NovelToon NovelToon
CAHAYA DI RAHIM SUNYI

CAHAYA DI RAHIM SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Drama
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.

"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."

Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.

Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.

Haruskah Haniyah kembali...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GARIS TAKDIR.

Satu bulan telah berlalu dalam kesunyian desa yang mencekam bagi Haniyah Zahira. Namun, kedamaian yang ia cari perlahan terusik oleh kondisi fisiknya yang semakin menurun. Setiap pagi, ia harus berpegangan pada dinding kayu rumah untuk menahan pusing yang luar biasa. Mual yang datang tak kenal waktu membuatnya berpikir bahwa ia telah mengidap penyakit kronis yang mematikan. Haniyah ingin sekali pergi berobat, namun ketakutan lebih besar dari rasa sakitnya. Ia pernah melihat selebaran di pasar desa yang menampilkan wajahnya dengan jelas, sebuah pengumuman pencarian orang hilang dengan skala besar yang dilakukan oleh Haris.

"Aku tidak boleh sakit, ya Allah. Kuatkan aku untuk bertahan di sini," bisiknya lirih saat ia memaksakan diri menyirami sayuran di halaman.

Tanaman kangkung dan bayamnya sudah mulai menghijau, memberikan sedikit warna pada gubuk tuanya. Saat air dari gembor menyentuh dedaunan, tiba-tiba sebuah suara wanita memecah keheningan.

"Haniyah!"

Haniyah tersentak dan menoleh. Di ujung jalan setapak, Ratih berjalan tergesa-gesa sambil membawa beberapa kantong plastik besar yang tampak sangat berat. Haniyah segera meletakkan alat siramnya dan berlari kecil menyambut sahabatnya.

"Ratih? Kenapa tidak memberi kabar kalau mau datang?" tanya Haniyah sambil mengambil alih beberapa kantong plastik dari tangan Ratih.

Ratih mengatur napasnya yang tersengal. "Aku takut kalau memberi kabar, kamu malah melarangku datang. Kamu terlihat sangat pucat, Hani. Apa kamu baik-baik saja?"

Haniyah hanya tersenyum tipis dan mengajak Ratih masuk ke dalam gubuk. Ratih terpaku sejenak melihat sekeliling. Gubuk yang tadinya suram kini tampak asri, dikelilingi hijaunya sayuran dan bunga matahari yang mulai kuncup. Di dalam rumah, Haniyah merasa tidak enak karena Ratih ternyata membawakan segala kebutuhan pokok, mulai dari beras hingga bumbu dapur lengkap.

Mereka pun memutuskan untuk memasak bersama sebagai bentuk perayaan kecil atas pertemuan itu. Namun, saat makanan sudah tersaji, Haniyah justru menutup mulutnya dan menjauh dari meja makan. Bau nasi hangat yang biasanya nikmat kini terasa seperti aroma yang menyengat dan menjijikkan baginya.

"Kenapa, Hani? Masakan kita tidak enak?" tanya Ratih dengan kening berkerut.

Haniyah menggeleng lemas. "Entahlah, perutku sedang tidak bersahabat belakangan ini. Mungkin maagku kambuh."

Ratih menghentikan makannya, matanya menatap tajam ke arah perut Haniyah yang masih tertutup gamis longgar. "Hani, jangan-jangan kamu hamil?"

"Hamil? Itu tidak mungkin, Ratih. Kamu tahu sendiri bagaimana diagnosa orang-orang selama ini," sanggah Haniyah dengan tawa getir.

Ratih menghela napas panjang. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menggeser layar, memperlihatkan sebuah foto kepada Haniyah. "Lihatlah suamimu. Haris datang lagi ke kantorku kemarin. Aku selalu sembunyi agar tidak bertemu dengannya, tapi aku sempat mengambil foto ini diam-diam."

Haniyah memandangi layar ponsel itu. Seketika pertahanannya runtuh. Air matanya mengalir deras melihat sosok pria yang sangat ia cintai kini tampak hancur. Haris terlihat jauh lebih kurus, pakaiannya tidak lagi rapi, serta kumis dan janggutnya dibiarkan tumbuh liar menutupi wajah tampannya.

"Mas Haris..." isak Haniyah sambil mengusap layar ponsel itu.

"Dia seperti mayat hidup, Hani. Kembalilah padanya. Dia sangat menyedihkan," bujuk Ratih lembut.

