Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Kecewa setelah cinta
SELAMAT MEMBACA!
🦕
Sore itu, Dino baru menginjakkan kaki di rumah, setelah pulang dari kediaman orang tuanya. Lelaki itu disambut oleh sang istri yang sedang menyapu. Namun, ekspresi wajah Dara terlihat mengganjal oleh Dino. Dara seperti sedang memikirkan sesuatu.
Dino melepaskan jaketnya, kemudian memberikannya kepada Dara untuk disimpan. "Udah makan, No?" tanya Dara.
"Udah tadi di rumah. Lo udah?" Dino bertanya balik, sambil memperhatikan setiap sisi wajah Dara. "Kalau belum, gue beliin di luar."
"Belum laper. Nanti aja kalau laper, aku bisa masak," ucap Dara. "Kamu mandi dulu!" Lalu, Dara melenggang menuju kamar untuk menyimpan jaket Dino. Namun, pergelangan tangan Dara dicekal oleh Dino, membuat langkahnya berhenti.
Dara menatap Dino dengan penuh tanya. "Di saku jaket gue ada tiket, ambil!" ujar Dino.
"Tiket apa, No?"
"Lihat aja! Dikasih sama Mama," ucap Dino.
Dengan penasaran, Dara merogoh saku jaket Dino yang berada di gendongannya. Dia melihat dua tiket pesawat dan sebuah brosur villa. "Buat apa?" tanya Dara, dengan bingung.
"Kalau lo mau, kita bisa pergi. Dua tiket ke Amerika, buat bulan depan."
"Aku nggak punya pasport."
"Nanti gue yang urus kalau lo setuju buat berangkat. Kalau gak mau, ya gak apa."
Dara terdiam melihat tiket di tangannya. Sebuah perjalanan ke Amerika dengan suaminya. Dara tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini karena kartu bar yang dia temukan tadi pagi. Dia menunduk, sedangkan Dino memperhatikan.
Tangan Dino bergerak menyentuh pundak Dara, membuat gadis itu mengangkat kepalanya cepat. "Lo bisa pikirin ini nanti. Santai aja, gue gak maksa," tutur Dino.
Dara menghela napas, kemudian mengangguk. "Nanti aku kasih tahu keputusan aku, ya," ucap Dara. Lalu, dia melangkah menuju kamar.
Lelaki itu mengangguk pelan, sambil memperhatikan punggung Dara yang kemudian menghilang. Dino memutuskan untuk pergi mandi karena badannya pun terasa gerah.
Jendela dengan tirai yang terbuka, membuat suasana sore terlihat dari kamar. Gadis cantik dengan rambut digerai itu berdiri menatap ke depan. Pikirannya penuh. Sorot matanya terlihat sendu, jelas karena ia tak bergeming. "Setelah semalam, aku harusnya nggak perlu takut lagi. Aku milik Dino dan Dino adalah milik aku."
"Aku milik Dino dan Dino milik aku," katanya. "Aku harusnya nggak berpikir panjang soal ini. Bisa aja kartu bar itu punya temennya, Angga mungkin?" Dara menggelengkan cepat kepalanya, kemudian mengusap wajahnya untuk menghilangkan pikiran negatif dari pikirannya yang sejak tadi menguasai.
Dara menarik kedua sudut bibirnya, membuka lebar matanya. "Kita adalah pasangan. Aku dan Dino adalah suami istri. Jadi, aku nggak boleh buat Dino kecewa. Kami harus saling percaya. Nggak boleh berlebihan, aku harus bisa belajar menerima semua ini," kata Dara, seolah meyakinkan diri sendiri bahwa semua yang dia pikirkan tidaklah benar. "Dino nggak mungkin buat aku kecewa karena dia cinta sama aku. Begitu juga aku, nggak boleh buat Dino kecewa karena aku istri yang mencintainya."
Senyum Dara mengembang. Tidak penting memikirkan hal buruk seperti itu, tak semua di dunia sama dengan pikiran kita. Mungkin, itu hanya setan yang menghasut. Dara menarik tirai jendela, menutupnya agar tiada lagi suasana sedih.
