NovelToon NovelToon
ASI Anak SMA

ASI Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia / Bad Boy / Perjodohan / Keluarga / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:22.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malamfeaver

___

"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.

"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah

"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab. 21 A&V

Malam terakhir sebagai seorang gadis lajang terasa begitu mencekam bagi Vanya. Di luar jendela penthouse, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip seperti berlian, namun di dalam kamar utama, suasananya jauh lebih panas.

Vanya berbaring di tengah ranjang besar yang sudah bertabur kelopak mawar. Di sampingnya, Aiden sudah melepaskan kemejanya, menyisakan tubuh atletis yang membuat Vanya semakin gugup.

​"Kak... hiks... pelan-pelan,"

isak Vanya manja. Air matanya menetes membasahi bantal sutra.

"Ini malam terakhir aku jadi anak Papa... besok udah jadi istri Kakak. Aku takut..."

​Aiden tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia justru merapat, menyandarkan kepalanya di bahu Vanya. Tangannya yang besar melingkar protektif di pinggang ramping Vanya.

"Gue nggak akan minta lebih malam ini, Vanya. Gue cuma mau asupan gue. Lo udah penuh banget, jangan ditahan, nanti sakit."

​Vanya merengek kecil saat Aiden mulai mencari kenyamanannya.

Rasa sesak di dada Vanya perlahan memudar, berganti dengan sensasi aneh yang membuatnya lemas. Di tengah isakannya, Vanya akhirnya tertidur karena kelelahan emosional.

Sementara itu, Aiden tetap terjaga sejenak, menikmati setiap detak jantung Vanya yang bersentuhan dengan kulitnya, hingga ia pun terlelap dalam posisi yang sangat intim kepalanya bersandar tepat di sumber asupannya, persis seperti bayi yang tak mau lepas dari dekapan ibunya.

​Kamis, Pukul 05.00 WIB

​Tok! Tok! Tok!

​"Vanya! Aiden! Ayo bangun, Nak! Penata riasnya sudah sampai di bawah!"

suara Mama Olivia terdengar dari balik pintu, disusul suara Mami Bella yang tertawa kecil.

​Vanya tersentak bangun. Jantungnya hampir copot saat menyadari posisi mereka. Aiden masih tertidur pulas dengan tangan yang memeluknya erat, dan bibirnya masih bergerak-gerak kecil secara tidak sadar sebuah pemandangan yang sangat intim dan memalukan jika sampai terlihat orang lain.

​"Kak! Bangun! Mama sama Mami udah datang" bisik Vanya panik sambil mengguncang bahu Aiden.

​Aiden mengerang, matanya terbuka perlahan, menatap Vanya dengan tatapan sayu yang sangat dalam. Ia memberikan kecupan singkat di kening Vanya sebelum akhirnya bangkit.

"Iya, Ma! Bentar lagi keluar!"

teriak Aiden dengan suara serak khas bangun tidur.

​Mereka berdua segera mandi secara bergantian. Setelah selesai, Vanya dibawa oleh Mama Olivia menuju ruang rias darurat yang sudah disiapkan di ruang tengah.

sementara Aiden dibawa oleh Mami Bella ke ruang kerja untuk memakai setelan beskap putihnya.

​Di ruang rias, Vanya tak henti-hentinya menangis. Maskara yang baru saja diaplikasikan nyaris luntur berkali-kali.

​"Sayang, jangan nangis terus. Nanti matanya bengkak, nggak cantik pas difoto,"

bujuk Mama Olivia sambil memegang tangan Vanya yang gemetar.

​"Aku takut, Ma... gimana kalau Vanya nggak bisa jadi istri yang baik? Gimana kalau nanti Vanya malah bikin malu Kak Aiden?"

rengek Vanya sesenggukan.

​Di sisi lain, di ruang kerja, suasana sangat berbeda. Mami Bela sedang membetulkan kerah beskap Aiden yang terlihat sangat gagah. Wajah Aiden bersih tanpa beban, bahkan ada gurat kepuasan yang tidak bisa ia sembunyikan.

​"Kamu seneng banget ya? Calon istrimu di sana nangis-nangis ketakutan, kamu malah senyum-senyum,"

goda Mami Bella.

​Aiden terkekeh.

"Dia emang gitu, Mi. Manja. Tapi itu yang bikin Aiden nggak mau lepas."

​Pukul 10.00 WIB.Akad Nikah

​Ruang tamu apartemen sudah disulap menjadi tempat akad nikah yang sangat elegan. Hanya ada kursi untuk keluarga inti dan meja untuk penghulu. Secara rahasia, Aiden mengijinkan Bagas untuk datang, dan Vanya pun meminta Elsa hadir untuk menemaninya.

Mereka berdua duduk di pojok, bersembunyi agar tidak terlalu mencolok bagi para orang tua.

​Aiden duduk di depan meja akad dengan tenang.

Di depannya, Papa Airlangga sudah siap menjabat tangannya sebagai wali nikah. Tak lama, Vanya keluar didampingi oleh Mama Olivia dan Mami Bella. Vanya terlihat sangat luar biasa cantik dengan kebaya putih modern.

​Mata Aiden tidak berkedip menatap Vanya. Ada binar kebanggaan di sana.

​"Saya terima nikah dan kawinnya Vanya Gabriella binti Airlangga Saputra dengan mas kawin tersebut, tunai!"

ucap Aiden dengan satu napas, lantang dan tegas.

​"Sah?"

tanya penghulu.

​"SAAAHHH!"

teriak Bagas paling kencang dari pojok ruangan, membuat Papi Andi menoleh tajam namun tersenyum.

Elsa di samping Bagas ikut bertepuk tangan haru sambil mengusap air mata.

​Vanya dipersilakan duduk di samping Aiden. Tangannya gemetar hebat saat menyalami tangan suaminya. Aiden memegang tangan Vanya, lalu mengecup kening istrinya itu dengan waktu yang cukup lama.

​"Selamat datang di hidup gue seutuhnya, vanya"

bisik Aiden tepat di telinga Vanya.

​Setelah prosesi sungkeman yang penuh tangis haru kepada orang tua, mereka melakukan sesi foto bersama. Bagas yang dasarnya tidak tahu malu, berteriak lagi saat sesi foto berdua.

​"Woy, Den! Cium dong! Masa cuma pegangan tangan doang! Gas pol lah!"

teriak Bagas heboh.

​Mendengar itu, Aiden yang memang sudah tidak sabar sejak tadi, langsung menarik pinggang Vanya. Di depan para orang tua, penghulu, dan saksi, Aiden mendaratkan ciuman dalam di bibir Vanya.

Vanya membulatkan matanya kaget, namun akhirnya ia luluh dan membalas ciuman itu dengan malu-malu.

​"Aiden! Sudah, sudah Malu dilihat Pak Penghulu"

tegur Mami Bella sambil tertawa kecil, menutup mata Vino yang ikut melihat.

​Vanya menyembunyikan wajahnya di dada Aiden, merasa sangat malu sekaligus bahagia. Elsa dari kejauhan mengacungkan jempol sambil memotret momen itu dengan ponselnya diam-diam.

​Malam Hari Unit Penthouse Hanya Berdua

​Setelah semua keluarga pulang dan teman-temannya pergi, apartemen kembali sunyi. Vanya masih memakai kebaya lengkap namun rambutnya sudah diurai. Ia duduk di pinggir kasur, menatap cincin emas yang melingkar di jari manisnya.

​Aiden masuk ke kamar, sudah mengganti bajunya dengan kaos polos hitam. Ia menutup pintu dan menguncinya.

Cklek.

​Vanya menoleh dengan wajah was-was.

"Kak... capek..."

​Aiden berjalan mendekat, melepaskan kaosnya.

"Capek? Tadi di depan Bagas lo kayaknya semangat banget bales ciuman gue."

​"Ih! Itu kan karena aku kaget!"

seru Vanya dengan panggilan Aku yang kini terdengar lebih manis di telinga Aiden.

​Aiden duduk di depan Vanya, menarik kedua tangan istrinya itu.

"Mulai malam ini, gue nggak perlu ijin siapa-siapa lagi kalau mau ambil asupan gue. Dan lo... lo harus siap karena gue nggak akan selembut semalam."

​Vanya merona hebat. Ia tahu, mulai malam ini hidup manjanya akan bercampur dengan gairah suaminya yang tak pernah terpuaskan.

​"Aku... aku sayang Kak Aiden,"

bisik Vanya sambil memeluk leher suaminya.

​Aiden tersenyum miring, lalu merebahkan Vanya di atas ranjang bertabur mawar itu.

"Gue jauh lebih sayang sama lo, Vanya. Dan gue haus sekarang."

1
Enz99
menarik
cepat wushh
Suka nih yang genre begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!