NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 Pasar, Frozen Food, dan Muter Nggak Jelas

Pagi itu aku bangun dengan badan yang masih berat, kayak belum bener-bener istirahat. Padahal semalam aku tidur lebih awal. Tapi tidur nggak selalu berarti istirahat. Kepalaku tetap muter.

Masalah uang kemarin belum kelar. Belum ada kesimpulan. Belum ada yang bilang aku salah, tapi juga belum ada yang bilang aku benar. Posisi itu lebih capek daripada dimarahin. HP-ku bunyi jam setengah tujuh.

Tara. “Aku otw ke rumahmu,” chat-nya singkat. Aku baca sambil duduk di kasur. Niatnya mau nolak, tapi tanganku berhenti. Aku nggak pengin sendirian hari ini. Aku balas: Oke. Setengah jam kemudian, Tara datang naik motor. Kami berangkat ke pasar. Tugas hari ini jelas: beli frozen food buat acara penutup. Daftarnya panjang. Uangnya ada, tapi kepercayaannya belum. Di motor, kami nggak banyak ngomong. Bukan karena marah, tapi karena sama-sama capek. Jalanan rame. Orang-orang belanja, orang-orang liburan. Dunia jalan seperti biasa, sementara kepalaku masih tertinggal di kemarin.

Pasar pagi itu ribut. Bau campur aduk. Ikan, ayam, plastik, minyak panas. Aku biasa ke sini, tapi hari ini rasanya beda. Lebih sumpek. Kami parkir. Aku buka catatan di HP. Tara pegang daftar kertas. “Mulai dari mana?” tanya dia. “Frozen dulu,” jawabku. “Biar nggak cair.” Kami masuk ke toko beku langganan. Kulkas-kulkas gede berjejer. Suara mesin berdengung. Aku nyebut satu-satu. Nugget sekian kilo. Sosis sekian. Tempura. Otak-otak. Penjualnya nulis cepat. Aku perhatiin. Aku minta nota. Kali ini aku nggak mau ada yang kelewat. “Disimpen rapi ya, Mbak,” kataku.

Penjualnya ngangguk. “Iya, tenang.” Aku pegang nota itu kayak megang barang rapuh. Masukin ke dompet kecil khusus nota. Aku bahkan cek dua kali. Tara ngelihat, terus senyum tipis. “Trauma ya.”

Aku nyengir. “Dikit.” Keluar dari toko frozen, kami lanjut ke kios lain. Plastik, saus, tambahan kecil. Muter-muter. Di satu titik, aku berhenti jalan.“Kenapa?” tanya Tara. “Aku lupa,” jawabku jujur. “Tadi beli apa aja.” Dia ketawa kecil. “Makanya dicatat.”

“Iya, iya.” Aku buka HP lagi. Cocokin. Capek, tapi aku paksa teliti. Aku nggak mau ada celah. Bukan karena aku takut salah. Tapi karena aku nggak mau lagi ngerasain tatapan kemarin. Kami muter pasar hampir dua jam. Panas. Lengket. Kaki pegal. Di satu sudut, kami berhenti beli es. Tara bayar dulu. “Nota?” tanyaku otomatis.

Abang esnya ngelirik. “Nggak ada, Dek.” Aku diem sebentar. Terus aku ambil HP. Aku catat manual. Nominal. Jam. Tempat. Tara ngelihat. “Kamu serius banget sekarang.” Aku angguk. “Iya.” Bukan karena aku berubah. Tapi karena aku belajar, kepercayaan itu mahal. Selesai belanja, kami duduk di pinggir pasar. Minum air mineral. Diam. “Aku ngerasa bersalah,” kata Tara tiba-tiba. Aku nengok. “Kenapa?”

“Karena aku yang kamu ajak. Dan sejak itu, semuanya jadi ribet.” Aku geleng. “Jangan gitu. Ini bukan soal kamu.”

“Tapi…”

“Tara,” aku potong. “Kalau kamu nggak ada, aku mungkin udah jatuh lebih dulu.” Dia diem. Matanya ke depan. “Kamu capek?” tanyaku. Dia ketawa pendek. “Banget.”

Aku juga.Kami pulang siang. Di motor, angin panas. Badanku lengket keringat. Tapi pikiranku sedikit lebih tenang. Ada rasa puas kecil. Semua belanjaan beres. Dicatat. Disimpan. Sampai sekolah, kami langsung ke gudang. Naruh barang. Aku susun rapi. Aku foto. Aku simpan. Faris lewat. Ngelirik. “Udah belanja?” tanyanya. “Udah,” jawabku. “Lengkap?”

“Lengkap sih harusnya.” Dia angguk. Nggak bilang apa-apa lagi. Tapi tatapannya bukan tatapan percaya penuh. Bukan juga nuduh. Di tengah-tengah. Dan itu bikin capek.

Sore, Bu Santi datang ke gudang. “Gimana belanjanya?” tanyanya. “Sudah, Bu. Semua ada,” jawabku. Aku kasih daftar. Nota. Lengkap. Bu Santi baca pelan. “Rapi.”

 Aku cuma angguk. Pujian kecil, tapi rasanya lebih berat dari biasanya. Karena aku tahu, ini bukan soal hari ini aja. Ini soal kemarin juga. “Masalah kemarin masih kita cari,” kata Bu Santi. “Ibu minta kamu tetap tenang.”

“Iya, Bu.” Setelah Bu Santi pergi, aku duduk di lantai gudang. Sandar ke tembok. Capeknya baru kerasa. Tara duduk di sebelahku. “Kalau ini kelar, kamu mau ngapain?”

Aku mikir. “Tidur.” Dia ketawa. “Masuk akal.” Kami diem lagi. Gudang sepi. Bau kardus dan plastik. Aku ngerasa hari ini panjang.

Bukan karena kegiatannya, tapi karena perasaannya. Aku masih bingung. Masih greget. Masih ngerasa ada yang nggak adil. Tapi setidaknya hari ini aku ngerjain apa yang bisa aku kerjain.

Pas pulang, langit udah agak gelap. Aku naik motor sendiri. Jalanan mulai sepi. Di lampu merah, aku berhenti. Helmku berat. Kepalaku berat. Aku mikir satu hal. Aku masih bertahan di sini bukan karena aku kuat. Tapi karena aku belum mau nyerah. Dan mungkin, itu satu-satunya alasan yang aku punya sekarang.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!