NovelToon NovelToon
Asisten Magang TUAN MESUM

Asisten Magang TUAN MESUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Balas Dendam
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,

Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.

Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,

"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,

Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.

Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Supir pribadi

"Bilang saja, kakak ga akan memaksamu berangkat. Kamu bisa kuliah online kayak sebelumnya,"

"Ada apa, ini?"

Wira yang baru saja kembali dari kantor, ikut penasaran setelah mendengar keributan dari bawah.

"Ana. Dia berhenti kuliah," sahut Leo semakin memperkeruh situasi.

"Apa?!" Wira tersentak kaget,

Terhuyung lemas, bersandar pada pintu kamar. "Aku terlalu sibuk kerja, sampai tidak tahu apapun soal ini..."

"Hhh, mama terlalu senang melihatmu bisa kuliah seperti anak lain. Sampai lupa menanyakan perasaanmu,"

"Seharusnya mama memastikan, apa kamu bahagia..." ujar Citra menunduk lesu,

"Kakak juga bersalah karena tidak pernah menemanimu. Bisa-bisanya kakak membiarkanmu pergi sendiri," imbuh Leo menekuk bibir,

Mereka bertiga serentak memasang wajah menyesal, seperti pendosa yang telah lalai dalam mengasuh Ana.

"Tunggu, tunggu! Kalian semua salah paham!" pekik Ana dibuat muak,

"Astaga, reaksi apa ini? Bukankah harusnya aku lah yang merasa bersalah?"

"Aku pikir mereka akan memarahiku...ternyata tidak."

"Seharusnya aku jujur dari awal," tegas Ana dalam hati.

Dia lupa, kalau Ana memiliki keluarga penuh kasih yang selalu memihak dan membelanya.

"Ma...aku tadi belum selesai ngomong."

"Ini ga seperti yang kalian pikirkan. Aku nggak berhenti kuliah, atau dibully teman."

"Tapi sebenarnya---aku jadi mahasiswi magang di perusahaan LITE."

"Hah...?" yang lain tercengang mendengar pengakuan Ana,

Leo memiringkan kepala, teringat nama yang tak asing baginya. "LITE..."

"Bukankah itu perusahaan milik Tuan Maxime?"

"Papa pernah dengar, kalau LITE adalah perusahaan baru. Apa kamu kenal dengan pemiliknya?" ujar Wira penasaran,

"Iya...kita rekan bisnis." jawab Leo mengangguk singkat, sebelum kembali menatap adiknya.

"Jangan-jangan, waktu di kedai es krim---"

"Tidak. Sumpah waktu itu aku tidak tahu siapa dia!"

"Aku baru kenal seminggu yang lalu, sebagai atasan..." imbuh Ana menekuk hidung,

"Kamu magang di posisi apa?" lugas Leo.

"Asisten direktur,"

"Asisten? Itu kan sangat sulit. Pasti setiap hari kamu selalu mondar-mandir..."

"Apa gapapa? Kamu kan baru sembuh," sontak Citra dibuat risau.

Meraih tangan Ana, menarik pelan dan membuat gadis itu duduk di sampingnya.

"Gapapa, Ma...ga usah khawatir."

Ana tersenyum lembut, menepuk punggung tangan yang masih menggenggamnya.

"Maaf, ya. Aku baru ngomong, soalnya aku takut ga dibolehin..."

"..." Mereka terdiam sejenak, memandang satu sama lain kemudian tersenyum menenangkan Ana.

Ana menyadari kekhawatiran di wajah semua orang, namun sepertinya tak ada yang berani bersuara, sebab mereka tak ingin menolak keinginan apalagi mematahkan semangat putrinya.

ESOK HARI...

Mereka mendapat tiket penerbangan pagi yang diberikan oleh Direktur perusahaan Sidney. Sebagai tamu tentu mereka lah yang harus mengikuti jadwal,

Lalu setelah konfirmasi, Max dan asistennya akan berangkat sendiri kemudian dijemput saat tiba di bandara kota tujuan.

"Mana? Katanya ada yang menjemput kita." sontak Ana bermuka masam,

Dia berdiri mengenggam troli yang berisi tumpukan koper besar milik mereka berdua, juga menenteng tas besar.

Celingak-celinguk di dalam lobi tanpa ada yang menghampiri. Entah sudah berapa lama mereka menunggu di sana,

Ana menunduk lesu, rasanya malas dan tak sanggup menunggu lagi. Perlahan dia menoleh, pada pria yang sibuk mengotak atik ponsel.

