NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALIANSI DALAM PELARIAN

Suara desing peluru yang menghantam rak besi menciptakan dengingan frekuensi tinggi yang seolah merobek gendang telinga Vivien. Bau mesiu yang tajam dan menyengat segera memenuhi udara pengap di dalam gudang tua itu, bercampur dengan aroma debu yang teraduk dan bau oli mesin yang sudah basi selama bertahun-tahun. Vivien meringkuk di balik peti kayu besar, tangannya menutupi telinga dengan sangat erat, sementara tubuhnya gemetar hebat hingga ke tulang belakang.

Dunia di sekelilingnya seolah runtuh. Pikirannya masih tersangkut pada rekaman suara ayahnya yang baru saja ia dengar—suara yang selama ini ia anggap sebagai simbol perlindungan, kini berubah menjadi suara seorang algojo. Namun, di tengah guncangan mental itu, insting purba untuk bertahan hidup mulai mengambil alih.

Maximilian berjongkok di sampingnya. Tubuhnya yang besar dan tegap seolah menjadi benteng hidup bagi Vivien. Wajah pria itu kini tidak lagi menunjukkan amarah yang meledak-ledak seperti di ruang kerja semalam; yang ada hanyalah ketenangan mematikan dari seorang predator yang sedang dikepung. Maximilian memeriksa magasin pistolnya dengan gerakan mekanis yang sangat terlatih, wajahnya kaku seperti pahatan batu granit.

"Tetap di bawah, Vivien! Jangan bergerak sedikit pun atau kau akan berakhir dengan lubang di kepalamu!" perintah Maximilian. Suaranya rendah, namun memiliki vibrasi otoritas yang tidak bisa dibantah di tengah kebisingan tembakan yang terus menggila.

"Siapa mereka, Max? Kenapa mereka mencoba membunuh kita?!" teriak Vivien. Suaranya pecah, tersedak oleh isak tangis yang ia tahan di tenggorokan.

"Orang-orang yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang ayahmu. Para pembersih jejak yang tidak ingin rahasia dua puluh tahun lalu ini sampai ke telinga publik," balas Maximilian singkat. Ia mengintip dari balik celah peti kayu, lalu dengan ketenangan yang mengerikan, ia melepaskan dua tembakan balasan yang presisi.

BANG! BANG!

Terdengar teriakan kesakitan dari arah pintu masuk yang gelap, disusul suara benda berat yang terjatuh menghantam lantai beton. Maximilian tidak tersenyum; ia tidak merasa puas. Baginya, ini hanyalah rutinitas yang harus diselesaikan.

Vivien menatap profil samping Maximilian. Pria ini, pria yang baru saja menghancurkan seluruh dunianya dengan kenyataan pahit tentang ayahnya, kini adalah satu-satunya orang yang berdiri di antara dia dan kematian. Sebuah ironi yang sangat perih. Ia melihat Maximilian meraih ponsel satelit dari saku dalam jasnya yang kini sudah kotor oleh debu.

"Gideon, posisi. Gudang 4C. Kita terjepit di sektor utara. Bawa tim pembersih dan amankan perimeter luar. Sekarang!" Maximilian memutuskan sambungan tanpa menunggu jawaban dari seberang sana. Ia menoleh pada Vivien, matanya berkilat tajam di tengah kegelapan yang sesekali diterangi oleh kilatan api dari moncong senjata musuh.

"Kita tidak bisa menunggu bantuan di posisi ini. Rak-rak ini tidak akan menahan peluru kaliber besar selamanya. Kita harus bergerak," ucap Maximilian. Ia mencengkeram tangan Vivien. Kali ini, tarikannya tidak kasar atau menghina, melainkan penuh urgensi yang menyelamatkan.

Maximilian menarik Vivien untuk berlari di antara lorong-lorong rak besi yang menjulang tinggi seperti labirin hantu. Setiap kali peluru melesat di dekat mereka—menciptakan percikan api saat mengenai logam—Maximilian akan merangkul bahu Vivien, mendekapnya erat ke dalam dadanya, seolah-olah ia lebih memilih tertembak daripada membiarkan satu peluru pun menyentuh kulit istrinya.

"Kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Vivien saat mereka berhenti sejenak di balik tumpukan drum oli untuk mengatur napas yang sesak. Paru-parunya terasa terbakar oleh debu dan ketakutan. "Jika kau membenci keluargaku sesakti itu, bukankah ini momen yang sempurna? Kau tinggal meninggalkanku di sini dan semua dendammu selesai."

Maximilian menatap Vivien dalam-dalam. Di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip sekarat, matanya yang biasanya sedingin es tampak melembut untuk satu detik yang sangat singkat—sebuah anomali emosional yang membuat jantung Vivien berdegup lebih kencang karena alasan yang berbeda.

"Karena kematianmu tidak akan pernah cukup untuk menebus apa yang ayahmu lakukan pada keluargaku," bisik Maximilian, napasnya memburu di depan wajah Vivien. "Dan karena... kau adalah satu-satunya bagian dari masa lalu itu yang tidak memiliki dosa langsung, Vivien. Sekarang diam dan lari!"

Mereka mencapai pintu samping yang tersembunyi di balik barisan mesin industri tua yang sudah berkarat. Maximilian menendang pintu besi itu hingga terbuka, menyambut udara malam Melbourne yang dingin, basah, dan menggigit kulit. Di luar, sebuah mobil SUV hitam antipeluru sudah menunggu dengan mesin yang menderu rendah, seperti binatang buas yang siap menerjang.

Pintu belakang terbuka dengan cepat. Gideon, tangan kanan Maximilian yang berwajah kaku, sudah bersiap dengan senapan otomatis di tangannya.

"Masuk!" bentak Maximilian sambil mendorong Vivien ke dalam kursi belakang yang empuk, lalu ia menyusul dengan cepat dan membanting pintu hingga tertutup rapat.

Mobil itu melesat, ban-bannya mencit keras saat melakukan manuver tajam di atas aspal basah untuk menghindari kejaran dua mobil sedan hitam yang mendadak muncul dari tikungan jalan. Suara tembakan masih terdengar menghantam bodi mobil, menciptakan bunyi 'klang' yang berdentum di telinga, namun interior mobil yang kedap suara membuat suasana di dalam terasa sunyi secara tidak wajar.

Vivien terduduk lemas di kursi kulit yang dingin. Ia menatap tangannya yang kotor dan lecet. Air matanya sudah kering, menyisakan jejak garam yang perih di pipinya. Pikirannya kini kembali pada rekaman di gudang tadi.

"Rekaman itu..." suara Vivien terdengar hampa, seperti berasal dari dasar sumur yang dalam. "Apa yang terjadi setelah ayahku mengucapkan kata-kata itu?"

Maximilian meletakkan pistolnya di atas pangkuan, namun tangannya tetap siaga. Ia menatap keluar jendela, ke arah lampu-lampu jalanan Melbourne yang melintas cepat seperti garis-garis cahaya yang abstrak.

"Ayahku, Alaric Alfarezel, ditemukan tewas dua jam setelah rekaman itu diambil. Di kamar 402, sesuai dengan instruksi ayahmu," jawab Maximilian dengan suara yang sangat datar, namun ada getaran amarah yang tertahan di dalamnya. "Hasil autopsi resmi menyebut serangan jantung karena kelelahan kronis. Tapi aku tahu ayahku adalah seorang atlet, dia tidak punya riwayat penyakit jantung. Aku menghabiskan sepuluh tahun, Vivien... sepuluh tahun untuk membeli setiap informan, meretas setiap server, dan mengumpulkan kepingan teka-teki ini hingga aku sampai pada gudang tadi."

Vivien memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan ayahnya yang selama ini ia puja sebagai pria bijaksana kini hancur berkeping-keping, digantikan oleh sosok pria licik yang membunuh sahabat demi kekuasaan. "Lalu kenapa kau menikahiku? Jika kau punya bukti, kenapa tidak kau bawa ke polisi?"

