NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:225
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: OPERASI PENYIARAN

#

Lima hari.

Lima hari untuk siapin rencana yang kalau salah satu detik aja bakal bikin mereka semua mati.

Hari pertama mereka habiskan untuk riset. Pixel hack database stasiun TV Saluran Satu, cari blueprint gedung, jadwal shift security, nama semua staff yang kerja malam itu.

"Gedung ini punya tujuh lantai," kata Pixel sambil tunjukin blueprint di layar laptop yang udah makin retak. "Lantai satu sampai tiga untuk kantor biasa. Lantai empat studio utama dimana wawancara bakal dilakukan. Lantai lima ruang kontrol master. Lantai enam server room. Lantai tujuh atap."

"Kita butuh akses ke lantai lima," kata Ratna sambil zoom gambar ruang kontrol. "Ruangan ini. Di sini ada console utama yang kontrol semua output broadcast."

"Dijaga berapa orang?" tanya Arjuna.

"Normalnya empat," jawab Pixel. "Tapi karena ini siaran spesial dengan Adrian Mahendra, kemungkinan mereka tambahin jadi enam atau delapan."

"Dan bodyguard Adrian belum dihitung," tambah Sari.

"Belum," Pixel scroll ke file lain. "Adrian biasanya bawa minimal sepuluh bodyguard kemana pun dia pergi. Untuk acara sepenting ini? Mungkin dua puluh."

"Jadi kita lawan dua puluh bodyguard terlatih plus delapan security TV," Arjuna menggeleng. "Dengan senjata kita yang... apa? Satu pistol?"

"Makanya kita gak lawan," kata Pixel. "Kita menghindari. Kita masuk diam-diam. Hack sistem. Broadcast video. Keluar sebelum mereka sadar."

"Kedengeran simpel kalau kau bilang kayak gitu," gumam Arjuna.

Hari kedua untuk nyari perlengkapan. Bu Lastri datang dengan mobil tua yang penuh kardus. Di dalemnya ada seragam teknisi TV, ID card palsu yang Pixel design semalam, earpiece komunikasi, laptop cadangan, dan satu lagi pistol.

"Dari teman-teman Bu," katanya sambil kasih semua ke mereka. "Mereka doain kalian sukses."

"Terima kasih Bu," Sari peluk wanita tua itu. "Untuk semuanya."

"Jaga diri kalian," bisik Bu Lastri. "Terutama kau, Sari. Jangan biarkan kebencian bikin kau lupa siapa kau sebenarnya."

Hari ketiga untuk latihan. Mereka simulasi seluruh rencana berkali-kali. Pixel jadi sutradara, ngoreksi setiap gerakan mereka.

"Arjuna, kau masuk dari pintu belakang jam tujuh lewat lima belas. Seragam teknisi. Bawa toolbox yang ada laptop di dalemnya. Bilang kau dikirim untuk check audio di studio empat."

"Terus?"

"Terus kau pasang mic dummy di studio sambil tunggu sinyal dari aku. Begitu aku kasih sinyal, kau keluar dan naik ke lantai lima lewat tangga darurat. Gak boleh pakai lift. Terlalu banyak kamera."

"Oke."

"Sari, kau datang jam tujuh lewat tiga puluh. Pakai gaun bagus. Makeup. Rambut rapi. Kayak tamu VIP. Bilang kau teman Adrian yang mau kasih surprise."

"Mereka bakal percaya?"

"Kalau kau confident, mereka bakal percaya," jawab Pixel. "Kau punya wajah yang... yang innocent. Security biasanya gak curiga sama orang kayak kau."

"Dan kalau mereka curiga?"

"Maka kau improvisasi," Pixel natap dia serius. "Nangis kalau perlu. Bilang kau kangen ayahmu. Apapun yang bikin mereka kasih kau akses."

Sari mengangguk meski dia keliatan gak yakin.

"Ratna dan aku," lanjut Pixel, "kita masuk paling terakhir. Jam tujuh lewat empat lima. Aku pake seragam teknisi juga. Ratna jadi 'supervisor' ku yang lebih senior. Kita bilang ada technical problem dengan sistem broadcast yang harus diperbaiki urgent."

"Dan mereka bakal percaya begitu aja?" tanya Arjuna skeptis.

"Karena aku udah inject false alarm ke sistem mereka dari remote," Pixel senyum. "Jam tujuh lewat empat puluh, sistem bakal tiba-tiba alert ada 'critical error'. Staff di ruang kontrol bakal panik. Dan tepat saat itu kita datang dengan 'solusi'."

"Kau jenius," kata Ratna sambil senyum bangga.

"Aku tau," jawab Pixel.

Hari keempat untuk final check. Mereka duduk di lantai rumah Ratna, kelilingin blueprint yang udah mereka hapalan di luar kepala.

"Timing harus pas," kata Pixel untuk kesekian kali. "Wawancara mulai jam delapan. Adrian bakal masuk studio jam tujuh lewat lima puluh. Kita harus udah di posisi masing-masing sebelum itu."

"Berapa lama kau butuh untuk upload video?" tanya Arjuna.

"Kalau sistemnya gak resist, tiga menit," jawab Pixel. "Kalau resist, lima menit. Lebih dari itu, kita gagal."

"Dan The Protocol?"

"Ratna yang handle," Pixel natap Ratna. "Ibu yakin bisa matikan dalam sepuluh menit?"

"Aku bisa matikan dalam lima," jawab Ratna confident. "Asal gak ada yang ganggu."

"Maka tugas Arjuna adalah pastiin gak ada yang ganggu," kata Pixel. "Kau jaga pintu ruang kontrol. Kalau ada yang coba masuk, kau tahan."

"Dengan apa? Senyuman manis ku?" Arjuna nyengir sarkastik.

Pixel lempar pistol ke dia. "Dengan ini."

Arjuna tangkap. Rasanya berat di tangan. Berat dan asing meski dia udah latihan pake pistol ini beberapa kali.

"Aku gak tau aku bisa nembak orang," katanya jujur.

"Maka jangan nembak untuk bunuh," kata Ratna. "Nembak untuk bikin mereka takut. Tembak ke lantai di depan kaki mereka. Tembak ke langit-langit. Bikin suara keras yang bikin mereka mundur."

"Dan kalau mereka gak mundur?"

Hening.

"Maka kau nembak untuk bunuh," jawab Ratna dingin. "Karena kalau kau gak bunuh mereka, mereka akan bunuh kita semua."

Arjuna menelan ludah. Tangan gemetar pegang pistol.

Hari kelima. Hari terakhir sebelum eksekusi.

Mereka gak latihan hari ini. Pixel bilang mereka harus istirahat. Simpan energi. Jangan sampai besok mereka kecapekan.

Tapi gak ada yang bisa istirahat beneran. Semua terlalu tegang. Terlalu takut.

Sore hari, Arjuna jalan sendiri ke pantai. Duduk di pasir yang udah agak basah karena air laut naik. Natap matahari yang mulai turun. Oranye. Merah. Indah tapi juga terasa kayak... kayak warning. Kayak bilang besok mungkin terakhir kali dia lihat matahari terbit.

"Aku pikir aku bakal nemuin kau di sini," suara Sari dari belakang.

Arjuna noleh. Gadis itu jalan ke arahnya, kaki telanjang di pasir, gaun putih tipis yang berembus angin.

"Aku butuh waktu sendiri," kata Arjuna. "Butuh mikir."

"Mikir tentang apa?"

"Tentang besok. Tentang kemungkinan kita gak akan selamat. Tentang..." dia berhenti. "Tentang hal-hal yang aku sesalin."

Sari duduk di sebelahnya. Cukup deket sampe bahu mereka menyentuh. Hangat meski udara pantai dingin.

"Apa yang kau sesalin?" tanyanya pelan.

"Banyak," jawab Arjuna. "Sesalin karena gak bisa selamatkan ayahku. Sesalin karena bawa kau ke semua bahaya ini. Sesalin karena..."

"Karena apa?"

Arjuna berbalik natap dia. Mata ketemu mata.

"Sesalin karena aku gak bilang lebih awal kalau aku cinta kau."

Sari tersenyum. Senyum yang sedih tapi juga manis.

"Kau udah bilang. Di kontainer truk waktu itu."

"Tapi gak cukup sering," kata Arjuna. "Harusnya aku bilang setiap hari. Setiap jam. Setiap detik yang kita punya bersama."

"Maka bilang sekarang," bisik Sari. "Bilang sekarang kalau besok kita gak punya kesempatan lagi."

Arjuna pegang wajahnya. Lembut. Kayak memegang sesuatu yang sangat berharga dan rapuh.

"Aku cinta kau, Sari Amanda. Cinta kau sejak pertama kali aku lihat kau main dengan anak-anak di sekolah kumuh itu. Cinta kau karena kebaikan hati mu. Karena kekuatan mu. Karena cara kau masih bisa tersenyum meski dunia udah berkali-kali coba hancurkan kau."

Air mata Sari jatuh. Tapi dia tetap tersenyum.

