"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Di Bawah Langit yang Sama
Bungah mendongak, matanya yang bulat menatap Zidan dengan tatapan yang sangat jujur. Pertanyaan "Emang boleh ya, Kak?" itu terlontar begitu saja, terdengar sangat polos sekaligus ragu. Bagi Bungah, Zidan adalah sosok yang sangat tinggi—seorang putra Kyai yang disegani, sementara dirinya hanyalah gadis remaja yang baru saja merayakan kelulusan dengan baju penuh coretan.
Zidan tertegun sejenak. Ia melihat ada sedikit rasa sungkan di mata Bungah, sesuatu yang jarang terlihat dari gadis seceria dia.
"Maksudnya diajarkan baca kitab?" tanya Zidan memastikan.
Bungah mengangguk pelan. "Iya. Kata Bunda, Kak Zidan itu pintar sekali. Terus... Bungah kan cuma anak nakal yang suka main di pantai. Apa Kak Zidan nggak malu punya murid seperti Bungah?"
Zidan tersenyum, kali ini lebih jelas dari sebelumnya. Ia meletakkan kitabnya di meja dengan perlahan. "Ilmu itu milik siapa saja yang ingin mencari, Bungah. Tidak ada syarat harus jadi orang hebat dulu untuk belajar. Jadi, tentu saja boleh."
"Horeee!" Bungah berseru spontan sambil bertepuk tangan kecil, melupakan sejenak kalau ia sedang berada di ruang tamu rumah Kyai. "Tapi janji ya, Kak, jangan galak-galak kalau Bungah telat mikirnya!"
Setelah selesai membantu Umi Aisyah membungkus kado, matahari mulai merambat turun, menciptakan warna jingga yang indah di ufuk barat. Sesuai perintah Uminya, Zidan bersiap mengantar Bungah pulang. Zidan menuntun sepeda jengki milik Bungah, sementara gadis itu berjalan di sampingnya.
Suasana jalanan desa terasa tenang. Hanya ada suara gesekan ban sepeda dengan jalanan aspal dan desau angin sore.
"Kak Zidan," panggil Bungah memecah keheningan.
"Iya?"
"Kenapa Kak Zidan mau mengantar Bungah? Padahal kan Kak Zidan bisa suruh santri lain. Nanti kalau orang-orang lihat Gus Zidan jalan sama anak SMP kayak Bungah, Kakak nggak dimarahin Abi?"
Zidan menghentikan langkahnya sebentar, menatap jalanan di depan mereka. "Saya mengantar karena amanah Umi. Dan... karena saya ingin memastikan 'Mentari' ini sampai di rumahnya dengan selamat sebelum hari gelap."
Bungah mengerutkan kening, hidung peseknya berkerut lucu. "Mentari? Siapa itu Mentari, Kak?"
Zidan hampir saja tertawa. Gadis ini benar-benar tidak sadar dengan apa yang baru saja ia katakan. "Bukan siapa-siapa. Itu hanya sebutan untuk seseorang yang bisa membuat suasana jadi terang."
"Ooh... kayak lampu petromaks di dermaga ya?" sahut Bungah asal.
Zidan tak tahan lagi, ia tertawa kecil. "Ya, kurang lebih seperti itu."
Di sepanjang jalan, Bungah bercerita banyak hal—tentang cita-citanya ingin jadi pelaut agar bisa melihat ujung dunia, tentang betapa sedihnya dia karena harus berpisah dengan teman-teman SMP-nya, hingga tentang kucingnya yang suka mencuri ikan asin di dapur. Zidan hanya mendengarkan dengan seksama, sesekali menanggapi dengan senyuman.
Bagi Zidan, mengobrol dengan Bungah seperti sedang membaca kitab yang berbeda; tidak ada dalil yang rumit, hanya ada kejujuran dan tawa. Kutub hatinya yang selama ini membeku, perlahan mulai terasa hangat oleh binar sederhana dari seorang gadis kecil bernama Bungah.
Langkah Zidan dan Bungah terhenti sejenak saat sebuah mobil hitam milik pesantren melaju perlahan dari arah berlawanan. Itu mobil Abi. Di balik kaca jendela yang tertutup, Kyai sepuh itu melihat putra sulungnya sedang menuntun sepeda seorang gadis remaja sambil sesekali tertunduk mendengarkan cerita gadis itu.
"Gus, itu sepertinya Gus Zidan," ucap Kang Adi, sang sopir, sambil melirik spion.
Abi hanya terdiam. Sorot matanya tajam namun sulit dibaca. Bukannya menyuruh berhenti, Abi justru berdehem pelan. "Terus jalan saja, Di. Biarkan dia menyelesaikan urusannya." Abi tahu, ada sesuatu yang berbeda dari cara Zidan berjalan sore ini—langkahnya lebih ringan, tidak seberat biasanya.
Zidan sendiri sempat merasa jantungnya mencelos saat mobil itu lewat, namun ia berusaha tetap tenang. Ia tidak ingin merusak keceriaan Bungah yang sedang asyik menceritakan kucingnya.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah rumah sederhana namun asri dengan banyak tanaman bunga di depannya. Di teras rumah, sudah berdiri Ayah dan Bunda Bungah.
"Astagfirullah, Bungah! Kok bisa bareng Gus Zidan?" seru Ayah Bungah yang langsung turun dari teras dengan wajah sungkan sekaligus kaget.
"Sepeda Bungah kempes tadi, Yah! Terus disuruh Umi Aisyah diantar Kak Zidan!" jawab Bungah dengan suara lantangnya yang polos.
"Heh, panggilnya Gus! Nggak sopan kamu ini," tegur Bundanya sambil mencubit pelan lengan Bungah, lalu menyalami Zidan dengan hormat. "Maafkan Bungah ya, Gus. Anak bungsu ini memang paling susah diatur. Kakak-kakaknya semua jauh, yang satu di Jogja ikut suami, yang satu lagi di Saudi sedang S3, jadi dia ini merasa jadi 'ratu' paling kecil di rumah ini."
Zidan tersenyum maklum. "Mboten napa-napa, Bu. Bungah anak yang baik. Saya hanya menjalankan amanah Umi."
"Ayo masuk, Nduk! Mandi! Lihat itu bajumu masih penuh coretan kelulusan," perintah Ayahnya.
Bungah cemberut, namun tetap patuh. Sebelum masuk ke pintu, ia berbalik dan melambaikan tangan ke arah Zidan. "Kak Zidan, makasih ya! Jangan lupa janji belajar kitabnya!"
Zidan mengangguk kecil. Setelah berpamitan dengan orang tua Bungah, ia berjalan pulang sendirian. Jalanan yang tadinya ramai terasa sunyi seketika. Namun, informasi tentang kakak-kakak Bungah membuatnya tersadar; meskipun Bungah terlihat sangat polos dan seperti anak kecil, ia berasal dari keluarga yang sangat mementingkan pendidikan.
Zidan menatap langit yang mulai gelap. Ia tahu, setelah ini Abi pasti akan memanggilnya ke ruang kerja untuk menanyakan perihal pertemuannya dengan "si bungsu" dari keluarga Pak RT itu.