NovelToon NovelToon
Aku Pergi Membawa Benih Yang Kau Benci

Aku Pergi Membawa Benih Yang Kau Benci

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Single Mom / Obsesi / Menikah dengan Kerabat Mantan / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Dalam diamnya luka, Alina memilih pergi.

Saat menikah satu tahun lalu, ia dicintai atau ia pikir begitu. Namun cinta Rama berubah dingin saat sebuah dua garis merah muncul di test pack-nya. Alih-alih bahagia, pria yang dulu mengucap janji setia malah memintanya menggugurkan bayi itu.

"Gugurkan! Aku belum siap jadi Ayah." Tatapan Rama dipenuhi kebencian saat melihat dua garis merah di test pack.

Hancur, Alina pun pergi membawa benih yang dibenci suaminya. Tanpa jejak, tanpa pamit. Ia melahirkan seorang anak lelaki di kota asing, membesarkannya dengan air mata dan harapan agar suatu hari anak itu tahu jika ia lahir dari cinta, bukan dari kebencian.

Namun takdir tak pernah benar-benar membiarkan masa lalu terkubur. Lima tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan.

Saat mata Rama bertemu dengan mata kecil yang begitu mirip dengan nya, akhirnya Rama meyakini jika anak itu adalah anaknya. Rahasia masa lalu pun mulai terungkap...

Tapi, akankah Alina mampu memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter - 9.

Saat Alina kembali dari menjemput Daffa di taman kanak-kanak, langkahnya terhenti di depan kontrakan. Ia mendapati barang-barangnya sudah ditumpuk rapi di teras, seolah dunia memutuskan untuk mengusirnya hari ini.

Pemilik kontrakan, Bu Eni, menyambut dengan wajah bersalah.

"Maaf, Mbak Alina. Ada yang menawar kontrakan ini dengan harga lebih tinggi dari yang Mbak bayarkan. Saya... saya tak bisa menolak."

Alina memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan denyut emosi yang mulai melonjak. "Ini terlalu mendadak, Bu Eni. Saya belum sempat mencari tempat tinggal lain."

"Saya akan beri kompensasi, satu bulan uang kontrakan. Setidaknya... bisa membantu sementara." Nada suara Bu Eni lirih, tapi tetap tak mengubah kenyataan.

"Tak perlu, Bu. Terima kasih." Jawaban Alina singkat dan tegas. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba tetap berdiri tegak meski dadanya bergemuruh.

Tiba-tiba suara berat yang sangat dikenalnya terdengar.

"Ada apa, Alina?"

Davin berdiri di sana, mengenakan kemeja putih bersih dan tatapan yang penuh maksud. Ia melangkah pelan menghampiri, lalu melihat ke arah tumpukan barang di teras.

“Kenapa semua ini ada di luar?” tanyanya dengan nada terkendali, meski matanya menyapu tajam ke sekitar.

“I-itu... kontrakan ini disewakan pada orang lain,” Alina menjawab singkat.

“Benar, saya sudah menyerahkan pada penyewa baru. Tempat ini akan dijadikan ruang usaha, jadi Mbak Alina harus segera pindah.”

Semua tampak seperti kebetulan yang menyakinkan. Davin tahu persis, orang-orangnya lah yang menyewa tempat itu dengan harga tinggi hanya agar Alina pergi sebelum Rama berhasil menemukannya.

Rama sudah mencium jejak keberadaan Alina, dan Davin tak mau kehilangan Alina. Belum saatnya, Alina bertemu kembali dengan Rama.

Davin takut... Alina kembali bersama Rama.

“Lin, aku tahu tempat yang bisa kamu sewa. Tenang saja, harganya masuk akal. Kamu bisa bayar sesuai kemampuanmu.”

Alina menatap Davin dengan ragu dan curiga. Tapi Daffa tampak sudah kehabisan tenaga, anak kecil itu seperti anak seusia lainnya, menguap dan merengek ingin tidur.

