NovelToon NovelToon
Benih Kesalahan Satu Malam

Benih Kesalahan Satu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisa-18

Suasana di dalam mobil SUV yang melaju menuruni perbukitan Puncak terasa begitu mencekam. Bimo mengemudi dengan kecepatan tinggi namun tetap stabil, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-bukunya memutih. Di kursi belakang, Kalandra memeluk Elisa yang menyandarkan kepala di dadanya. Wajah gadis itu sudah pucat seputih kertas, peluh dingin membasahi keningnya, dan rintihan kecil terus keluar dari bibirnya yang pucat.

"Tahan, Elisa... tolong tahan sebentar lagi," bisik Kalandra. Suaranya serak, penuh dengan kepanikan yang berusaha ia tekan.

Kalandra sendiri sedang berjuang hebat. Perutnya terasa melilit hebat, rasa mual yang tadi menyerang kini berganti dengan kram tajam yang seolah menyalin rasa sakit yang dirasakan Elisa ke dalam tubuhnya sendiri. Inikah kutukan sekaligus berkat dari ikatan mereka. Kalandra seperti ga tidak bisa hanya menjadi penonton, ia dipaksa ikut menanggung beban fisik dari penderitaan istrinya.

"Sakit, Mas... perut saya..." Elisa meremas kemeja Kalandra, matanya terpejam rapat.

"Saya di sini. Kita hampir sampai," Kalandra mengecup puncak kepala Elisa, berusaha memberikan ketenangan yang ia sendiri pun hampir kehilangan ketenangannya.

Aris, yang dipangku oleh Bi Inah di kursi paling belakang, menangis tanpa suara. Bocah itu ketakutan melihat kakaknya yang biasanya kuat kini terkulai lemah. Bi Inah terus membisikkan doa, berharap keajaiban datang untuk nyawa yang baru saja mulai berdenyut itu.

...----------------...

Beberapa menit berlalu dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit terdekat. Rumah sakit daerah di kaki bukit itu tampak tenang hingga rombongan mereka tiba dengan kepanikan luar biasa. Kalandra langsung menggendong Elisa masuk ke ruang instalasi gawat darurat.

"Dokter! Tolong Istri saya pendarahan ringan dan mengeluh kram hebat! Dia hamil baru tujuh minggu!" teriak Kalandra, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar.

Perawat segera datang membawa brankar. Elisa dipindahkan dengan hati-hati. Saat genggaman tangan mereka terlepas karena Elisa harus dibawa ke ruang pemeriksaan khusus, Kalandra merasa seperti separuh nyawanya ikut ditarik pergi. Ia terhuyung, memegang pilar rumah sakit untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas.

"Lan, duduk dulu," Bimo memegang pundaknya. "Lo pucat banget. Lo mau pingsan?"

"Gue nggak apa-apa, Bim. Cuma... sakitnya kerasa banget di gue," gumam Kalandra sambil mengatur napas. Ia duduk di kursi tunggu kayu yang keras, matanya tidak lepas dari pintu ruang pemeriksaan yang tertutup rapat.

Sepuluh menit terasa seperti sepuluh tahun. Di dalam sana, Elisa sedang berjuang. Di luar sini, Kalandra merasa sedang diadili oleh takdir. Ia teringat kembali percakapan mereka di kebun mawar pagi tadi. Mereka baru saja membicarakan tentang detak jantung, tentang masa depan, dan tentang harapan. “Tuhan, tolong jangan ambil itu sekarang,” doanya dalam hati.

Pintu terbuka. Seorang dokter perempuan paruh baya keluar sambil melepas maskernya. Kalandra langsung berdiri tegak.

"Keluarga Nyonya Elisa?"

"Saya suaminya, Dok. Bagaimana?"

Dokter itu menatap Kalandra dengan pandangan yang tenang namun serius. "Istri Anda mengalami ancaman keguguran atau abortus imminens. Sepertinya ada tekanan mental atau stres yang sangat hebat sehingga memicu kontraksi rahim. Beruntung, pendarahannya belum banyak."

Kalandra merasa dunianya sedikit lebih terang, namun hatinya masih tersayat. “Lalu...lalu bayinya bagaimana dok?”

