Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan Kael [I]
“Bukhh!”
Pukulan Noel mendarat telak di wajah Arif.
Suara benturan itu cukup keras untuk membuat beberapa kepala menoleh. Arif terhuyung ke samping, hampir kehilangan keseimbangan. Sorakan kecil muncul dari sudut-sudut ruangan.
“Kau cari mati!” desis Deza.
Tanpa ragu, Deza mengayunkan tinjunya ke arah Noel. Namun sebelum pukulan itu mengenai sasaran, tangan kecil dari belakang tiba-tiba menarik Noel ke belakang.
Pukulan Deza hanya membelah udara.
“Apa—?”
Belum sempat Deza bereaksi, pukulan kedua sudah menyusul. Kali ini, Mirea menundukkan tubuh Noel dengan gerakan halus, nyaris seperti refleks. Tinju itu kembali meleset.
Noel bahkan belum menyadari apa yang terjadi.
Deza mendecak kesal dan beralih ke tendangan. Saat kakinya terangkat—
Mirea menarik Noel ke samping, memutar sedikit tubuh kakaknya, lalu mendorongnya ke depan. Gerakannya rapi. Efisien. Tanpa suara.
Tendangan Deza kembali gagal.
Semua terjadi cepat. Terlalu cepat untuk mata awam.
Mirea kemudian melangkah lebih dekat, berdiri setengah di depan Noel, tangannya mencengkeram lengan sang kakak.
“Jangan sakiti kakakku,” pintanya lembut.
Suaranya kecil. Getarannya pas. Matanya sediKit berkaca-kaca.
Gadis rapuh.
Itulah yang semua orang lihat.
......................
“Menarik.”
Dari lantai atas, Kaelion Blackwood tersenyum tipis sambil meneguk minuman di tangannya. Matanya tak lepas dari gadis kecil berwajah polos di bawah sana.
“Tuan Kael?” Farel menoleh, "apa yang kamu lihat?" tanya nya sambi mengikuti arah pandang sahabatnya.
“Cewek itu,” ujar Kael santai, “pura-pura takut. Tapi sebenarnya dia yang melindungi kakaknya.”
Farel membetulkan kacamatanya, menajamkan pandangan. Alisnya terangkat.
“Bukannya itu…” ia menyipitkan mata, “…Mirea Rothwell? Tunanganmu?”
Kael terdiam.
Tangan Kael yang memegang rokok terhenti di udara.
Ia menghisap dalam-dalam, lalu membuang asap perlahan. Ingatannya melayang pada foto gadis pucat yang terbaring di ranjang rumah sakit, Gadis yang dilaporkan oleh asistennya tadi siang? yang pingsan hanya karena ketakutan?
Matanya kini menyipit.
Rokok itu turun sedikit di antara Jemarinya.
......................
Di bawah sana, Deza menggeram frustrasi.
“Bocah ini nggak kena pukul juga,” desisnya.
Noel sama sekali tak peduli dengan dirinya. Ia menoleh ke belakang, memastikan Mirea baik-baik saja.
“Adik… jangan takut,” katanya terbata. “A-aku… aku baik-baik aja.”
Ia segera memposisikan tubuhnya, kembali menyembunyikan Mirea di balik punggungnya, seolah dirinyalah perisai terakhir.
Deza mendengus kecil.
Tangannya menyelusup ke balik jaket.
Kilatan logam muncul.
Pisau.
Sorot mata beberapa orang berubah. Suasana yang tadinya riuh mendadak menegang.
“Dik,” ujar Deza dengan nada rendah dan mengancam, mengarahkan pisau ke arah Noel. “Dengar baik-baik.”
Noel membeku.
“Kalau kamu mau nurut dan nyerahin cewek itu ke aku,” lanjutnya, senyum bengis terukir di wajahnya, “aku jamin kamu dan kakakmu pulang dengan utuh.”
“Dengar nggak!” bentaknya, makin mendekat.
Di balik punggung Noel, Mirea tersenyum tipis.
Siapa yang menyakiti siapa, kita lihat saja nanti.
Tangannya mengepal lebih erat.
Dan...
DOR!
Suara tembakan memecah ruangan.
Pisau di tangan Deza terpental, terhantam peluru tepat di bagian bilahnya. Logam itu berputar di udara sebelum jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring.
Jeritan menggema.
Mirea menoleh ke arah atas.
“Siapa yang berani nembak di Stone At Black?!” teriak Deza panik, berbalik ke arah sumber suara.
Wajahnya langsung pucat.
Di balkon VIP, Kaelion Blackwood berdiri tegak. Tangannya terulur, pistol masih terarah ke depan. Asap tipis mengepul dari moncongnya.
Di sampingnya, Farel dengan santai menyeruput minuman, seolah ini hanya tontonan ringan.
Kael meniup ujung pistolnya pelan, lalu menurunkannya dengan ekspresi dingin.
“Tu—tu—Tuan Kael…” Arif tergagap, kakinya nyaris lemas.
Kael menatap mereka dari atas. Tatapannya tajam, penuh tekanan.
Deza langsung menyatukan kedua tangannya, cengirnya dipaksakan. “Hehe… Tuan Kaelion Blackwood. Putra konglomerat di Zhenkai. Saya yang nggak tau diri.”
Kael memasukkan pistol ke sakunya.
“Berisik,” katanya singkat.
Deza mengangguk cepat, senyum kaku menempel di wajahnya. Farel menahan tawa, jelas menikmati pemandangan itu.
“Ah— iya, iya! Maaf! Maaf!” Deza tergesa turun, mendekati Noel. “Tadi cuma salah paham.”
Noel menepis tangannya. “Jangan sentuh aku.”
“Minta maaf sama adikku,” ujar Noel tegas.
Wajah Deza menegang sejenak, tapi begitu ia melirik ke atas dan menangkap tatapan Kael, ia langsung tertawa konyol lagi.
“Hehe… Nona Mirea,” katanya. “Maaf ya. Tadi omonganku nggak sopan. Jangan dianggap serius.”
Mirea tersenyum malu-malu. “Nggak apa-apa kok. Kita semua teman. Jangan rusak suasana gara-gara aku.”
“Ah… benar-benar,” Deza tertawa dibuat-buat. “Nona Mirea ini lembut sekali.”
“Anggun dan mempesona,” Arif ikut menimpali.
Mirea menunduk sopan.
Dalam hatinya, senyumnya berubah tajam.
Terus, Puji saja terus, pikirnya dingin.
Aku akan membunuhmu nanti.