Haniyah menggeleng kuat, bayangan wajah ibu mertuanya kembali muncul. "Tidak bisa, Ratih. Aku tidak ingin dia menjadi anak durhaka. Biarkan dia membenciku sekarang agar dia bisa bahagia nanti."

Di tengah tangisnya, rasa mual itu kembali menyerang dengan lebih hebat. Haniyah berlari ke arah wastafel kecil dan muntah-muntah hebat. Ratih segera menghampiri dan memijat tengkuk sahabatnya. Kecurigaan Ratih kini berubah menjadi keyakinan.

"Kita ke puskesmas sekarang, Hani. Aku tidak mau tahu!" tegas Ratih.

"Tidak mau! Di sana banyak orang pasar. Mereka pasti mengenaliku dari foto yang disebar Mas Haris," tolak Haniyah keras.

Ratih berpikir sejenak. "Baiklah, tunggu di sini. Aku akan ke pasar desa untuk membeli alat tes kehamilan."

Lima belas menit kemudian, Ratih kembali membawa kantong plastik berisi berbagai merk alat tes kehamilan. Ia menyuruh Haniyah segera memeriksanya ke kamar mandi. Dengan tangan gemetar, Haniyah mengikuti instruksi sahabatnya. Saat keluar, ia memberikan alat itu pada Ratih tanpa berani melihat hasilnya.

Mata Ratih terbelalak. "Dua garis, Hani! Jelas sekali! Kamu hamil!"

Haniyah tertegun, tubuhnya seolah membeku. "Tidak mungkin... itu pasti salah."

"Kalau tidak percaya, tes lagi dengan merk lain!" paksa Ratih.

Namun, Haniyah hanya terdiam lesu. Ia merasa tidak bisa lagi mengeluarkan air seni. Ratih yang tidak sabar akhirnya mengambil keputusan nekat. Ia mengambil sebuah cadar hitam dari tasnya yang memang tadi ia menyempatkan diri untuk membelinya untuk penyamaran Haniyah jika ada keperluan keluar.

"Pakai ini. Kita ke puskesmas untuk memastikan lewat bidan. Tidak akan ada yang mengenalimu," perintah Ratih.

Di puskesmas desa, Haniyah diperiksa dengan teliti oleh seorang bidan senior. Setelah beberapa saat, bidan itu tersenyum teduh. "Selamat ya, Bu. Usia kandungannya sudah masuk minggu ketujuh. Janinnya sehat, tapi ibunya harus banyak makan."

Ratih langsung memeluk Haniyah dengan penuh haru, namun Haniyah justru termenung dalam kebingungan yang luar biasa. Ia bersyukur, Allah menjawab doanya setelah lima tahun menanti, namun ia hamil di saat ia telah menandatangani surat cerai dan melarikan diri.

"Aku harus bagaimana, Ratih? Aku sudah memberikan surat itu padanya," bisik Haniyah saat mereka berjalan pulang ke gubuk.

"Percayakan semuanya pada Allah, Hani. Dia tidak mungkin memberikan ujian tanpa batas kemampuan hambanya. Yakinlah, pasti ada rencana yang lebih indah," hibur Ratih.

Ratih sebenarnya ingin memberitahu bahwa Haris telah merobek surat cerai itu berkeping-keping, yang artinya secara hukum agama dan negara mereka masih suami istri. Namun Ratih menahan diri. Ia ingin melihat sejauh mana Haris berjuang membuktikan cintanya sebelum mempertemukan mereka kembali.

🍃

Sementara itu, di sebuah rumah mewah yang kini terasa dingin, Haris duduk termenung di sudut balkon kamar ibunya. Sejak Haniyah pergi, ia enggan pulang ke rumah mereka sendiri karena setiap jengkal ruangan hanya akan menyiksanya dengan kenangan. Haris tampak seperti pria yang kehilangan jiwanya.

Melihat kondisi putra sulungnya yang semakin kacau, Rosita tidak bisa lagi membendung rasa bersalahnya. Ia mendekati Haris dan mengelus bahunya.

"Haris, maafkan Mama. Mama sudah keterlaluan," ucap Rosita dengan suara serak. "Mama sudah meminta adikmu, Nabilah, untuk ikut mencari."

Tak lama kemudian, Nabilah, adik Haris yang bekerja sebagai seorang Polwan, masuk ke ruangan dengan seragam lengkap. "Mas, aku sudah menghubungi semua jaringan kepolisian di daerah-daerah. Aku akan menggunakan semua akses yang aku punya untuk melacak keberadaan Mbak Haniyah."

