Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Pangeran yang Pemarah VS Tahanan yang Tidak Mau Diam
Di tempat lain…
jauh dari langkah Kiara dan Sky yang masih tersesat di dunia lembayung…
jiwa Bima terkurung dalam penjara ghaib.
Ruangan itu menyerupai gua batu raksasa yang berdenyut seperti makhluk hidup. Dindingnya hitam legam, berurat merah seperti bara yang menyala pelan di dalam batu. Rantai-rantai tebal terbuat dari logam hitam menjulur dari langit-langit dan menancap ke tanah, bergetar setiap kali suara langkah terdengar.
Di tengah ruangan…
Bima tergantung setengah duduk, kedua tangannya terikat ke belakang dengan rantai berukir simbol aneh. Kakinya diseret oleh belenggu yang tertanam langsung ke tanah.
Tubuhnya dipenuhi luka lebam.
Napasnya berat.
Setiap tarikan udara terasa seperti menelan pecahan kaca.
Seorang penjaga, sosok tinggi dengan kulit abu-abu dan mata kosong menendang perutnya keras.
“Ugh-!” Bima tersedak, tubuhnya terlipat.
Penjaga lain memukul bahunya dengan tongkat besi hitam. Dentingannya menggema ke seluruh ruangan.
Tapi di tengah rasa sakit…
Bima tertawa kecil.
“Serius?” gumamnya serak. “Itu pukulan terbaik kalian?”
Salah satu penjaga mendesis marah dan mengangkat tongkatnya lagi-
“Cukup.”
Suara berat itu memotong udara seperti pisau.
Semua penjaga langsung mundur.
Langkah pelan terdengar mendekat.
Dari balik bayangan… Muncul seorang pria tinggi. Tubuhnya kekar, kulitnya sawo matang, rambut hitam panjang terurai sampai punggung. Wajahnya tampan… Tapi dingin. Matanya merah menyala seperti bara api yang siap melahap apa pun.
Dialah Bara.
Pangeran dari bangsa genderuwo.
Ia berhenti tepat di depan Bima.
Menatapnya dari atas ke bawah dengan ekspresi tidak terbaca.
“Masih tidak menyerah juga ya?” ujarnya tenang. “Tekadmu cukup kuat… Untuk makhluk dari dunia fana.”
Bima mengangkat wajahnya pelan.
Darah mengalir dari pelipisnya.
Ia berdecih lemah. “Haha… Mungkin bukan aku yang kuat…”
Ia meludah darah ke tanah.
“Tapi kalian saja yang lemah. Menculik manusia tanpa sebab menandakan seberapa hinanya makhluk seperti kalian.”
Ruangan langsung hening.
Mata Bara menyipit.
“Diam!” hardiknya.
Aura panas menyebar dari tubuhnya. Rantai di sekitar Bima bergetar.
“Kau yang sudah merebut kekasihku,” lanjut Bara, suaranya berubah murka, “Dan kau merasa tidak bersalah sama sekali. Manusia tidak tahu diri.”
Bima mengangkat alis meski wajahnya nyaris tak bisa digerakkan. “Aku bahkan tidak tahu siapa yang kau maksud.”
“Bohong!” bentak Bara. “Wanita yang selalu datang ke mimpimu itu adalah Laras. Putri dari bangsa kuntilanak yang telah dijodohkan denganku. Dan kau… Telah merebut perhatiannya.”
Bima terdiam sesaat.
Lalu… Ia tertawa pelan.
“Jadi… Aku diculik karena… Seseorang yang muncul di mimpiku?” gumamnya. “Aku pikir itu cuma bunga tidur.”
Tatapan Bara berubah lebih gelap.
“Kau terlalu berlebihan,” lanjut Bima santai. “Aku bahkan nggak tahu dia nyata.”
Bara meraih dagu Bima kasar, memaksanya menatap lurus.
“Laras tidak pernah tertarik pada manusia,” desisnya. “Sampai kau muncul.”
Bima menahan sakit. “Ya… Mungkin dia cuma bosan sama kamu.”
Rantai di tubuhnya langsung menyala merah.
Arus panas menjalar ke lengannya.
Bima menahan teriakannya… Meski napasnya pecah.
Bara mendekatkan wajahnya. “Jangan uji kesabaranku.”
“Kesabaranmu tipis sekali,” balas Bima serak. “Baru segini sudah emosi.”
Penjaga di belakang Bara terkekeh… Lalu langsung diam ketika Bara menoleh tajam.
Pangeran itu melangkah mundur, menatap Bima seolah sedang menilai sesuatu.
“Kau tidak takut mati?” tanyanya.
Bima mengangkat bahu sebisanya. “Takut. Tapi kalau aku mati sambil bikin kau kesal… rasanya lumayan sepadan.”
Salah satu penjaga hampir tertawa lagi.
Bara mengangkat tangan.