"Kita baru saja melakukan USG darurat. Mari, Anda boleh masuk melihatnya sendiri. Pasien juga membutuhkan kehadiran Anda untuk menenangkan sarafnya," ujar dokter itu.

Kalandra melangkah masuk ke dalam ruangan yang redup itu. Ia melihat Elisa berbaring dengan mata yang sembab karena tangis. Ada sebuah layar monitor di samping tempat tidur.

"Mas..." bisik Elisa saat melihat Kalandra. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar.

Kalandra segera meraih tangan itu, menciumnya berkali-kali. "Maafkan saya. Seharusnya saya tidak membiarkan kamu mendengar pembicaraan kami tadi."

"Dokter, silakan perlihatkan pada ayahnya," pinta sang dokter.

Dokter tersebut menggerakkan stik transduser di atas perut Elisa yang sudah diolesi gel bening. Awalnya hanya ada bayangan hitam dan putih yang tidak beraturan di layar. Namun kemudian, dokter itu menekan satu titik.

"Lihat ini," tunjuk dokter ke sebuah titik kecil yang berkedip-kedip dengan sangat cepat. "Ini adalah janin Anda. Kecil sekali, ukurannya baru beberapa milimeter."

Kalandra menatap layar itu tanpa berkedip. Titik kecil itu... berkedip. Berdenyut dengan ritme yang konsisten.

Deg…Deg…Deg…Deg…

Suara detak jantung itu kemudian diperdengarkan melalui speaker alat USG. Suaranya cepat, seperti suara derap kaki kuda yang berlari di kejauhan. Itu adalah suara paling indah yang pernah didengar oleh Kalandra seumur hidupnya. Lebih indah dari suara tepuk tangan saat ia memenangkan tender triliunan rupiah.

Elisa menangis lagi, kali ini tangis haru. "Dia masih ada, Mas. Jantungnya masih berdetak."

Kalandra tidak sanggup berkata-kata. Ia menundukkan kepalanya, dan membiarkan air matanya jatuh di punggung tangan Elisa. Rasa mual dan kram yang tadi menyiksanya mendadak sirna, digantikan oleh rasa syukur yang membuncah. Ia merasa seolah nyawa kecil di dalam sana baru saja menyapa ayahnya, memintanya untuk lebih kuat menghadapi dunia.

"Istri Anda harus bed rest total selama minimal satu minggu. Tidak boleh ada stres, tidak boleh banyak bergerak. Saya akan resepkan penguat kandungan," pesan dokter sebelum meninggalkan mereka berdua.

Setelah kondisi Elisa stabil, mereka dipindahkan ke ruang rawat VIP. Malam mulai larut, dan hujan kembali mengguyur bumi Puncak. Aris sudah tertidur di sofa panjang bersama Bi Inah, sementara Bimo berjaga di depan pintu.

Kalandra duduk di kursi samping tempat tidur Elisa. Lampu ruangan diredupkan. Ia terus menggenggam tangan Elisa, seolah takut jika ia melepasnya, semua ini akan menghilang.

"Mas..." panggil Elisa pelan.

"Tidurlah, Elisa. Kamu butuh istirahat."

"Apa yang dikatakan Pak Bimo tadi... soal Pak Danu...apakah itu benar?" tanya Elisa, matanya menatap langit-langit.

Kalandra menghela napas. Ia tahu ia tidak bisa lagi berbohong. "Iya. Dia mencoba menyerangku lewat masa lalumu. Tapi jangan dipikirkan. Saya sudah punya rencana untuk mengakhirinya."

"Saya bukan wanita terhormat bagi mereka, kan Mas?" suara Elisa terdengar getir. "Seorang kurir yang hamil karena... karena kejadian itu. Pak Danu benar, saya adalah noda bagi nama besar Mahendra."

Kalandra berdiri, ia berpindah duduk di tepi tempat tidur Elisa. Ia menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh determinasi. "Dengarkan saya, Elisa. Di mata saya, kamu adalah wanita paling terhormat yang pernah saya temui. Kamu menjaga adikmu sendirian di usia muda, kamu bekerja keras tanpa mengeluh, dan sekarang kamu berjuang menjaga anak kita."

