NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Cetak Biru Perang

Selama tiga minggu terakhir, punggung Alana terbiasa dengan tekstur kapuk keras di kontrakan Rini yang berbau lembap. Kini, ia terbangun di atas kasur *king size* dengan seprai katun ribuan benang, menatap langit-langit apartemen di lantai dua puluh lima kawasan Kuningan.

Ini bukan hadiah. Ini pinjaman. Setiap serat benang di seprai ini, setiap watt listrik yang menyalakan AC, dan setiap inci pemandangan kota di balik jendela kaca itu memiliki harga yang harus dibayar. Elang Pradipta tidak memberikan sedekah; dia menanam modal.

Alana bangkit, kakinya menyentuh lantai parket yang dingin. Apartemen ini adalah salah satu unit kosong milik Sagara Group yang dialihfungsikan. Ruang tamunya luas, kosong melompong kecuali satu meja kerja panjang, dua kursi ergonomis, dan tumpukan kotak arsip yang dikirimkan asisten Elang pagi-pagi buta.

Ia berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya. Cermin di atas wastafel memantulkan wajah yang lebih tuntas dari sebelumnya. Lingkaran hitam di bawah matanya masih ada, tetapi tatapan kosong gadis yang diusir dari rumah sebulan lalu sudah hilang. Digantikan oleh sorot mata kalkulatif seorang kontraktor yang sedang menghitung beban struktur bangunan.

"Langkah satu," gumamnya pada pantulan dirinya sendiri. "Bangun fondasi."

Bel pintu berbunyi. Alana menyambar handuk kecil dan berjalan ke pintu depan. Melalui layar interkom, ia melihat wajah cemas yang sangat ia kenal.

Rini berdiri di lorong, memeluk tas kanvas lusuh, tampak kerdil di antara pintu-pintu apartemen mewah itu.

Saat Alana membuka pintu, Rini hampir melonjak kaget. "Mbak Alana... Astaga, tempat ini... Pak Hendra nggak tahu Mbak di sini, kan? Kalau dia tahu saya ke sini—"

"Masuk, Rin," potong Alana, menarik tangan mantan sekretaris ayahnya itu. "Ayah nggak akan tahu. Dan kalaupun dia tahu, dia nggak bisa menyentuh kita di sini. Gedung ini milik Elang Pradipta. Keamanan di bawah sudah diinstruksikan untuk menolak siapa pun yang bernama Hendra Wardhana."

Rini masuk dengan langkah ragu, matanya menyapu ruangan luas yang minim perabot itu. "Jadi ini benar? Mbak Alana kerja sama dengan saingan Pak Hendra?"

"Bukan kerja sama, Rin. Aliansi," koreksi Alana. Ia berjalan ke *pantry* kecil, menyeduh dua cangkir kopi instan—satu-satunya logistik yang ia punya saat ini. "Aku butuh orang yang bisa aku percaya. Orang yang tahu cara kerja Wardhana Group luar dalam, tapi sudah dibuang oleh mereka. Cuma kamu."

Alana menyodorkan cangkir kopi. Rini menerimanya dengan tangan gemetar.

"Saya cuma sekretaris, Mbak. Saya nggak ngerti arsitektur."

"Aku nggak butuh kamu menggambar. Aku butuh kamu mengurus administrasi, jadwal, dan yang paling penting: menjadi mata dan telingaku," Alana menatap tajam Rini. "Gaji kamu dua kali lipat dari yang Ayah bayar dulu. Elang yang tanggung dananya. Tapi kerjanya bakal berat. Kita akan perang, Rin."

Rini menelan ludah. Ia memandang kopi di tangannya, lalu menatap Alana. Ingatan tentang bagaimana ia dipecat tanpa pesangon dan dituduh mencuri oleh Siska melintas di wajahnya. Rasa takut itu perlahan berganti menjadi sisa-sisa sakit hati yang belum tuntas.

"Bu Siska... dia yang bikin saya dipecat," suara Rini pelan. "Dia fitnah saya."

"Dan sekarang kita akan pastikan dia menyesal," sahut Alana dingin. "Kamu ikut?"

Rini menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Saya ikut, Mbak."

***

Satu jam kemudian, meja kerja panjang itu sudah penuh dengan lembaran kertas besar. Alana membuka gulungan dokumen yang diberikan Elang: *Project Blue Coral Resort, Bali*.