Nabilah kemudian duduk di samping kakaknya dan memegang tangan Haris dengan tegas. "Tapi Mas juga harus bangkit. Bagaimana kalau Mbak Haniyah tahu suaminya jadi seperti ini? Dia pasti makin sedih. Perusahaan keluarga kita juga butuh Mas. Kalau bosnya saja tidak peduli, bagaimana nasib ribuan karyawan?"

Haris menatap Nabilah, lalu beralih pada ibunya yang kini tampak tulus mendukungnya. Kata-kata adiknya seolah menjadi tamparan baginya. Benar, jika ia terus terpuruk, ia tidak akan punya kekuatan untuk mencari Haniyah.

"Aku akan bangkit," ucap Haris dengan suara yang mulai kembali bertenaga. "Aku akan menjadi kuat agar saat aku menemukan Haniyah nanti, aku bisa melindunginya dari siapa pun. Termasuk dari ego Mama."

Rosita hanya bisa menunduk pasrah, mengiyakan perkataan anaknya. Haris bertekad untuk kembali ke kantor besok pagi, merapikan dirinya, dan mengerahkan seluruh sumber daya yang ia miliki untuk menjemput kembali cahaya hidupnya yang tengah bersembunyi di balik sunyinya desa.

1
Rara Ardani
jemput lah kebahagiaanmu farel, Haris bosmu baik, karena menganggap kalian keluarga 💖💖💖
Rara Ardani
ayo farel buka hatimu, jangan kaku gitu, kamu akan mendapatkan kebahagiaan an nanti 🤭🤭
Uba Muhammad Al-varo
kamu tidak nyaman karena pengabaian Ratih kan karena kamu ada rasa ke Ratih
Pujiastuti
sudah mulai ada rasa dihati Farel buat Ratih, tapi Farel belum menyadarinya
lanjut kak semangat 💪💪
Naufal hanifah
cerita nya bagus /Good//Good//Good/
Mira Hastati
bagus
Uba Muhammad Al-varo
farel....... akhirnya terpesona oleh Ratih karena kesederhanaannya dan merakyat 😊😊😊
Eliermswati
ayo farel kejar g ad loh cwe sbaik Ratih, yg g gengsi mkn pinggir jln itu justru lbh nikmat dan enk perut kenyang hti pun senang smga hani cpt smbh y dan bail2 sj
🤣🤣
Eliermswati
smga slmt y thor kshn Hani dah nunggu lm🙏🙏
Perempuan
Keingat dulu pernah keguguran anak pertama. membaca kondisi Niyah, perutku juga rasanya kram
Pujiastuti
semoga calon anak mereka aman dan ngak kenapa²

lanjut kak tetap semangat 💪💪
Salsa Billa
thor halunya kayak didunia sihir, masak pembangunan vila 3hr hampir siap huni,,, segaknya 6bln masih masuk akal 😁😁😁😁 tp ok lah namanya dunia halu
Uba Muhammad Al-varo
bagaimana pun keadaannya semoga Haniyah dan Ratih baik' saja dan secepatnya diketemukan dan diselamatkan oleh Haris, farel dan pasukannya
Eliermswati
ayo haris cptan tlng istrinya jngn smpe terjadi sesuatu sm mreka, thor jngn bkn hani keguguran y kshn kn dah nunggu lm 🙏🙏🙏
Wardah Saiful
romantis,sweet,ada.gemes2nya dikit,top deh❤️💪
Uba Muhammad Al-varo
tinggal sekarang Haniyah menjalani kehamilan ini dengan bahagia dan senang, semua masalahnya sudah terselesaikan dengan baik, hubungan antara ibu mertuanya sudah lebih baik lagi
Uba Muhammad Al-varo
Haris........ terus lindungi Niyah, jangan sampai Niyah terluka lagi
Perempuan
surat dokter yg menyatakan Haris mandul harus disiasati juga. Emaknya bisa saja marah krn merasa dibohongi. Emang lebih baik di desa aja dulu Ris., udaranya juga bagus utk kesehatan si Bumil tercinta
Enny Suhartini
semangat
Uba Muhammad Al-varo
ternyata Miss komunikasi yang terjadi antara Haniyah dan Haris, ayolah Niyah kalau ada sesuatu yang terjadi bicarakan dengan baik' dan terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!