Anara Kamala Alice tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya berubah selamanya di malam ulang tahunnya yang ke-23. Impiannya menjadi dokter hancur seketika ketika ia mendapati dirinya hamil di luar nikah—sebuah aib yang merenggut segalanya: beasiswa, pendidikan, dan kehormatan keluarganya.
Di tengah tekanan itu, ia terpaksa menikah dengan Alan Ravindra Sanjaya, pria yang bertanggung jawab atas kehamilannya. Alan, yang sebenarnya tunangan kakaknya, memperlakukannya dingin dan penuh kebencian. Keluarga Alan pun tak pernah menerima kehadirannya. Alan bukan hanya tunangan kakaknya, tapi juga calon jaksa besar yang dihormati. Namun, pernikahan itu jauh dari kata bahagia. Identitas Nara sebagai istri Alan disembunyikan dari publik, dan sikap Alan yang dingin membuatnya merasa terasing
Tapi di balik semua itu, ada rahasia besar yang perlahan terungkap—sebuah pengkhianatan yang tak pernah ia bayangkan datang dari orang terdekatnya. Sementara Alan mulai menyadari perasaan yang selama ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phoebeee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alan Tidak Peduli
Nara tersenyum tipis melakukan kegiatan yang sangat ia sukai. Seperti saat ini dirinya bisa melakukan aktivitas yang ia mau dan tentu itu juga dapat membuat baby senang.
“Wah cookies Non teh, enak banget. Bibi suka,”ujar Bi Rena kepada Nara yang sedang mencicipi cookies buatanya.
Senyum Nara semakin lebar saat mendengar pujian yang diberikan oleh Bi Rena. Sore begini adalah waktu yang menyenangkan untuk berkreasi apalagi dirinya sangat menginginkan cookies dari sejak arisan yang diadakan oleh Mama mertuanya.
Cookies yang ia buat di hari arisan Mama mertuanya itu sudah habis begitu saja bahkan dirinya sama sekali belum dapat mencobanya. Ia juga mendengar dari jauh bahwa tamu undangan Mama menyukai cookies buatanya dan itu semakin membuat ia bersemangat membuat cookies kesukaanya.
“Makasih Bi, aku emang lagi ngidam banget mau cookies ini. Kemarin pas arisan Mama aku belum sempat makan cookies aku dan sekarang akhirnya kesampaian juga.” riang Nara sembari memasukan kue ke dalam mulutnya.
Nara tersenyum sesekali mendengar curhatan Bibi kepada dirinya, bagaimana Bibi menceritakan anaknya yang ada di kampung juga menceritakan cucunya yang sudah semakin besar di kampung. Melihat senyum Bibi juga sontak membuat Nara tersenyum lebar.
“Heh, ngapain kalian?”
Nara dan Bi Rena tersentak mendengar suara panggilan keras dari orang yang baru saja datang. Nara menolehkan kepalanya memfokuskan melihat ke arah Mama mertuanya yang baru saja datang masuk ke dapur.
“Bikin apa kalian? Cookies? Siapa yang bikin?”
Nara dan Bi Rena terdiam mendengar suara ketus dari Mama mertuanya. Ia menoleh ke samping melihat ke arah Bi Rena yang menundukan kepala takut akan kena amukan dari Dwi.
“Na-nara Ma- eh Tan,” ujar Nara dengan gugup
Dwi mendengus pelan mendengar suara Nara, ia kemudian merebut cookies yang ada di tangan Nara dan memakanya. Nara hanya diam memerhatikan bagaimana reaksi Mama mertuanya.
Dwi terdiam merasakan cookies buatan Nara, Ia kemudian menatap Nara yang juga menatap dirinya dengan cemas.
“Apa-apaan cookies kamu ini? Rasanya sama sekali ga enak! kemarin waktu arisan kamu juga yang buatkan cookiesnya? kamu tau, para tamu komplain ke saya kalo cookies buatan kamu ga enak, hambar, dan saya ga su.ka!” ujar Dwi dengan nada penuh penekananya.
Nara terdiam, dirinya menatap Mama mertuanya dengan berkaca-kaca. Padahal Nara sudah sedari siang membuat adonan, kemudian mencetaknya dengan penuh perjuangan namun mendengar komentar pedas yang diberikan oleh Mama mertuanya entah kenapa membuat Nara merasa sesak dan sedih. Apa ini faktor hormon hamilnya?
“Ma-ma, tapi rasanya ga seburuk itu kok. Nara udah coba, bahkan tamu Mama kemarin juga puji cookies buatan Nara,” ujar Nara membela.
Dwi menatap Nara dengan tajam kemudian merebut toples cookies semua yang sudah dibuat oleh Nara.
“Mereka bohong! Cookies kamu ga enak! Saya ga suka, kamu buat begini kamu kira ga butuh bahan hah? kamu kira beli bahanya ga pake uang hah?” tanya Dwi dengan marah.
Mata Nara menatap penuh was-was saat melihat Dwi yang telah mengambil setoples cookiesnya itu berjalan menuju tong sampah dekat wastafel kemudian dengan tidak ada hatinya ia-
“Mama!!Kenapa Mama buang cookies Nara?” tanya Nara yang langsung berdiri dari kursinya merebut toples yang masih di tangan Dwi.
Dwi mengabaikan Nara bahkan ia semakin membuat semua cookies yang ada di dalam toples tersebut ke dalam tong sampah hingga terbuang tanpa sisa.
