Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 12
"Ada rasa sakit, tapi ada rasa lega."
Mutiara kini berada di rumah lama neneknya, dia sedang menangis. Padahal hatinya merasa lega, tapi entah kenapa air mata terus saja berjatuhan. Makanya dia tidak langsung pulang ke kediaman Arkan, karena takut neneknya atau Arkan nanti akan bertanya-tanya.
"Sudah tak sembab, sebaiknya aku pulang. Takutnya mereka nyariin," ujar Mutiara setelah mengompres matanya dengan es batu.
Saat dia tiba di kediaman Arkan, wanita itu langsung melangkahkan kakinya menuju kamar utama. Ternyata tidak ada Arkan di sana, Mutiara berpikir kalau pria itu pasti sedang bekerja.
Akhirnya dia melangkahkan kakinya menuju kamar Nenek Mia. Mutiara baru saja hendak mengetuk pintu yang sedikit terbuka, tetapi niatnya dia urungkan karena dia menangkap suara tawa yang akrab.
Di dalam sana, Arkan dan nenek Mia sedang duduk bersila di atas tempat tidur, mereka tampak begitu akrab dalam obrolan yang hangat.
'Aku tak menyangka kalau pertemuan singkat aku dengan Om Arkan bahkan dirasa lebih baik daripada hubungan tiga tahun aku dengan Fajar,' ujar Mutiara dalam hati.
"Jadi Tiara itu tomboy banget pas kecilnya, Nek?"
"Iya, tapi dia tetap cantik dan gemesin."
"Ya, aku setuju. Oiya, Nek. Itu apa?"
Arkan melihat ada tas di atas nakas, tapi bentuknya lebih mirip karung terigu yang dijahit.
"Itu tas Nenek, ada benda berharganya."
"Apa?" tanya Arkan penasaran.
Nenek Mia mengambil tas itu dengan perlahan, lalu dia mengeluarkan isi dari tas tersebut. Mutiara terpaku di ambang pintu saat melihat nenek Mia mengeluarkan sebuah kotak kayu usang dari tas itu. Ketika tutupnya terbuka, sebuah kilauan indah memantul ke dinding kamar.
"Nek, itu indah sekali. Aku belum pernah melihat liontin kalung dengan pendar seperti itu. Dari mana Nenek mendapatkannya?"
Nenek Mia tersenyum lembut sambil mengusap liontin itu. "Ini bukan milik Nenek, Arkan. Ini milik Mutiara. Sudah saatnya benda ini kembali ke tangannya, tapi Nenek bingung ngomongnya harus seperti apa."
Arkan mengamati lebih dekat. "Nek, jika dilihat dari kejernihan dan ikatannya, liontin ini bisa bernilai miliaran rupiah. Ini bukan perhiasan sembarangan. Sebenarnya, Mutiara itu siapa, Nek? Siapa keluarga asalnya sampai dia punya benda semahal ini?"
Mutiara yang berdiri di balik pintu menahan napas. Jantungnya berdegup kencang menanti jawaban sang nenek Mia.
Nenek Mia menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh entah ke mana.
"Sebenarnya, Mutiara bukan cucu kandung Nenek, Arkan."
Deg!
Dunia Mutiara seolah berhenti berputar, dia diam tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Apa? Maksud Nenek, Mutiara itu bukan keluarga Nenek?"
"Dulu, Nenek menemukannya di dekat pintu dapur belakang rumah. Malam itu hujan deras. Nenek melihat dua orang pria sedang bertengkar, salah satunya sedang menggendong seorang bayi. Mereka tampak panik karena bayi itu diam saja, tidak menangis atau bergerak."
"Lalu?" tanya Arkan penasaran.
"Nenek mendengar mereka berlata kalau bayi itu sudah meninggal. Karena takut ketahuan, mereka meletakkannya begitu saja di sana lalu melarikan diri."
"Lalu, Nenek mengambil bayinya?"
"Nenek langsung memeluknya. Ternyata bayi itu masih bernapas, hanya kedinginan. Di lehernya tergantung kalung liontin ini," jawab Nenek Mia.
Di ambang pintu, air mata Mutiara luruh. Kenyataannya menghantamnya begitu keras, wanita yang selama ini ia panggil Nenek, yang merupakan satu-satunya dunianya, ternyata adalah orang asing yang menyelamatkan nyawanya dari maut.
