NovelToon NovelToon
CINTA DI ANTARA DUA SAF

CINTA DI ANTARA DUA SAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Keputusan di Ambang Isya

Bayu yang masih terpaku di balik pohon beringin besar merasa kata-kata Fahmi tadi seperti guntur yang memecah kesombongan. Selama ini ia memelihara keangkuhan itu sebagai perisai diri untuk menutupi kehancurannya di hadapan orang-orang desa.

Ia menyaksikan Fahmi yang kemudian berpamitan dengan sangat sopan kepada Nayla di teras panti asuhan yang remang-remang. Fahmi mulai menstarter motornya dan perlahan meninggalkan halaman panti asuhan yang kini nampak jauh lebih tenang dari sebelumnya.

Suara muazin mulai mengumandangkan azan Isya dari pengeras suara masjid desa yang terletak tak jauh dari sana. Suaranya mengalun merdu membelah keheningan malam dan seolah merayap masuk ke dalam celah-celah hati Bayu yang gersang.

Lantunan azan itu benar-benar terasa seperti sebuah panggilan pengadilan yang sakral bagi nurani Bayu yang sedang goyah. Suara itu memaksanya untuk berdiri tegak di hadapan kenyataan pahit bahwa ia telah terlalu jauh tersesat dalam ambisi.

Bayu tetap diam di tempat persembunyiannya sembari menahan napas agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun di kegelapan. Ia seolah-olah takut jika udara malam yang dingin ini bisa membongkar keberadaannya yang sedang menguping momen sangat sakral.

Ia membiarkan lampu belakang motor Fahmi benar-benar menghilang di tikungan jalan desa yang sunyi dan juga gelap gulita. Bayu tidak berani menggerakkan satu inci pun otot tubuhnya yang saat ini sudah terasa sangat kaku dan juga pegal.

Nayla masih berdiri di teras panti dengan tatapan yang sangat sulit diartikan oleh Bayu dari jarak kejauhan tersebut. Ada perpaduan antara kekaguman mendalam dan rasa syukur yang tak terlukiskan terpancar jelas dari gurat wajah wanita berhijab itu.

Ia nampak menarik napas panjang untuk mencoba mengisi paru-parunya dengan udara malam yang kini terasa sedikit lebih ringan. Beban biaya operasi Haikal yang menghimpitnya seharian ini akhirnya terangkat berkat pengorbanan luar biasa yang baru saja dilakukan Fahmi.

Nayla berbalik untuk masuk ke dalam panti guna menyerahkan obat-obatan yang tadi dibawa Fahmi kepada Dokter Heru di dalam. Namun, ia tiba-tiba berhenti sejenak dan menatap dengan sangat tajam ke arah pohon beringin besar tempat Bayu sedang bersembunyi.

Jantung Bayu mendadak berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar dari rongga dadanya karena rasa panik yang luar biasa. Ia merasa seolah-olah mata Nayla yang jernih itu mampu menembus kegelapan malam dan melihat seluruh kebusukan yang ia sembunyikan.

"Apa dia tahu gue di sini? Apa dia bisa denger detak jantung gue yang kayak genderang perang ini?" batin Bayu.

Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya meskipun angin malam berhembus cukup kencang menusuk tulang rusuknya yang kini semakin menonjol. Apakah Nayla benar-benar menyadari keberadaannya di sana, ataukah itu hanya sekadar perasaan bersalah yang sedang memanipulasi persepsi batinnya sendiri?

Bayu merasa sangat terpojok oleh tatapan yang sebenarnya mungkin saja kosong dan hanya tertuju pada kegelapan malam di seberang jalan. Ia segera memalingkan wajah dan merapatkan tubuhnya ke batang pohon yang kasar agar keberadaannya tetap terjaga dari penglihatan Nayla.

Ia sangat berharap bayang-bayang dedaunan beringin yang rimbun bisa menyamarkan sosoknya yang kini nampak seperti seorang pecundang sejati. Bayu merasa sangat kecil dan tidak berdaya, sangat kontras dengan bayangan Fahmi yang baru saja pergi sebagai seorang pahlawan.

Setelah merasa situasi sudah cukup aman dan Nayla tidak lagi menatap ke arahnya, Bayu memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia justru berjalan cepat memutar melalui jalan setapak kecil di sisi panti menuju arah pintu samping bangunan yang sudah tua.

