Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam
Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.
Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.
Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bubur Tertinggal Ayam Kabur
Ponsel Dewa masih terbuka di pesan terakhir dari gadis cantik berambut pirang' Pixie Cut, kulit putih halus dan wajah mirip artis Korea skincare kadaluarsa; invoice yang harus dibayar, dan tunggakan kartu kredit
"Kita putus, Dew, gue butuh cowok yang bisa menjaga gue, bukan ngedate patungan, dan minjem sana sini dari pinjol atau paylater."
Dewa membaca wa untuk ketujuh kalinya di depan gerbang kampus, matanya berair, kaos huruf Metallica seakan mengerti penderitaannya, meloncat lompat bawa senar gitar listrik, drum, dan kayu pentungan. Celana jeans bolong di lutut turun satu senti dari perut yang kempes. Keringat kota Jakarta asem, basi, huru hara, tidak mengerti penderitaannya.
" Tega Lo, Sha, sesekali gue bayar Matcha Latte Cloud dengan ninggalin KTP Lo udah pergi, Lo gak punya ati, jarang jarang Lo bayarin pan."
Dewa memandang langit mulai gelap ditutup awan hitam, dan dia berharap hujan turun mengguyur kota Jakarta membuat banjir dimana mana, termasuk rumah Sasa di komplek padat Johar Baru. Doanya aneh dan Tuhan mungkin jengkel menimpuk kepalanya pakai biji Ketapang di sepanjang jalan setapak kampus.
"Aduuuh."
Dewa ngomel mengusap kepalanya sepanjang jalan," Sha...asal Lo tahu gue bisa beli gedung fakultas Ekonomi ini termasuk ibu Kantin, Satpam Kampus, Ayam kampus, eh kalau yang ini enggak, Lo aja yang gak ngerti."
Namun tidak ada yang tahu, tidak ada yang boleh tahu kerajaan hidupnya.Dua tahun lalu, Dewa Pratama — anak tunggal konglomerat properti — kabur dari rumah mewah Pondok Indah dengan satu koper dan dompet lima ratus ribu meninggalkan kartu platinum, rekening miliaran, dan nama yang membuka semua pintu.
Demi satu pertanyaan: "Gue gak mau liat papa kawin lagi."
" Sayang, kamu salah liat, papa bukan nya mau kawin, tapi pengen mengawinkan anak gadis nya Mang Kohar, tukang kebun kita."
" Tapi Dewa liat papa bergandeng tangan di mall dengan Sari."
Wajah ayahnya berubah panik, pucat pasi, tapi waktu itu dia membawa keluarga Mang Kohar ke mall untuk membelikan perlengkapan Sari nikah. Naasnya Sari terpeleset dari eskalator tanpa sengaja memegang lengannya" Kamu salah liat dewa, waktu itu Sari kepeleset."
" Tapi memegang tangan Papa?'
" Kamu bego apa Lum cukup umur, Dewa? Papa mu Ini seorang Direktur hampir 60 an, menggaet umur anak gadis 20 an, itu lebih pantas dengan mu."
Namun Dewa tetap ngeyel, " Apakah Dewa bisa hidup tanpa jadi 'anaknya Papa'?"
Ayah hanya mengangguk pelan. "Papa yakin kamu akan kembali satu Minggu, dua minggu, paling lama satu bulan?"
Tapi hampir dua tahun kemudian, Dewa masih di sini, masih hidup, masih membuktikan bahwa ia bisa hidup tanpa tanggungan ayahnya walau bekerja serabutan disela waktu kuliah.
Tapi Sasha tidak mau menunggu bukti, itulah stupid nya.
--
Tujuh hari kemudian, Dewa baru mengerti bahwa dunia tidak peduli deklarasi heroiknya putus cinta, ia mesti berjuang demi perut dan nasib.
Malam ini tepat pukul 11 lewat, Hidup belum benar mengerti apa yang dia rasakan, . badannya remuk redam, dompetnya tipis, dan kopi pertama yang ia pesan dingin, matanya kabur menatap beberapa lembar uang kertas lusuh di tangan.
