan sudah berdiri di depan gadis itu. Ia mencengkeram pergelangan tangan Marco dengan kekuatan yang membuat pria itu meringis kesakitan. Atmosfer di sekitar mereka seketika berubah menjadi mencekam. Arkan tidak lagi terlihat seperti CEO yang elegan, melainkan predator yang siap menerkam.
"Lepaskan tanganmu dari wanitaku, Marco," desis Arkan. Suaranya pelan, tapi mengandung ancaman yang bisa membekukan darah.
"Wanitamu? Arkan, kau tidak tahu siapa wanita ini! Dia itu penipu, dia—"
"Aku tidak peduli siapa dia di matamu," potong Arkan dengan tajam. Ia menghempaskan tangan Marco dengan kasar hingga pria itu terhuyung. "Tapi di sini, di bawah pengawasanku, dia adalah milikku. Jika kau mengeluarkan satu kata hinaan lagi tentangnya, aku pastikan besok pagi perusahaan ayahmu tidak akan memiliki satu pun investor yang tersisa."
Marco terdiam, wajahnya memerah karena malu dan takut. Ia menatap Alana dengan penuh kebencian sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan kerumunan.
Alana merasa seluruh tubuhnya lemas. Ia hampir jatuh jika Arkan tidak segera melingkarkan lengannya di pinggangnya, menarik tubuh gadis itu rapat-rapat ke tubuhnya yang kokoh.
"Tetaplah di dekatku," perintah Arkan. Nadanya tidak lagi dingin, tapi ada sesuatu yang lebih intens di sana.
"Kenapa kamu membelaku? Kamu tahu dia mungkin benar tentang Elena," bisik Alana saat mereka menjauh dari kerumunan menuju balkon yang lebih sepi.
Arkan melepaskan rangkulannya, tapi ia tidak menjauh. Ia justru memojokkan Alana ke pagar balkon, mengurungnya dengan kedua tangannya. Angin malam meniup rambut Alana, membuatnya terlihat semakin rapuh di bawah sinar bulan.
"Karena malam ini kamu bukan Elena," ucap Arkan pelan. Matanya menatap bibir Alana yang sedikit terbuka. "Kamu adalah gadis bodoh yang berani masuk ke kantorku dengan kacamata besar dan bau vanila. Aku tidak suka jika orang lain menyentuh barang yang sedang kumainkan."
Alana menatap mata Arkan, mencari kejujuran di sana. "Siapa aku bagimu, Arkan? Hanya mainan untuk menghiburmu karena kamu bosan?"
Arkan terdiam sejenak. Ia mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. "Untuk saat ini, ya. Tapi berhati-hatilah, Alana... terkadang mainan bisa menjadi lebih berharga daripada pemiliknya."
Tanpa peringatan, Arkan menunduk dan mencium Alana. Bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman yang penuh dengan tuntutan dan penguasaan. Alana terbelalak, tangannya mencoba mendorong dada Arkan, namun kekuatannya seolah menghilang ditelan oleh dominasi pria itu. Perlahan, Alana mulai terhanyut. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan getaran yang begitu hebat di seluruh sarafnya.
Saat Arkan melepaskan ciumannya, ia menatap Alana yang terengah-engah dengan tatapan gelap. "Jangan pernah berpikir untuk kabur seperti kakakmu, Alana. Karena ke mana pun kamu pergi, aku akan menemukanmu."
Arkan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Di dalamnya terdapat sebuah gelang berlian yang sangat indah. Ia memasangkannya di pergelangan tangan Alana dengan gerakan posesif.
"Gelang ini memiliki pelacak GPS," ucap Arkan santai, seolah baru saja mengatakan hal yang biasa. "Mulai detik ini, kamu adalah milikku. Di kantor, di pesta, maupun di tempat tidur. Jangan pernah mencoba melepaskannya jika kamu ingin ibumu tetap mendapatkan perawatan terbaik."
Alana menatap gelang yang berkilau di tangannya. Itu bukan perhiasan; itu adalah borgol emas. Ia telah menjual jiwanya pada iblis demi keselamatan ibunya. Dan yang paling menakutkan adalah, sebagian dari dirinya mulai menikmati jeratan iblis ini.
Malam itu, Alana menyadari satu hal: menjadi sekretaris pengganti adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, tapi juga awal dari obsesi yang tidak akan pernah bisa ia lepaskan.