Ini adalah proyek resor bintang lima di lahan seluas tiga hektar di Nusa Dua. Investor utamanya adalah konsorsium asing yang sedang mencari mitra lokal untuk desain dan konstruksi. Wardhana Group adalah kandidat terkuat karena reputasi lama mereka.

"Ayah pasti pakai desain *signature*-nya," gumam Alana, matanya menelusuri data teknis lahan. "Megah, banyak marmer, boros energi. Dia nggak pernah peduli soal *sustainability*."

"Pak Hendra sudah siapkan tim sejak dua bulan lalu," Rini memberi informasi sambil membuka laptop barunya—aset inventaris dari Elang. "Lead architect-nya Pak Budi. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Belakangan Bu Siska sering ikut rapat proyek. Padahal dia nggak ngerti teknis."

Alana tersenyum miring. Ia mengambil berkas 'Estimasi Biaya' yang berhasil didapatkan oleh tim intelijen bisnis Elang. Matanya memindai kolom-kolom angka dengan cepat. Sebagai anak yang dibesarkan di lingkungan pengembang, Alana diajari membaca RAB (Rencana Anggaran Biaya) sebelum ia lancar membaca novel.

Jarinya berhenti di satu baris.

*Pengadaan Interior & Furnitur: Rp 45 Miliar. Vendor: PT. Cipta Karya Semesta.*

"Ketemu," bisik Alana.

"Kenapa, Mbak?"

"Lihat ini," Alana menunjuk angka itu. "Empat puluh lima miliar untuk furnitur resor kapasitas 100 kamar? Itu gila. Harga pasar paling mahal cuma setengahnya. Siska me-markup harga gila-gilaan."

"PT. Cipta Karya Semesta..." Rini mengingat-ingat. "Itu perusahaan yang waktu itu Mbak selidiki? Yang alamatnya ruko kosong?"

"Betul. Ayah membiarkan Siska merampok proyeknya sendiri demi memuaskan gaya hidup wanita itu," Alana mengambil spidol merah, melingkari angka tersebut dengan kasar. "Ini celah kita. Konsorsium asing sangat sensitif soal *budget efficiency* dan *compliance*. Kalau kita bisa mengajukan desain yang lebih bagus dengan harga 30% lebih murah, kita punya peluang."

"Tapi Mbak, Wardhana Group punya nama besar. Kita? Kita bahkan belum punya nama PT," Rini mengingatkan realitas pahit.

"Kita pakai bendera anak perusahaan Elang untuk legalitas. Tapi *brainware*-nya aku," Alana menggulung lengan kemejanya. Ia mengambil kertas sketsa kosong.

Pena di tangannya mulai menari. Bukan lagi tarikan garis ragu-ragu mahasiswa yang baru lulus. Ini tarikan garis seorang profesional yang lapar.

"Kita nggak akan lawan kemewahan Ayah dengan kemewahan lain. Kita lawan dengan konsep 'Lokal & Esensial'. Material lokal, pengrajin Bali, tanpa impor marmer Italia yang mahal. Biaya logistik turun, nilai budaya naik. Investor Eropa suka narasi seperti itu."

Alana bekerja tanpa henti. Siang berganti sore, kopi berganti air mineral. Rini sibuk menyusun dokumen administrasi, sesekali takjub melihat kecepatan Alana bekerja. Alana tidak hanya mendesain bangunan; ia mendesain strategi keuangan di dalam kepalanya.

Pukul tujuh malam, ponsel Alana bergetar. Satu pesan singkat dari Elang.

*Meeting room Sagara Tower. Lantai 40. Sekarang. Bawa rencanamu.*

Alana menatap sketsa kasarnya yang sudah setengah jadi, lalu beralih ke tabel excel perbandingan biaya yang ia buat. Ia menyambar jaketnya.

"Rini, rapikan ini semua. Kunci pintu. Aku harus menghadap 'bos besar'."

***

Ruangan kantor Elang Pradipta dingin, sedingin tatapan pria itu saat Alana meletakkan satu lembar kertas A3 di atas meja mahoninya yang mengkilap.

Elang tidak duduk di kursinya. Ia berdiri menghadap jendela, membelakangi Alana, seolah kehadirannya tidak cukup penting untuk disambut.

"Kau punya waktu lima menit," suara bariton itu terdengar datar. "Yakinkan aku kenapa aku harus mempertaruhkan reputasi Sagara Group untuk mendukung arsitek kemarin sore melawan raksasa properti."

