"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Aroma Kopi dan Rahasia
[Waktu: Rabu, 22 April, Pukul 18.30 PM]
[Lokasi: Cafe "Moonlight Script", Distrik Bao'an, Shenzhen]
Lampu-lampu jalan di Distrik Bao’an mulai menyala, memberikan semburat cahaya oranye di atas aspal yang masih basah karena gerimis sore tadi. Di sebuah sudut jalan yang tidak terlalu ramai, sebuah cafe kecil dengan papan nama kayu bertuliskan "Moonlight Script" tampak sangat hangat. Cahaya kuning temaram dari dalam jendela kacanya seolah mengundang siapa pun yang lelah untuk singgah.
Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di seberang jalan. Kaca jendela belakang perlahan turun, memperlihatkan tatapan tajam Gu Jingshen. Ia mengenakan kemeja hitam kasual dengan kancing atas terbuka, mencoba sebisa mungkin untuk tidak terlihat seperti CEO dari gedung pencakar langit.
"Tuan, itu cafenya," bisik Ah Cheng dari kursi kemudi. "Apakah Anda ingin saya ikut masuk?"
"Tidak. Tunggu di sini," perintah Gu Jingshen. Ia memakai topi hitam rendah untuk menyamarkan wajahnya, lalu melangkah keluar.
Saat ia membuka pintu cafe, suara lonceng berdenting nyaring. Aroma kopi yang kuat bercampur dengan wangi roti panggang dan vanila langsung menyambut indra penciumannya. Gu Jingshen tertegun sejenak. Tempat ini sangat jauh dari kesan dingin dan kaku kantornya. Dindingnya penuh dengan rak buku dan potongan-potongan naskah yang ditempel secara estetik.
Ia memilih kursi di pojok paling gelap, berlindung di balik sebuah tanaman besar. Dari sana, ia memiliki pandangan jelas ke arah bar kopi.
Di sana, ia melihatnya. Lin Xia.
Wanita itu mengenakan celemek kain berwarna cokelat tua di atas kaos putih sederhana. Rambutnya diikat cepol asal-asalan, menonjolkan lehernya yang jenjang. Ia tampak sangat sibuk, tangannya bergerak lincah mengoperasikan mesin espresso, sementara mulutnya tak henti-henti berbincang ramah dengan pelanggan.
"Satu latte karamel untuk Bibi Wang! Ini, Bi, kurangi gulanya ya seperti biasa," suara Lin Xia terdengar ceria, sangat berbeda dengan suaranya yang gemetar dan penuh kesedihan saat di kantor.
Seorang pria muda—salah satu pelanggan tetap sepertinya—mendekat ke bar dan menggoda Lin Xia. "Xia, kalau kau terus tersenyum seperti itu, kopinya tidak perlu pakai gula lagi. Sudah manis."
Lin Xia tertawa renyah sambil memukul pelan bahu pria itu dengan lap kain. "Cepat bawa kopimu, jangan merayu di sini atau aku akan menaikkan harganya dua kali lipat!"
Gu Jingshen mencengkeram pinggiran meja kayu di depannya. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya. Cemburu? Tidak mungkin. Ia hanya merasa terganggu melihat bawahannya bersikap begitu akrab dengan orang asing. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa tawa Lin Xia adalah sesuatu yang belum pernah ia lihat di kantor. Tawa itu tulus, ringan, dan entah mengapa... terasa sangat akrab di ingatannya yang hilang.
Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari dan hampir tersandung di dekat bar. Dengan sigap, Lin Xia melompati konter kecil dan menangkap anak itu sebelum jatuh.
"Hati-hati, Sayang," bisik Lin Xia lembut sambil mengusap kepala anak itu. Ia berlutut di lantai, memastikan anak itu tidak terluka. Gerakannya begitu penuh kasih sayang, mengingatkan Gu Jingshen pada cara Lin Xia merawat lukanya di dalam naskah Suzhou.
Kenapa dia selalu peduli pada orang lain? batin Gu Jingshen.
Xiao Li keluar dari dapur sambil membawa nampan kue. "Lin Xia! Ada pelanggan di pojok sana yang belum memesan. Bisa kau datangi?"
Lin Xia berdiri, mengelap tangannya pada celemek, dan berjalan menuju meja paling pojok. Meja tempat Gu Jingshen bersembunyi.
Gu Jingshen menundukkan topinya lebih rendah saat langkah kaki Lin Xia mendekat.
"Selamat malam, selamat datang di Moonlight Script. Ingin pesan apa—" Kalimat Lin Xia terhenti seketika.
Ia membeku di tempat saat melihat sosok pria di depannya. Meski tertutup topi, Lin Xia tidak akan pernah salah mengenali garis rahang yang tegas dan aroma parfum kayu cendana yang mahal itu.
"Tuan... Tuan Gu?" bisik Lin Xia, nyaris tidak terdengar.
Gu Jingshen mendongak, melepas topinya dengan gerakan perlahan yang dramatis. Matanya mengunci mata Lin Xia yang terbelalak. "Kopinya satu. Hitam. Tanpa gula. Dengan aroma kayu manis... seperti yang kau buat kemarin."
Lin Xia menelan ludah. "Kenapa... kenapa Anda di sini?"
"Aku sedang ingin minum kopi yang 'profesional'," jawab Gu Jingshen dengan nada menyindir, namun matanya terus menelusuri wajah Lin Xia yang memerah. "Dan sepertinya, penulis naskahku punya pekerjaan sampingan yang cukup menarik."
