NovelToon NovelToon
HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / BTS
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Bisikan Jimin

Kenyataan adalah sebuah benang tipis yang baru saja putus di tangan Sheril. Sepanjang perjalanan pulang dari restoran, ia merasa seperti raga tanpa jiwa. Ia duduk di kursi penumpang mobil Jungkook, menatap jalanan Seoul yang basah, sementara tangannya menggenggam erat sabuk pengaman hingga buku jarinya memutih. Di sampingnya, Jungkook bersenandung kecil mengikuti lagu jazz yang mengalun dari radio, seolah-olah dunia baik-baik saja. Seolah-olah tidak ada alat bedah curian di dapurnya.

"Kamu sangat diam, Sayang," ujar Jungkook lembut tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.

Ia meraih tangan kanan Sheril, mengecup punggung tangannya dengan kehangatan yang biasanya membuat Sheril luluh.

"Apa cokelat panas tadi tidak membantu?"

"Hanya... kepalaku mendadak berdenyut, Kook," bohong Sheril. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

"Mungkin karena kurang oksigen di lab."

Jungkook meremas jemari Sheril pelan.

"Sesampainya di rumah, kamu harus segera istirahat. Aku akan memasak makan malam tanpa mengganggumu."

Memasak apa? Menggunakan pisau yang mana? Pertanyaan itu berteriak di kepala Sheril, namun bibirnya tetap terkunci rapat.

Keesokan harinya, Sheril sengaja berangkat lebih awal. Ia butuh ruang. Ia tidak bisa berada di apartemen yang sama dengan Jungkook tanpa merasa tercekik oleh dinding-dinding yang seolah menyimpan ribuan rahasia. Ia memilih untuk berjalan kaki menuju stasiun bawah tanah, berharap udara dingin pagi hari bisa membekukan kecurigaannya yang membara.

Saat melewati sebuah gang sempit di dekat taman kota yang masih sepi, langkah Sheril terhenti. Bulu kuduknya meremang. Perasaan diawasi itu kembali muncul, lebih kuat dari sebelumnya.

"Dokter forensik kita tampaknya sedang tidak bersemangat pagi ini."

Suara itu lembut, seperti beludru, namun memiliki nada yang mampu menyayat keberanian siapa pun yang mendengarnya. Sheril berbalik dengan cepat. Di sana, bersandar pada pilar lampu jalan yang berkarat, berdiri seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi. Jimin.

Ia tersenyum—senyuman yang sangat ramah, hampir terlihat tulus jika bukan karena binar predator di matanya yang sipit. Di tangannya, ia memegang sebuah apel merah kecil yang ia putar-putar dengan santai.

"Tuan Park Jimin," desis Sheril, melangkah mundur secara insting.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Jimin terkekeh, langkahnya maju perlahan, membuat Sheril terus mundur hingga punggungnya menyentuh pagar besi taman.

"Hanya menghirup udara pagi. Kau tahu, dokter, terkadang aroma tanah basah mengingatkanku pada aroma... sesuatu yang baru saja dikubur. Segar, bukan?"

"Jangan mendekat, atau aku akan berteriak," ancam Sheril, meski suaranya sedikit bergetar.

Jimin berhenti tepat dua langkah di depan Sheril. Ia tidak menyerang. Ia justru menggigit apelnya dengan suara krak yang nyaring, lalu mengunyahnya pelan sambil terus menatap Sheril.

"Kau tahu, Dokter Sheril... aku sangat mengagumi pekerjaanmu. Membedah,

mencari tahu bagaimana sebuah nyawa berhenti berdetak. Itu sangat puitis," Jimin memiringkan kepalanya.

"Tapi, bukankah melelahkan jika kau hanya melihat hasil akhirnya? Tidakkah kau ingin tahu bagaimana prosesnya? Bagaimana sebuah pisau kecil nomor sebelas bisa memisahkan napas dari raga hanya dalam satu tarikan?"

Jantung Sheril berdegup kencang. Pisau nomor sebelas. Dia tahu.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Sheril tegas.

Jimin merosok ke dalam saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kancing kemeja berwarna perak. Ia menjatuhkannya ke telapak tangan Sheril. Kancing itu memiliki inisial kecil di bagian belakangnya: JK.

