Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEKHAWATIRAN SEORANG IBU
Maudi masih ingat jelas seperti apa malam itu. Wanita asing yang menangis di bawah lampu jalan yang temaram itu tidak hanya terlihat sedih, tapi hancur. Suara isak tangisnya bukan tipe yang meronta-ronta, melainkan suara tertahan yang seolah-olah dia sedang berusaha menyembunyikan kegetirannya sendirian dari kegelapan malam.
Dan, mereka yang saat itu baru saja pulang dari rumah sakit, merasa hatinya mencelos. keduanya mendekat, namun semakin dekat, semakin mereka menyadari ada sesuatu yang bisa di katakan lebih pahit dari yang namanya duka.
Darah.
Warnanya mencolok, kontras dengan aspal yang seharusnya tetap bersih dan sunyi. Diam, namun seolah berteriak. Membuat dada siapapun yang melihatnya mengencang,
Sungguh, dunia mendadak terasa terlalu sempit untuk menampung apa yang baru saja mereka pahami.
"Ma..."
Suara itu pecah, lirih dan tersendat, nyaris hanyut dalam keheningan yang menyesakkan. Di balik cermin meja riasnya, Maudi berbalik saat mendapati Surya keluar dari pintu kamar mandi.
"Papa lihat Mama lagi ngelamun." Kata Surya lalu duduk di tepi ranjang. "Lagi mikirin apa si, Ma?"
Maudi menghela napas panjang, lalu memutar kursi riasnya perlahan, menatap sang suami dengan bibir yang setengah tersenyum. Getir.
"Mama jadi kepikiran kejadian dua puluh tiga tahun yang lalu, Pa." Kata Maudi dengan nada bergetar. "Ketika kita melihat kecelakaan itu di depan mata kita dan..."
"Ma. Itu kan cuma masa lalu." Potong Surya dengan lembut. "Kita kan udah janji buat gak ingat apalagi bahas-bahas lagi soal ini."
Maudi mengangguk. "Iya, si. Tapi..."
"Tapi, apa?"
"Justru saat Vhirel cium kening Dea tadi pagi, rasanya Mama itu... punya feel yang beda gitu, Pa."
"Beda gimana, Ma?" Tanya Surya mengerutkan kening. "Bukannya itu hal wajar yang dilakukan sang kakak untuk menyayangi adiknya."
"Oh iya?" Maudi meletakkan krim malamnya di atas meja rias, matanya kini lurus dan penuh mengunci wajah suaminya. "Pada saat Vhirel cium Dea... apa maksud Papa lirik Mama? Papa pasti berpikiran hal yang sama dengan Mama. Aneh, kan?"
Surya tertunduk, lalu kembali memandang Maudi. "Papa... Papa cuma kaget aja. Mereka kan udah lama gak saling berjumpa, lima tahun berlalu dan merubah segalanya... bahkan usia mereka yang bukan lagi kekanak-kanakan. Tapi, papa pikir itu hanya reaksi Vhirel yang spontan aja, rasa rindu yang meluap saja, Ma. Wajar kan kalau kakak-adik yang lama terpisah jadi seakrab itu?"
Maudi menggeleng. "Terserah, Papa deh. Papa gak ngerti, gak peka!"
Surya menghela napas panjang, menatap Maudi yang perlahan memutar kursi riasnya hingga membelakangi dirinya.
"Ma, tenang aja. Enggak akan ada hal buruk yang terjadi, Mama jangan terlalu overthinking," ucap Surya lembut, mencoba menyusupkan ketenangan ke dalam kegelisahan Maudi.
Maudi mendengus pelan, jemarinya meraih sisir lalu masih memainkan ujung sisir hitam itu di meja rias. "Gimana kalau enggak, Pa? Gimana kalau insting Mama itu benar?"
Surya menarik napas dalam, mencoba menjelaskan sisi yang mungkin luput dari pandangan istrinya. "Vhirel itu sudah dewasa, Ma. Dia tahu betul tanggung jawabnya. Mama lihat sendiri kan bagaimana dia melindungi Dea? Sebagai kakak, dia punya naluri yang kuat untuk menjaga adiknya. Kedewasaan itu bukan cuma soal umur, tapi soal bagaimana dia bersikap, dan Vhirel sudah membuktikan itu."
Maudi terdiam sejenak, namun raut wajahnya belum sepenuhnya melunak. Ia memutar kursinya kembali, menatap Surya dengan tatapan menuntut. "Jadi, kapan Papa mau ngenalin anak teman Papa yang mau dijodohin ke Vhirel itu?" tanya Maudi tiba-tiba. "Toh, Mama juga kurang setuju kalau Vhirel punya pacar gadis yang namanya Sofia itu. Enggak tahu kenapa, feeling Mama juga enggak enak tentang dia."
Surya menggelengkan kepala, sedikit tidak percaya dengan arah pembicaraan yang selalu berujung pada kecurigaan. "Kenapa sih pikiran Mama negatif terus soal pilihan anak kita?"
"Khawatir itu wajar lah, Pa, namanya juga orang tua kepada anaknya!" Sergah Maudi, suaranya naik satu nada.
"Ya, tapi jangan separah itu, Ma," Balas Surya dengan nada rendah namun tegas. "Curigaan terus... yang ada kekhawatiran yang berlebihan itu malah bisa jadi beban buat kita, Ma. Buat Vhirel anak kita."
Surya menghembuskan napas pelan. "Mama tenang aja. Soal perjodohan Vhirel… Papa pasti akan urus. Cepat atau lambat... pasti akan. Karena Papa cuma ingin yang terbaik buat anak kita nanti."
Maudi menatap Surya sesaat, lalu tersenyum tipis, meski hatinya masih belum bisa merasa lega.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,