Maximilian tertawa, sebuah tawa yang getir dan penuh luka. "Polisi? Di dunia kita, polisi hanyalah pion yang bisa dibeli dengan beberapa lembar saham. Orang-orang yang membunuh ayahku adalah orang-orang yang memberikan dana pensiun bagi para petinggi hukum di negara ini. Satu-satunya cara adalah menghancurkan mereka melalui jalur mereka sendiri: Bisnis, pengkhianatan, dan kekuatan benang merah."

Maximilian berbalik menghadap Vivien sepenuhnya. Ia meraih dagu wanita itu, memaksa mata Vivien yang sembab untuk menatap matanya yang gelap dan penuh dengan rencana besar.

"Kau sekarang bukan lagi sekadar pajangan atau istri kontrak, Vivien. Kau adalah saksi hidup. Orang-orang yang menembaki kita tadi tahu bahwa kau sudah melihat kebenaran itu. Kau sekarang adalah target yang sama besarnya denganku. Kau tidak bisa kembali ke rumah Aksara. Kau tidak bisa lari ke polisi. Kau hanya punya aku sekarang."

Vivien menyadari jebakan yang sangat rapi ini. Maximilian tidak hanya menyelamatkannya; ia telah mengisolasi Vivien dari seluruh dunianya. Dengan membawanya ke gudang itu, Maximilian secara efektif telah membakar jembatan yang menghubungkan Vivien dengan masa lalunya.

"Jadi ini semua adalah rencanamu? Menjadikanku sekutumu karena aku tidak punya tempat lain untuk berpaling?" bisik Vivien.

"Aku menjadikannmu sekutuku karena kau adalah pemegang kunci terakhir," Maximilian menatapnya dengan intensitas yang nyaris membuat Vivien sesak napas. "Ada satu brankas rahasia di Jakarta yang hanya bisa dibuka dengan biometrik dan sandi yang hanya diketahui oleh garis darah Aksara. Di sana ada dokumen yang membuktikan bahwa ayahku sebenarnya adalah pemilik sah saham mayoritas Aksara Group sebelum ayahmu memalsukan tanda tangannya. Aku butuh dokumen itu untuk mengambil alih segalanya secara sah."

Mobil mereka mulai memasuki kawasan perbukitan yang jauh dari pusat kota. Hutan pinus yang gelap menyelimuti sebuah vila modern dengan dinding-dinding beton tinggi yang tampak seperti benteng futuristik. Safe house.

Saat mobil berhenti, Maximilian turun dan memberikan tangannya pada Vivien. Gerakan yang sama seperti di malam pernikahan mereka, namun kali ini terasa jauh lebih nyata. Vivien menatap tangan yang besar dan kuat itu. Ia tahu, jika ia menerima tangan itu, ia secara resmi menandatangani pakta dengan iblis. Ia akan masuk ke dalam kegelapan yang tidak pernah ia bayangkan.

Namun, saat ia teringat wajah para pembunuh di gudang tadi, Vivien menyadari ia tidak punya pilihan. Ia harus hidup untuk membersihkan nama keluarganya—atau setidaknya, untuk mencari tahu apakah ada satu pun kebenaran yang tersisa di dunia ini.

Vivien menyambut tangan Maximilian. Genggaman pria itu panas, posesif, dan sangat protektif.

"Selamat datang di dunia yang sebenarnya, Nyonya Alfarezel," bisik Maximilian tepat di telinganya saat mereka melangkah masuk ke dalam vila yang sunyi.

Malam itu, di bawah atap safe house yang dingin, Vivien bersumpah: Ia mungkin menjadi tawanan Maximilian untuk saat ini, tapi ia akan menggunakan setiap detik di samping pria ini untuk mencari kelemahannya. Karena di balik semua kekejaman ini, Vivien bisa merasakan satu hal: Maximilian memiliki obsesi yang jauh lebih dalam daripada sekadar dendam. Dan obsesi itu... adalah dirinya.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!