Wajah Max tampak datar namun gerakan jarinya begitu kuat menekan ponsel, nyaris meretakkan layar.

"Sial." umpat Max dalam hati,

Dibuat kesal oleh pria yang berani mempermainkannya.

Andai saja tidak sedang menyamar. Dia tak perlu lagi berpura-pura lemah dan langsung menginjak Ryan dengan kakinya sendiri,

Namun mustahil Max lakukan. Pria itu tak ingin menghancurkan perusahaan milik keponakannya,

TRING...

Satu pesan masuk,

"Ck!" Max berdecak kesal setelah membaca pesan.

Tubuhnya spontan berjalan keluar, meninggalkan Ana.

"Lho...tunggu, Pak!"

Ana berlari menyusul. "Bagaimana, Pak? Apa Bapak sudah menghubungi mereka?"

"Supir yang menjemput kita tidak sengaja menabrak orang, sekarang dia ada di kantor polisi."

"Lah, terus yang jemput kita?"

"Pak Ryan tidak bisa mengirim orang lain, karena sibuk mengurus acara."

Max menjawab tanpa menoleh, tangannya tampak sibuk menghubungi kontak lain. "Halo, kirimkan mobil ke bandara."

"Tidak, tidak perlu. Aku sudah bawa supir sendiri,"

Ana menganga mendengar percakapan atasannya, telat memahami kalimat tadi.

"Supir?" mengernyit bingung,

Tak lama kemudian, dia pun sadar.

Sebuah mobil hitam yang dikendarai Ana melaju kencang melewati jalan, bergerak menuju Villa.

Sesekali Ana melirik dari kaca spion, mendapati Max yang menatap punggungnya dengan tegang.

"A-anu...apa ada yang salah?"

"Kamu beneran bisa nyetir kan? Coba tunjukkan simmu," ujar Max mengernyit cemas.

"A--astaga saya lupa membawanya. Hahaha..." Ana terkekeh, hendak mengalihkan perhatian.

Namun sepertinya pria itu masih curiga,

"Ng, tenang saja saya sudah sering bawa mobil. Walau belum punya sim," ucap Ana mengulum bibir sendiri.

"Tuh, kan!" batin Max terbelalak,

"Hh...?!"

Mendengus kesal, langsung membuang muka sambil tersenyum sepat. Dari awal sudah curiga, meski mencoba untuk percaya,

"Ingat ini...nyawaku sangat berharga. Awas kalau kamu berani mencelakaiku!" ancam Max membanting punggungnya pada kursi,

Menyandarkan kepala, lalu memejamkan mata, bersiap tidur.

Ana hanya diam tak berani menjawab, sesekali melirik ke belakang, dibuat penasaran oleh pria yang tak lagi mengoceh.

Bulu mata lentik Max berhasil mencuri hati, hidung mancung dan alis tebalnya sungguh menawan.

Tanpa sadar mengundang lengkung di sudut bibir Ana,

"Mm...padahal kalau diem gini wajahnya jadi lebih ganteng," gumam Ana terpesona oleh penampilan Max.

Memandangi setelan yang Max kenakan, berupa kemeja casual dan celana hitam ketat. Ana baru sadar jika atasannya baru saja mengganti gaya rambut, membuat usia Max tampak jauh lebih muda.

"ASTAGA! kayaknya aku udah mulai gila..." Ana menggeleng cepat, mengusir lamunan tadi.

"Jangan sampai, aku tergoda sama wajah tampannya."

"Ingat! Dia itu cuma pria kasar, galak dan bajingan mesum."

Ana melotot berusaha mengalihkan perhatian, namun lagi-lagi mata itu melirik seakan usil memandangi raut tenang Max yang sedang terpejam.

"Berhenti melihatku."

"Hh!" Ana kembali tegap, menatap jalan.

Menggigit bibir bawahnya sebab rasa malu yang tak terbendung. Sejak kapan pria itu sadar?

"Sudah kubilang, nyawaku sangat berharga. Perhatikan jalannya dengan baik,"

"Baik, Pak. Maaf..." Ana menyahuti datar, berusaha bersikap tenang.

Padahal hatinya berisik, menggerutui diri sendiri.

1
Lili
Untung cuma om tiri naa😍🤣
Anonymous
Tuan Maxime😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!