Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Pagi itu, langit Los Angeles tampak cerah, namun bagi Leonor Kaia, udara selalu terasa berat setiap kali ia harus menginjakkan kaki di universitas. Ia turun dari bus kota, kontras dengan mahasiswa lain yang membawa kendaraan pribadi, dan mulai berjalan menuju gerbang besar kampus dengan tas sketsa besar di bahunya.
Leonor mengenakan blazer krem potongannya sendiri, dipadukan dengan rok plisket yang jatuh dengan anggun. Rambut panjangnya ia biarkan terurai, berkilau di bawah sinar matahari. Ia tampak seperti perwujudan kelembutan, hingga sebuah deru mesin yang memekakkan telinga merobek ketenangan pagi itu.
Vroom!
Sebuah Lamborghini Revuelto berwarna hitam pekat melaju kencang, membelah genangan sisa hujan semalam tepat di samping trotoar tempat Leonor berjalan.
Splas!
Cairan cokelat kotor menghantam sisi kanan tubuh Leonor. Cairan itu meresap ke dalam kain blazer mahalnya, mengotori roknya, dan bahkan memercik ke helai rambut hitamnya yang indah. Leonor mematung. Matanya menatap noda itu dengan napas yang tertahan. Itu bukan sekadar baju, itu adalah prototipe desain yang ia kerjakan selama dua minggu tanpa tidur.
Mobil itu berhenti mendadak beberapa meter di depan, tepat di depan gerbang utama yang dijaga ketat. Pintu scissor mobil itu terangkat ke atas dengan angkuh.
Leonor tahu siapa pemiliknya. Di kampus ini, hanya ada satu orang yang berani mengemudi seolah jalanan adalah sirkuit pribadinya. Edgar Castiel Martinez.
Jika David Gonzales adalah orang terkaya nomor Lima, maka keluarga Martinez adalah pemilik urutan pertama dalam daftar tersebut. MTZ Group bukan sekadar perusahaan, itu adalah kekaisaran yang menguasai teknologi dan kedirgantaraan. Dan Edgar adalah pewaris tunggalnya.
Edgar keluar dari mobil, mengenakan kacamata hitam dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka. Dia adalah definisi kesempurnaan fisik, rahang yang tajam, tubuh atletis, dan aura yang membuat orang di sekitarnya merasa kecil. Dia satu angkatan dengan Ethan di jurusan bisnis, dan mereka sering terlihat bersama di klub-klub eksklusif.
Leonor berjalan menghampiri dengan langkah cepat, amarah membakar di balik wajah femininnya.
"Hei!" teriak Leonor.
Edgar berhenti, menoleh perlahan. Ia menurunkan kacamata hitamnya, menatap Leonor dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya tidak mengandung penyesalan, melainkan penghinaan yang dingin.
"Kau mengotori bajuku. Dan sketsaku," desis Leonor, menunjuk noda lumpur di tasnya.
Edgar menatap noda itu sejenak, lalu kembali menatap wajah Leonor. "Trotoar itu lebar. Kau yang berdiri terlalu dekat dengan jalan."
"Aku berdiri di jalur pejalan kaki! Kau yang mengebut seperti orang gila!" balas Leonor, suaranya bergetar. "Kau tahu berapa lama aku mengerjakan ini? Kau pikir uang bisa mengganti waktu dan dedikasi?"
Edgar mendengus sinis. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kulit buaya, dan menarik selembar cek yang sudah ditandatangani tanpa nominal. Ia menyodorkannya pada Leonor dengan dua jari.
"Tulis berapa pun yang kau mau. Beli baju baru, beli tas baru, atau beli mobil agar kau tidak perlu berjalan kaki lagi," ucap Edgar datar. "Jangan membuang waktuku hanya untuk masalah kain kotor."
Leonor menatap cek itu, lalu menatap Edgar dengan kebencian yang murni. Pria ini adalah versi lebih muda dari ayahnya. Sombong, memuja materi, dan menganggap semua orang yang tidak selevel dengannya sebagai gangguan kecil yang bisa diselesaikan dengan uang.