Mutiara tidak sanggup lagi menahan berat tubuhnya. Tubuhnya luruh ke atas lantai, Isak tangis yang tertahan akhirnya lolos begitu saja, membuat pintu yang tadinya hanya terbuka sedikit, kini terdorong lebar.
Arkan dan nenek Mia tersentak. Mereka menoleh serempak dan mendapati Mutiara sudah duduk di sana dengan wajah yang basah oleh air mata.
Wajah nenek Mia memucat, tangannya gemetar menyimpan kembali liontin itu. "Mu--- Mutiara? Sejak kapan kamu di situ, Nak?"
"Sejak tadi, Nek."
"Kamu, kamu dengar semuanya?"
"Iya, Nek. Aku dengar, apa yang Nenek katakan itu benar? Aku ini bukan cucu Nenek?"
Arkan langsung berdiri dan menghampiri istrinya, dia merangkul bahunya. Mutiara begitu lemas, Arkan yang iba langsung menggendong wanita itu dan mendudukkannya di atas tempat tidur.
"Tenang dulu ya, Tiara. Aku tahu ini pasti berat untuk kamu."
"Maaf ya, Sayang. Bukan maksud hati Nenek ingin berbuat jahat sama kamu, sebenarnya Nenek ingin melaporkan hal itu ke polisi, tapi Nenek takut. Jadi Nenek berusaha mengasuh kamu dengan baik, maaf."
"Takut apa, Nek?"
"Takut kehilangan kamu, karena saat Nenek menemukan kamu, Nenek merasa Tuhan sangat baik memberikan Nenek bayi yang nantinya bisa menemani hari tua Nenek."
Mutiara memeluk nenek Mia erat-erat, saat ini yang harus dilakukan adalah berterima kasih kepada nenek Mia, bukan marah ataupun yang lainnya.
Walaupun perasaannya campur aduk, karena mengetahui kalau dirinya ternyata bukan cucu kandung dari wanita itu. Dia memang sempat mendengar dari orang lain kalau nenek Mia itu memiliki anak yang meninggal di usia muda, tetapi Mutiara selalu berpikir kalau anak nenek Mia itu meninggal setelah melahirkan dirinya.
Namun, terlepas dari bagaimanapun cara dia ada di dunia ini dan bagaimanapun dirinya bisa bersama dengan nenek Mia, Mutiara akan selalu bersyukur, karena selama ini kehidupannya dengan neneknya selalu bahagia. Walaupun memang selalu kekurangan materi.
"Pakai kalung kamu, Sayang. Maaf baru memberikannya sekarang," ujar Nenek Mia.
"Iya, Nek." Mutiara memakai kalung liontin yang diberikan oleh nenek Mia.
Sekilas memang kalung itu seperti kalung biasa saja, seperti kalung mainan, tetapi bagi orang yang mengetahui barang antik, mereka akan langsung tahu kalau misalkan kalung itu adalah kalung yang sangat mahal.
"Tiara, Apa kamu mau mencari orang tua kandung kamu?" tanya Arkan sambil merangkul kedua pundak istrinya.
"Nggak usah, kalau misalkan Tuhan berkehendak, aku yakin bisa dipertemukan dengan mereka."
"Baiklah, lalu... apa rencana kamu ke depannya?"
"Mau kerja boleh?"
"Boleh, tapi di perusahaan aku aja. Jadi sekretaris aku, mau?"
"Mau, tapi kalau di depan orang banyak kamu jangan bilang kalau aku itu istri kamu."
"Loh, kenapa? Kamu malu memiliki suami yang lebih tua dari kamu?"
"Bukan, bukan karena malu. Masalahnya aku itu masuk ke perusahaan kamu lewat jalur VIP, aku takut nantinya banyak yang menghujat aku."
"Terserah kamu aja, tapi kalau misalkan lagi berduaan, boleh dong---"
"Apa sih kamu? Orang ada Nenek juga," ujar Mutiara malu.
"Nenek nggak denger kok, sumpah!" kata Nenek Mia sambil menutup kupingnya.
Mereka tertawa bersama, walaupun memang di dalam pikiran masing-masing ada banyak hal yang mereka pikirkan.