NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Rasa sakit.

Hanya itu yang bisa dirasakan oleh Han Feng saat kesadaran perlahan kembali ke dalam benaknya. Rasanya seolah-olah seluruh tulang di tubuh Han Feng telah digiling menjadi bubuk halus, lalu disatukan kembali secara paksa menggunakan lem perekat yang buruk. Kepala Han Feng berdenyut hebat, seakan ada palu godam yang menghantam tengkoraknya berulang kali tanpa henti.

Han Feng mencoba membuka mata, namun kelopak matanya terasa seberat gunung. Bau amis darah yang bercampur dengan aroma obat herbal murah menusuk hidung, membuat perut Han Feng mual seketika.

"Di mana... ini?" Han Feng bergumam lirih. Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar parau dan asing, sama sekali bukan suara berat seorang pria berusia tiga puluh tahun yang biasa Han Feng dengar setiap hari.

Ingatan terakhir yang Han Feng miliki sangat jelas. Sebagai seorang arkeolog dan sejarawan yang terobsesi dengan teks-teks kuno, Han Feng sedang memimpin penggalian di sebuah situs reruntuhan dinasti yang terlupakan di pegunungan Kunlun. Saat Han Feng menemukan sebuah lempengan giok aneh yang bersinar di dalam peti batu, gua tempat penggalian itu tiba-tiba runtuh. Han Feng ingat dengan jelas bagaimana batu-batu besar menimbun tubuhnya, dan kegelapan abadi menelan kesadarannya.

Seharusnya Han Feng sudah mati. Tidak ada manusia yang bisa selamat dari reruntuhan seberat ribuan ton itu.

Namun, rasa sakit yang menyiksa ini adalah bukti kehidupan. Han Feng memaksakan diri untuk membuka mata. Cahaya matahari pagi yang remang-remang menyelinap masuk melalui celah jendela kayu yang rapuh, menyinari ruangan yang tampak kumuh dan berdebu.

Ini bukan rumah sakit.

Han Feng mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan tatapan bingung. Dinding ruangan itu terbuat dari kayu tua yang sudah lapuk, perabotan di dalamnya sangat sederhana—hanya ada sebuah meja kayu retak, dua kursi yang kakinya tidak rata, dan sebuah cermin tembaga kusam di sudut ruangan. Tidak ada peralatan medis, tidak ada dokter, dan tidak ada bau antiseptik modern.

Tiba-tiba, gelombang informasi asing membanjiri otak Han Feng seperti air bah yang menjebol bendungan.

"Argh!" Han Feng mengerang kesakitan sambil mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan.

Potongan-potongan memori yang bukan miliknya berputar-putar dengan ganas, memaksa masuk dan menyatu dengan jiwa Han Feng. Memori itu milik seorang pemuda bernama sama Han Feng yang berusia enam belas tahun.

Dunia ini bernama Benua Roh Azure. Sebuah dunia di mana yang kuat dihormati sebagai raja, dan yang lemah diinjak-injak seperti semut. Di sini, manusia berlatih menyerap Energi Roh Langit dan Bumi, menempa tubuh mereka, dan mengembangkan kekuatan untuk membelah gunung serta membalikkan lautan.

Dan tubuh yang kini ditempati oleh jiwa Han Feng ini adalah Tuan Muda Ketiga dari Keluarga Han di Kota Awan Terapung. Status "Tuan Muda" terdengar agung, namun kenyataannya sangat pahit. Han Feng asli di dunia ini lahir dengan meridian yang tersumbat secara alami. Di Benua Roh Azure, meridian adalah saluran utama untuk mengalirkan Energi Roh. Tanpa meridian yang berfungsi, seseorang tidak akan pernah bisa menjadi kultivator bela diri.

Karena cacat bawaan ini, Han Feng asli dikenal sebagai "Sampah Nomor Satu Kota Awan Terapung". Ibunya meninggal saat melahirkannya, dan ayahnya—Kepala Keluarga Han—kecewa berat hingga mengabaikan keberadaan putranya sendiri. Tanpa perlindungan siapa pun, Han Feng menjadi sasaran empuk intimidasi dan penghinaan dari sepupu-sepupunya maupun pelayan keluarga.

