NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Ketika Kebohongan Menjadi Pelindung

Pagi Itu Kantor Pusat...

Ruang meeting lantai 20 Arkan Tech Solutions dipenuhi oleh para eksekutif dan klien penting dari berbagai perusahaan multinasional.

Di ujung meja panjang, Arkan duduk dengan postur tegap jas hitam rapi tanpa satu lipatan pun, tatapannya tajam, penuh wibawa.

Di sampingnya, Bagas berdiri dengan tablet di tangan siap mencatat apapun yang dibutuhkan.

Salah satu klien Direktur dari perusahaan Jepang berbicara dengan nada formal.

"Pak Arkan, kami sangat tertarik dengan proposal kolaborasi ini. Namun, kami membutuhkan kepastian soal timeline. Apakah Tech Solutions bisa memenuhi target di kuartal ketiga?"

Arkan menatapnya dengan tatapan tenang tapi penuh keyakinan. "Kami tidak hanya bisa memenuhi target, tapi kami akan melampaui ekspektasi Anda," jawabnya dengan nada tegas. "Arkan Tech Solutions tidak pernah mengecewakan mitra. Itu jaminan saya."

Klien itu mengangguk puas.

Arkan melanjutkan dengan penuh kendali menjelaskan strategi, angka-angka, proyeksi keuntungan semuanya dengan detail yang sempurna.

Tidak ada keraguan. Tidak ada kesalahan.

Ia adalah CEO yang sempurna.

Tapi di dalam kepalanya… ada satu pikiran yang terus mengganggunya.

Yura.

Ia sudah melewatkan beberapa rapat penting minggu lalu semua karena ia sibuk mengejar Yura, mengikutinya, memastikan dia tidak kabur.

Dan hari ini… meski ia terlihat fokus, pikirannya tetap melayang ke toko kecil di seberang gedung barunya.

Apa yang Yura lakukan sekarang?

Apakah Adrian bersamanya?

Apakah dia… tertawa lagi bersama pria itu?

Arkan mengepalkan tangannya di bawah meja tapi ekspresinya tetap tenang.

Bagas yang berdiri di sampingnya melirik sekilas ia tahu bosnya sedang menahan sesuatu.

Setelah satu jam meeting, akhirnya salah satu klien mengulurkan tangan.

"Baik, Pak Arkan. Kami sepakat. Kontrak akan kami tanda tangani minggu depan."

Arkan berdiri, menjabat tangan dengan tegas. "Terima kasih. Saya tunggu kabar baiknya."

Setelah semua klien keluar, Arkan duduk kembali menghela napas panjang.

Bagas menutup pintu ruang meeting, lalu berdiri di samping Arkan dengan ekspresi hati-hati.

"Pak… meeting berjalan dengan baik. Klien dari Jepang sangat tertarik."

Arkan tidak menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela ke arah gedung di seberang.

"Bagas," panggilnya pelan.

"Ya, Pak?"

"Batalkan semua jadwal sore ini. Aku mau ke kantor cabang baru."

Bagas terdiam sejenak lalu mengangguk. "Baik, Pak."

Ia tahu kantor cabang baru hanyalah alasan.

Yang sebenarnya ingin Arkan lakukan adalah… menemui Yura.

Di Toko ...

Siang itu, Yura sedang menata kue di etalase saat ponselnya bergetar.

Ia melirik layar nama Dinda muncul.

Yura tersenyum kecil Dinda adalah sahabat baiknya sejak kuliah. Tapi akhir-akhir ini mereka jarang komunikasi karena Dinda sibuk mempersiapkan pernikahan.

Yura mengangkat telepon. "Halo, Din?"

Suara Dinda terdengar ceria di seberang. "YURAAAA! Akhirnya kamu angkat! Kamu tau nggak aku udah telpon berkali-kali?!"

Yura tertawa kecil. "Maaf, maaf. Aku lagi sibuk banget. Gimana persiapan nikahnya?"

"Nah, itu! Makanya aku telpon! Yura, aku mau kamu jadi bridesmaid aku!"

Yura terdiam sejenak terkejut. "Bridesmaid? Aku?"

"Iya dong! Kamu kan sahabat terbaikku! Aku nggak mau nikah tanpa kamu di sampingku!"

Yura tersenyum tapi dadanya terasa berat.

"Din… aku… aku lagi ada masalah sekarang. Aku nggak tau aku bisa..."

"Apapun masalahnya, pokoknya kamu harus datang!" potong Dinda cepat. "Nikahnya sebulan lagi. Aku udah siapin dress buat kamu. Kamu HARUS datang, Yura. Please?"

Yura menggigit bibir bingung.

Di satu sisi, ia ingin sekali datang untuk sahabatnya.

Tapi di sisi lain… Arkan.

Bagaimana kalau ia pergi dan Arkan mengikutinya?

Bagaimana kalau ia membahayakan pernikahan sahabatnya?

"Din… aku janji aku usahain. Tapi aku nggak bisa janji pasti sekarang."

Dinda terdiam sejenak lalu bicara dengan nada lebih serius. "Yura… kamu baik-baik aja? Suaramu… kok kayak lagi ada masalah berat?"

Yura menarik napas. "Aku… aku baik. Cuma… lagi banyak pikiran aja."

"Kamu yakin? Kalau ada apa-apa, cerita sama aku, ya."

"Iya, Din. Makasih."

