NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Rasa di Ujung Lidah

Layar monitor itu memancarkan cahaya putih yang menyakitkan mata, menjadi satu-satunya sumber penerangan dominan di kubikel Raka. Pukul delapan malam. Kantor sudah sepi, hanya menyisakan dengung halus dari mesin pendingin ruangan sentral dan bunyi *tuts* *keyboard* yang ditekan dengan ritme kasar.

Raka menghapus satu baris angka di lembar kerja Excel, lalu mengetiknya ulang. Salah lagi. Ia menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Kesalahan fatal tadi siang—sebuah selisih digit pada laporan anggaran kuartal—memaksanya melakukan audit ulang pada pekerjaan tiga hari terakhir. Bosnya tidak berteriak, tidak memaki. Pria paruh baya itu hanya menatap Raka dengan kacamata melorot dan berkata dingin, "Saya tidak menggaji kamu untuk melamun, Raka. Bereskan malam ini."

Kalimat itu lebih tajam daripada bentakan. Bagi Raka yang selama ini menjadikan pekerjaan sebagai benteng pertahanan kewarasan, teguran itu seperti retakan besar pada satu-satunya dinding yang ia miliki.

Ia kembali menatap layar. Angka-angka itu mulai terlihat seperti semut yang berbaris tidak rapi. Kepalanya terasa berat, efek akumulasi dari kurang tidur semalam suntuk gara-gara pembatas buku sialan itu.

"Masih lama, Ka?"

Suara itu memecah keheningan, membuat Raka tersentak. Ia menoleh ke arah partisi di sebelahnya. Bayu masih di sana, duduk merosot di kursi kerjanya dengan kaki diselonjorkan ke bawah meja, ponsel dalam posisi lanskap di tangan.

"Ngapain lu masih di sini?" tanya Raka, suaranya parau karena seharian jarang bicara.

"Nungguin ujan reda," jawab Bayu tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Jempolnya bergerak lincah membantai musuh di *game* daring. "Lagian, nggak tega gue ninggalin lu sendirian. Ntar lu kesurupan penunggu lantai lima, gue yang repot ditanyain HRD."

Raka mendengus pelan. Ia melirik ke jendela kaca besar di sisi ruangan. Di luar sana, Jakarta memang sedang diguyur hujan, tapi hanya rintik sisa. Alasan Bayu jelas dibuat-buat.

"Gue masih lama. Balik aja duluan," kata Raka, kembali menatap monitor.

"Santai. Gue lagi *winstreak* nih. Jangan ganggu konsentrasi," sahut Bayu cuek.

Kehadiran Bayu, meski tanpa percakapan berarti, entah mengapa membuat udara di ruangan itu sedikit lebih bisa dihirup. Raka kembali fokus. Satu per satu sel diperiksa. Ia menemukan akar masalahnya di baris ke-seratus dua puluh. Sebuah koma yang seharusnya titik. Kesalahan remeh yang dampaknya ratusan juta rupiah dalam hitungan. Raka memperbaikinya, melakukan *cross-check* dua kali, lalu menyimpan berkas itu ke *server* kantor.

Ia mematikan komputer. Kelegaan sesaat menjalar di punggungnya yang kaku.

"Kelur?" tanya Bayu. Ponselnya sudah dimasukkan ke saku celana bahan.

"Udah."

"Makan, yuk. Gue laper banget, sumpah. Tadi siang gorengan doang nggak nendang." Bayu berdiri, merenggangkan otot-ototnya hingga terdengar bunyi kertak tulang.

Raka ingin menolak. Ia ingin pulang, mandi air hangat, lalu mencoba tidur—atau setidaknya berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Tapi perutnya berbunyi, mengkhianati keinginannya. Ia baru sadar belum makan apa pun selain onigiri hambar tadi siang.

"Pecel lele depan stasiun aja," kata Raka akhirnya, menyerah.

***

Udara malam pasca hujan membawa aroma aspal basah dan selokan yang meluap, aroma khas Jakarta yang anehnya dirindukan jika lama tak tercium. Mereka berjalan kaki menyusuri trotoar yang becek, melompati genangan air keruh di antara ubin-ubin yang pecah.

Warung tenda pecel lele itu penuh sesak. Asap pembakaran menyelimuti area itu, membawa wangi terasi dan ayam goreng yang menggoda. Suara berisik dari pengamen yang menyanyikan lagu dangdut koplo dengan ukulele sumbang beradu dengan denting sendok dan wajan penggorengan.

Mereka mendapatkan tempat duduk di pojok, di bangku plastik yang sedikit goyang.

"Mas, lele dua, nasi uduk dua. Sambelnya dipisah ya buat temen saya," seru Bayu kepada penjual.

Raka menatap Bayu heran. "Kok dipisah?"

"Lu kan lambung lagi nggak bener kayaknya. Muka lu pucet, Ka. Cari aman aja," ujar Bayu sambil menuangkan teh tawar hangat dari teko plastik ke gelas Raka.

Raka terdiam. Perhatian kecil Bayu kadang membuatnya risih, tapi di sisi lain, ia sadar ia membutuhkannya. Saat pesanan datang, Raka menatap piring di hadapannya. Dua ekor lele goreng kering, nasi uduk dengan taburan bawang goreng, dan irisan mentimun serta kemangi. Di piring kecil terpisah, sambal terasi merah menyala berminyak.

Tangan Raka bergerak otomatis. Ia mengambil sendok, menyendok sambal itu cukup banyak, lalu menaruhnya di atas nasi uduk.

"Woy, buset. Lu mau bunuh diri?" tegur Bayu.

Raka terhenti. Ia menatap tumpukan sambal di nasinya.

