NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Mekanik Kecil

Pintu baja berat itu berderit pelan, mengeluarkan aroma pelumas mesin yang hangat dan debu logam yang telah mengendap bertahun-tahun. Li Wei berdiri memaku di ambang pintu, matanya tertuju pada sosok kecil yang memegang kunci inggris dengan gemetar. Cahaya amber dari lampu-lampu kerja yang tergantung rendah di langit-langit bengkel menciptakan bayangan panjang yang menari di antara tumpukan gir dan kabel yang menjuntai.

"Kami datang karena Han memintaku menjagamu," ucap Li Wei lagi, suaranya parau, membawa beban dari memori yang baru saja ia saksikan di chip saraf milik sahabatnya.

Anak perempuan itu, Xiao Hu, tidak langsung menurunkan senjatanya. Kacamata pelindung besarnya memantulkan pendar biru dari zirah putih Li Wei yang kini kusam dan penuh goresan. "Kau... kau memakai seragam yang sama dengan orang-orang yang membawa Kakak Han pergi," bisiknya. Suaranya kecil namun tajam, penuh dengan kewaspadaan yang terlalu dini bagi anak seusianya.

"Aku bukan lagi bagian dari mereka, Xiao Hu," Li Wei melangkah maju satu tindak, membiarkan tangannya terbuka untuk menunjukkan bahwa ia tidak memegang senjata. "Namaku Li Wei. Aku adalah komandan unitnya di Sektor 7."

Mendengar nama itu, ketegangan di bahu Xiao Hu sedikit mengendur. Ia menurunkan kunci inggrisnya, namun matanya mulai mencari-cari ke arah kegelapan di belakang Li Wei. "Di mana dia? Kakak Han selalu bilang jika ada seseorang bernama Li Wei yang datang, artinya dia sedang berada tepat di belakangmu."

Li Wei merasakan jantungnya berdenyut nyeri, sebuah resonansi emosional yang jauh lebih menyakitkan daripada kerusakan sistem sarafnya. Ia melirik Chen Xi yang berdiri di dekat pintu, mengawasi gang gelap di luar dengan Yan-Zuo yang masih aktif. Chen Xi hanya memberikan gelengan kepala kecil, sebuah peringatan bisu bahwa kejujuran saat ini bisa menghancurkan segalanya.

"Han... dia harus menyelesaikan satu tugas terakhir agar jalur menuju tempat ini tetap bersih," bohong Li Wei. Kata-kata itu terasa seperti racun di lidahnya. "Dia memintaku datang lebih dulu untuk memastikan kau aman."

"Dia selalu begitu," Xiao Hu mendengus, meski ada binar lega di matanya yang mulai berkaca-kaca. "Selalu sok pahlawan. Masuklah, cepat! Sensor udara di luar sini sangat sensitif. Jika kalian tetap berdiri di sana, radar patroli akan menangkap emisi zirahmu."

Mereka melangkah masuk ke dalam bengkel yang sempit namun tertata rapi. Chen Xi segera mengunci pintu baja itu, memutar tuas manual hingga terdengar bunyi klik yang solid. Ia kemudian mengaktifkan perangkat di lengannya, memindai seluruh ruangan.

"Tempat ini memiliki lapisan pelindung elektromagnetik yang cukup baik," gumam Chen Xi, nadanya sedikit kagum. "Bagaimana seorang anak kecil bisa membangun jammer frekuensi sekuat ini?"

"Aku bukan sekadar anak kecil, Kakak Cantik," Xiao Hu menyahut sambil berjalan menuju meja kerja yang berantakan dengan chip-chip tua. "Aku mekanik Void. Aku yang merawat semua peralatan Kakak Han sejak dia dikirim ke perbatasan. Siapa namamu?"

"Chen Xi," jawab Chen Xi pendek, matanya masih waspada memantau indikator radar di pergelangan tangannya.

"Kau terlihat seperti orang yang sedang dikejar oleh seluruh dunia, Kak Chen Xi," Xiao Hu memanjat kursi tinggi di depan meja kerjanya. "Duduklah. Zirah Kak Li Wei berbunyi sangat kasar. Suara bautnya seperti mau copot."

Li Wei duduk di sebuah peti kayu tua, melepaskan masker zirahnya dengan napas panjang. "Sistem pendingin internalnya rusak saat kami jatuh di bunker. Sarafku mulai mengalami overheat."

"Biarkan aku melihatnya," Xiao Hu melompat turun, membawa sebuah alat pindai mekanik yang sudah dimodifikasi. Ia mendekat ke arah Li Wei, gerakannya lincah dan tanpa ragu. Namun, saat ia berdiri tepat di depan dada Li Wei, ia berhenti. "Bau ini..."

Li Wei menahan napas. "Bau apa?"

"Bau hangus yang aneh," Xiao Hu mengerutkan kening, mengarahkan alat pindainya ke bahu Li Wei. "Seperti bau kabel yang terbakar bersama... darah kering? Apa Kakak Han terluka saat kalian berpisah?"

Li Wei mengepalkan tangannya di bawah meja, kuku-kukunya menusuk telapak tangan untuk mengalihkan rasa perih di dadanya. "Dia bertarung hebat, Xiao Hu. Bau ini... ini sisa-sisa pertempuran di pipa induk."

"Berhentilah bertanya dan mulai bekerja, Kecil," sela Chen Xi, mencoba mengalihkan perhatian Xiao Hu. "Kami butuh zirah ini stabil dalam sepuluh menit. Ada patroli Level 5 yang menyisir atap gedung di atas kita."

"Level 5?" Mata Xiao Hu membulat. "Kalau begitu kita tidak punya waktu untuk mengobrol. Kak Li, lepaskan plat bahumu. Aku harus melakukan reparasi saraf manual. Ini akan sedikit terasa panas."

Li Wei mengikuti instruksi itu. Saat plat logam terbuka, terlihat serat-serat saraf buatan yang berpendar oranye redup dan tidak stabil. Xiao Hu mulai bekerja dengan fokus yang luar biasa, jari-jarinya yang kecil bergerak di antara kabel-kabel mikro dengan presisi seorang ahli bedah.

"Kenapa kau membantunya secepat ini, Xiao Hu?" tanya Chen Xi sambil bersandar pada dinding, matanya tidak pernah lepas dari monitor kecil yang memantau gang luar. "Kau bahkan belum mengenal kami."

"Karena Kakak Han percaya pada kalian," jawab Xiao Hu tanpa menoleh. "Dia selalu bilang, jika dunia ini kiamat, hanya ada dua orang yang bisa dia percayai: anak kecil yang dia tinggalkan di bengkel, dan seorang perwira yang terlalu jujur untuk kebaikannya sendiri. Aku rasa Kak Li adalah orang kedua itu."

Li Wei memalingkan wajahnya ke arah bayangan di sudut bengkel. Di sana, ia melihat sebuah foto tua yang disandarkan pada kaleng pelumas. Foto Han saat masih sangat muda, merangkul Xiao Hu yang baru berusia lima tahun di depan bengkel ini. Senyum Han di foto itu terasa seperti ejekan bagi Li Wei—seorang sahabat yang kini tangannya berlumuran darah orang di foto tersebut.

"Apa kau mencintai kakakmu?" tanya Li Wei dengan nada yang sangat rendah.

Xiao Hu berhenti sejenak, alat lasnya mengeluarkan percikan api kecil. "Dia adalah segalanya yang kupunya, Kak. Ayah dan ibu dibawa ke kamp ekstraksi Qi saat aku masih bayi. Han yang membesarkanku di sini, di antara besi tua ini. Dia bilang, suatu hari nanti, kita akan pergi ke tempat di mana langit tidak berwarna merah."

Chen Xi terdiam, rasa sinis yang biasanya menjadi tamengnya seolah menguap. Ia menatap Xiao Hu, lalu beralih ke Li Wei yang tampak hancur dalam diamnya. Di dunia yang hancur oleh ideologi ini, cinta persaudaraan yang sederhana seperti ini adalah kemewahan yang sangat berbahaya.

"Zirahmu sudah selesai," ucap Xiao Hu tiba-tiba, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang kotor oleh oli. "Aku sudah mengalihkan aliran panasnya ke heat sink darurat. Tapi jangan melakukan overclock lebih dari sepuluh detik, atau sarafmu akan benar-benar meleleh."