Kalandra mengusap pipi Elisa. "Bukan kamu yang noda. Danu-lah nodanya. Dia pengecut yang menyerang wanita untuk menjatuhkan pria. Mulai detik ini, saya tidak akan membiarkan satu kata pun dari dia sampai ke telingamu. Kamu hanya perlu fokus pada detak jantung kecil tadi. Mengerti?"

Elisa mengangguk pelan. Ia merasakan kehangatan yang menjalar dari tangan Kalandra. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia bukan hanya sekadar tanggung jawab. Ada sesuatu yang lebih besar di sana sesuatu yang ada dalam bentuk perlindungan yang lahir dari rasa takut kehilangan.

Pukul dua dini hari, Kalandra sedang berdiri di balkon kamar rumah sakit, menelepon seseorang. Wajahnya yang biasanya tenang kini dingin seperti es utara.

"Halo, Pa," sapa Kalandra saat telepon di seberang sana diangkat.

"Bagaimana keadaan Elisa?" suara Tuan Baskoro terdengar berat di ujung telepon. Ternyata ayahnya pun belum tidur.

"Hampir kehilangan bayi itu karena ulah Danu, Pa. Sekarang dia sedang bed rest."

Hening sejenak di seberang sana. Kalandra bisa mendengar suara helaan napas ayahnya yang penuh amarah. "Danu sudah sangat melewati batas. Dia sudah berani-beraninya menyentuh cucu pertama Mahendra."

"Landra mau minta izin, Pa," ujar Kalandra tegas. "Bukan hanya sekadar bertahan, Landra mau menghancurkan Danu sampai ke akar-akarnya. Landra akan beli semua saham yang dia punya di perusahaan konsorsium, dan Landra mau Papa pakai koneksi Papa untuk membongkar kasus penggelapan pajak yang dia lakukan tahun lalu."

"Lakukanlah," jawab Baskoro tanpa ragu. "Mahendra tidak pernah menyerang lebih dulu, tapi jika seseorang mencoba merobohkan tiang rumah kita, kita tidak akan menyisakan satu batu pun dari rumah mereka. Kirimkan semua data yang kamu butuhkan pada Bimo. Papa akan urus sisanya lewat kementerian."

"Terima kasih, Pa."

"Satu lagi, Kalandra," panggil Baskoro. "Jaga istrimu. Jangan sampai dia merasa sendiri di sana. Seorang wanita yang sedang mengandung adalah yang paling peka terhadap kasih sayang. Jika kamu gagal menjaganya, kamu juga gagal menjadi seorang Mahendra."

Kalandra menutup telepon. Ia menoleh ke dalam melalui kaca jendela. Di sana, Elisa sedang tertidur lelap dengan wajah yang mulai tampak tenang.

Kalandra kembali masuk ke dalam, menyelimuti Elisa hingga ke dada. Ia kemudian duduk di kursi, memejamkan matanya sebentar. Rasa mual itu kembali datang lagi walau hanya sedikit, namun kali ini Kalandra menyambutnya dengan senyuman. Rasa sakit ini adalah pengingat bahwa ia tidak sedang bermimpi. Bahwa ia memiliki keluarga yang nyata, yang bernapas, dan yang layak ia perjuangkan meskipun harus melawan seluruh dunia.

Di luar, badai Puncak perlahan mereda. Namun di dalam diri Kalandra, badai baru sedang dipersiapkan untuk mereka yang berani menyentuh harta paling berharganya. Trimester pertama ini memang penuh cobaan, namun setiap detak jantung yang ia dengar tadi adalah janji bahwa fajar pasti akan datang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Selamat membaca☺️🥰...

...Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya ya manteman🙏🏻🙌🏾❤️...

...Terimah kasih🙏🏻❤️...

...Sayang banyak-banyak🌹...

1
Edi
semoga si danu cepat ketangkap dan bebi tripel lahir dengan selamat
tamara.nietzsche
Saling dukung ya! The Mansion😍🙏
tamara.nietzsche
Cerita yang kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!