NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam Belas

Arthur sampai di depan pintu penthouse dengan kemarahan yang meluap. Ia tidak perlu lagi menebak-nebak. Begitu ia melihat mobil Kenneth, semua kepingan teka-teki itu menyatu di kepalanya: foto itu, sikap tenang Kenneth yang tidak wajar, dan dendam lama yang belum usai.

Kenneth, yang sudah mendengar langkah kaki keras di lorong melalui sistem keamanan, sengaja membiarkan pintu apartemennya tidak terkunci. Ia duduk dengan tenang di sofa besar, memegang segelas whiskey, sementara Hazel yang tampak lemas dan berantakan—hanya berbalut jubah mandi sutra pendek—duduk di antara kedua kakinya, bersandar pada lutut Kenneth dengan wajah yang masih memerah.

BRAKK!

Pintu terbuka lebar. Arthur berdiri di sana, napasnya memburu, matanya merah menatap pemandangan di depannya.

"Lepaskan dia, Kenneth!" raung Arthur. "Jadi ini maumu? Kau menggunakan adikku untuk membalas dendam karena Kiana?"

Hazel tersentak mendengar nama kakaknya disebut. Ia mencoba bangkit karena terkejut, namun tangan Kenneth yang kuat mencengkeram bahunya, menahannya untuk tetap di posisi yang merendahkan itu.

"Selamat datang, Arthur. Kau sedikit terlambat," ucap Kenneth dengan nada yang sangat santai, seolah-olah ia baru saja menyambut tamu untuk minum teh. Ia menyesap whiskey-nya, lalu menunduk menatap Hazel yang kebingungan. "Sayang, kakakmu bilang aku menggunakanmu. Bagaimana menurutmu? Apa kau merasa digunakan setelah semua yang kita lakukan semalam?"

"Ken... apa maksudnya? Kiana siapa?" suara Hazel gemetar. Ia menatap kakaknya, lalu beralih ke Kenneth.

Arthur melangkah maju, tangannya mengepal ingin menghancurkan wajah Kenneth. "Dia monster, Hazel! Dia mendekatimu hanya karena aku menolak kakaknya dua tahun lalu! Dia ingin merusakmu untuk menghancurkanku!"

Kenneth tertawa rendah, suara tawa yang sangat dingin hingga membuat bulu kuduk Hazel meremang. "Merusak? Aku tidak merusaknya, Arthur. Aku memberikan apa yang tidak berani diberikan oleh pecundang seperti James. Dan Hazel menikmatinya. Bukankah begitu, Hazel?"

Kenneth sengaja menarik kerah jubah mandi Hazel sedikit ke bawah, memperlihatkan tanda ungu pekat di tulang selangka gadis itu tepat di depan mata Arthur.

"Kau lihat ini, Arthur? Ini adalah tanda kepemilikanku. Setiap inci dari 'gadis suci' yang kau jaga ini, sudah kusentuh. Dan kau tahu bagian terbaiknya? Dia yang memintaku untuk tidak berhenti. Dia memohon untuk tidak meninggalkannya."

Wajah Arthur memucat. Rasa jijik dan amarah berperang di dalam dirinya. Ia melihat adiknya yang tampak begitu hancur secara moral, terjebak dalam pesona pria yang paling membenci keluarga mereka.

"Hazel, ikut aku sekarang!" perintah Arthur, suaranya pecah.

Hazel menatap Arthur dengan air mata yang mulai mengalir, lalu ia mendongak menatap Kenneth yang memberikan senyuman "janji" seperti yang mereka bicarakan di kamar mandi tadi. Hazel terjepit di antara darah dan nafsu.

Hazel yang kecewa mencoba menatap Kenneth, dia sudah mencintai pria itu sejak mereka menghabiskan malam bersama.

Dia bertanya pada Kenneth, "apa benar yang dikatakan kakakku bahwa kamu hanya balas dendam Ken? Apa kamu tidak pernah mencintaiku? Apakah semua yang kita lewati tidak ada artinya untukmu?"

Hening yang mencekam menyelimuti ruangan itu setelah kata-kata Kenneth meluncur seperti belati es. Hazel merasa seolah jantungnya baru saja berhenti berdetak. Ia menatap Kenneth, mencari sedikit saja keraguan atau kehangatan di mata pria itu, namun yang ia temukan hanyalah dinding dingin yang tak tertembus.

"Bagaimana mungkin aku mencintai musuh yang merusak kakakku?"

Kalimat itu bergema di kepala Hazel, menghancurkan sisa-sisa harapannya. Ia melepaskan pegangannya pada lengan Kenneth, tangannya gemetar hebat. Segala kenikmatan, bisikan manis di bawah kucuran air, dan janji yang baru saja diucapkan di kamar mandi terasa seperti racun yang menyebar ke seluruh tubuhnya.

"Jadi... semua itu palsu?" bisik Hazel, suaranya nyaris hilang. "Sentuhanmu, caramu menatapku... itu semua hanya akting untuk menghancurkan harga diri kakakku?"

Kenneth tetap diam, namun rahangnya mengeras. Di dalam hatinya, ada gejolak yang sangat hebat. Melihat air mata Hazel jatuh, ada bagian dari dirinya yang ingin menarik gadis itu kembali ke pelukannya.

Namun, bayangan kakaknya, Kiana, yang duduk diam dengan mata kosong di paviliun selalu berhasil membungkam nuraninya. Dia tidak boleh mencintai alat balas dendamnya sendiri.

Arthur, yang melihat adiknya begitu hancur, maju dengan amarah yang tak terbendung. Ia mencengkeram kerah kemeja Kenneth.

"Kau benar-benar iblis, Kenneth! Kau menggunakan gadis polos yang tidak tahu apa-apa untuk melampiaskan dendammu padaku!" raung Arthur. Ia kemudian menoleh pada Hazel, suaranya melunak namun penuh otoritas.

"Hazel, bangun. Pakai pakaianmu. Kita pergi dari tempat terkutuk ini sekarang juga."

Hazel bangkit dengan lunglai, jubah mandinya terasa seperti beban yang sangat berat. Ia tidak menatap Arthur, matanya tetap tertuju pada Kenneth yang masih duduk tenang sambil menyesap whiskey-nya, seolah-olah ia baru saja memenangkan sebuah permainan catur yang membosankan.

"Ken..." panggil Hazel sekali lagi, sebuah usaha terakhir. "Tatap mataku dan katakan sekali lagi bahwa kau tidak mencintaiku."

Kenneth meletakkan gelasnya dengan denting yang keras di atas meja kaca. Ia mendongak, menatap Hazel dengan tatapan yang paling tajam dan paling kosong yang pernah ia miliki.

"Pergilah, Hazel. Sebelum aku memutuskan untuk menunjukkan foto-foto malam gairah kita pada kakakmu agar dia tahu betapa murahannya adiknya di bawah kendaliku."

Kata-kata itu adalah pukulan terakhir. Hazel tersentak mundur seolah baru saja ditampar. Tanpa sepatah kata lagi, ia berlari masuk ke kamar untuk memakai pakaiannya dengan terburu-buru, tangisnya pecah tak tertahankan lagi.

Arthur menatap Kenneth dengan kebencian murni. "Ini belum berakhir, Kenneth. Kau menyentuh adikku, kau akan membayar harganya lebih mahal dari apa yang terjadi pada kakamu."

Kenneth hanya menyeringai tipis, namun tangannya yang memegang gelas bergetar sedikit, sebuah tanda yang hanya ia sendiri yang tahu bahwa ia sedang berbohong pada dirinya sendiri.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰😍

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!