Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lorong Gelap
Mobil kemudian berbelok masuk ke sebuah gang sempit di samping gedung pencakar langit milik perusahaan Arash. Ini adalah jalur logistik, tempat truk pengangkut barang dan staf dapur berlalu-lalang. Arash menghentikan mobilnya di dekat sebuah pintu besi abu-abu yang tersembunyi dari pandangan lobi utama.
"Turun di sini," ujar Arash tanpa menatapnya. Matanya kembali lurus ke depan, seolah-olah Raisa hanyalah penumpang gelap yang harus segera ia turunkan. "Masuklah lewat lift barang di sebelah kiri. Jangan sampai ada staf HRD yang melihatmu keluar dari sini."
Raisa membuka sabuk pengamannya dengan gerakan terburu-buru. Ia meraih tasnya dan bersiap membuka pintu. "Terima kasih atas tumpangannya, Pak Arash. Saya akan segera menyerahkan laporan administrasi ke meja Anda."
Saat Raisa hendak keluar, tangan Arash tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. Sentuhan itu panas dan kuat, membuat Raisa membeku di tempat.
"Pakai ini," Arash memberikan sebuah payung lain yang lebih kecil dari kursi belakang. "Jangan masuk ke kantorku dengan keadaan basah kuyup seperti tikus got. Itu merusak pemandangan."
Raisa mengambil payung itu tanpa suara. Ia tidak tahu apakah itu bentuk kepedulian atau hanya penghinaan terselubung. Ia segera keluar, menutup pintu mobil dengan pelan, dan berlari kecil menuju pintu belakang gedung.
Arash memerhatikan bayangan Raisa melalui kaca spion sampai wanita itu menghilang di balik pintu besi. Ia memukul setir mobilnya dengan pelan, merasa frustrasi pada dirinya sendiri karena entah mengapa, ia merasa tidak rela melihat Raisa harus mengendap-endap seperti seorang pencuri di perusahaannya sendiri.
"Hanya kontrak, Arash. Jangan bodoh," gumamnya pada diri sendiri sebelum memutar kemudi menuju lobi utama, tempat karpet merah dan penghormatan setinggi langit telah menantinya sebagai sang Raja.
Di sisi lain, Raisa berhasil masuk ke area lift barang, sebuah lorong servis yang remang-remang, hanya diterangi lampu neon yang berkedip-kedip dan berbau pembersih lantai yang tajam.
Raisa mempercepat langkahnya, berusaha menyembunyikan payung hitam kecil dengan gagang perak berukir logo eksklusif "V-Dirgantara" di balik tas kerjanya yang agak basah.
"Satu belokan lagi, lalu lift barang, dan aku aman," bisiknya, meyakinkan diri sendiri.
Namun, tepat saat ia berbelok di persimpangan menuju gudang logistik, sebuah bayangan muncul dari arah ruang pantri staf.
"Raisa?"
Langkah Raisa membeku. Jantungnya mencelos seolah-olah lantai di bawah kakinya tiba-tiba menghilang. Ia menoleh perlahan dan mendapati Vino, senior dari tim marketing yang terkenal ramah namun memiliki mata setajam elang, berdiri di sana dengan satu tangan memegang gelas kopi.
"Pak ... Pak Vino," suara Raisa sedikit bergetar. Ia refleks menarik tasnya lebih rapat ke sisi tubuh, mencoba menutupi payung itu. "Sedang apa di sini? Bukannya ruang marketing ada di sayap timur?"
Vino menyipitkan mata, berjalan mendekat dengan langkah santai yang terasa mengintimidasi bagi Raisa. "Tadi ada masalah dengan mesin kopi di pantri atas, jadi aku turun ke sini. Tapi yang lebih penting ... kenapa kamu lewat jalur belakang? Dan kenapa kamu basah kuyup begini?"
"Tadi ... busnya mogok karena banjir, Pak. Aku terpaksa jalan kaki dari halte belakang dan lewat sini karena pintu belakang lebih dekat," Raisa memberikan alasan yang sudah ia siapkan, meski suaranya terdengar tidak meyakinkan.
"Begitu ya?" Vino manggut-manggut, namun matanya tidak lepas dari tas Raisa. Tiba-tiba, ia menunjuk ke arah benda yang menyembul dari balik tas wanita itu. "Itu ... payung yang kamu bawa."
Raisa menegang. "Oh, ini ... payung biasa."
"Boleh aku lihat?" Tanpa menunggu jawaban, Vino sedikit membungkuk. "Gagang perak itu ... aku tidak salah lihat, kan? Itu koleksi terbatas dari peluncuran mobil mewah seri The King bulan lalu. Hanya para pemegang saham dan petinggi perusahaan yang punya suvenir itu. Bahkan aku yang di tim marketing saja tidak kebagian."
Darah seolah tersedot dari wajah Raisa. Ia merasa seluruh tubuhnya mendingin. "I-ini ... ini hanya pemberian. Sepupuku bekerja sebagai supir di salah satu diler mobil, dia memberikannya padaku karena payungku rusak."
Vino mengangkat alis, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sulit diartikan. Ia melangkah satu tahap lebih dekat, membuat Raisa terpojok ke dinding lorong.
"Sepupumu supir diler, tapi bisa dapat payung dengan inisial 'A.V.D' di bagian bawah gagangnya?" Vino berbisik, matanya menatap tajam ke arah gagang perak yang kini terlihat jelas karena Raisa terlalu gemetar untuk menyembunyikannya. "Raisa, 'A.V.D' itu inisial Pak Arash. Arash V. Dirgantara."
Keheningan yang mencekik menyergap mereka. Suara tetesan air dari baju Raisa ke lantai terdengar begitu nyaring di telinganya.
"Pak, tolong ... jangan salah paham," Raisa berusaha mengatur napasnya yang mulai memburu.
Vino kembali tegak, ia menyesap kopinya perlahan sebelum berkata, "Aku tidak tahu hubungan apa yang kamu punya dengan bos besar kita yang dingin itu, Raisa. Tapi satu saran dariku ... simpan payung itu baik-baik. Kalau staf HRD atau sekretaris Pak Arash yang melihat, kamu tidak akan punya kesempatan untuk beralasan soal sepupu supir."
Vino menepuk bahu Raisa pelan, lalu berjalan pergi meninggalkan Raisa yang masih terpaku di sana dengan lutut yang terasa lemas.
"Dan satu lagi," Vino menoleh sedikit tanpa menghentikan langkahnya. "Cepatlah ke meja kerjamu. Pak Arash sudah sampai lima menit yang lalu. Dia tidak suka karyawannya terlambat, apalagi dengan alasan bus mogok."
Raisa hanya bisa menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin setelah Vino menghilang di balik pintu. Ia menatap payung di tangannya dengan perasaan benci sekaligus takut. Benda yang seharusnya melindunginya dari hujan, kini justru menjadi ancaman yang bisa menghancurkan hidupnya dalam sekejap.
Sementara itu Arash duduk di kursi kebesarannya, namun matanya tidak tertuju pada tumpukan berkas di atas meja marmernya. Tatapannya terkunci pada layar monitor tersembunyi yang menampilkan siaran langsung CCTV dari berbagai sudut gedung.
Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang semakin cepat saat ia melihat siluet Raisa di layar monitor sudut lorong servis. Ia mengawasi bagaimana wanita itu tampak rapuh dan kedinginan, namun seketika rahang Arash mengeras saat sosok lain muncul di layar.
Vino.
Arash menyandarkan punggungnya, matanya menyipit tajam. Dari sudut kamera, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Vino memangkas jarak, memojokkan Raisa ke dinding lorong yang sempit. Arash bisa melihat gerakan tubuh Vino yang condong ke arah istrinya—sebuah gestur yang menurutnya sangat tidak sopan bagi seorang senior kepada bawahan.
"Apa yang kau lakukan, Raisa? Kenapa kau tidak mendorongnya?" desis Arash pelan, suaranya bergetar karena emosi yang ia sendiri tak mengerti asalnya.
Di layar, Arash melihat Vino menyentuh bahu Raisa. Genggaman Arash pada pulpen mahalnya menguat hingga buku-buku jarinya memutih. Ada rasa panas yang menjalar di dadanya melihat tangan pria lain menyentuh wanita yang secara hukum adalah miliknya. Meski pernikahan mereka hanya kontrak, bagi Arash, harga dirinya terusik melihat "properti" miliknya diperlakukan dengan begitu akrab oleh orang lain.
"Beraninya dia!" gumam Arash.