Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit yang beda
Langit di atas sana tidaklah sama.
Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
Hanya ada bau aspal basah dan asap kendaraan yang menyengat.
"Dimensi lain?" gumamnya pelan. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi, sebuah kebiasaan yang bahkan perpindahan dimensi pun tak bisa menghapusnya.
Ia bangkit berdiri, membersihkan debu dari pakaian shinobi biru pucatnya. Ia berada di sebuah gang sempit yang diapit oleh dua gedung perkantoran. Mitsuki mencoba memanggil ular komunikasinya, namun hanya seekor ular kecil yang muncul dari balik lengan bajunya, tampak lemas dan bingung.
"Sstt... tidak apa-apa," bisiknya lembut, membelai kepala ular itu sebelum makhluk itu menghilang dalam kepulan asap kecil. "Energi di sini berbeda. Kita harus berhemat."
Mitsuki melangkah keluar dari gang. Detik itu juga, ia berhenti.
Pemandangan di depannya adalah sesuatu yang tidak pernah ia lihat di Konoha, bahkan di era teknologi pahlawan Nanadaime sekalipun. Orang-orang berlalu-lalang dengan penampilan yang... abnormal. Seorang pria berkepala anjing sedang berbicara di telepon genggam. Seorang wanita dengan kulit berwarna merah muda transparan sedang tertawa bersama temannya.
Apakah mereka semua subjek eksperimen seperti aku? pikir Mitsuki. Namun, ekspresi mereka terlalu biasa. Ini bukan laboratorium. Ini adalah keseharian mereka.
Ia terus berjalan, mencoba membaur dalam kerumunan. Keberadaannya yang membawa sebilah pedang pendek di punggung dan pakaian tradisional ninja menarik beberapa pasang mata, namun orang-orang hanya menganggapnya sebagai "anak yang terlalu mendalami hobi".
Langkah Mitsuki terhenti di depan sebuah layar elektronik raksasa yang menempel pada sebuah gedung. Di sana, seorang pria berotot luar biasa dengan senyum lebar yang terlihat dipaksakan sedang menghajar penjahat.
"JANGAN KHAWATIR! KENAPA? KARENA AKU SUDAH DATANG!" teriak pria di layar itu. Kerumunan di sekitar Mitsuki bersorak kecil.
"Pahlawan?" Mitsuki memiringkan kepalanya. "Seperti Hokage, tapi... lebih mencolok."
Mitsuki memutuskan untuk mengikuti instingnya. Ia melompat ke atas atap sebuah gedung—sebuah gerakan yang sangat alami baginya, namun mungkin akan terlihat mengejutkan bagi orang biasa. Dari ketinggian, ia mengamati kota ini.
Matanya yang tajam menangkap sebuah keributan di kejauhan. Ledakan kecil dan kepulan asap.
"Ada konflik," gumamnya. Sebagai seorang ninja, konflik adalah sumber informasi tercepat.
Ia bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia, melompat dari satu langkan jendela ke langkan lainnya tanpa suara. Di bawah sana, ia melihat seorang remaja laki-laki berambut hijau berantakan yang sedang berjalan lesu sambil memandangi buku catatan yang hangus. Remaja itu tampak hancur, seolah dunianya baru saja runtuh.
Mitsuki berhenti di atas tiang listrik tepat di atas remaja itu. Ia merasakan sesuatu dari anak ini. Bukan kekuatan yang besar, tapi kekosongan yang sangat dalam.
"Namamu siapa?" tanya Mitsuki tiba-tiba.
Remaja berambut hijau itu, Izuku Midoriya, tersentak hingga hampir menjatuhkan bukunya. Ia mendongak dan melihat seorang remaja laki-laki berkulit pucat pasi dengan mata kuning yang menatapnya tanpa kedip, berjongkok di atas tiang listrik dengan keseimbangan yang mustahil.
"E-eh? Aku? Aku... Midoriya Izuku," jawabnya terbata-bata. "K-kamu siapa? Apa itu Quirk mutasi fisik? Kenapa kamu ada di atas sana?"
Mitsuki melompat turun, mendarat dengan seringan bulu di depan Izuku. Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, ia menunjuk buku catatan Izuku.
"Kamu sedang menganalisis mereka, bukan? Orang-orang kuat yang mereka sebut pahlawan itu," ucap Mitsuki.
Izuku menunduk, meremas bukunya. "Iya... tapi itu tidak berguna jika kau tidak punya Quirk. Aku... aku hanya orang biasa yang bermimpi terlalu tinggi."
Mitsuki terdiam sejenak. Ia teringat pada dirinya sendiri di laboratorium Orochimaru, saat ia mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. "Di tempat asalku, kekuatan bukan sesuatu yang kau miliki sejak lahir. Itu adalah sesuatu yang kau bentuk melalui penderitaan dan latihan."
Izuku menatap Mitsuki dengan bingung. "Tempat asalmu? Apa maksudmu?"
Sebelum Mitsuki bisa menjawab, sebuah ledakan besar bergema dari pusat perbelanjaan beberapa blok dari sana. Tanah bergetar. Teriakan ketakutan mulai terdengar.
"S-suara itu... Kacchan!" Izuku tiba-tiba berlari menuju sumber ledakan tanpa berpikir panjang.
Mitsuki hanya berdiri di sana, mengamati punggung Izuku yang menjauh. Ia merasakan getaran aneh di udara. Sesuatu yang cair, busuk, dan penuh niat membunuh.
"Matahari biasanya bersinar terang," bisik Mitsuki pada dirinya sendiri, mengingat kata-kata ayahnya tentang mencari 'Matahari'-nya sendiri. "Mari kita lihat, apakah anak itu hanyalah lilin kecil atau sesuatu yang lebih."
Mitsuki menghilang dalam sekejap, menyisakan hanya helai daun yang tertiup angin di trotoar yang sepi.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen