Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Rasa Yang Sama, Di Atas Langit Yang Berbeda
Waktu terasa begitu cepat bergulir. Enam bulan sejak deru motor Dalfas menjauh dari gerbang rumah hijau sage, dan sejak mobil navy itu menghilang di tikungan jalan depan kedai bakso.
Syafina kembali menjalani hari-hari dengan ritme yang sudah seperti biasanya. Ia tidak lagi termenung hanya demi memikirkan pria rupawan yang ia temui di kedai bakso atau di pujasera.
Baginya, semua itu sudah berlalu. Ia kini lebih fokus menenggelamkan diri dalam tumpukan tugas kuliah dan sesekali membantu Syafana mengurus usaha butik mereka yang kini cabangnya mulai ke mana-mana.
Syafina benar-benar memutus harapannya pada pria bernama Erlaga itu. Ia tidak pernah tahu bahwa nomor yang tidak aktif itu disebabkan oleh penugasan ribuan kilometer melintasi samudera.
Dalam benak Syafina, Erlaga hanyalah seorang pria yang datang membawa getaran aneh, lalu pergi dengan cara yang paling pengecut, menitipkan pesan lewat pelayan dan mematikan akses komunikasi.
Syafina pun tidak bertanya lebih jauh pada Dallas tentang siapa anak teman papanya itu yang akan dikenalkan padanya. Baginya kesamaan nama antara mereka berdua, hanya kebetulan semata. Bahkan bisa jadi, nama Erlaga tidak hanya dimiliki Erlaga yang dia temui di kedai bakso tempo hari. Meski jauh di lubuk hatinya, ada kecurigaan yang sengaja ia kubur dalam-dalam.
Liontin hati yang patah itu masih ada. Tersimpan di kotak paling bawah di dalam lemarinya, tertimbun oleh tumpukan syal dan kenangan saat mondok. Syafina tidak membuangnya, namun ia juga tidak pernah lagi menyentuhnya. Ia sudah mulai terbiasa hidup tanpa harus menunggu kabar dari nomor yang tidak pernah aktif lagi itu.
***
Sementara itu, di sebuah titik koordinat yang jauh dari nyamannya udara Bandung, badai pasir baru saja usai menyapu wilayah Darfur, Sudan. Udara di luar sana begitu menyengat, kering, dan membawa aroma debu yang seolah menempel di setiap pori-pori kulit.
Lettu Inf. Erlaga Patikelana baru saja selesai memimpin patroli rutin menggunakan kendaraan lapis baja putih bertuliskan "UN" di sisinya. Seragam lorengnya sudah basah oleh keringat, dan baret birunya sedikit miring karena lelah. Ia turun dari kendaraan, membalas hormat dari prajurit penjaga gerbang camp dengan gerakan yang kaku namun tegas.
Sudan adalah tempat yang kejam bagi mereka yang memiliki banyak lamunan. Di sini, mata harus selalu awas, telinga harus selalu tajam terhadap suara desingan peluru atau ledakan kecil di kejauhan. Namun, bagi Erlaga, kerasnya medan Sudan adalah pelarian yang sempurna dari rasa sesak yang ia bawa dari tanah air.
Erlaga berjalan menuju tenda perwiranya. Di sana, ia melepas rompi antipeluru yang beratnya belasan kilogram itu, lalu duduk di tepi tempat tidur lapangan yang keras. Ia meneguk air dari botol veldrife yang sudah terasa hangat. Matanya menatap langit-langit tenda, namun pikirannya melayang ke sebuah wajah yang masih saja menghantuinya setiap kali ia menutup mata.
Enam bulan di Sudan, dan tidak satu hari pun Erlaga berhasil menghapus bayangan Syafina.
Ia merogoh kalung identitas militer atau dog tag yang melingkar di lehernya. Di sana, terselip potongan liontin hati. Logam itu kini terasa hangat karena bersentuhan dengan kulit dadanya. Erlaga mengusapnya dengan ibu jari yang kasar.
"Sedang apa kamu sekarang, Dik?" bisiknya lirih, suaranya tenggelam oleh suara bising generator listrik di luar tenda.
Setiap kali merasa jenuh dengan situasi konflik yang ia tangani, Erlaga selalu kembali pada kesalahpahaman itu. Ia membayangkan Syafina mungkin sudah bertunangan dengan pria muda yang ia lihat tempo hari.
Ia membayangkan pria itu, yang sebenarnya adalah Dalfas, sedang tertawa bersama Syafina di tempat yang sama saat dulu mereka pertama kali bertemu.
Rasa cemburu itu masih ada, tapi kini bercampur dengan rasa sesal. Erlaga sadar, tindakannya di kedai bakso itu sangat tidak ksatria. Ia kabur sebelum mendengar penjelasan. Ia menghakimi sebelum bertanya. Namun, gengsi sebagai seorang prajurit dan luka akibat masa lalu, membuatnya menjadi pria yang penuh curiga dan mudah menyerah pada urusan hati.