Ada sebuah dorongan aneh di dalam jiwanya yang memintanya untuk masuk dan melihat keadaan panti asuhan itu secara langsung. Ia ingin sekadar melihat keadaan anak-anak yang selama ini hanya ia anggap sebagai objek pameran kesuksesan Fahmi di mata warga.

"Gue harus liat sendiri, apa bener mereka sebahagia itu cuma karena bantuan dari orang kayak Fahmi," gumamnya dalam hati.

Bayu melangkah dengan sangat berhati-hati di atas rumput liar yang mulai basah oleh tetesan embun malam yang semakin dingin. Ia mencoba menghindari suara gesekan kaki sekecil apa pun yang mungkin bisa memancing perhatian penghuni panti lainnya yang sedang beraktivitas.

Ia sangat ingin melihat wajah kecil Haikal dari balik jendela kaca yang buram, memastikan bocah itu benar-benar mendapatkan perawatan. Bayu ingin memastikan bahwa harapan yang diberikan oleh Fahmi benar-benar telah menyentuh dasar hati anak-anak yatim yang ada di sana.

"Fahmi bisa ngelakuin itu semua tanpa pamrih, sementara gue cuma bisa mikirin diri gue sendiri sejak menginjakkan kaki di desa."

Rasa sesak kembali memenuhi dada Bayu saat ia menyadari betapa egoisnya ia selama berada di perantauan hingga kembali ke kampung. Langkah kakinya mendadak terhenti secara paksa saat ia melintas di area teras samping panti asuhan yang nampak sangat sepi malam itu.

Area itu biasanya digunakan sebagai tempat menerima tamu yang bersifat lebih privat atau mungkin sekadar tempat mengobrol santai para pengurus. Matanya menangkap sebuah benda yang nampak sangat kontras dengan suasana panti yang biasanya terlihat begitu sederhana namun tetap terjaga kebersihannya.

Sebuah benda itu memancarkan aura ancaman yang sangat nyata bagi masa depan tempat bernaung anak-anak yatim piatu di desa tersebut. Sebuah amplop cokelat besar terletak begitu saja di atas meja kayu tua di teras panti dengan posisi yang nampak agak miring.

Amplop itu seolah-olah diletakkan dengan sangat terburu-buru oleh seseorang yang tidak menginginkan adanya sebuah basa-basi atau keramahan kepada pengurus. Bayu mendekat ke arah meja itu dengan rasa ingin tahu yang sangat membuncah dan mengalahkan akal sehatnya untuk segera pergi pulang.

Rasa penasarannya kini benar-benar telah mengalahkan ketakutannya akan ketahuan oleh Nayla atau mungkin pengurus panti lainnya yang sedang berjaga. Bayu merasa ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan amplop cokelat tebal yang tergeletak tanpa pengawasan di atas meja kayu tersebut.

Di atas amplop cokelat yang tebal itu, tertulis sebuah kalimat dengan huruf kapital yang nampak sangat tegas dan juga menakutkan. Kalimat itu ditulis dengan tinta berwarna merah menyala, sebuah warna yang seolah-olah sedang memberikan peringatan bahaya yang sangat amat mendalam.

Darah Bayu mendidih sekaligus mendingin dalam waktu yang bersamaan saat ia berhasil membaca rangkaian kata yang tertera di sana dengan jelas. "Satu masalah selesai, muncul masalah baru yang jauh lebih gila lagi, apa panti ini bener-bener dikutuk?" pikirnya penuh amarah.

Ia merasa seolah-olah semesta sedang mempermainkan nasib Nayla dan anak-anak panti dengan memberikan cobaan yang datang bertubi-tubi tanpa ada jeda. Bayu menelan ludah dengan susah payah saat matanya kembali terpaku pada tulisan yang tercetak tebal di bagian depan amplop cokelat tersebut.

"Peringatan Terakhir Pelunasan Lahan".

Kalimat itu terbaca sangat jelas di bawah temaram lampu teras yang mulai meredup karena usia bohlam yang mungkin sudah terlalu tua. Kalimat itu adalah sebuah bukti nyata bahwa penderitaan panti asuhan ini ternyata jauh lebih dalam dan mengerikan dari sekadar biaya operasi.

Bayu tertegun lama di depan meja itu, merasakan tangannya gemetar hebat karena ia tahu persis apa arti dari surat peringatan semacam itu. Ini bukan lagi soal nyawa satu orang anak, melainkan soal atap tempat bernaung bagi puluhan nyawa yang tidak punya tempat lain.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..

‎🥰🥰🥰
Hary Nengsih
baru baca kayanya bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!