Dulu, Raka benci pedas. Lidahnya tidak toleran terhadap cabai. Tapi *dia*—wanita yang namanya masih enggan Raka sebut dalam hati—adalah penggila pedas. *"Makanan kalau nggak pedes itu kayak hidup tanpa tantangan, Ka. Hambar,"* katanya dulu, sambil mengunyah ayam penyet dengan level kepedasan mematikan. Demi mengimbangi wanita itu saat makan bersama, Raka belajar makan pedas. Mulai dari satu sendok kecil, hingga akhirnya ia terbiasa. Sekarang, makan tanpa rasa pedas justru terasa aneh baginya. Kebiasaan itu tertinggal, melekat seperti noda tinta permanen, padahal orang yang mengajarkannya sudah tidak ada.

"Nggak apa-apa. Lagi pengen," gumam Raka, lalu menyuapkan nasi bercampur sambal itu ke mulutnya.

Sensasi panas langsung meledak di lidah, menjalar ke tenggorokan. Matanya sedikit berair. Pedas. Sangat pedas. Tapi rasa sakit fisik ini entah bagaimana mengalihkan rasa sakit yang abstrak di dadanya. Raka mengunyah dengan cepat, menikmati sensasi terbakar itu.

"Gila lu," Bayu menggelengkan kepala, lalu mulai menyantap makanannya sendiri. "Lu kenapa sih hari ini? Tumben banget *error* di kerjaan. Biasanya lu yang paling teliti ngalahin mesin *scanner*."

Raka menelan kunyahannya, meneguk teh tawar hangat untuk meredakan pedas. "Kurang tidur."

"Gara-gara apa? Begadang nonton bola?"

"Nggak."

Bayu menatapnya lamat-lamat. Temannya itu tahu kapan harus berhenti bertanya, tapi kali ini sepertinya Bayu ingin sedikit memaksa. "Ka, gue nggak tau lu ada masalah apa. Tapi lu tuh kayak orang yang lagi lari maraton tapi nggak tau garis finisnya di mana. Capek sendiri."

Raka meletakkan sendoknya. Nafsu makannya mendadak hilang, meski piringnya baru berkurang seperempat. "Gue cuma butuh istirahat, Bay. *Weekend* ini gue bakal tidur seharian."

"Baguslah," Bayu tidak mendesak lebih jauh. Ia tahu tembok Raka terlalu tebal untuk dihancurkan dalam satu kali makan malam. "Eh, si Ratna bagian HRD nanyain lu mulu tuh. Katanya lu kalau senyum irit banget, bikin penasaran."

Raka hanya menanggapi dengan dengusan kecil. Topik tentang wanita lain terasa hambar dan jauh. Tidak ada ruang di kepalanya untuk memikirkan romansa baru ketika hantu masa lalu masih duduk manis di setiap sudut ingatannya, bahkan di dalam sambal terasi yang ia makan.

Mereka menghabiskan sisa makan malam dalam obrolan ringan seputar kelakuan bos mereka dan target penjualan bulan depan. Topik-topik aman. Topik-topik yang membuat Raka merasa menapak di bumi, bukan melayang di awan kenangan.

***

Pukul sepuluh malam, Raka sampai di depan pintu apartemennya. Perjalanan pulang menggunakan ojek *online* terasa menyiksa karena angin malam yang menusuk tulang, menembus kemeja kerjanya yang tipis.

Ia membuka pintu unit apartemen. Gelap dan dingin menyambutnya. Aroma pengharum ruangan *lavender* yang ia pasang otomatis menyapa hidung, tapi bukannya menenangkan, bau itu justru terasa artifisial. Kosong.

Raka melempar tas kerjanya ke sofa, melepas sepatu tanpa melonggarkan talinya, lalu berjalan gontai ke kamar mandi. Di bawah guyuran *shower*, ia membiarkan air membasuh keringat dan debu Jakarta. Ia berdiri lama di sana, memejamkan mata, membiarkan suara air menutupi keheningan apartemen.

Keluar dari kamar mandi, Raka melihat meja kerjanya di sudut kamar. Buku novel yang semalam ia baca masih tergeletak di sana. Ujung pembatas buku buatan tangan itu sedikit menyembul keluar. Benda kecil dari tiket bioskop bekas yang dilaminating sendiri. Ada tulisan tangan kecil di sana: *'Untuk Raka, biar nggak lupa halaman, dan nggak lupa aku.'*

Raka memalingkan wajah. Ia tidak sanggup melihat benda itu malam ini. Ia tidak punya energi untuk bersedih atau merenung.

Tubuhnya menuntut istirahat. Rasa pedas dari sambal tadi kini menyisakan hangat yang tidak nyaman di perut, beradu dengan rasa lelah yang luar biasa. Raka menghempaskan tubuhnya ke kasur, menarik selimut hingga menutupi dagu.

Biasanya, sebelum tidur adalah waktu paling berbahaya. Waktu di mana otak memutar ulang kenangan-kenangan acak seperti proyektor film rusak. Tapi malam ini, kelelahan fisik menang. Raka merasa kelopak matanya seberat timah. Dalam hitungan menit, napasnya mulai teratur.

Malam itu, Raka tertidur tanpa mimpi. Tidak ada hujan, tidak ada stasiun kereta, tidak ada senyum wanita itu. Hanya gelap yang pekat dan tenang. Sebuah jeda singkat yang diberikan tubuhnya agar ia tidak hancur sepenuhnya. Namun, di luar jendela, kota Jakarta masih terjaga, dan waktu terus berjalan maju, menyeret Raka bersamanya menuju hari esok yang mungkin akan membawa pemicu luka yang lain.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!