Menolak hanya memperpanjang rasa tak nyaman, jadi Alina memilih tenang dan mengangguk. “Baik. Maaf merepotkan mu... dan terima kasih.”

Tanpa membuat keributan, Alina mengemas sisa barang. Mobil pindahan datang tak lama setelah Davin mengangkat ponselnya. Semua sudah diatur. Semua orang di sekitarnya dari supir, pemilik rumah baru, hingga pemilik kontrakan lama adalah bagian dari satu skenario.

.

.

Sekitar satu jam kemudian, Alina berdiri terpaku di depan sebuah apartemen modern di pusat kota Jogja. Di sampingnya Daffa terlelap dalam gendongan Davin, kepala kecilnya bersandar tenang di pundak pria itu.

Alina menatap bangunan tinggi itu dengan ragu. "Apartemen ini... terlihat sangat eksklusif.“

Davin meliriknya sekilas, kemudian tersenyum samar. "Tenang saja, pemiliknya teman lamaku. Kamu tak perlu khawatir, semua bisa dinegosiasikan. Apalagi kamu... rasanya sudah ahli dalam urusan tawar-menawar.“

Alina hendak membalas, namun pintu unit di hadapan mereka terbuka. Seorang pria seumuran Davin muncul, wajahnya langsung berbinar saat melihat Davin.

Ia mengangguk sopan, sebelum menoleh pada Alina. "Ibu Alina, ya? Silakan masuk. Saya pemilik unit ini."

Alina menggenggam tali tasnya erat, ia masih ragu. Pendapatannya sebagai penulis lepas dan jika ada panggilan seminar mungkin hanya sekitar 15 juta rupiah per bulan, terlalu jauh untuk menyentuh Apartemen sekelas ini.

Seolah membaca keraguannya, si pemilik berbicara lebih tenang. "Soal biaya, kita bisa bicarakan, Bu. Saya dan istri akan pindah ke luar negeri selama lima tahun. Yang saya cari bukan sekadar penyewa... tapi seseorang yang bisa merawat tempat ini dengan baik." Orang itu berusaha meyakinkan Alina.

Davin tetap berdiri di belakang Alina, diam namun menyiratkan wibawa. Tatapannya tajam, cukup untuk membuat siapa pun berhati-hati dalam memilih kata.

Bagaimana orang itu tidak berusaha menyakinkan, jika Davin menatapnya dengan tatapan mengintimidasi?

Alina pun melangkah masuk dengan perlahan. Interior apartemen itu rapi dan modern, dengan pencahayaan hangat yang memantulkan suasana nyaman namun berkelas. Seperti dugaannya , Apartemen ini bukan tempat tinggal sembarangan.

“Saya mengerti keraguan Ibu, tapi saya yakin... ini bisa menjadi solusi yang baik bagi kedua pihak.” Kata sang pemilik sambil menutup pintu dengan sopan.

“Terus terang…” Alina membuka suara dengan tenang, namun matanya tetap mengamati ruangan. “Saya tidak ingin mengambil keputusan tergesa-gesa. Harga, lokasi dan komitmen jangka panjang, semua harus saya pertimbangkan secara matang.”

Pemilik apartemen mengangguk, menghargai ketegasan Alina. “Tidak masalah, Ibu. Saya bukan tipe yang memaksa. Jika Ibu butuh waktu untuk berpikir, saya akan menunggu. Tapi kalau boleh jujur, saya merasa tempat ini akan cocok untuk Ibu dan putra Ibu.”

Davin yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara sambil mengayun pelan tubuh Daffa yang masih tertidur di gendongannya.

“Alina tidak butuh dikasihani atau dimudahkan. Yang dia perlukan hanya kesempatan yang adil, jadi... kalau memang bisa dinegosiasikan, pastikan semua transparan dan profesional.”

Alina menoleh cepat ke arah Davin, antara terkejut dan jengah. Namun pria itu tetap tenang seperti biasa, seolah ucapannya barusan hanya fakta yang harus diutarakan, bukan bentuk pembelaan.