Tiba-tiba, seorang rekan perwiranya, Kapten Bayu, masuk ke dalam tenda sambil membawa dua cangkir kopi instan.
"Masih pegang jimat itu, Ga?" goda Bayu sambil menyodorkan segelas kopi hitam.
Erlaga tersenyum simpul, segera memasukkan kembali dog tag-nya ke dalam baju. "Bukan jimat, Bang. Cuma pengingat kalau ada hati yang saya patahkan sendiri sebelum sempat saya miliki."
Bayu tertawa kecil, ia duduk di kursi lipat di depan Erlaga. "Kamu ini aneh. Di sini kita bertaruh nyawa tiap hari. Teman-teman yang lain sibuk telepon anak istri kalau ada sinyal, kamu malah sibuk melamunkan gadis yang belum sempat kamu ajak kenalan secara resmi. Kenapa nggak kamu hubungi saja kalau memang penasaran?"
Erlaga menggeleng lemah. "Nomer ponselnya sudah saya hapus, Bang. Lagipula, dia sudah punya pilihan. Saya tidak mau jadi pengganggu."
"Prajurit Infanteri kok melankolis begini," ledek Bayu lagi. "Dengar, Ga. Di sini, kita tidak tahu kapan maut menjemput. Kalau nanti kita pulang dengan selamat, pastikan selesaikan urusanmu. Jangan sampai kamu membawa penyesalan sampai pensiun."
Erlaga terdiam. Kata-kata Bayu ada benarnya. Di Sudan, maut bisa datang dari mana saja. Dari ranjau darat, dari serangan kelompok bersenjata, atau bahkan dari penyakit gurun.
Pernah suatu malam, saat posisi mereka terkepung oleh pemberontak lokal di sebuah desa terpencil, Erlaga sempat berpikir bahwa ia akan mati di sana. Saat itu, yang ada di pikirannya bukan hanya orang tuanya atau Arkala, tapi wajah Syafina yang sedang tersenyum memegang ponsel di pujasera.
Ia merasa sangat berdosa karena telah memberikan kalung hati yang patah itu. Ia seolah mengutuk hubungan mereka menjadi buruk sebelum dimulai.
"Jika aku pulang nanti, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Meskipun benar pria itu adalah suaminya, setidaknya aku harus meminta maaf karena sudah bersikap tidak ksatria," batin Erlaga.
***
Kembali ke Bandung, Syafina sedang duduk di balkon kamarnya, menatap ke arah gerbang rumah. Malam itu hujan turun dengan deras, mendinginkan suhu kota yang seharian terasa gerah. Ia teringat Dalfas yang baru saja mengirim pesan singkat bahwa latihan di Magelang sangat berat namun ia menikmatinya.
Syafina menghela napas. Tanpa Dalfas, rumah ini terasa lebih sepi. Meskipun ia masih punya Syafini, tapi Syafini hanya lengket sama Syafana, sang Mama. Untuk itu, bagi Syafina sama saja sepinya.
Dallas pun semakin protektif, selalu menanyakan dengan siapa Syafina pergi dan jam berapa ia harus sudah sampai di rumah.
Entah kenapa, malam ini tiba-tiba Syafina teringat Erlaga. Ia berdiri, berjalan menuju lemarinya, dan menarik kotak cokelat itu dari tumpukan baju. Ia membukanya perlahan. Liontin hati yang patah itu berkilat tertimpa lampu kamar.
"Kak Laga... kenapa kamu memberikan ini?" gumamnya.
Syafina mengusap liontin itu. Ada rasa benci, tapi juga ada rasa rindu yang tidak mampu ia bendung. Ia merasa dipermainkan, namun hatinya juga tidak bisa membohongi bahwa getaran yang ia rasakan pada Erlaga berbeda dengan pria mana pun yang pernah mencoba mendekatinya.
"Mungkin benar kata Dalfas. Aku tidak boleh pacaran dulu," ucapnya pelan sambil menutup kembali kotak itu.
Syafina tidak tahu, bahwa di belahan bumi yang lain, seorang pria berseragam loreng sedang mempertaruhkan nyawa demi perdamaian dunia, sambil membawa potongan liontin yang sama di balik dadanya. Mereka berdua sama-sama sedang diuji oleh jarak yang bukan hanya soal ruang, tapi juga soal kesalahpahaman yang belum sempat terurai.
Malam itu, di bawah dua langit yang berbeda, Bandung yang dingin dan Sudan yang panas berdebu, dua jiwa yang patah hati itu, sama-sama menatap rembulan yang sama, memendam rasa yang seharusnya bisa menjadi cinta jika saja ego tidak berdiri di antara mereka.