Rp.1.010.000."
Hasil tujuh hari berdarah, berkeringat, air mata, dan satu ekor ayam betina mungkin sudah menjadi buronan warga komplek karena maling nasi bungkus, sisa makanan di tong sampah.
"Lo masih hidup, bro?"
Dewa menoleh. Roby sahabat satu kosnya, satu kontrakan, tukang tagih indihome, baru saja kelar skor kuliah karena iseng menjadi hacker meretas situs Judol, mendaratkan bokongnya di kursi plastik merah, wajahnya bercampur aduk antara rasa iba dan menahan tawa
"Secara fisik," Dewa menjawab lirih, "mungkin iya, tapi secara batin sudah mati."
Roby, laki laki bertubuh gempal itu memberi kode pada mas warung untuk membuat dua gelas kopi hitam seperti biasa. Matanya mengamati lutut Dewa penuh luka gores, kaus oblong melar di leher, dan lingkaran hitam di bawah mata masuk kategori 'panda' dikebiri.
"Hari pertama," Roby memulai, "lo kirim video dikejar anjing sambil memegang sendok sayur. Itu kronologisnya gimana, sih? Anjing bodoh itu mungkin ngira lo mau nyuapin dia pake ayam goreng.'
Dewa menghela napas panjang, lelah tapi belum mati, " By...menurut otak Lo sering hang, ayamnya berprikemanusiaan kaga?"
Ia menutup mulutnya menahan tawa,
"Lo bayangin gue udah masak bubur dari jam 4 subuh, ayam di suwir sambel kacang siap. Jam 6 kurang, gue keluarin ayam utuh—maksudnya ayam kampung hidup hidup —buat menjaga warung depan biar kesannya fresh."
"Fresh gila lo," Roby menyela. "Maksudnya Lo mau jualan bubur ayam , terus lu pajangin Ayam idup begitu?"
" Maksud gue begitu.."
" Lalu ? "
"Gak lucu, By. Si Burik tiba tiba lompat ke got. Gue reflek mengejarnya berputar putar di seputaran rumah. Eh, Anjing Wak Dullah ngira gue main kejar-kejaran, malah Ikut ikutan."
" Apa yang terjadi?"
" Gue ngeluarin semua ilmu hitam ngadapin Si Blacky, sendok sayur gue angkat, sarung gue angkat, sendal gue lempar, eh entu makin galak menggonggong. Gue akhirnya jatuh dengan mesra di aspal. Si Burik melarikan diri entah ke mana, Setan !"
Roby tidak bisa menahan tawa menutup mulutnya, matanya berair.
"Lo rugi berapa?"
"Modal bubur, ayam, sambel, kacang, plus trauma psikologis. Sekitar seratus lima puluh. Tapi trauma, By, seumur hidup, jantung gue dag-dig-duer melihat got apalagi uang satu milyar jatuh."
Laki laki itu nyengir masam menjitak kepalanya, masih juga sempat bercanda, bibirnya ditekuk menahan tawa. "Hari ketiga lo jadi model anatomi, di fakultas seni? gambar badan?"
Dewa meneguk kopi dingin pahit, seperti hidupnya.
"Model gambar anatomi telanjang dada selama tiga jam di depan 30 orang mahasiswa Seni Rupa, gue pikir mereka seniman, ngerti proporsi bentuk tubuh manusia, nyatanya?"
"Apa?"
Dewa mengeluarkan ponsel membuka galeri. Menyodorkan fotonya dipotret oleh seorang mahasiswa pendatang haram, karena ini proyek privat, malah dikirim lewat grup Wa
Roby menyipit mulutnya menganga terbatuk-batuk, memukul-mukul meja.
Dadanya bidang seperti Hulk. Otot lengan, dada, perut six-pack tidak wajar, wajahnya dicoret coret seperti badut, hidung bulat tomat merah.
"Ini... ini mah... lu dijadiin badut Hulk, bro!"
