NovelToon NovelToon
Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Status: tamat
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Action / Anime / Sci-Fi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: rexxy_

​"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
​Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
​Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
​Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Kehancuran markas besar The Erasers

Sisa-sisa debu Kaito masih melayang di udara, pas di tengah reruntuhan rumah kakek.

Amarah di dadaku belum juga reda. Seolah ada bisikan lagi yang menuntunku untuk pergi ke suatu tempat.

Rasanya kayak ada api yang terus membakar, nuntut keadilan setelah sepuluh tahun hidup kami diinjak-injak.

"Mona, Siapin mobil. Kita harus berangkat ke suatu tempat," kataku.

Suaraku sendiri kedengeran asing dingin, dan sangat tajam

Mona sempat ragu.

"Kemana kita akan pergi, Kan Kaito sudah lenyap. Mereka itu kan bos besarnya nya."

sembari tangannya tidak berhenti, dia tetep sibuk nyiapin senjata.

"Mereka ada di tokyo dan punya sisa pasukan, tapi mereka nggak punya 'Jembatan'," jawabku sambil ngelirik Sayuri.

"Ayo kita beresin kegilaan ini sekarang juga."

Perjalanan ke Tokyo yang harusnya makan waktu berjam-jam mendadak terasa singkat.

Pakai kekuatan koin dan sisa energi dimensi yang sekarang ada di genggamanku, aku bisa "melipat" ruang di sekitar mobil.

Kami seperti menembus lorong cahaya, tahu-tahu sudah berdiri di depan Menara Eraser gedung item tinggi yang berdiri angkuh di pinggiran Shinjuku.

Begitu kami turun, pasukan elit mereka sudah menunggu. Ratusan moncong senjata energi langsung mengarah kami berlima.

"Tembak!" Perintah itu kedengaran pendek dan mutlak.

Hujan laser biru langsung menyerbu. Tapi sebelum ada yang kena, aku maju selangkah dan menghentakkan telapak tangan ke aspal.

Plakk!!

Gelombang cahaya jingga meledak dari badanku. Bukan cuma buat nangkis, tapi langsung menghantam balik.

Senjata-senjata di tangan mereka meledak. Aspal jalanan pecah, terangkat dan ciptakan badai puing yang menyapu bersih barisan depan mereka.

Kami jalan masuk nembus lobi yang sudah hancur total. Setiap langkahku meninggalkan jejak yang bercahaya.

Siapa pun yang nekat mendekat langsung terpental kena tekanan aura yang keluar dari tubuhku.

Kami sampai di lantai paling atas. Di sana ada mesin raksasa, bola kristal hitam yang terus muter: The Origin.

Jantung dari semua teknologi mereka yang sudah hapus seluruh memori dunia.

"Miyuki, colok flash drive-nya!" teriakku sambil nahan pintu baja pakai kekuatan pikiran.

Jari Miyuki nari di atas konsol.

"Kalau virus ini masuk, semua memori orang-orang yang mereka curi bakal balik! Tapi risikonya gede... dunia bakal syok, bakal ada guncangan memori hebat!"

"Biarin mereka inget!" seru Sayuri.

Matanya kelihatan mantap banget.

"Mending sakit karena tahu kenyataan daripada hidup tenang tapi semuanya palsu!"

Begitu Miyuki menekan 'Enter', mesin itu mulai menjerit. Cahaya hitam di dalamnya pecah, berganti jadi ribuan fragmen warna-warni memori yang selama ini mereka simpen.

Tiba-tiba, ada bayangan raksasa muncul dari dalam mesin. Itu kesadaran kolektif para pendiri The Eraser yang udah memindahkan jiwa mereka ke sistem.

"KAU TIDAK AKAN BISA MENGHANCURKAN KAMI, SUBJEK 00! KAMI ADALAH KETERATURAN!"

Bayangan itu menyabet bahuku menggunakan cambuk energi hitam.

Rasanya sakit banget, kayak jiwaku lagi dipaksa copot dari badan. Tapi pas aku hampir tumbang, Sayuri lari dan menggenggam tanganku.

Tiba-tiba, pita jingga di tangannya bersinar begitu terang, Sinarnya belum pernah kulihat sebelumnya.

"Alexian, jangan lawan pakai benci," bisik Sayuri pelan.

"Lawan pakai janji kita."

Aku menutup mata membayangkan sapu tangan biru itu. Aku ingat tangisannya di jembatan dulu. Semua amarahku pelan-pelan berubah jadi keinginan buat "pulang".

"PULANGLAH KE KETIADAAN!"

Aku sama Sayuri melepaskan ledakan cahaya murni yang langsung memenuhi tiap sudut ruangan.

Mesin The Origin meledak berkeping-keping. Bayangan hitam tadi lenyap seketika berubah menjadi cahaya. Seluruh gedung bergetar hebat, dan perlahan-lahan. Menara Eraser mulai memudar terhapus dari kenyataan, seolah gedung itu emang nggak pernah ada.

Kami jatuh terduduk di atas atap gedung yang sekarang berubah jadi taman terbuka tempat asli sebelum gedung itu dibangun.

Hening. Fajar mulai terlihat di langit Tokyo. Di bawah sana, orang-orang mulai bangun dengan perasaan aneh, seakan baru saja kelar dari mimpi buruk yang panjang.

Ken, Mona,dan Miyuki pelukan, tidak percaya kalau ini beneran berakhir. Aku melihat ke arah Sayuri. Tubuhnya sekarang padat, dan nyata.

Dia tidak perlu lagi darahku buat bertahan. Dia sudah jadi manusia seutuhnya karena mesin yang membelenggunya sudah hancur.

"Kita berhasil, Sayuri," bisikku lemas.

Sayuri senyum-senyum paling cantik yang pernah aku liat dalam sepuluh tahun ini. Dia keluarin sapu tangan biru tua yang tadi aku bawa.

"Kamu menepati janjimu, Alexian. Kamu nggak pergi... dan kamu bawa aku pulang."

Aku memeluknya di bawah cahaya fajar Tokyo yang baru. Kami bukan lagi kelinci percobaan atau buronan.

Kami cuma dua orang yang akhirnya nemuin jalan pulang ke satu sama lain.

1
rexxy_
Terima Kasih banyak kak, Saya selaku Author sangat senang atas pujian kakak.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
𝓗ᥲᥱᥣִᥱᥲꤪꤨꤪᥒᥲ.𝜗𝜚
karyanya bagus btw mampir yah di novelku 🤭
Roulina Damanik
1. Check-in : Melaporkan kehadiran di suatu tempat (hotel/ bandara).

2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.
rexxy_: Terima kasih atas Saran anda.
Saya selaku penulis meminta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan penulisan saya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!