Penjaga itu langsung terlempar ke dinding tanpa disentuh.
Sunyi kembali.
Bara kembali menatap Bima. “Kau tidak mengerti… Laras adalah milikku. Sejak lama.”
Bima menghela napas pelan. “Kalau dia benar-benar milikmu… Kenapa dia datang ke mimpiku?”
Pertanyaan itu membuat mata Bara berkilat.
Beberapa detik ia tidak menjawab.
Bima melanjutkan, “Mungkin… Dia cuma butuh seseorang yang tidak menganggapnya sebagai… Barang yang harus dimiliki.”
Aura ruangan berubah dingin.
Bara berjalan memutar di sekitar Bima seperti predator.
“Kau pikir kau istimewa?” katanya pelan. “Kau hanya manusia biasa.”
“Benar,” balas Bima. “Makanya aku heran… Kenapa kau sampai segini cemburunya.”
Bara berhenti tepat di belakangnya.
Tangannya menyentuh rantai.
Rantai itu mengencang… Menarik tubuh Bima sampai hampir terangkat.
“Karena,” bisik Bara di telinganya, “Dia menolak menyentuhku… Tapi menyebut namamu dalam tidurnya.”
Bima terdiam.
Untuk pertama kalinya… Ia tidak langsung menjawab.
Bara melepas rantai.
Tubuh Bima jatuh lemas.
Pangeran itu berjalan ke depan lagi. “Aku ingin melihat… Seberapa kuat kau bertahan sebelum akhirnya memohon mati.”
Ia memberi isyarat.
Dua penjaga maju… Memukul Bima lagi.
Pukulan demi pukulan.
Suara tulang beradu dengan besi menggema di gua.
Tapi di tengah rasa sakit…
Bima masih sempat tersenyum tipis.
“Serius…?” gumamnya. “Aku pernah ikut latihan bela diri… ini… masih di bawah standar.”
Penjaga menghantam wajahnya lagi.
Darah mengalir deras.
Bara memperhatikan tanpa ekspresi.
Akhirnya ia mengangkat tangan. “Cukup.”
Penjaga mundur.
Bima terengah-engah… Kepalanya terkulai.
“Kenapa tidak kau bunuh saja?” tanyanya pelan.
Bara menatapnya. “Karena kematianmu terlalu mudah.”
Ia mendekat lagi. “Aku ingin kau melihat… Bagaimana Laras akhirnya kembali padaku.”
Bima tersenyum lemah. “Kedengarannya… Kau nggak terlalu percaya diri.”
Bara menatapnya dingin.
“Bahkan kalau aku mati,” lanjut Bima, “Kalau dia nggak mencintaimu… Ya tetap nggak akan berubah.”
Rantai bergetar lagi.
Tapi kali ini… Bara menahan diri.
Ia menghela napas pelan… lalu berbalik.
“Kunci dia lebih dalam,” perintahnya pada penjaga. “Perkuat segelnya. Aku merasakan… Ada manusia lain yang mencoba masuk ke wilayah ini.”
Jantung Bima berdegup.
‘Kiara…?’ pikirnya samar. Nama yang selalu ada di benaknya. Nama yang menjadi alasannya tetap bertahan hingga sejauh ini.
Penjaga menarik rantai.
Simbol-simbol hitam muncul di lantai, membentuk lingkaran sihir yang menyala merah.
Energi dingin menekan tubuh Bima.
Ia menggertakkan gigi… Menahan teriakannya.
Bara berhenti di pintu gua.
Ia menoleh sekali lagi.
“Manusia,” katanya pelan. “Jika temanmu datang… Ia hanya akan menyusul penderitaanmu.”
Bima mengangkat wajahnya yang berdarah… dan tersenyum tipis.
“Kalau dia datang… Kau yang harus takut. Dia lumayan galak loh”
Mata Bara menyala.
Lalu ia pergi.
Pintu batu raksasa menutup dengan suara gemuruh.
Ruangan kembali sunyi.
Hanya tersisa suara napas Bima yang berat… dan rantai yang berderit pelan.
Ia memejamkan mata.
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tapi di tengah gelap… Ia merasa sesuatu.
Hangat.
Jauh… Tapi nyata.
Seperti seseorang… Sedang mencarinya.
Bima tertawa kecil meski bibirnya pecah.
“Kiara…” bisiknya lirih. “Kalau itu beneran kamu... Kamu benar-benar nekat…”
Ia membuka mata lagi.
Menatap langit-langit gua yang berdenyut seperti jantung monster.
“Kalau kamu datang ke sini…” gumamnya pelan, “Aku harus bertahan… Setidaknya cukup lama buat nyebelin mereka lagi.”
Rantai kembali menegang.
Simbol di lantai menyala lebih terang.
Dan di dalam penjara ghaib yang semakin diperkuat…
Permainan antara manusia keras kepala…
dan pangeran dunia kegelapan…
Baru saja dimulai.