Lin Xia segera menarik napas dalam, mencoba mendapatkan kembali ketenangannya. "Ini bisnis saya dan sahabat saya. Jika Anda datang untuk memecat saya karena memiliki pekerjaan sampingan, silakan saja. Tapi saat ini, saya adalah pemilik cafe ini dan Anda adalah pelanggan saya."
Gu Jingshen sedikit terkejut dengan keberanian Lin Xia. "Aku tidak datang untuk memecatmu. Aku hanya... penasaran."
Lin Xia tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik dan menyiapkan pesanan Gu Jingshen. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma kayu manis yang hangat.
Ia meletakkan kopi itu, namun saat hendak menarik tangannya, Gu Jingshen tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Lin Xia. Sentuhan itu membuat kejutan listrik menjalar di tubuh keduanya.
"Duduklah sebentar. Cafe sedang sepi," perintah Gu Jingshen. Itu bukan permintaan, itu adalah perintah mutlak seorang Marsekal.
Lin Xia ragu, namun ia akhirnya duduk di kursi seberang Gu Jingshen.
"Katakan padaku, Lin Xia," suara Gu Jingshen merendah, menjadi sangat intim di antara kebisingan musik jazz pelan di cafe itu. "Kenapa kau begitu yakin kita pernah bertemu di Suzhou? Kenapa kau begitu terobsesi membuatku mengingat sesuatu yang tidak ada?"
Lin Xia menatap mata Gu Jingshen dengan berani, meski hatinya hancur. "Karena bagi saya, itu ada. Karena saat Anda memeluk saya di bawah jembatan batu itu, detak jantung Anda nyata. Karena saat Anda berjanji akan mencari Yanran, suara Anda jujur."
Lin Xia merogoh saku celemeknya dan mengeluarkan sapu tangan putih itu lagi. Ia meletakkannya di atas meja. "Anda mungkin bisa menghapus data di komputer, Tuan Gu. Anda mungkin bisa menghapus ingatan di otak Anda dengan teknologi. Tapi darah di kain ini... dan rasa sakit di hati saya... tidak bisa dihapus."
Gu Jingshen menatap sapu tangan itu. Tiba-tiba, kepalanya terasa berdenyut sangat kencang. Bayangan-bayangan kilat muncul di benaknya: Hujan salju... suara tembakan... rasa hangat di bahu kiri... dan wajah Lin Xia yang menangis.
Ia memegangi kepalanya, wajahnya sedikit pucat.
"Tuan Gu? Anda baik-baik saja?" Lin Xia segera berdiri, ingin membantu, namun ia teringat penolakan Gu Jingshen di kantor. Ia ragu-ragu.
Gu Jingshen mengatur napasnya. "Jangan sentuh aku," desisnya, bukan karena marah, tapi karena ia takut sentuhan Lin Xia akan meruntuhkan seluruh pertahanannya.
Ia berdiri tiba-tiba, meninggalkan lembaran uang kertas di atas meja yang nilainya jauh lebih besar dari harga kopi. "Naskah bab sembilan. Jangan terlambat besok pagi."
Gu Jingshen berjalan keluar dari cafe dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Lin Xia yang berdiri terpaku.
Di dalam mobil, Gu Jingshen menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Tangannya gemetar.
"Ah Cheng, hubungi tim medis Project Mnemosyne," perintah Gu Jingshen dengan suara serak. "Katakan pada mereka... ada data yang tidak terhapus sempurna. Aku ingin tahu apa yang terjadi di 'Rumah Aman Dermaga Barat' dalam naskah itu. Aku ingin tahu setiap detail yang terjadi antara aku dan Lin Xia."
Ah Cheng terkejut. "Tapi Tuan, membuka data terenkripsi itu bisa berisiko pada kesehatan mental Anda—"
"Lakukan saja!" bentak Gu Jingshen.
Ia memejamkan mata. Di dalam kegelapan pikirannya, ia seolah mendengar suara Lin Xia memanggil namanya. Bukan "Tuan Gu", tapi "Jingshen".
Sementara itu, di dalam cafe, Lin Xia mengambil cangkir kopi yang ditinggalkan Gu Jingshen. Cangkir itu masih hangat. Ia memeluk cangkir itu, air matanya jatuh ke dalam cairan hitam pekat tersebut.
"Dia mulai merasa," bisik Lin Xia pada dirinya sendiri. "Aku tahu dia mulai merasa."
[Waktu: Rabu, 22 April, Pukul 23.00 PM]
[Lokasi: Apartemen Mewah Gu Jingshen, Shenzhen]
Gu Jingshen berdiri di balkon apartemennya, memandangi gemerlap lampu kota Shenzhen. Di tangannya, ia memegang sebuah fail rahasia yang baru saja dikirim oleh Ah Cheng. Fail itu berisi rekaman audio mentah dari sesi wahana Suzhou.
Ia menekan tombol play.
Suara Lin Xia terdengar, terisak pelan: "Aku takut, Jingshen... aku takut jika aku membuat kesalahan lagi di naskah itu, kau benar-benar akan menghilang."
Lalu, terdengar suaranya sendiri, begitu lembut dan penuh janji: "Aku tidak akan pergi ke mana pun. Kita akan keluar dari sini bersama-sama. Aku berjanji."
Gelas di tangan Gu Jingshen jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai balkon. Ingatannya meledak. Semua emosi, rasa cinta, dan rasa ingin melindungi yang ia rasakan di Suzhou menghantamnya seperti tsunami.
"Lin Xia..." bisik Gu Jingshen, suaranya pecah. "Apa yang telah kulakukan padamu?"
...****************...