"Aku juga cinta kau," bisiknya. "Cinta kau karena kau berani. Karena kau rela korbankan semuanya untuk orang yang kau sayangi. Karena kau... karena kau liat aku bukan sebagai anak monster. Tapi sebagai Sari. Cuma Sari."

Mereka bergerak di saat yang sama. Bibir ketemu bibir. Ciuman yang pelan dulu. Lembut. Tapi kemudian jadi lebih dalam. Lebih desperate. Ciuman orang yang tau ini mungkin terakhir.

Tangan Arjuna di rambut Sari. Tangan Sari di dada Arjuna. Mereka pelukan sambil cium kayak kalau mereka lepas, dunia akan berakhir.

Dan mungkin memang akan berakhir. Besok. Kalau rencana mereka gagal.

Mereka lepas ciuman tapi gak lepas pelukan. Dahi bertemu dahi. Napas bercampur napas.

"Berjanji ke aku," bisik Sari. "Berjanji kau akan bertahan hidup besok. Gak peduli apa yang terjadi."

"Aku janji kalau kau juga janji," jawab Arjuna.

"Aku janji."

"Maka aku juga janji."

Mereka duduk di sana, pelukan di pantai, sampai matahari bener-bener tenggelam dan langit jadi gelap. Bintang mulai muncul satu per satu. Bulan naik, setengah lingkaran yang menerangi laut.

"Kau percaya takdir?" tanya Sari tiba-tiba.

"Kenapa tanya?"

"Karena aku mikir," Sari natap bintang. "Aku mikir mungkin kita ditakdirkan untuk ini. Untuk bertemu. Untuk berjuang bersama. Untuk... untuk cinta satu sama lain meski cuma sebentar."

"Kalau ini takdir, maka takdir sangat kejam," kata Arjuna. "Karena dia kasih kita cinta tapi juga kasih kita mission yang mungkin bunuh kita."

"Atau," Sari tersenyum, "mungkin takdir kasih kita cinta supaya kita punya alasan untuk bertahan. Punya alasan untuk menang."

Arjuna gak bisa argue dengan logika itu.

Mereka pulang ke rumah Ratna jam sepuluh malam. Di dalem, Pixel udah tidur di sudut, laptop dipeluk kayak boneka. Ratna duduk di kursi, baca buku tua dengan cahaya lilin.

"Kalian harus tidur," katanya tanpa angkat kepala dari buku. "Besok akan jadi hari terpanjang dalam hidup kalian."

"Kami tau," jawab Sari.

Tapi tetep aja mereka gak bisa tidur. Arjuna terbaring di lantai, natap langit-langit kayu yang bocor, dengar suara ombak dan napas Sari yang tidur di sebelahnya.

Atau pura-pura tidur. Karena napasnya gak teratur.

"Sari," bisiknya.

"Ya?"

"Kalau besok aku... kalau aku gak selamat..."

"Jangan," Sari balik ke sisi dia, natap dia di gelap. "Jangan bilang kayak gitu. Kau akan selamat. Kita semua akan selamat."

"Tapi kalau gak," Arjuna bersikeras. "Kalau aku gak selamat, aku mau kau tau. Aku mau kau... kau lanjutin hidup. Gak nangis untuk aku terlalu lama. Cari orang lain yang bisa bikin kau bahagia."

"Gak akan ada orang lain," bisik Sari. "Cuma kau."

"Sari..."

"Gak akan ada," ulang Sari keras. "Karena kau satu-satunya yang lihat aku. Yang bener-bener lihat aku. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai anak monster. Tapi sebagai manusia yang punya hati. Punya mimpi. Punya..."

Suaranya patah. Dia nangis sekarang.

Arjuna tarik dia ke pelukannya. Peluk erat.

"Maka kita akan selamat," bisiknya. "Kita akan selamat supaya kau gak harus cari orang lain. Supaya kita bisa... bisa punya masa depan. Punya kehidupan normal yang gak ada Adrian. Gak ada bahaya. Cuma kita berdua."

"Janji?"

"Janji."

Mereka pelukan sampai akhirnya lelah mengalahkan takut. Sampai mereka tertidur di pelukan satu sama lain, mimpi tentang masa depan yang mungkin gak akan pernah datang.

Tapi setidaknya mereka punya mimpi.

Dan setidaknya mereka punya satu sama lain.

Untuk malam terakhir sebelum perang dimulai.

Untuk malam terakhir sebelum mereka hadapi monster.

Untuk malam terakhir mereka bisa bilang "aku cinta kau" tanpa takut itu jadi kata-kata terakhir mereka.

Besok.

Besok mereka akan jatuhkan Adrian Mahendra.

Atau mati mencoba.

Gak ada opsi ketiga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!