"Kekasihmu adalah orang yang sangat rapi, Dokter. Terlalu rapi. Tapi, cinta itu berisik. Cinta itu membuat orang yang paling berhati-hati sekalipun menjadi ceroboh," Jimin berbisik, wajahnya kini hanya beberapa senti dari telinga Sheril. Aroma parfum sandalwood yang mahal bercampur dengan bau apel segar tercium oleh Sheril.

"Sebuah teka-teki untukmu, Dokter yang pintar," lanjut Jimin.

"Jika seekor kelinci mencoba melindungi bunganya di tengah sarang serigala, menurutmu siapa yang akan mati lebih dulu? Si kelinci yang kelelahan, atau si bunga yang menyadari bahwa akarnya sudah membusuk karena darah?"

Sheril menatap kancing itu, lalu kembali menatap Jimin.

"Apa kau memerasnya? Apa yang kau lakukan pada Jungkook?!"

Jimin hanya tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih sempurna.

"Aku tidak melakukan apa-apa, Dokter. Aku hanya memberikan panggung. Jungkook yang memilih untuk menari di atasnya. Dia melakukan semuanya agar tanganmu tetap bersih, agar kau tetap bisa memakai jas putihmu itu dengan bangga tanpa tahu bahwa noda di baju kekasihmu tidak akan pernah bisa hilang, bahkan dengan pemutih terkuat sekalipun."

Jimin mulai melangkah pergi, melambaikan tangannya tanpa menoleh.

"Cari tahu tentang 'Gudang Nomor 13' di pelabuhan tua, Dokter. Jika kau ingin melihat bagaimana koki kesayanganmu menyiapkan 'bahan makanan' untuk kami. Tapi ingat... kebenaran seringkali lebih pahit daripada racun yang paling mematikan."

Sheril tiba di laboratorium forensik dengan napas terengah-engah. Ia langsung menuju mejanya, mengunci pintu, dan menumpahkan isi tasnya. Kancing perak itu menggelinding di atas meja besi.

"Gudang Nomor 13..." bisiknya.

Tiba-tiba, pintu lab digedor dari luar. Sheril tersentak dan menyembunyikan kancing itu di bawah buku catatannya.

"Sheril! Buka pintunya!" itu suara Jin.

Sheril membukakan pintu. Jin masuk dengan wajah yang sangat tegang, diikuti oleh RM. Mereka berdua tampak seperti belum tidur selama berhari-hari.

"Ada apa, Oppa?"

"Kami baru saja mendapatkan laporan dari informan," RM bicara dengan nada serius.

"Ada aktivitas mencurigakan di area pelabuhan tua semalam. Suga menemukan transmisi data singkat dari sebuah satelit ilegal yang mengarah ke sana. Dan yang lebih buruk..." RM menjeda, menatap Jin sejenak.

"Apa?" tanya Sheril, perasaannya mulai tidak enak.

"Kami menemukan sepotong jari manusia di depan kantor kepolisian pagi ini," Jin bicara dengan suara bergetar karena amarah.

"Di jari itu ada sebuah cincin. Itu cincin milik asisten koki di restoran Jungkook yang dilaporkan hilang dua hari lalu."

Lutut Sheril terasa lemas. Ia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh. Asisten koki Jungkook?

"RM sedang menyiapkan tim untuk menggerebek area pelabuhan malam ini," lanjut Jin.

"Aku ingin kau tetap di sini, Sheril. Jangan pergi ke mana pun. Dan jangan hubungi Jungkook. Ponselnya mungkin sudah disadap oleh Suga."

Setelah mereka keluar, Sheril berdiri terpaku. Ia tahu ia tidak bisa hanya diam. Bisikan Jimin tadi bukan sekadar gertakan; itu adalah undangan. Sebuah undangan untuk melihat sisi gelap pria yang ia cintai dengan matanya sendiri.

Ia mengambil ponselnya, jarinya ragu-ragu di atas nama Jungkook. Namun kemudian, ia teringat kartu nama yang ditinggalkan Jimin di meja nomor 7 waktu itu. Ia meraih tasnya, memakai jaketnya kembali, dan berjalan keluar lewat pintu belakang rumah sakit agar tidak terlihat oleh V atau penjaga lainnya.

Sore itu, mendung semakin pekat menyelimuti Seoul. Sheril menghentikan taksinya beberapa blok dari area pelabuhan tua. Udara di sini berbau garam, besi berkarat, dan minyak busuk. Ia berjalan mengendap-endap di antara kontainer-kontainer raksasa yang sudah berlumut.