“Tenang saja, Tuan. Saya sudah siapkan rincian kontrak dan perhitungan sewanya. Ibu Alina bisa membaca dengan tenang dan menyesuaikannya dengan kebutuhan.”

Alina mengangguk pelan. “Baik, kalau begitu kirimkan ke email saya. Saya akan mempertimbangkan dengan serius, setelah saya cek semuanya.”

“Tentu.“ Akhirnya pemilik itu bisa bernafas dengan lega.

“Pertimbangkan untuk tinggal di sini sementara waktu, Daffa tampaknya butuh tempat yang layak untuk beristirahat. Misalnya... ranjang.” Suara Davin terdengar datar namun berwibawa.

Ia menoleh pada pria yang mengaku sebagai pemilik apartemen. “Apakah tempat ini sudah dilengkapi perabotan?”

“Lengkap, Tuan. Termasuk seprai baru dan ranjang bisa langsung digunakan.”

“Antarkan saya ke kamar.” Davin menyampaikan perintah itu tanpa sedikit pun keraguan.

“Tunggu! Aku belum menyetujui untuk tinggal di sini__” Alina menahan langkah Davin.

“Pikirkan kenyamanan Daffa terlebih dahulu.” Potongan kalimat itu meluncur cepat dari bibir Davin. Tegas, tanpa memberi ruang untuk berdebat. Ia tidak sedang meminta persetujuan, ia sedang memastikan Alina tidak menolak.

Alina terdiam, tidak ada argumen lain yang bisa ia sampaikan saat Davin benar-benar melangkah masuk sambil menggendong Daffa menuju kamar yang tersedia.

Sementara itu, Alina hanya bisa menghela napas pelan. Tangannya membuka ponsel dan memeriksa email dari pihak penyewaan apartemen.

.

.

.

Di dalam kamar hotel yang remang-remang, Rama berdiri membelakangi jendela besar. Tirai berkibar perlahan oleh angin dari ventilasi, tapi udara di dalam ruangan justru terasa panas… menyesakkan.

Wajah Rama menegang, rahangnya mengeras saat sedang mendengar laporan dari orang suruhannya.

“Mohon maaf, Tuan…” suara sang informan terdengar berat, nyaris tak berani menatap Rama. “Saya terlambat sampai di lokasi, tempat kontrakan yang diduga menjadi tempat tinggal Nyonya Alina kini kosong. Ia telah pergi… dan tak seorang pun tahu ke mana.”

Rama membalikkan tubuh dengan cepat, bola matanya menajam seperti pisau. “Apa maksudmu pergi? Pergi ke mana?!”

Orang suruhan nya itu menelan ludah, lalu menambahkan dengan gugup. “Menurut pemilik kontrakan… seorang pria mengenakan jas mahal datang dan membawa Nyonya Alina pergi.”

Dentuman keheningan langsung meledak di kepala Rama.

Mata pria itu menajam, seakan menyayat udara. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan ritme tak teratur. Api cemburu menyambar tanpa ampun.

“Pria berjas mahal? Itu pasti bukan Zidan! Dia sudah menikah! Tidak mungkin dia, Zidan tak akan berani mengganggu Alina lagi setelah aku memukuulinya tanpa ampun!“ Rama menggertakkan giginya.

Tangan Rama mengepal, gerahamnya bergemeletuk seolah menahan badai yang siap meledak dari dalam dadanya. Bayangan Alina bersama pria lain berkelebat di pikirannya, membakar ketenangan yang selama ini ia pertahankan.

“Terus cari tahu dan kali ini... jangan sampai gagal lagi!” ucap Rama pelan, tapi dengan nada beracun yang dingin dan menusuk.

Begitu orang suruhannya berlalu, Rama melangkah cepat hampir memburu ke arah meja. Tangannya gemetar saat meraih botol kaca yang tinggal setengah berisi alkohol, lalu tanpa pikir panjang ia menyambar tutupnya dan meneguk langsung dari mulut botol.

Rasa pahit membakar tenggorokannya, tapi tak sebanding dengan perih yang mengoyaak dadanya.

