Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Tragedi Cilok di Tanah Viking
Berita tentang dua garis merah itu seharusnya membawa ketenangan, namun bagi Zea Anora, itu adalah awal dari badai hormon yang lebih dahsyat daripada badai salju di luar kabin mereka. Antares, yang biasanya bisa memprediksi pergerakan satelit hingga satuan milidetik, kini benar-benar kehilangan kendali atas variabel paling tidak terduga dalam hidupnya: Ngidam Zea.
Malam itu, suhu di Tromsø menyentuh angka yang sanggup membekukan logam. Zea yang tadinya tertidur pulas tiba-tiba terbangun dengan mata melotot dan napas terengah-engah.
"Mas... Mas Antar, bangun!" Zea mengguncang bahu Antares dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk ukuran wanita hamil muda.
Antares langsung terduduk tegak, mode siaga penuh. "Kenapa? Kamu mual lagi? Sakit?"
Zea menggeleng kuat-kuat, bibirnya melengkung ke bawah, siap untuk meledakkan tangisan jilid kesekian. "Aku mau cilok, Mas... Cilok bumbu kacang yang di depan gerbang kampus. Yang abangnya pake topi miring itu!"
Antares terdiam. Ia mengerjapkan mata, berusaha memproses permintaan istrinya. "Zea... Sayang. Kita di Norwegia. Di sini tidak ada tepung kanji, apalagi abang-abang bertopi miring."
"Nggak mau tau! Aku mau cilok yang kenyal-kenyal, terus bumbu kacangnya harus yang pedes banget, banyak micinnya! Hwaaaaa! Anak kamu yang mau, Mas! Masa kamu pelit sama anak sendiri?" Zea mulai menendang-nendang selimut, tangisannya pecah memenuhi kabin kaca yang sunyi.
Antares memijat pangkal hidungnya. Ia melihat jam dinding; pukul dua dini hari waktu setempat. "Zea, dengerin saya. Saya bisa belikan kamu King Crab paling mahal di Norwegia, atau salmon paling segar. Tapi cilok... itu tidak mungkin ada di sini."
"Berarti Mas nggak sayang sama aku! Mas cuma sayang sama satelit Mas itu!" Zea memunggungi Antares, meringkuk seperti janin sambil sesenggukan hebat. "Kasihan ya Dek, Papa kamu nggak mau usaha. Padahal Mama lagi pusing banget..."
Hati Antares mencelos. Logikanya berteriak bahwa permintaan ini tidak masuk akal, tapi insting posesif dan pelindungnya tidak tega melihat Zea tersiksa. Ia bangkit, memakai jaket gunungnya, dan berjalan menuju dapur kabin yang terbatas.
"Zea, berhenti menangis. Saya akan coba buatkan sesuatu," ucap Antares pasrah.
Antares membuka lemari penyimpanan. Tidak ada tepung tapioka. Yang ada hanya tepung terigu protein tinggi, kentang, dan keju. Sebagai ilmuwan, Antares mulai melakukan eksperimen gila. Ia merebus kentang, menghancurkannya, mencampurnya dengan tepung terigu dan sedikit air, berusaha menciptakan tekstur yang "kenyal" seperti cilok.
Untuk bumbu kacangnya? Ia menemukan selai kacang (peanut butter) di rak, lalu mencampurnya dengan bubuk cabai dari sachet pizza instan dan sedikit kecap asin yang ia temukan di sudut lemari.
Satu jam kemudian, Antares kembali ke tempat tidur dengan piring berisi bola-bola adonan aneh yang disiram saus berwarna cokelat gelap.
"Ini... 'cilok' ala Norwegia. Coba makan," ucap Antares, wajahnya terlihat sangat lelah namun penuh harap.
Zea mengintip dari balik bantal. Ia mengambil satu tusukan garpu, mencicipinya sedikit, lalu wajahnya mendadak berubah masam.
"Ini bukan cilok, Mas! Ini kentang rebus pake selai kacang! Rasanya aneh banget!" Zea melempar garpunya dan kembali menangis. "Aku maunya yang di Jakarta! Mas jahat! Pulang aja yuk! Aku mau pulang sekarang juga!"
Antares menarik napas panjang. Ia mengambil ponselnya, mengabaikan perbedaan waktu yang mencolok antara Norwegia dan Indonesia. Ia menelepon asisten pribadinya di Jakarta.
"Halo? Siapkan jet pribadi Bagaskara sekarang juga. Kita pulang ke Jakarta pagi ini. Batalkan semua agenda turis di Tromsø."
"Mas? Kita beneran pulang?" Zea berhenti menangis, menatap Antares dengan mata bulatnya.
"Iya. Daripada kamu menangis sampai dehidrasi di sini, lebih baik kita pulang ke Jakarta hanya untuk membeli cilok lima ribu rupiah itu," ucap Antares sambil mulai membereskan koper mereka dengan gerakan cepat dan efisien.
Zea langsung menghambur ke pelukan Antares, menciumi pipi suaminya berkali-kali. "Mas Antar paling ganteng sedunia! Makasih ya, Mas!"
Antares hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia menatap perut Zea yang masih rata dengan tatapan tajam namun penuh cinta. Baru dua minggu saja kamu sudah bikin Papa harus terbang lintas benua hanya untuk cilok, Nak. Bagaimana nanti kalau kamu sudah lahir? pikir Antares.
Malam itu, di tengah badai salju, Jet pribadi keluarga Bagaskara dipersiapkan untuk misi paling tidak lazim dalam sejarah penerbangan mereka: Mengejar Cilok untuk Sang Ny. Muda.