Sore yang seperti biasa. Dara sudah selesai bersih-bersih rumah, dia juga sedang tidak lapar, suaminya juga sudah makan katanya. Jadi, Dara bersantai di ruang tengah sambil menonton acara televisi. Sebuah sinetron anak muda, setidaknya sedikit menghibur pikirannya yang sedang kacau tadi.
Dara menyilangkan kakinya, duduk di atas sofa sambil memangku toples keripik singkong. Menonton film memang wajib ditemani dengan camilan.
Tanpa suara yang menyapa, Dino mendudukkan tubuhnya di samping Dara. Dino hanya membuat Dara melirik ke arahnya. Film itu semakin seru, jadi Dara tak acuh. "Lo gak makan, Ra?" tanya Dino.
"Nanti aja masak mie," jawab Dara.
Dino melirik sekilas ke arah istrinya yang fokus menonton sambil menyuapi mulutnya dengan keripik. "Pantesan gak laper, lo aja ngemil terus," celetuk Dino.
"Terserah aku."
Lelaki itu mendengus kesal melihat istrinya. Mereka masih bertengkar seperti biasa, tidak menjadi lebih romantis setelah malam istimewa kemarin. Dino memutar malas bola matanya, kemudian ia memainkan ponsel.
Dino menaikkan kakinya ke sofa, membuat pahanya terekspos dengan bebas karena ia hanya memakai celana kain pendek dan kaos singlet. Dara baru menyadarinya, ia membulatkan mata dan memutuskan untuk tidak peduli.
Tidak ada pembicaraan di antara keduanya setelah itu. Dara memfokuskan diri menonton televisi, sedangkan Dino juga cuek dan hanya peduli dengan game yang dimainkan di ponselnya. Namun, Dino kemudian mematikan ponselnya. "Ra, gue main ke basecamp, ya?" ujar Dino, menatap Dara.
Dara mengangguk. "Iya, jangan malem-malem pulangnya!" jawab Dara.
Dino bergegas ke kamar untuk mengambil jaketnya dan bersiap pergi. Lalu, lelaki itu mendekati Dara dan berdiri di depan istrinya. Tangan Dino bergerak mengelus kepala Dara, sambil berujar, "Kalau butuh apa-apa, telpon gue!"
"Iya." Hanya jawaban singkat yang Dara berikan, ia melihat suaminya mencondongkan tubuh mendekatinya. Wajah Dino dekat dengannya, Dara bisa merasakan hembusan napas laki-laki itu keluar. Lalu, Dino mengecup kening Dara dengan waktu lama. Terkejut.
Dino melepas kecupan kecilnya, kemudian menatap mata sang istri sambil tersenyum tipis. Lalu, Dino melenggang pergi. Kejadian romantis yang singkat itu berhasil membuat Dara membeku di tempat, ia memandangi kepergian sang suami di balik pintu.
Jantung Dara berdebar, senyuman lebar mulai terukir di wajahnya dengan mata yang berbinar-binar. Gadis itu sedang menyadari bahwa ia telah jatuh hati.
Dara tidak bisa lagi berpikir bahwa suaminya berbuat hal buruk, ia segera menepis pikiran negatifnya. Suaminya itu terlalu manis untuk dituduh. Sungguh, Dino sudah membuat Dara selalu salah tingkah bila mengingatnya. Dino juga sudah berubah lebih menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan, daripada saat pertama mengenal.
Malam ini, Dara terus menggerutu. Ia merasa lapar, tetapi tidak nafsu untuk memasak mie, sudah bosan sekali dengan menu yang biasa saja. Dara menghubungi Dino dengan kesal karena suaminya itu tak kunjung menerima panggilan suaranya.
Dara berdecak, menggenggam erat ponselnya yang menempel di telinga. Dia menghentikan panggilan itu karena sudah sangat kesal. Dara melihat keluar melalui balkon, langit malam membuatnya menghela napas panjang. Terpaksa, ia harus pergi keluar untuk mendapatkan makanan pilihannya.
Sebelum pergi, Dara bersiap dengan memakai sweater tebal untuk menghalangi udara dingin, kemudian ia menutupi celana pendeknya dengan rok selutut. Tidak lupa membawa uang yang dia letakkan di tempat handphone.
