Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Pagi itu, Istana Welas tampak lebih sibuk dari biasanya. Freya datang dengan langkah malas, kali ini ia mengenakan celana kain lebar dan atasan blus simpel. Tugasnya hari ini bukan lagi sekadar mengantar katering, melainkan "pelatihan" menjadi bagian dari keluarga inti.
Tugas pertama: membantu Ibu Kaisar, Permaisuri Ratna, menata bunga di ruang keluarga utama.
Awalnya, Freya mengira Ibu Kaisar akan sedingin suaminya. Namun, saat ia masuk ke ruangan yang penuh dengan bunga lili, mawar, dan sedap malam itu, ia disambut dengan senyuman hangat.
"Sini, Freya. Ibu dengar kamu suka warna-warna yang berani," panggil Permaisuri Ratna.
Freya mendekat, sedikit canggung. "Eh, iya, Bu. Saya lebih suka yang kontras daripada yang terlalu pucat."
Mereka mulai memotong batang bunga. Freya, dengan insting seninya, tidak menyusun bunga secara simetris seperti yang biasa dilakukan pelayan istana. Ia mencampurkan mawar merah tua dengan dedaunan liar yang ia ambil dari taman luar, menciptakan tampilan yang lebih organik dan "hidup".
"Wah, unik sekali. Ibu tidak pernah terpikir menyatukan ini dengan lili putih," puji Permaisuri tulus.
Freya nyengir, merasa diterima. "Biar nggak bosen, Bu. Kalau terlalu rapi malah kayak bunga plastik di kantor camat."
Permaisuri tertawa kecil, suara tawanya anggun namun jujur. Dalam waktu singkat, Freya sudah merasa akrab dengan wanita nomor satu di kerajaan itu. Mereka bercerita tentang hobi masing-masing, dan Freya merasa Ibu Kaisar adalah satu-satunya orang di sana yang tidak memandangnya dengan sebelah mata.
Ketenangan itu pecah saat Putri Sherena masuk ke ruangan dengan langkah yang diseret-seret anggun. Ia menatap vas bunga buatan Freya dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap pakaian Freya.
"Ibu, biarkan aku membawa Freya ke ruang ganti. Dia harus belajar cara berpakaian yang benar untuk jamuan makan malam nanti. Dia tidak bisa muncul di depan tamu dengan pakaian... biasa begini," ujar Sherena ketus.
Freya memutar bola matanya. "Duh, Putri... lo itu bener-bener definisi Kaisar versi perempuan ya? Sama-sama kaku kayak kanebo kering!"
Sherena tersentak. "Berani-beraninya—!"
"Ayo deh, tunjukin mana baju yang 'bener' menurut standar lo," potong Freya sambil berjalan mendahului Sherena, membuat sang Putri makin meradang.
Di ruang busana, Sherena mencoba memakaikan Freya kain jarik yang sangat ketat dengan lipatan yang harus presisi hingga milimeter terakhir. Namun, Freya punya ide lain. Saat Sherena berbalik mengambil bros, Freya sedikit mengendurkan ikatannya dan menyampirkan selendang dengan gaya yang lebih jatuh dan santai.
"Nah, gini baru enak napas. Dan lihat, estetikanya dapet, nggak kayak dibungkus lemper," ujar Freya saat bercermin.
Sherena ingin protes, tapi ia harus mengakui dalam hati bahwa modifikasi Freya justru membuat pakaian tradisional itu terlihat lebih fashionable dan berkelas.
Saat keluar dari ruang busana, Freya berpapasan dengan Pangeran Ethan dan Pangeran Kholid.
Ethan langsung tertawa terbahak-bahak melihat Sherena yang wajahnya merah padam karena kesal, sementara Freya berjalan santai dengan gaya barunya. "Hahaha! Kak Sherena, akhirnya ada yang berani ngacak-ngacak aturan 'fashion' lo ya? Frey, lo keren banget!"
"Diem lo, bocil!" sahut Sherena ketus.
Di sisi lain, Pangeran Kholid hanya berdiri bersandar di pilar, memberikan senyum sinis yang tajam. "Menarik. Seekor burung liar yang mencoba memakai bulu merak. Kita lihat seberapa lama bulu itu tidak rontok saat terkena badai istana, Freya."
Freya berhenti di depan Kholid. "Badai? Gue biasanya main di tengah hujan badai sambil bawa kanvas, Pangeran Sinis. Jadi mending lo simpen senyum palsu lo itu buat acara lain."