"Simpan uangmu, Martinez," Leonor menepis tangan Edgar hingga cek itu jatuh ke aspal yang basah. "Tidak semua hal di dunia ini bisa kau beli dengan kesombonganmu. Kau pintar, kau kaya, tapi kau tidak punya kelas."
Beberapa mahasiswa yang lewat berbisik-bisik. Tidak ada yang pernah berani bicara seperti itu pada Edgar Castiel Martinez. Bahkan Ethan pun selalu menjilat pada pria ini agar bisa masuk ke lingkaran pergaulannya.
Mata Edgar menyipit. Ada kilat ketertarikan yang gelap di sana. "Kau... gadis yang tidak punya marga itu, kan? Anak David Gonzales dari istri simpanannya?"
Kata-kata itu menghujam jantung Leonor lebih dalam dari genangan air tadi. Rahasia keluarganya, statusnya yang tidak diakui, ternyata sudah menjadi konsumsi publik di kalangan elit bisnis.
"Namaku Leonor Kaia," ucapnya tegas, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Dan setidaknya aku tahu cara menghargai orang lain, sesuatu yang tidak diajarkan di kelas bisnismu yang mahal itu."
Leonor berbalik dan pergi, meninggalkan Edgar yang masih berdiri di samping mobil mewahnya. Ia berlari menuju toilet gedung desain, mencoba membersihkan noda itu dengan air mata yang mulai jatuh.
Di sana, ia bertemu Aurora yang baru saja selesai kelas akting.
"Ya Tuhan, Leo! Apa yang terjadi?" Aurora segera mengambil tisu dan membantu kakaknya.
"Martinez," jawab Leonor singkat, suaranya serak.
Aurora menghela napas. "Pria itu memang iblis. Dia berteman baik dengan Ethan. Tadi pagi aku melihat mereka tertawa di kantin, membicarakan tentang proyek besar yang akan diberikan ayah pada mereka. Ethan sangat bangga bisa bekerja sama dengan Edgar."
Leonor mengepalkan tangannya. "Dunia ini memang tidak adil, ya? Orang-orang seperti mereka selalu mendapatkan karpet merah, sementara kita harus berjuang hanya untuk tidak terinjak."
"Kau kuat, Leo. Jangan biarkan dia merusak harimu," hibur Aurora.
Siangnya, di kelas desain, dosen Leonor mengumumkan sesuatu yang mengejutkan.
"Tahun ini, universitas akan mengadakan kolaborasi besar. Fakultas Bisnis akan mendanai dan mengelola aspek komersial dari proyek kelulusan Fakultas Desain. Investor utamanya adalah MTZ Group," jelas sang dosen.
Jantung Leonor seolah berhenti berdetak.
"Dan setiap mahasiswa desain terbaik akan dipasangkan dengan satu manajer dari Fakultas Bisnis untuk membuat rencana bisnis brand mereka. Leonor Kaia... karena nilaimu yang tertinggi, kau akan bekerja sama dengan perwakilan utama dari MTZ Group yang mengambil mata kuliah Manajemen Strategis."
Pintu ruang kelas terbuka. Edgar Castiel Martinez masuk dengan gaya angkuhnya, diikuti oleh Ethan yang tampak tersenyum lebar di belakangnya.
"Leonor," panggil dosen itu. "Kau akan bekerja sama dengan Mr. Edgar Martinez untuk proyek akhirmu."
Leonor menatap Edgar. Edgar memberikan senyum tipis yang penuh kemenangan, seolah berkata bahwa uang dan kekuasaan selalu menemukan jalan untuk mengendalikan apa pun, termasuk Leonor.
Inilah awal dari neraka yang baru bagi Leonor. Ia harus bekerja sama dengan pria yang paling ia benci, demi menyelamatkan mimpinya yang selama ini diremehkan oleh ayahnya sendiri.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