Matanya mencari angka pada pintu-pintu gudang yang gelap. 10... 11... 12...

Langkahnya terhenti di depan sebuah gudang dengan pintu seng yang besar dan berkarat. Angka 13 tertulis dengan cat merah yang sudah mengelupas, tampak seperti bekas darah yang mengering.

Suasana sangat sepi, hanya ada suara ombak yang menghantam dermaga. Namun, di dalam gudang itu, Sheril mendengar sesuatu. Suara gesekan logam yang sangat ia kenal.

Srek... Srek... Srek...

Suara asahan pisau.

Sheril mendorong sedikit pintu seng yang tidak terkunci rapat. Celah kecil itu memberikan pemandangan yang akan menghantuinya selamanya. Di tengah ruangan yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang bergoyang, berdiri seorang pria dengan apron hitam yang berlumuran cairan merah.

Pria itu sedang membelakangi pintu, bahunya bergerak ritmis saat ia mengayunkan pisau besar ke arah sesuatu di atas meja kayu panjang. Di samping meja itu, Jimin dan J-Hope duduk di atas tumpukan peti kayu, merokok sambil tertawa kecil seolah sedang menonton pertunjukan komedi.

"Potong lebih rapi, Kook," suara J-Hope terdengar nyaring.

"Kau tidak ingin dokter cantikmu menemukan serat otot yang berantakan saat dia mengautopsi paket ini besok, kan?"

Pria itu—Jungkook—berhenti mengayunkan pisaunya. Ia menarik napas panjang, bahunya tampak bergetar.

"Tutup mulutmu. Aku akan menyelesaikannya. Setelah ini, kalian harus menepati janji untuk tidak mendekati rumah sakit tempat Sheril bekerja."

"Tentu saja, Koki," Jimin menyahut dengan nada meremehkan. "Asalkan kau terus memberikan kami 'sajian' yang sempurna. Kau tahu kami sangat menghargai keahlianmu."

Sheril merasa dunianya runtuh. Oksigen seolah menghilang dari sekitarnya. Air mata mulai mengalir deras tanpa suara di pipinya. Ia ingin lari, namun kakinya seolah terpaku di beton yang dingin.

Tiba-tiba, Jungkook berbalik ke arah pintu, seolah merasakan kehadiran seseorang.

Sheril segera menarik tubuhnya ke balik dinding kontainer, jantungnya berpacu seperti genderang perang.

"Ada apa?" tanya Jimin di dalam sana.

"Tidak ada," jawab Jungkook pendek, suaranya terdengar begitu dingin dan mati rasa. "Hanya tikus pelabuhan."

Sheril menyandarkan punggungnya di kontainer, menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar. Tikus pelabuhan. Itukah dirinya sekarang? Seorang saksi dari sebuah tragedi yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya.

Di tengah kegelapan itu, sebuah tangan dingin tiba-tiba menyentuh bahu Sheril.

"Sudah kubilang, bukan? Kebenaran itu pahit, Dokter."

Sheril berbalik dan mendapati Suga berdiri di sana, mengenakan jaket detektifnya, namun tangannya tidak memegang pistol. Ia hanya menatap Sheril dengan tatapan yang penuh kepedihan yang sama dalamnya.

"Suga Oppa..." tangis Sheril pecah.

Suga segera menarik Sheril ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah wanita itu di dadanya agar ia tidak perlu melihat lebih banyak lagi.

"Jangan melihat ke sana, Sheril. Jangan pernah melihat ke sana lagi."

"Kau sudah tahu? Kau tahu semuanya?!" Sheril memukul dada Suga dengan lemah.

"Aku tahu," bisik Suga pelan, matanya menatap tajam ke arah pintu Gudang 13.

"Dan itulah sebabnya aku di sini. Bukan untuk menangkapnya, tapi untuk memastikan kau tidak hancur saat semuanya berakhir malam ini."

Di dalam gudang, suara asahan pisau itu kembali terdengar. Srek... Srek... Seolah-olah waktu sedang dihitung mundur menuju sebuah kehancuran yang tak terelakkan.

...****************...

1
Lilyyanaa
ternyata member bts lengkapp🤭
sabana: iyah, semoga suka🙏
total 1 replies
sabana
Ini Fanfic idol lagi ya, minjam nama-nama personil BTS ya, semoga suka
李慧艳
mampir...semangatk kak
李慧艳: tolong AP???
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!