“Mama!”
Nara tersentak, jika kalian menganggap bahwa yang memanggil mertuanya itu adalah dirinya kalian salah melainkan sosok lain yang baru saja datang ke dapur.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Dwi menatap Akan yang baru saja pulang dari kantor.
“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya Alan melihat sekitarnya. Ia memutar pandangannya melihat dapur yang tampak berantakan juga Mama dan Nara yang saling berhadapan di depan tong sampah. Matanya bahkan tanpa sengaja bertemu dengan mata sendu Nara yang berkaca-kaca
Ada apa yang terjadi? Batin Alan.
“Gadis kampungan ini sudah mempermalukan Mama!” ujar Dwi dengan lantang kepada Alan sembari menunjuk Nara dengan muka kesalnya.
“Emangnya apa yang sudah diperbuat oleh Nara?” tanya Alan dengan bingung.
“Ia tidak pandai masak! entah darimana kamu mendapatkan gadis kampungan ini bahkan buat cookies saja dia tidak bisa!” ujar Dwi dengan kasar.
Nara menggelengkan kepalanya, dirinya menatap kearah Alan mengatakan, “Tidak, cookies Nara enak, tapi jika memang Tante tidak suka Nara minta maaf. Cookies Nara jangan dibuang.” Nara melihat ke arah tong sampah dengan tatapan sendunya.
“Cookies Non Nara enak,” ujar Bi Rena yang tiba-tiba berbicara.
Dwi menatap tajam Bi Rena mengatakan, “Berani kamu melawan saya? Lihat! Lihat Alan! Gadis kampungan kamu bahkan sudah berani mempengaruhi Bi Rena!”
Dwi marah kemudian dirinya mendorong Nara. “Entah apa yang kamu lihat dari gadis kampungan ini! Kenapa juga kamu harus menghamili dia!” tunjuk Dwi kepada Nara berjalan keluar meninggalkan dapur dengan hening.
Alan mengerutkan alisnya, suasana dapur hening seketika ketika kepergian Mamanya yang ia dengar terisak Nara yang menatap ke arah dalam tong sampah.
Mata Alan terbelalak saat Nara memasukan tanganya ke dalam tong sampah dan mengambil cookies yang sudah ia buat itu. Alan bergerak cepat berjalan menuju Nara dan mengambil cookies yang dipungut kembali oleh Nara.
“Kenapa kamu ambil? Nara mau cookies,” ujar Nara lirih melihat cookies yang ada di tanganya tadi berpindah tangan kepada Alan.
Alan terdiam, dirinya menatap Nara yang berusaha menghentikan tangisan yangterdengar suara tersungut-sungut sehabis menangis dari wanita itu. Nara berusaha menahan tangisnya agar tidak menangis di depan Alan.
ia tidak mau terlihat lemah!
“Kembalikan!” ujar Nara dengan penuh perintah hendak merebut kembali cookies tersebut namun gagal, Alan berhasil menghindari tanganya. Nara mendongakkan kepalanya ke atas hingga matanya bertemu langsung dengan mata elang Alan.
“Kotor,” ujar singkat Alan
Nara mengabaikan perkataan Alan dengan gerakan cepat dirinya berhasil mengambil cookies yang ada di dalam tong sampah kembali dan memasukan ke dalam mulut.
Alan terbelalak, tanganya seketika langsung membuang cookies yang ada di tanganya tadi dan dengan segera ia menarik dagu Nara berusaha membuka mulut Nara yang tertutup.
Walau menggunakan cara kasar Alan berhasil mengambil cookies dalam mulut Nara dan membuangnya.
“Aaa hiks, kenapa di buang? Alan jahat, Nara sudah lelah membuatnya sedari tadi siang. Nara mau cookies”
Alan memperhatikan Nara yang tersedu-sedu, matanya yang berkaca-kaca dengan pipi yang berisi dan hidung merah berair.
Lucu
Nara masih terisak dan Alan senang memperhatikan bagaimana Nara yang mengemaskan saat menangis itu, namun seketika dirinya tersentak sadar menggelengkan kepalanya berkali-kali, menghalau pemikiranya yang konyol yang ada di kepalanya.
Lucu?
“Kotor, tidak higienis, ibu hamil harus makan yang benar,” ujar Alan dengan santai kemudian pergi meninggalkan Nara yang masih menunduk menangis.
Nara tidak bisa menahan emosinya, hormonya yang tidak stabil membuat dirinya gampang sensitif.
Alan melihat ke arah Bi Rena dan memberikan kode agar Bi Rena menenangkan Nara yang terisak. Bi Nara menganggukan kepalanya paham akan kode yang diberikan oleh Den Alan, pria yang sudah pergi naik ke lantai atas.
"Alana" alan-nara nama yg indah
makasih thor untuk extra part nyaa
di tunggu karya baru nyaa..
sukses slalu...
inilah last chapter dari buku ini, semoga kalian sukanya.
dengan ini aku menyatakan bahwa buku ini sudah tamat
maaf sepertinya tidak ada seos 2 karena aku berpikir lebih baik cukup di sini dan juga rencananya ak mau nulis buku baru.
jadi bagi kalian nyari cerita baru boleh ke buku baru aku yaa.
aku bakal mulai update minggu depan
terima kasih guys always waiting this story ❤ love you
Kalau Bisa SEASON 2 KU BERHARAP ADA THOR 😍😍😍😭😭😭😭❤️❤️💚❤️❤️