Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Talak dan Akta nikah palsu
Matahari mulai tenggelam, warnanya jingga kemerahan seperti luka yang belum sembuh. Aris masih duduk di lantai, napasnya perlahan-lahan reda, tapi amarahnya justru membeku jadi es yang lebih berbahaya. Bu Widya sudah berhenti menjerit—dia sibuk menghapus semua jejak Kirana dari rumah itu, seolah perempuan itu pernah jadi noda yang harus segera dihilangkan.
Tapi mereka lupa satu hal penting: Kirana belum benar-benar pergi.
Di warung dekat kompleks, Kirana duduk di bangku plastik yang sudah retak, memegang dua botol susu hangat dan beberapa bungkus popok. Matanya lelah, tapi tenang. Dia tak menangis. Tak berteriak. Hanya sesekali menghela napas panjang, seperti sedang mengeluarkan semua racun yang menumpuk di dadanya selama bertahun-tahun.
Gio tidur di pangkuannya, wajah mungilnya damai—tak tahu bahwa dunia di sekitarnya sedang runtuh.
Kirana tahu Aris dan ibunya pasti sedang murka. Tapi dia juga tahu: ini bukan akhir. Ini awal.
Sayangnya, awal itu datang lebih kejam dari yang dia bayangkan.
Begitu Kirana kembali ke rumah, membuka pintu pelan-pelan dengan harapan masih ada waktu untuk mengambil barang-barangnya secara tenang, yang menyambutnya justru teriakan Aris yang menggelegar.
“MASIH BERANI BALIK?! KAU KIRA INI RUMAH PENAMPUNGAN BUAT PEREMPUAN TAK TAHU MALU?!”
Kirana terkejut. Dia baru saja menginjak lantai marmer—masih memakai sandal jepit dan tas belanjaan di tangan—ketika Aris sudah berdiri di depannya, wajahnya menyeramkan, mata menyala seperti setan yang kelaparan.
“Saya cuma mau ambil baju Gio dan dokumen penting,” kata Kirana tenang, suaranya jernih meski dada berdebar.
“DOKUMEN?! APA YANG KAU MAU SEMBUNYIKAN, HEH?! KAU SUDAH CUKUP MERUSAK SEMUANYA!”
Belum sempat Kirana menjawab, Bu Widya muncul dari balik pintu kamar, membawa tumpukan baju anak-anak dan beberapa album foto. Tanpa kata, dia melemparkan semuanya ke wajah Kirana.
“INI! BAWA SEMUA KOTORANMU! PERGI! JANGAN PERNAH PIKIR KAU MASIH BAGIAN DARI KELUARGA INI!”
Kirana tidak menghindar. Foto-foto jatuh ke lantai—foto Gio waktu ulang tahun pertama, foto dia sendiri tersenyum malu di pesta pernikahan kilat dulu, foto keluarga kecil mereka yang palsu. Air matanya akhirnya jatuh.
“Aku bukan kotoran, Bu,” katanya pelan. “Aku manusia.”
“MANUSIA?! KAU HANYA PELACUR DESA YANG BERMIMPI JADI NYONYA RUMAH!” teriak Bu Widya.
Aris menghampiri, tangannya gemetar bukan karena takut, tapi karena rasa kehilangan kendali. Dia menatap Kirana seperti melihat pengkhianat terburuk dalam hidupnya.
“Kau pikir aku tak tahu rencanamu? Kau sengaja rusak acara itu, kan? Biar aku malu? Biar semua orang tahu aku menikahi perempuan seperti kau?!”
Kirana menatapnya lurus. “Aku hanya ingin kau tahu. Aku bukan boneka.”
Mendengar itu, Aris tertawa—tapi tawanya seperti jeritan. Lalu tiba-tiba, dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Selembar kertas lusuh. Fotokopi surat nikah.
“Boneka? KAU TAHU APA YANG SEBENARNYA, KIRANA?! KAU TAHU APA ARTI PERNIKAHAN KITA?!” Aris merobek surat itu di depan mukanya. “INI HANYA AKTA PALSU! AKU TAK PERNAH MENIKAHI-MU SECARA RESMI! KAU HANYA DIJADIKAN ISTRI SIRI BIAR IBUKU TENANG! TAPI KAU NGGAK PERNAH JADI ISTRIKU YANG SAH!”
Dunia Kirana runtuh.
Tubuhnya gemetar. Napasnya tersendat. Matanya membelalak, seolah tak percaya. “Apa… maksudmu?”