Ingatan terakhir dari pemilik tubuh asli ini sangat tragis. Kemarin, saat pembagian sumber daya bulanan keluarga, Han Feng mencoba meminta jatah obat penyembuh luka untuk dirinya sendiri. Namun, sepupunya yang arogan, Han Lie, tidak hanya menolak memberikan obat tersebut, tetapi juga memukuli Han Feng hingga setengah mati di depan umum dengan alasan "latihan tanding". Han Feng asli, yang tubuhnya lemah, tidak sanggup menahan pukulan yang dialiri Energi Roh itu. Pemuda malang itu dilempar kembali ke gubuk kumuhnya dan akhirnya mengembuskan napas terakhir dalam kesepian tadi malam.

"Jadi begitu..." Han Feng menghela napas panjang setelah rasa sakit di kepalanya mereda. Tatapan mata Han Feng yang semula bingung kini berubah menjadi tajam dan dingin. "Kau mati karena kelemahanmu, dan aku mengambil alih tubuh ini karena takdir. Mulai sekarang, aku adalah Han Feng, dan Han Feng adalah aku."

Han Feng mencoba bangun dari tempat tidur kayu yang keras itu. Setiap gerakan mengirimkan sinyal rasa sakit ke seluruh saraf, tetapi Han Feng menggertakkan gigi dan menahannya. Mentalitas seorang peneliti yang sering bekerja di lapangan ekstrem membuat Han Feng memiliki toleransi rasa sakit yang cukup tinggi.

Han Feng berjalan tertatih-tatih menuju cermin tembaga di sudut ruangan. Bayangan di cermin memantulkan sosok pemuda kurus dengan wajah pucat pasi. Ada memar ungu besar di pipi kiri, dan sudut bibirnya masih menyisakan bercak darah kering. Meskipun wajah itu tampak menyedihkan, fitur wajahnya sebenarnya cukup tampan, dengan garis rahang yang tegas dan sepasang mata yang, kini, memancarkan kecerdasan dan kedalaman yang tidak dimiliki pemilik sebelumnya.

"Meridian tersumbat? Sampah?" Han Feng bergumam sambil meraba dadanya. "Di kehidupanku yang sebelumnya, aku meneliti ribuan teks kuno tentang strategi perang, filsafat, dan bahkan teknik bela diri kuno yang dianggap hilang. Jika surga memberiku kesempatan kedua, aku tidak akan menyia-nyiakannya untuk menjadi sampah lagi."

Brak!

Pintu gubuk kayu itu didobrak dengan kasar dari luar. Engsel pintu yang sudah berkarat menjerit protes saat daun pintu menghantam dinding.

Seorang pelayan pria bertubuh pendek dengan wajah licik melangkah masuk. Pelayan itu membawa nampan berisi mangkuk keramik yang retak. Namanya Wang Cai, pelayan pribadi yang ditugaskan untuk mengurus Han Feng, namun kesetiaannya jelas bukan pada tuannya. Wang Cai adalah anjing penjilat Han Lie, sepupu yang memukuli Han Feng kemarin.

Melihat Han Feng sudah berdiri di depan cermin, Wang Cai tampak terkejut sesaat. Pelayan itu jelas tidak menyangka "sampah" yang kemarin dipukuli hingga pingsan bisa bangun secepat ini. Namun, keterkejutan itu segera berganti dengan ekspresi meremehkan yang kental.

"Oh, Tuan Muda Ketiga ternyata masih hidup," kata Wang Cai dengan nada mengejek yang tidak ditutup-tutupi. Pelayan itu meletakkan nampan di atas meja dengan kasar hingga sebagian isi mangkuk tumpah. "Saya pikir saya harus menyiapkan kain kafan pagi ini. Ternyata nyawa Tuan Muda lebih liat dari kecoa."

Han Feng tidak segera menjawab. Pemuda itu hanya berdiri diam, menatap Wang Cai melalui pantulan cermin tembaga. Tatapan Han Feng begitu dingin dan tenang, berbeda jauh dari tatapan takut dan menunduk yang biasa ditunjukkan oleh Han Feng yang lama.

"Apa itu?" tanya Han Feng datar, menunjuk mangkuk di atas meja.

"Itu? Itu obat untuk luka Tuan Muda, tentu saja," jawab Wang Cai sambil menyeringai jijik. "Tuan Muda Han Lie sangat 'bermurah hati' memberikan sisa ramuan obat dari anjing peliharaannya untuk Anda. Minumlah selagi hangat."

1
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!