Alana tidak gentar. Ia sudah kehilangan rasa takutnya saat diusir keluar rumah hanya dengan baju di badan.

"Karena raksasa itu sedang sakit kanker," jawab Alana lugas.

Elang berbalik perlahan. Alisnya terangkat sedikit. "Kanker?"

"Namanya Siska Damayanti," Alana maju selangkah, meletakkan data RAB Wardhana Group di samping sketsanya. "Ini data internal proyek Bali Wardhana Group yang Anda berikan. Lihat pos interiornya. *Overpriced* 200 persen. Vendornya adalah perusahaan cangkang milik Siska."

Elang melirik kertas itu sekilas, lalu menatap Alana. "Korupsi internal. Klasik. Tapi Hendra punya koneksi. Dia bisa menutupi inefisiensi itu dengan lobi-lobi tingkat tinggi."

"Tidak dengan investor asing kali ini. Mereka dari Swiss, sangat ketat soal audit. Jika mereka melihat proposal saya—yang menawarkan estetika lebih baik dengan biaya 40 miliar lebih rendah karena memotong 'biaya siluman' Siska—mereka akan berpikir rasional."

Alana membuka sketsanya. Gambar perspektif sebuah resor yang menyatu dengan kontur tanah, atap jerami modern, dan penggunaan batu alam yang elegan. Berbeda jauh dengan gaya kolonial berat yang biasa dipakai ayahnya.

"Ini bukan sekadar desain, Pak Elang. Ini jebakan. Ayah saya tidak akan bisa menurunkan harga penawarannya karena Siska butuh uang itu. Siska sudah terlanjur memesan barang-barang mewah untuk dirinya sendiri, dia butuh *cash flow* dari *down payment* proyek ini. Jika Ayah menurunkan harga, Siska akan mengamuk. Jika dia tetap di harga tinggi, Anda dan saya menang."

Elang menatap sketsa itu, lalu beralih ke tabel angka, dan terakhir menatap mata Alana. Untuk pertama kalinya, tidak ada nada meremehkan di sana. Hanya kalkulasi bisnis murni.

"Kau menggunakan keserakahan wanita simpanan ayahmu sebagai senjata," kata Elang pelan.

"Saya menggunakan semua sumber daya yang tersedia. Bukankah itu yang Anda ajarkan?"

Elang berjalan mendekat. Ia mengambil sketsa itu, menelitinya dengan seksama. "Desainmu bagus. Sedikit kasar di detail lansekap, tapi strukturnya solid. Visinya jelas."

Ia meletakkan kembali kertas itu.

"Besok pagi, tim legalku akan mendaftarkan firma barumu sebagai bagian dari konsorsium Sagara. Namanya?"

Alana terdiam sejenak. Ia teringat masa kecilnya, teringat ibunya, teringat pengkhianatan ayahnya, dan teringat titik nol tempat ia berdiri sekarang.

"Terra," jawab Alana tegas. "Terra Architecture. Bumi. Tanah. Sesuatu yang nyata, bukan awan-awan kosong seperti janji mereka."

"Terra," Elang mengangguk singkat. "Diterima. Siapkan presentasi lengkap dalam tiga hari. Jangan permalukan aku di depan investor Swiss."

"Satu hal lagi," Alana menahan Elang yang hendak kembali ke kursinya.

"Apa? Kau mau minta uang muka?"

"Bukan. Saya butuh undangan ke acara *gala dinner* Asosiasi Pengembang lusa. Saya tahu Wardhana Group akan ada di sana mempresentasikan *teaser* proyek ini."

Elang menyipitkan mata. "Kau mau cari gara-gara?"

"Saya mau *test drive*," senyum tipis terukir di bibir Alana, senyum yang tidak mencapai matanya. "Saya ingin melihat wajah Siska saat dia menyadari bahwa 'anak kecil' yang dia usir sudah kembali dengan seragam perang."

Elang menatapnya lama, lalu mengambil sebuah undangan bersampul beludru hitam dari lacinya dan melemparkannya ke atas meja, tepat di depan Alana.

"Pakai baju yang pantas. Jangan terlihat miskin."

Alana mengambil undangan itu. Tekstur beludru di ujung jarinya terasa seperti kulit binatang buas yang baru saja ia jinakkan.

"Terima kasih, *Partner*."

Alana berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, Elang Pradipta memperhatikan punggung tegak wanita itu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Pion yang ia pungut di pinggir jalan ternyata adalah Ratu yang sedang menyamar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!