Sejak Alina pergi, hanya alkohol yang bisa memeluknya dalam diam. Hanya itu yang mampu menenangkan badai yang mengamuk dalam jiwanya.

1
ANI MATTORI
Luar biasa
muth yasin
mungkin juga Erika
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣🤣
Aisyah Suyuti
seru
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐧𝐠𝐠𝐢𝐭𝐚 𝐤𝐢 𝐞𝐦𝐚𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐣𝐣𝐚𝐥 𝐦𝐤𝐧𝐞 𝐚𝐧𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐛𝐥𝐢𝐬 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐢𝐤𝐮𝐭𝐢𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐢𝐡, 𝐦𝐧𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐡𝐨𝐫😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐲𝐠 𝐛𝐥𝐦 𝐝𝐢𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐢𝐧 𝐚𝐝𝐞𝐤 𝐃𝐚𝐯𝐢𝐧 𝐲𝐠 𝐦𝐬𝐡 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 𝐲𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐪 𝐣𝐠 𝐬𝐢𝐧𝐠𝐥𝐞 𝐩𝐚𝐫𝐞𝐧𝐭 𝐚𝐧𝐤 𝟏 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐛𝐮𝐣𝐚𝐧𝐠 🤣🤣🤣 𝟏𝟓𝐭𝐡 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐬𝐤𝐫𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐤𝐪𝐮 𝐮𝐝𝐡 𝟑 𝐲𝐠 𝐬𝐦 𝐛𝐮𝐣𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐧𝐢 𝟐
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐦𝐢𝐢𝐧 𝐲𝐚 𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐲𝐚 𝐫𝐨𝐛𝐛𝐚𝐥 𝐚𝐥𝐚𝐦𝐢𝐧, 𝐦𝐤𝐬𝐡 𝐝𝐨𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫, 𝐬𝐞𝐦𝐨𝐠𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐣𝐠 𝐥𝐚𝐧𝐜𝐚𝐫 𝐫𝐞𝐣𝐞𝐤𝐢𝐧𝐲𝐚


𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐥𝐮 𝐤𝐚𝐤, 𝐬𝐞𝐤𝐫𝐧𝐠 𝐁𝐮𝐦𝐞𝐫 𝐮𝐝𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐚𝐪 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐚𝐧𝐤𝟐 𝐪𝐮 𝐣𝐠 😘😘😘

𝐤𝐫𝐧 𝐜𝐮𝟐 𝐧𝐲𝐚 𝐜𝐦 𝐝𝐫𝐪𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢𝐪𝐮, 𝐚𝐝𝐞𝐤 𝐢𝐩𝐚𝐫𝐪𝐮 𝐮𝐝𝐡 𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐭𝐩 𝐠𝐤 𝐩𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐧𝐤
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐡 𝐝𝐚𝐯𝐢𝐧 𝐬𝐦 𝐑𝐚𝐦𝐚 𝟏𝐚𝐲𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐝𝐚 𝐢𝐛𝐮, 𝐩𝐧𝐭𝐬 𝐦𝐢𝐫𝐢𝐩 🥺🥺😭😭
Lily Miu
ya bagus buka lembaran baru tutup yg lama
Lily Miu
dasar bodoh
Netty Netty
kira2 ratna dapat karma gk ya,,,
Netty Netty
semoga gendis sm rama
Netty Netty
lanjooot
Dian
baguss
Yunita Sophi
ya ampun Gendis seberang itu kamu di depan banyak orang... pake ngaku ngaku klo anak itu anak nya Rama... ternyata ada yah orang nya kalm tp nekat 🤭😂😂
Yunita Sophi
kan drama bikin seru thor... dunia jg kan penuh drama 😂
Yunita Sophi
dasar ulet nangka penyebar fitnah... tunggu aja pasti ada balasan nya
Yunita Sophi
jangan mau kembali Gendis... Galang bekas di pake perempuan murahan... yg ada jijik kali..
Yunita Sophi
wah ini sib lebih parah lg ada perempuan iblis satu rumah...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!