Ethan menepuk tangan. "Gokil! Gue dukung lo, Frey!"
Puncaknya adalah sore hari ketika Buyut memanggil Kaisar dan Freya. Beliau sudah menyiapkan meja kecil di balkon yang menghadap ke arah matahari terbenam. Lilin-lilin aromaterapi menyala, dan hanya ada dua kursi di sana.
"Malam ini, kalian berdua akan makan malam pribadi. Tidak ada pengawal, tidak ada pelayan yang mondar-mandir. Hanya kalian," ucap Buyut dengan nada final.
Setelah Buyut pergi, Freya berdiri terpaku di depan meja yang sangat romantis itu. Kaisar muncul dari arah kamarnya, sudah berganti pakaian dengan kemeja putih bersih yang kancing atasnya—ajaibnya—sedikit terbuka.
"Gue? Dinner sama lo? Mimpi buruk apalagi, Astaga!" Freya menepuk jidatnya.
Kaisar menarik kursi untuk Freya. "Duduklah. Jangan sampai Buyut melihatmu berdiri seperti orang linglung dari kejauhan."
"Lo nggak bosen apa sandiwara terus?" Freya duduk dengan kasar. "Liat deh, makanannya porsinya dikit-dikit banget. Gue laper, bukan mau nyicipin makanan burung."
Kaisar duduk di hadapannya. "Ini namanya fine dining, Freya. Fokusnya pada rasa, bukan kuantitas."
"Halah, bilang aja pelit," gumam Freya sambil menusuk sepotong daging dengan garpu secara asal. "Lo tahu nggak, tadi adik lo yang cewek itu nyaris kena darah tinggi gara-gara gue koreksi bajunya. Terus sepupu lo si Kholid itu... idiiih, mukanya pengen banget gue siram pakai cat minyak."
Kaisar memotong dagingnya dengan sangat presisi. "Kholid memang berbahaya. Dia mencari celah untuk menjatuhkanku. Jadi, berhentilah memberinya amunisi dengan bertindak sembarangan."
"Gue nggak bertindak sembarangan! Gue cuma jadi diri sendiri," bela Freya. "Kenapa sih di sini semuanya harus direncanain? Makan harus teratur, baju harus diatur, ngomong harus diatur. Lo nggak capek jadi robot?"
Kaisar terdiam sejenak. Ia menatap matahari yang mulai tenggelam, membiarkan cahayanya menyinari wajahnya yang tegas. "Tanggung jawab tidak mengenal kata capek, Freya. Tapi aku akui... hari ini suasana istana tidak seperti biasanya. Ibu terlihat lebih banyak tertawa saat bersamamu."
Freya tertegun. Ia tidak menyangka pujian itu akan keluar dari mulut Kaisar. "Yah... nyokap lo asik sih. Nggak kaku kayak lo."
"Kamu baru saja menyebutku kaku untuk yang keseratus kalinya hari ini," ucap Kaisar, dan untuk pertama kalinya, ada nada jenaka di suaranya.
"Karena itu fakta!"
Tiba-tiba, seekor serangga kecil terbang ke arah wajah Freya. Karena panik, Freya bergerak terlalu cepat hingga ia hampir terjungkal dari kursinya. Dengan refleks yang sangat cepat, Kaisar menjangkau tangan Freya, menahannya agar tidak jatuh.
Tangan besar Kaisar menggenggam pergelangan tangan Freya yang mungil. Mata mereka bertemu di bawah cahaya lilin yang temaram. Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka berhenti. Suara jangkrik di taman istana dan semilir angin malam seolah menjadi latar musik yang tidak direncanakan.
Freya bisa merasakan kehangatan tangan Kaisar. Pria ini tidak sedingin kelihatannya.
"Lepasin," bisik Freya, pipinya tiba-tiba terasa panas.
Kaisar melepaskan tangannya dengan perlahan. "Lain kali, berhati-hatilah. Kamu terlalu ceroboh."
"Gue nggak ceroboh! Gue cuma kaget!" Freya segera memalingkan wajah, sibuk dengan minumannya untuk menutupi rasa gugup yang tidak ia mengerti.
Mereka melanjutkan makan malam itu dalam keheningan yang berbeda. Bukan lagi keheningan yang penuh permusuhan, melainkan keheningan yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum berani mereka ajukan.