"Itu hasil tiga jam gue diem kaku di depan mereka. Gue nahan napas biar perut keliatan rata, pasang ekspresi misterius seperti patung dewa Zeus Yunani. Dan hasilnya? Badut, badut berotot."
Roby menyeka air matanya. "Dapet berapa?"
"Lima puluh ribu. Tapi secara moral, gue rugi seratus. Harga diri gue minus."
"Minusnya pake bunga?"
"Bunga pinjol."
Roby tertawa ngakak. Ia tahu sahabatnya dalam fase mencari hidup dengan cara apa saja dan selalu berakhir dengan 'dunia ketawa'. Tapi ia bingung hampir setahun setengah dia dekat, tidak pernah sekali pun ia membicarakan keluarga, minimal ayah dan ibunya datang.
"Hari kelima," Ia melanjutkan interogasinya, "lo membantu pindah?
Dewa menutup wajah dengan kedua tangannya, rasanya 'ia pengen mengganti nama perempuan,' Surti dewati' pindah ke planet Mars menjadi babu.
"Gue dipanggil bantu pindahan rumah. Bayaran Rp 100.000. Mengangkat kardus, pindahin kursi, biasa, terakhir, ada lemari jati besar tua mungkin umurnya lebih tua dari umur pak Presiden kita dulu, Jokowi."
"Lo jatohin?"
" Maksudnya presiden atau kayunya ?"
" Lemarinya, Bodoh !"
Dewa terpingkal pingkal ketawa, " Licin, By, tangan gue kaya di remas, tapi lemari itu punya nyawa meluncur pelan-pelan seperti film horor Conjuring retak di samping.
"Ganti rugi?"
"Tiga ratus, goceng buat bayar angkot, total bersih gue minus dua ratus plus pinggang capek, kadang gue mikir, apa Tuhan menghukum gue lari dari...eh? Atau gue kurang beruntung aja?"
" Maksud Lo lu lari dari siapa ?" kopi datang Roby menyeruput pelan menatapnya
" Maksud gue, lari dari kenyataan hidup."
" Gue bukan orang yang bisa ngasih nasihat bijak, Dew, tapi dari cerita lo, gue bisa nyimpulin satu hal."
"Apa?"
"Lo tuh... mungkin... jangan jualan dulu, jadi model kalo lo gak siap. Dan jangan angkat lemari jati sendiri, masih ada gue."
Dewa menatapnya datar. "Nasihat yang sangat membantu di saat gue butuh."
"Sama-sama. Itu gratis. Biasanya gue charge 50 ribu per saran."
Dewa tersenyum tipis senyuman pertama malam itu.
Mereka diam. Suara warung kopi malam—cakruk-cakruk, gelas beradu, obrolan ngalor-ngidul—mengisi kekosongan. Dewa memandangi lampu jalan yang kuning redup. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.
"Eh, lo tahu gak, By, besok senin."
"Terus?"
"Besok gue mulai kerja baru lagi."
Roby mengangkat alisnya "Kerja apaan? Jualan cilok? Jadi model lukis telanjang bulat? Bantu pindah kuburan?"
"Jaga warnet giliran malam, udah deal sama bosnya, duduk doang, liatin orang main game, kadang-kadang anterin indomie rebus."
Laki laki itu tersenyum tipis bukan mengejek. tapi agak iba, bangga, dan lucu.
"Lo nggak kapok, Dew?"
Dewa menghabiskan kopi dinginnya. Mengerutkan dahi. Lalu menjawab dengan nada orang yang sudah lelah, tapi belum mati.
"Kapok sih. Tapi gue perlu uang untuk kuliah. Selama gue masih bisa bangun pagi gue belum kalah."
"Tost buat yang belum kalah, walau udah diputusin.
"Tost buat yang masih hidup walaupun badan remuk."
Gelas plastik berdenting tertawa.
Di luar, lampu jalan masih kuning. Di dalam, dua lelaki kos makan mi sambil merencanakan hidup tidak heroik, tapi setidaknya masih berputar.