“MAKSUDKU—KAU TAK PERNAH SAH MENJADI ISTRIKU! TAK PERNAH ADA AKTA, TAK PERNAH ADA CAP KUA! SEMUA ITU BOHONG! KAU HANYA PEREMPUAN YANG KUSEWA UNTUK MAIN PERAN!”
Kirana mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Dadanya sesak seperti dihimpit batu besar. Dia ingat hari itu—hari pernikahan sederhana di rumah orang tuanya, Aris datang pakai jas, senyum manis, memberi mahar sederhana. Dia pikir itu nyata. Dia percaya. Dia bahkan rela meninggalkan desa, memendam mimpinya kuliah, demi menjadi istri yang baik.
Dan ternyata… semuanya sandiwara.
Bu Widya menambahkan dengan suara dingin, “Kau pikir kami bodoh? Menikahi perempuan sepertimu secara resmi? Jangan bermimpi! Kau cuma alat, Kirana. Alat untuk menenangkan ibu yang ingin punya cucu. Tapi sekarang… alat itu sudah rusak. Jadi, buang saja.”
Air mata Kirana mengalir deras. Tapi bukan karena sedih. Karena rasa malu yang membakar. Dia merasa seperti diperkosa—bukan tubuhnya, tapi kepercayaannya.
Dan Aris, seolah belum cukup, menatapnya dengan mata penuh kemenangan palsu.
“Dan karena kau sudah berani melawan, maka sebagai suami—meski hanya di mata dunia—aku talak kau. TALAK SATU! TALAK DUA! TALAK TIGA! PERGI! KAU BEBAS! TAPI JANGAN HARAP DAPAT APA-APA DARIKU!”
Talak tiga. Diucapkan di depan pintu yang dulu dia masuki dengan harapan. Diucapkan di hadapan anak yang tertidur di lengan ibunya. Diucapkan tanpa dosa di hati.
Kirana tidak membantah. Dia tidak menangis keras. Dia hanya mengangkat Gio perlahan, memeluknya erat, lalu membungkuk mengambil satu-satunya tas punggung yang masih tersisa—berisi pakaian Gio, susu, dan buku catatan kecil tempat dia menulis impian-impian yang belum sempat diwujudkan.
“Baik,” katanya pelan. “Aku pergi.”
Tapi sebelum dia melangkah keluar, dia menoleh sekali lagi.
“Kau bilang aku tak pernah jadi istrimu yang sah… Tapi tahukah kau? Aku pernah benar-benar mencintaimu. Bahkan saat kau menyakitiku, aku masih berharap kau berubah. Tapi sekarang… aku bersyukur kau berterus terang. Karena berarti aku tak perlu lagi merasa bersalah pergi.”
Aris terdiam. Seperti disambar petir.
Kirana melangkah keluar. Pintu menutup pelan di belakangnya. Tak ada dentuman. Tak ada teriakan. Hanya sunyi yang dalam.
Di dalam rumah, Aris berdiri mematung. Kalimat Kirana menggema di kepalanya: (“Aku pernah benar-benar mencintaimu.”)
Dan untuk pertama kalinya, dia merasa seperti pencuri—bukan Kirana yang mencuri uang, tapi dialah yang mencuri cinta, waktu, dan masa depan perempuan itu.
Bu Widya mencoba menenangkan. “Jangan dengarkan omong kosongnya, Ris. Dia cuma mau bikin kau merasa bersalah.”
Tapi Aris tak menjawab. Dia duduk di lantai, memungut selembar foto yang jatuh tadi—foto Kirana sedang memegang Gio bayi, tersenyum lebar, matanya berbinar seperti punya seluruh dunia.
Dia sadar: dialah yang tak pantas.
Sementara itu, Kirana berjalan menyusuri jalan kompleks, matahari hampir tenggelam sepenuhnya. Tapi langkahnya mantap. Dadanya masih sakit, tapi kepalanya jernih.
Dia tak punya surat nikah. Tak punya status. Tapi dia punya Gio. Dan dia punya dirinya sendiri—utuh, meski pernah dihancurkan.
Di tasnya, ada uang tiga juta—bukan hasil mencuri, tapi tabungan diam-diam dari jualan kue kecil-kecilan yang dia buat setiap malam saat Aris tidur,mengajar mengaji anak tetangga ,dan upah ia buruh angkut dipasar ..
Dia tahu hidup ke depan akan berat. Tapi setidaknya, sekarang dia berjalan dengan kebenaran—bukan dengan topeng.
Angin berhembus lagi. Kali ini, membawa harapan.
Dan di balik bayangan senja itu, Kirana berbisik pada Gio yang masih tidur:
“Mulai besok, Nak… kita hidup untuk diri kita sendiri.”