Dara mengunci pintu, beranjak pergi dari rumahnya. Langkah kaki gadis itu terhenti, langit malam dan kegelapan membuatnya ragu untuk melangkah. Padahal, Dara sangat menyukai gelap, tetapi hanya berlaku di dalam ruangan. Sesuatu yang buruk mulai berjalan di pikiran Dara. Namun, ia memutuskan tetap berjalan meski dengan rasa takut.
Tidak ada kendaraan yang bisa dipakai untuk pergi ke jalan besar, dia juga tidak bisa mengendarai mobil Dino di garasi. Harus jalan kaki, demi mendapatkan sate ayam di jalan depan.
"Serem juga jalan kaki sendirian di pinggir jalan kayak gini," gumam Dara, sambil melirik ke kanan dan kiri.
Dara berpikir untuk naik ojek, tetapi dia tidak menemukan satu pun di sana. Tak peduli, yang penting dia sudah mendapatkan sate keinginannya. "Dino masih di basecamp nggak, ya?" gumam Dara, kemudian ia menghentikan langkahnya di trotoar, mengecek ponselnya sebentar. "Dia belum cek handphone kayaknya." Lalu, Dara melanjutkan perjalanan pulangnya.
"Soto ayam. Gulai. Sayur capcay Bu Hamin. Es kepal rasa-rasa. Sayur buah." Dara menyebut setiap banner di depan toko yang dilaluinya. Ia mulai merasa menginginkannya. "Wait! Sayur buah? Itu kayak gimana? Besok coba, deh," katanya.
Ada dua jalan yang bisa diambil. Belok kanan untuk pulang, kiri bisa sampai di basecamp Ultimate Phoenix. Dara berhenti di sana, melihat dengan bergantian persimpangan itu. "Apa aku samperin Dino dulu, ya?" Dara mengerutkan alis karena berpikir. "Samperin Dino dulu, boleh juga," ucap Dara, kemudian memilih untuk belok ke kiri.
Dara asal melewati jalanan beraspal itu. Kakinya mulai terasa linu karena berjalan cukup jauh. Namun, akhirnya ia sampai di depan bangunan yang menjadi tempat perkumpulan anak-anak Ultimate Phoenix. Terparkir beberapa motor di sana, tetapi Dara tidak melihat keberadaan motor Dino.
Seorang anggota Ultimate Phoenix yang sedang duduk di teras, memandangi Dara. "Cari Dino, ya?" teriak laki-laki itu.
Dara mengangguk, kemudian ia berjalan mendekat ke sekumpulan anak muda itu. "Dino udah pulang, ya?" ucap Dara.
"Gue gak lihat si bos dari tadi."
Ucapan cowok itu membuat Dara membuka lebar matanya. "Jadi, Dino nggak ada di sini?"
Cowok itu mengangguk. "Di dalem juga gak ada siapa-siapa," katanya.
Jantung Dara berdetak kencang, ia memegang kantung plastik di tangannya dengan kuat. "Ya udah kalau gitu." Dara memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Dara mendengarnya dengan jelas, tadi suaminya itu pamit pergi ke basecamp. Namun, kenapa Dino tidak ada di sana. Padahal, Dara sudah lelah dan berjuang untuk datang.
Gadis itu melangkahkan kakinya dengan lunglai di bawah langit malam. Ia menghela napas berat karena harus melewati segerombol anak muda di jalan depan sana. Tidak tahu mereka berkumpul untuk apa, tetapi terdengar deru motor yang menggelegar. Dara memutuskan tak acuh.
"AYO, BOS DINO!" Teriakan itu sontak menghentikan langkah kaki Dara. Sorot matanya beralih ke keramaian itu dengan cepat.
Meski sedikit ragu, Dara memutuskan untuk mendekat ke arah sekumpulan itu. Dua pemuda terlihat di tengah-tengah, berada di atas motor. Dara menyipitkan mata agar dapat melihat dengan jelas. "Dino?"
"Itu Dino. Itu motornya Dino, helmnya juga." Napas Dara memburu, Dino sedang mengikuti balapan di sana. Lalu, dua cowok tersebut menarik gas dan melaju di antara mereka, kemudian terdengar sorakan menyemangati.
Dara menjauh dari sana, pergi. Dia meneteskan air mata. Dengan perasaan kecewa, Dara meninggalkan tempat itu. Tanpa ia sadari, seseorang menatap kepergiannya dari jauh.
...🦕...