"Oke. Tapi inget ya, sebulan lagi! Aku tunggu kamu!"

"Iya… aku usahain."

Setelah telepon terputus, Yura menatap ponselnya dengan tatapan kosong.

Sebulan lagi…

Apa aku bisa bertahan sebulan lagi?

Sore itu, Yura menutup toko lebih awal ia lelah, pikirannya penuh.

Ia berjalan keluar dengan tas di bahu, lalu mengunci pintu toko dengan pelan.

Tapi saat ia berbalik

"Yura."

Suara itu membuat tubuhnya menegang.

Ia mengangkat kepala dan melihat Arkan berdiri di depan gedung barunya, menatapnya dengan tatapan lembut tapi penuh tekanan.

Yura mundur satu langkah refleks.

Arkan melihat reaksi itu dan sesuatu di dadanya sakit.

Tapi ia tetap tersenyum tipis berusaha terlihat tidak mengancam.

"Boleh… kita ngobrol sebentar?" tanyanya pelan.

Yura menggelengkan kepala cepat. "Aku… aku harus pulang."

Arkan melangkah lebih dekat perlahan. "Hanya sebentar. Aku janji."

Yura mundur lagi tangannya gemetar. "Tidak. Aku tidak mau ngobrol. Tolong… jangan dekati aku."

Arkan berhenti tatapannya berubah lebih serius.

"Yura… aku hanya ingin bicara. Aku tidak akan "

"AKU TIDAK MAU!" teriak Yura suaranya bergetar, air matanya mulai menggenang. "Aku tidak mau ngobrol! Aku tidak mau lihat kamu! Tolong… tolong jauh-jauh dari aku!"

Arkan terdiam rahangnya mengeras.

Ia melihat ketakutan itu di mata Yura.

Dan itu… menyakitkan.

Tapi sebelum ia sempat menjawab

"YURA!" Adrian datang berlari dari arah parkiran napasnya memburu.

Ia langsung berdiri di antara Yura dan Arkan dengan ekspresi marah.

"Jangan dekati dia," ucap Adrian dengan nada rendah penuh ancaman.

Arkan menatapnya datar. "Kau lagi."

"Dia tidak mau ngobrol dengan kamu," balas Adrian tegas. "Dia sudah bilang. Sekarang pergi."

Arkan tidak bergerak. Ia hanya terus menatap Yura yang berdiri di belakang Adrian gemetar, menangis.

Dan kemudian

Yura bicara. Suaranya pelan tapi jelas.

"Adrian… adalah tunanganku."

Hening.

Adrian terkejut langsung menoleh ke Yura dengan mata melebar. Apa?!

Arkan menatap Yura dengan tatapan dingin tidak percaya. "Apa?" tanyanya pelan tapi nadanya berbahaya.

Yura menarik napas lalu bicara lebih keras, meski suaranya gemetar. "Adrian adalah tunanganku. Kami… kami sudah bertunangan. Jadi… tolong jangan ganggu aku lagi."

Adrian masih terdiam terkejut, tapi… senang.

Tapi ia langsung mengerti ini kebohongan untuk melindungi Yura.

Ia langsung menggenggam tangan Yura dengan lembut memainkan peran.

"Iya," ucap Adrian tegas, menatap Arkan. "Kami sudah bertunangan. Jadi… tolong hormati itu."

Arkan menatap mereka berdua tangannya mengepal erat. Ia melihat tangan mereka yang saling menggenggam. Ia melihat cara Adrian berdiri melindungi Yura. Ia melihat cara Yura bersembunyi di belakang Adrian.

Dan sesuatu di dalam dirinya… patah.

Tapi ia tidak percaya.

Ia tersenyum tipis dingin, pahit.

"Tunangan?" tanyanya pelan hampir tertawa. "Kau pikir aku percaya?"

Yura menatapnya dengan tatapan serius meski ketakutan. "Itu terserah kamu. Tapi itu kenyataannya."

Arkan menatapnya lama lalu tertawa kecil. Pendek. Kosong.

"Ini… hanya permainan mu, Yura," ucapnya pelan. "Kau hanya… mencari alasan agar aku menjauh."

Yura tidak menjawab tapi tatapannya tidak berubah.

Arkan menatap Adrian dengan tatapan gelap penuh kebencian.

"Kau pikir dengan bilang dia tunanganmu… aku akan berhenti?"

Adrian menatapnya lurus tidak takut. "Iya. Karena dia bukan milikmu. Dia milikku."

SNAP.

Sesuatu di dalam Arkan benar-benar patah.

Ia menatap mereka berdua dengan tatapan yang gelap penuh obsesi, penuh kemarahan yang tertahan.

Lalu ia tersenyum lagi dingin, berbahaya.

"Baiklah," ucapnya pelan. "Kalau begitu… kita lihat saja… seberapa lama kebohongan ini bisa bertahan."

Ia berbalik berjalan kembali ke gedungnya tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Yura dan Adrian yang berdiri di sana tangan masih saling menggenggam.

1
Nur Halida
ngeri ngeri sedep nih si arkan🙀
Bunga
suka
NR: Makasih banyak ya sudah baca dan suka sama ceritanya 🥺✨
Seneng banget tau kalian menikmati perjalanan Yura & Arkan.
Doain aku bisa konsisten update dan kasih cerita yang makin berasa 🤍
total 1 replies
Bunga
cerita yang menàrik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!