"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 Saat semua rahasia terbongkar
Karin berusaha menenangkan diri, menguatkan hati yang nyaris runtuh akibat pengkhianatan dua orang yang paling ia percayai. Ia tak pernah menyangka, sosok yang selama ini ia sebut sahabat justru berubah menjadi duri dalam rumah tangganya dengan Dirga.
*********
Karin menulis pesan singkat kepada Dirga bahwa dirinya tidak bisa pulang dan beralasan ingin menginap di rumah mamahnya. Alasan itu ia gunakan agar bisa mengamati lebih jauh hubungan suaminya dengan sahabatnya.
"Mas malam ini aku gak pulang kerumah ya, aku mau tidur dirumah mamah Mona, soalnya aku kangen sama mamah papa "
Setelah mengirim pesan kepada suaminya, Karin langsung menghidupkan mobilnya dan pergi menuju rumah kedua orang tuanya.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Karin sengaja tidak memberi tahu Mamah Mona bahwa dirinya akan datang dan menginap. Karin berniat memberikan kejutan kepada orang tuanya. Namun, dugaan Karin keliru. Bukannya memberi kejutan, justru Karin yang menerima kejutan tak terduga dari mamahnya.
“Bagus, sayang. Kamu memang anak Mamah yang paling pintar dan cantik. Pokoknya, rencanamu untuk menghancurkan anak Sinta itu harus berhasil jangan sampai gagal. Mamah mau dia hidup menderita, sama seperti ibunya.”
Karin menatap mamahnya lama. Alisnya bertaut, napasnya tertahan. Ia ingin bertanya, ingin menyangkal, tetapi kepalanya justru terasa kosong. Semua yang baru saja ia dengar seperti tak menemukan tempat di pikirannya.
“Mah...”
Suara Karin pecah di udara. Mona tersentak, bahunya menegang. Wajahnya seketika berubah pucat, napasnya tertahan seolah baru saja tertangkap basah.
“Karin….”
Mona tersentak. Senyum di wajahnya runtuh seketika. Langkahnya mundur setengah tapak, napasnya tercekat, seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan besar.
“Mamah lagi teleponan sama siapa?” Karin melangkah mendekat. Pandangannya tak lepas dari ponsel di tangan Mona.
Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, “Dan anak yang Mamah maksud itu siapa? Bukannya anak Mamah cuma aku, ya?”
Mona terdiam. Tatapannya sejenak kosong sebelum cepat-cepat dialihkan. Jemarinya menggenggam erat ponselnya lalu ia tertawa kecil, terlalu terlambat untuk terdengar wajar supaya Karin tidak curiga.
“Iya, tentu saja anak Mamah cuma kamu, Rin.” Mona tersenyum sambil melangkah mendekat. Tangannya terangkat, mengusap lembut lengan Karin. “Mana mungkin Mamah punya anak lain.”
Ia terkekeh pelan, seolah ucapan itu tak layak dipikirkan lebih jauh. “Mungkin kamu cuma salah dengar, sayang.”
Namun jawaban mamahnya belum cukup untuk menghilangkan rasa curiganya, apalagi Mona tadi dengan jelas mengatakan ingin menghancurkan hidup anak Sinta seseorang yang sama sekali tidak Karin ketahui siapa.
Mona menatap Karin yang masih diam. Alisnya berkerut tipis sebelum ia mendekat.
“Karin, kenapa kamu melamun?” Nada suaranya terdengar ringan. “Kok kamu datang ke sini nggak bilang-bilang dulu sama Mamah?”
Karin yang tengah melamun sontak tersentak oleh pernyataan mamahnya.
“Ah, iya, Mah. Aku sengaja nggak bilang ke Mamah supaya bisa ngasih kejutan,” ucap Karin dengan senyum manis di wajahnya.
Mona pun menyambut Karin, meski sebenarnya terpaksa. Di balik senyumnya, ia sama sekali tidak senang dengan kedatangan Karin ke rumah itu.
“Ya sudah, ayo masuk, sayang. Mamah senang sekali kamu akhirnya datang ke rumah Mamah,” seru Mona dengan senyum terpaksa diwajahnya.
Karin menangkap perubahan kecil pada mamahnya, meski ia belum mampu memahami rahasia apa yang sebenarnya Mona sembunyikan darinya.
Karin menarik napas pelan. Pandangannya mengikuti punggung Mona yang menjauh. Ada tekad yang perlahan mengeras di dadanya. Ia tak bisa membiarkan kejanggalan itu berlalu begitu saja. Sesuatu sedang disembunyikan darinya, dan ia harus menemukannya.
“Aku harus mencari tahu rahasia apa yang selama ini Mamah sembunyikan dariku,” tekad Karin menguat.
\*\*Bersambung\*\*
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak