NovelToon NovelToon
Di Balik Kontrak Ibu Susu

Di Balik Kontrak Ibu Susu

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Pernikahan Kilat / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah / Ibu susu / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

🏆JUARA YAAW PERIODE 3 2025 TEMA KREATIF "IBU SUSU"🏆

Dituduh pembunuh suaminya. Diusir dari rumah dalam keadaan hamil besar. Mengalami ketuban pecah di tengah jalan saat hujan deras. Seakan nasib buruk tidak ingin lepas dari kehidupan Shanum. Bayi yang di nanti selama ini meninggal dan mayatnya harus ditebus dari rumah sakit.

Sementara itu, Sagara kelimpungan karena kedua anak kembarnya alergi susu formula. Dia bertemu dengan Shanum yang memiliki limpahan ASI.

Terjadi kontrak kerja sama antara Shanum dan Sagara dengan tebusan biaya rumah sakit dan gaji bulanan sebesar 20 juta.

Namun, suatu malam terjadi sesuatu yang tidak mereka harapkan. Sagara mengira Shanum adalah Sonia, istrinya yang kabur setelah melahirkan. Sagara melampiaskan hasratnya yang ditahan selama setelah tahun.

"Aku akan menikahi mu walau secara siri," ucap Sagara.

Akankah Shanum bertahan dalam pernikahan yang disembunyikan itu? Apa yang akan terjadi ketika Sonia datang kembali dan membawa rahasia besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Shanum menatap gundukan tanah merah itu tanpa berkedip. Air matanya menetes tanpa henti, membasahi ujung jilbab yang menempel di pipinya. Dua hari sudah berlalu sejak bayi mungilnya, Malik Abdul Latief, pergi meninggalkannya. Namun, luka di dadanya terasa baru saja disayat pagi ini.

Jari-jarinya yang gemetar menyentuh papan nisan kecil bertuliskan nama putranya.

“Malik Abdul Latief.”

Sebuah nama yang sarat makna, nama yang dulu begitu diimpikan oleh Alvin.

“Kalau nanti kita punya anak laki-laki, aku ingin dia punya nama yang mirip ayahku — Latief,” begitu kenangan suara Alvin berputar di kepala Shanum.

Ia menutup mata, menahan napas yang tersengal. Luka kehilangan suami dan kini kehilangan anak membuatnya serasa hidup hanya dengan separuh jiwa.

“Semoga Allah mempersatukan kita semua di akhirat nanti,” ucap Shanum dengan suara parau.

Kata-kata itu terucap lirih, seperti doa yang hanyut bersama angin sore.

Sagara berdiri beberapa langkah di belakangnya, menatap tanpa ekspresi. Dialah yang mengurus semua biaya dan administrasi pemakaman.

Shanum bahkan tidak tahu bagaimana pria itu bisa menemukan makam Alvin. Kini, Malik dimakamkan di samping ayahnya, seolah takdir mengizinkan mereka berdua beristirahat berdampingan, sementara Shanum sendiri harus melanjutkan hidup dengan hati yang tercerai-berai.

“Hari sudah mulai sore. Sebaiknya kita cepat pulang,” ujar Sagara datar, tanpa nada simpati di suaranya.

Shanum menatap sekali lagi ke dua gundukan tanah itu. “Tunggulah, Malik ... Mas Alvin, tunggulah aku di surga nanti,” bisiknya nyaris tanpa suara, sebelum akhirnya dia melangkah pergi dengan tubuh lemah.

Langkah Shanum pelan dan tertatih. Luka operasi di perutnya masih nyeri. Setiap kali kakinya melangkah, perih itu terasa menembus sampai ke dada. Rasa sakit itu tak seberapa dibanding kehilangan yang ia alami.

Di dalam mobil, suasana sunyi. Hanya suara mesin dan napas Shanum yang berat. Dia duduk di kursi depan, menundukkan kepala sambil menggenggam ujung jilbabnya yang lembap oleh air mata.

Dalam diam, pikirannya mengembara ke masa lalu, saat Alvin menemaninya mengandung. Suaminya akan memegang tangannya setiap kali dia merasa takut. Sekarang, tak ada lagi tangan itu. Yang tersisa hanyalah kesunyian dan dada yang sesak.

Tiba-tiba, suara Sagara memecah keheningan.

“Turunlah,” ucapnya pendek, tanpa menoleh.

Shanum menatap keluar jendela, bingung. Mereka berada di parkiran sebuah pusat perbelanjaan besar. Wanita itu tidak bertanya apa pun. Dia hanya menurut, seperti boneka yang kehilangan arah.

Sagara melangkah masuk ke sebuah butik. Suaranya tenang tapi tegas saat berbicara dengan pegawai.

“Tolong carikan pakaian untuk ibu menyusui. Ukuran dia,” kata Sagara tanpa menoleh sedikit pun ke arah Shanum.

Shanum menatap dengan perasaan campur aduk.

Ia bahkan lupa kalau tak punya pakaian lain selain yang menempel di tubuhnya sekarang. Saat dia diusir semalam oleh mertua dan iparnya, tidak membawa satu pun barang, apalagi uang.

“Baik, Pak,” jawab pegawai dengan sopan, lalu menumpuk banyak pakaian di meja pajangan.

Sagara memeriksa sekilas, lalu berkata dingin, “Bungkus semua.”

“Tunggu,” ucap Shanum cepat. Pandangannya tertuju pada beberapa pakaian berlengan pendek. “Saya pakai jilbab, Pak. Tidak perlu baju yang itu.”

Sagara baru menoleh, menatapnya sesaat dengan tatapan datar yang sulit dibaca. “Kamu pilih sendiri. Sesuai selera.”

Shanum menarik napas pelan. Ia memilih tiga gamis sederhana berwarna lembut dan dua baju daster untuk tidur, dengan kancing depan agar mudah menyusui, meski kini tak ada bayi lagi untuk disusui.

Tangan Shanum bergetar saat menyentuh kain. Rasanya seperti menyiapkan diri untuk kehidupan yang sudah tak sama.

Dalam perjalanan pulang, tak ada satu pun dari mereka yang bicara. Hanya hujan rintik kecil yang kembali turun, mengetuk kaca mobil seperti irama kesedihan.

“Terima kasih, Pak, sudah membelikan pakaian untuk saya,” ucap Shanum pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan.

Sagara menatap ke depan, kedua tangannya tetap di setir.

“Aku tidak membelikan baju kamu secara gratis,” ujarnya datar. “Semuanya akan dipotong dari gaji kamu.”

Shanum mengangguk perlahan. Tidak tersinggung, tidak juga marah. Ia sudah terlalu lelah untuk merasa apa pun.

Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menunduk, menggenggam ujung jilbabnya, dan menahan air mata yang nyaris jatuh lagi.

Mobil hitam milik keluarga Sagara berhenti di depan rumah besar bercat putih gading. Pagar besi tinggi berdiri kokoh, seperti menandakan jarak antara orang-orang kaya di dalamnya dan dunia kecil yang dulu dihuni Shanum bersama almarhum suaminya.

Mami Kartika menyambut kedatangan mereka. Dia langsung menggandeng tangan Shanum lembut. Membawanya ke dalam rumah.

“Anggap rumah ini rumahmu juga, Nak. Jangan sungkan.”

Dindingnya dipenuhi lukisan keluarga, foto Sagara muda bersama istrinya. Wajah wanita itu sangat cantik, pantas Sagara mencintainya.

Shanum menatap foto itu lama-lama. Ada rasa nyeri di dada, karena tidak menyangka ada ibu yang tega meninggalkan anaknya yang baru saja lahir.

“Dia ... Sonia, istri Sagara,” ucap Mami Kartika pelan, seolah membaca pikirannya. “Dia pergi meninggalkan setelah melahirkan bayi kembar itu. Mereka belum sempat mengenal ibunya.”

Shanum mengangguk pelan. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak dalam hati. Antara sedih, haru, dan rasa bersalah yang tak jelas sumbernya. Seolah dua bayi itu bukan hanya membutuhkan dirinya, tetapi juga menjadi titipan untuk menebus kehilangan yang sama-sama dialami.

Hari pertama Shanum di rumah itu berjalan dengan campuran gugup dan haru. Dua bayi mungil itu, yang belakangan ia tahu bernama Abyasa dan Arsyla, terus menangis mencari dekapan hangat. Shanum memeluk mereka dengan lembut, mengusap kepala keduanya sambil membisikkan shalawat dan doa di telinganya.

“Tenang, Sayang … Mama di sini,” bisik Shanum refleks, lalu tersentak sendiri. Kata mama terucap begitu saja. Ia menatap bayi di gendongannya, lalu menunduk sambil menahan isak.

“Maaf, aku bukan mama kalian. Tapi izinkan aku mencintai kalian seperti anakku sendiri.”

Abyasa menggenggam jari telunjuknya kecil-kecil, sementara Arsyla membuka matanya pelan, menatapnya dengan pandangan polos yang seolah mengerti. Hati Shanum luluh seketika.

1
Erna Lubis
saya suka alur ceritanya
Sandisalbiah
lagian Shanum itu ibu kandung Abyasa, jelas dia punya hak penuh atas anknya mengingat Aby masih balita dan itu gak bisa di tuntun perwaliannya atau gak asuhnya apalagi kondisi Sahnum yg mendukung dgn segala finansialnya.. Elia kan cuma nenek dan dia pun gak punya pekerjaan harusnya pengadilan udah bisa jadikan itu semua sebagai pertimbangan utk menentukan hak asuh.. aneh..
Sandisalbiah
karakter Shanum itu baik dan lemah lembut tp terlalu lemah, seakan gak punya niat buat belah diri ... jelas Elia dan Alana yg berbuat buruk padanya tp di tetap diem seakan semua fitnah yg mereka sebarkan itu kebenaran yg dia Terima dgn kediamannya itu.. hah.. gemes juga jadinya
Sandisalbiah
hadehh.. gerah banget setiap baca bab yg ada dua anomali gak jelas ini.. buruk sifat, akhlak, prilaku.. lengkap semua keburukan di borong.. mana awet lagi gak langsung di eliminasi dr cerita..
Sandisalbiah
dasar maruk.. keadilan buat Alvin atau sekedar niat buat memuaskan ego anda.. nyonya Eli..
Sandisalbiah
ibu dan adik almarhum Alvin juga banyak dosa pd Shanum tp mereka tetap hidup dan semakin sombong dgn mulut beracun mereka itu.. apa gak ada tuh azab buat dua perempuan demit itu
Sandisalbiah
Sonia ingin melepaskan Sagara buat Shanum sebagai bentuk kasih sayang terakhir utk org² yg dia cintai.. suami dan juga saudara kembarnya... Shanum yg pertama mengalah utk kebahagiaan Sonia dan kini Sonia ingin menyerahkan kebahagiaan utk Shanum dlm detik terakhir hidupnya
Sandisalbiah
dua org polisi tdk sanggup menahan satu perempuan yg tangannya sudah terborgol...? itu Soraya yg sring banget atau polisinya lemah.. ampun deh
Sandisalbiah
manusia kalau hatinya di penuhi rasa iri dan dengki maka dia tdk akan pernah mensyukuri apa yg dia punya, apa yg ada di sekelilingnya tp hatinya akan tetap di penuhi ambisi utk memiliki dan mengalahkan yg lain sampai meng halalkan segala cara
Sandisalbiah
dan korbannya adalah ayah kandung Abyasa.. suami Shanum... kudu di hukum yg berat itu perempuan sundal
Sandisalbiah
Soraya.. ih.. pengen banget itu betina segera mendekam di hotel prodio
Sandisalbiah
jelas Soraya jd tersangka utama... dan semoga kasusnya segera terungkap
Sandisalbiah
Soraya ini hatinya penuh dgn kelicikan dan culas... jgn bilang kalau dia lah dalang di balik hilangnya Sonia paska melahirkan... krn dia sepertinya juga terobsesi pd Sagara
Sandisalbiah
setidaknya Shanum memiliki Abyasa..
Sandisalbiah
keputusan Sagara dgn menikah lagi emang salah, dan gak ada perempuan yg mau di madu seperti yg nyonya Kartika katakan itu benar tp pembelaan mereka yg terkesan berlebihan utk seseorang yg jelas² meninggalkan suami dan menelantarkan anaknya sendiri.. itu aneh...
Sandisalbiah
dan biasanya setelah saling terbuka dan membuka hati itu anomali lama bakal muncul menghancurkan semuanya... sosok Sonia yg lama menghilang bakal kembali dan ujungnya Shanum kembali menjadi sosok terbuang dgn luka hati dan laranya
Sandisalbiah
bab ini juga ada typo Thor... tertulis " ada tawa dr tiga laki² " kan si kembar cewek cowok ya..
Sandisalbiah
Shanum harus tetap menempati kamar pengasuh dan bila minat Sagara akan mendatanginya dgn alasan agar dia tdk di cap sebagai wanita penghilang dan menanggung malu, terus kalau sampai Shanum hamil emang gak bakalan jd bulan²an mulut org.. mikir gak itu laki yg punya nafsu besar tp gak punya hati
Sandisalbiah
takdir Shanum yg selalu di genangi lautan air mata.. miris banget, dia tetap akan jd yg tersisi
Sandisalbiah
kenapa ank kembar Sagara justru mirip dgn Shanum dan almarhum suaminya, jgn bilang mereka di tukar pas Shanum melahirkan krn dia yg dlm kondisi tdk sadar...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!