Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberitahu Nathan
Tiga hari berlalu sejak Naura tau dia hamil. Tiga hari dia simpan rahasia itu sendirian, cuma Bi Ijah yang tau, cuma Bi Ijah yang nemenin Naura nangis setiap malem sambil mengelus perut yang masih rata.
Tapi Naura gak bisa simpan terus, Nathan harus tau bahwa ini anaknya juga. Meski Naura takut, meski Naura ga tau reaksi Nathan bakal gimana, tapi dia tetep harus bilang.
Jadi pagi ini Naura bangun lebih pagi dari biasanya, jam lima udah turun ke dapur bantuin bi Ijah masak.
"Nyonya gak usah bantuin, Nyonya kan lagi hamil, istirahat aja." Bi Ijah ngusir Naura dari dapur tapi Naura kekeuh.
"Aku pengen masak sendiri Bi, aku pengen bikin makan malam spesial buat Nathan."
Bi Ijah menatap Naura dengan pandangan iba campur seneng. "Nyonya mau bilang ke Tuan Nathan?"
Naura ngangguk sambil napas panjang. "Iya Bi, aku ga bisa tunda lagi, dia harus tau."
Mereka masak dari pagi sampe siang.
Naura masak semua makanan favorit Nathan yang Bi Ijah kasih tau, steak medium rare, mashed potato with extra butter, sup krim jamur, salad caeser, dan dessert chocolate lava cake yang Naura coba bikin sendiri meski tangannya berkali kali keiris pisau karena gugup.
Bi Ijah bantuin di samping sambil sesekali ngasih instruksi.
Jam empat sore semua makanan udah siap, Naura nata di meja makan dengan rapi banget, pake taplak meja putih yang bagus, piring piring kristal yang biasa cuma dipake pas acara spesial, lilin lilin aromaterapi yang baunya enak.
Naura bahkan sempet beli bunga mawar merah di toko bunga deket mansion, nata di vas kristal di tengah meja.
Semuanya perfect. Semuanya cantik. Kayak dinner romantis di restoran mewah.
Naura naik ke kamar, mandi lama, pake dress pink muda yang simple tapi cantik, makeup natural, rambut dikuncir ekor kuda rendah dengan beberapa helai rambut dibiarkan jatuh natural.
Dia ngeliat pantulan dirinya di cermin, cantik tapi nervous banget. Tangannya ga berhenti gemetar
"Kamu bisa Naura, kamu harus bilang." Dia ngomong sendiri sambil ngeliatin pantulan matanya di cermin.
Foto USG udah dia masukin ke amplop cantik warna pink, ada tulisan tangan Naura di amplop itu: "Untuk Papa"
Amplop itu disimpen di saku dress, dipegang erat.
Jam tujuh malem, Naura duduk di meja makan sambil nunggu. Nathan biasanya pulang jam sepuluh atau sebelas, tapi tadi siang Naura udah kirim pesan.
"Bisa pulang lebih awal ga? aku ada yang mau omongin, penting banget."
Nathan bales cuma, "Oke"
Satu kata.
Tapi cukup bikin Naura berharap.
Jam tujuh lewat tiga puluh, belum ada tanda-tanda Nathan. Naura mulai gelisah, kakinya ga bisa diem, terus gerak gerak ga karuan
Jam delapan lewat dua puluh, bunyi mobil masuk ke halaman. Naura langsung berdiri, jantung berdegup kenceng sampe kedengeran di telinga.
Nathan masuk dengan jas masih rapi, rambut agak berantakan, wajah capek tapi ga secapek biasanya.
Mata mereka bertemu.
Nathan berhenti di pintu ruang makan, ngeliat meja yang dihias cantik, lilin lilin yang menyala, makanan yang lengkap.
"Ini... apa ini?" Nathan nunjuk meja.
"Aku masak buat kamu," Naura senyum nervous "Ayo duduk, pasti kamu laper."
Nathan masih berdiri, ekspresinya bingung campur curiga. "Kenapa tiba-tiba begini?"
"Gak tiba-tiba kok, aku cuma pengen masak buat kamu." Naura jalan ke kursi Nathan, narik kursinya. "Duduk dulu Nathan, please."
Nathan akhirnya duduk, tapi postur tubuhnya tegang, kayak siap lari kapan aja. Naura duduk di seberangnya, tangan gemetar waktu ngambil sendok garpu.
"Makan dulu ya, nanti kita ngobrol," Naura nyoba kedengeran natural.
Mereka makan dalam diam yang awkward banget. Nathan makan pelan, sesekali ngeliatin Naura yang ga bisa fokus makan karena nervous.
"Naura," Nathan akhirnya ngomong. "Kamu bilang ada yang mau diomongin, apa?"
Naura menelan ludah, ini waktunya dan ini kesempatan yang bagus. Tangannya masuk ke saku dress, meraba amplop pink yang ada di sana.
"Nathan, aku ada sesuatu yang harus kamu tau." suaranya gemetar parah.
Nathan menaruh sendok garpunya, menatap Naura dengan tatapan serius. "Apa?"
Naura tarik napas dalam, lalu mengeluarkan amplop pink dari saku, dan menaruhnya di meja dengan tangan gemetar.
"Ini, aku mau ngasih ini sama..."
Tapi sebelum Naura bisa meneruskan kalimatnya...
TING TING TING.
Ponsel Nathan bunyi, Nathan ngeluarin ponselnya dari saku. Naura bisa liat nama yang muncul.
Mahira.
Jantung Naura langsung drop, Nathan ngangkat telepon tanpa minta izin ke Naura.
"Hallo?"
Suara Mahira kedengeran dari seberang, nangis. Naura ga bisa denger jelas apa yang Mahira bilang, tapi yang jelas Mahira lagi nangis, suaranya tercekat tercekat.
Nathan langsung berdiri. "Kamu dimana? kenapa nangis?"
Mahira ngomong sesuatu lagi.
Nathan ngusap wajahnya. "Oke oke, tunggu aku kesana, jangan kemana mana."
Telepon ditutup, Nathan langsung ambil kunci mobil dari meja.
"Nathan tunggu." Naura berdiri dengan cepet "Aku belum selesai bicara."
"Nanti Naura, Mahira lagi butuh bantuan, dia lagi di trouble." Nathan udah jalan ke pintu.
"Tapi Nathan, ini penting!"
"Nanti aja!" Nathan gak noleh, ia terus jalan.
"NATHAN!" Naura berteriak, suaranya pecah "INI TENTANG KITA! TENTANG."
BRAK!
Pintu ditutup, dan Nathan pergi. Naura berdiri di situ membeku. Tangan masih mengenggam amplop pink. Mata menatap kosong ke pintu yang baru aja ditutup Nathan.
Nathan pergi dan memilih Mahira. Selalu saja Mahira. Kaki Naura lemes, dia jatuh duduk ke kursi dengan badan gemetar keras. Menatap meja makan yang penuh makanan yang gak disentuh.
Menatap lilin yang masih menyala. Menatap bunga mawar merah yang mulai layu. Semua usahanya sia-sia.
Bi Ijah keluar dari dapur dengan mata berkaca kaca, "Nyonya."
Naura gak jawab, ia cuma duduk di situ sambil menggenggam amplop pink. Tangan gemetar buka amplop itu.
"Maafkan papa, Sayang," Naura berbisik sambil nangis. "Papa ga pernah menginginkan kita."
Isakannya makin keras, bahunya bergetar. Bi Ijah ga tahan, dia peluk Naura dari belakang, ikut nangis.
"Nyonya... Nyonya jangan nangis, itu gak baik buat bayi Nyonya."
Tapi Naura gak bisa berhenti, ini terlalu sakit dan terlalu menyakitkan. Dia udah usaha keras, udah masak seharian, udah bikin semuanya perfect, udah siap ngomong, udah siap hadapi apapun reaksi Nathan.
Naura memeluk foto USG ke dada, nangis sampe suaranya serak
"Kamu cuma punya mama sayang," dia berbisik ke foto itu. "Papa gak ada buat kita, papa ga peduli. Tapi ga apa-apa, mama akan cukup buat kamu."
Tapi dalem hati Naura tau itu bohong, bayi itu butuh papa juga. Bayi itu butuh keluarga yang utuh. Nathan cuma peduli Mahira, Naura berdiri dengan lemes, ngelap air matanya kasar.
"Bi, buang semua makanan ini."
"Tapi Nyonya."
"BUANG BI!" Naura berteriak, suaranya pecah. "Aku ga mau liat lagi! buang semuanya!"
Bi Ijah ngangguk sambil nangis, mulai beresin meja makan sementara Naura naik ke kamar dengan langkah sempoyongan.
Di kamar Naura langsung robek dress pink itu, lempar sembarangan, terus berbaring di ranjang sambil memeluk foto USG.
Tiba-tiba ponsel Naura berbunyi, sebuah pesan masuk dari nomor tak di kenal. Dan sebuah foto muncul di layar, foto Nathan dan Mahira.
Di sebuah apartemen, Mahira memeluk Nathan dari depan, kepala Mahira di dada Nathan, tangan Nathan di punggung Mahira.
Mereka terlihat begitu intim. Di bawah foto itu ada caption: "Terima kasih udah dateng Nathan, aku gak tau harus gimana kalau gak ada kamu."
Naura menatap foto itu lama, tangannya gak gemetar lagi, ia menatap langit-langit kamar.
"Mama bodoh ya, Sayang," dia ngomong ke bayi di perutnya. "Bodoh banget, masih berharap sama papa kamu yang bakal peduli."
Naura mengelus perutnya pelan, "Tapi gak apa-apa, kita gak butuh dia. Kita cukup berdua aja, mama dan hanya ada kamu."
Bohong.
Tentu saja bohong, tapi Naura harus yakinkan diri sendiri supaya bisa bertahan.
Diluar jendela hujan mulai turun, hujan deras yang mengguyur Kota Jakarta. Seperti air mata yang Naura udah ga bisa keluarin lagi. Yang tersisa cuma kekosongan, dan bayi kecil di perutnya yang jadi satu satunya alasan dia masih bernapas.
Satu satunya alasan dia belum menyerah, meski Nathan gak peduli, dan malah lebih memilih Mahira.
Meski semuanya hancur, Naura masih punya bayi ini. Dan dia akan lindungi bayi ini dengan seluruh hidupnya. Apapun yang terjadi, meski harus sendirian.
Meski harus tanpa Nathan, Naura akan jadi mama yang terbaik. Untuk bayi yang gak pernah minta dilahirkan di situasi yang seberantakan ini.