"Terima kasih," gumam Li Wei.

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu depan. Seluruh bengkel bergetar, menjatuhkan beberapa baut dari meja kerja.

"Buka pintunya! Razia Sektor B-12! Atas nama Kekaisaran Langit!" suara berat dari pengeras suara bergema di luar, diikuti oleh suara sepatu bot militer yang seragam.

Xiao Hu tersentak, wajahnya seketika pucat. "Mereka tidak pernah melakukan razia di jam seperti ini."

"Mereka melacak sisa emisi zirahku sebelum kau memperbaikinya," desis Li Wei, tangannya langsung menyambar Bailong-Jian. "Chen Xi, amankan Xiao Hu!"

"Jangan lewat pintu depan!" Xiao Hu menarik tangan Li Wei, menuju ke arah bawah meja kerjanya yang besar. "Ada pintu rahasia menuju lorong bawah tanah faksi Void di bawah lantai ini. Cepat!"

Li Wei bergerak secepat kilat. Ia menyambar pinggang Xiao Hu dan menariknya ke bawah meja kerja besar yang terbuat dari baja tuang. Di sana, Xiao Hu menekan sebuah tuas tersembunyi yang disamarkan sebagai baut karatan. Tanpa suara, sebagian lantai beton bergeser, membuka lubang sempit yang memancarkan aroma tanah basah dan sirkuit lama.

"Masuk! Cepat!" Xiao Hu mendorong Chen Xi terlebih dahulu, lalu mengikuti di belakangnya.

Li Wei adalah yang terakhir. Sebelum ia melompat turun, ia melihat pintu depan bengkel hancur berkeping-keping. Tiga prajurit Kekaisaran dengan zirah infanteri berat menyerbu masuk, moncong senapan mereka menyapu setiap sudut ruangan. Li Wei segera menutup pintu rahasia itu tepat saat cahaya lampu senter militer menyambar posisi meja kerja.

Di dalam lorong sempit yang remang-remang, mereka merangkak dalam keheningan yang mencekam. Di atas kepala mereka, suara dentuman bot militer dan barang-barang yang dibanting terdengar sangat jelas. Xiao Hu meringkuk di antara Li Wei dan Chen Xi, tangannya mencengkeram erat ujung jubah zirah Li Wei yang compang-camping.

"Kenapa mereka mencariku, Kak Li?" bisik Xiao Hu dengan suara yang hampir tidak terdengar. Air mata mulai mengalir di balik kacamata pelindungnya yang besar. "Apa mereka juga akan membawa aku seperti mereka membawa Kakak Han?"

Li Wei terdiam, dadanya terasa sesak seolah-olah oksigen di lorong itu baru saja habis. Ia menatap tangan Xiao Hu yang bergetar. Anak ini tidak tahu bahwa kakaknya tidak akan pernah kembali. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia anggap pahlawan pelindung itu kini tersimpan dalam bentuk data dingin di saku Li Wei.

"Mereka tidak akan menyentuhmu, Xiao Hu. Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun dari mereka yang bisa membawamu," ucap Li Wei, suaranya mengandung janji yang lebih berat daripada sumpah militer mana pun yang pernah ia ucapkan.

"Kita harus terus bergerak," Chen Xi mengingatkan, matanya terpaku pada perangkat analisisnya. "Lorong ini menuju ke arah Sektor B-13, tapi ada banyak sensor gerak di depan. Xiao Hu, apa kau tahu cara mematikan radar area ini tanpa memicu alarm pusat?"

Xiao Hu menyeka air matanya dengan kasar, mencoba kembali ke mode mekaniknya. "Aku bisa melakukannya. Ada unit kendali sub-distribusi di ujung lorong ini. Jika aku bisa menyambungkan jammer buatanku ke sana, kita bisa membuat area ini terlihat seperti zona mati di peta mereka. Itu strategi 'Ghosting Frekuensi'."

"Lakukan," perintah Li Wei pelan.

Mereka sampai di sebuah ruangan kecil yang dipenuhi dengan kabel-kabel besar yang berdenyut dengan cahaya biru pucat—aliran energi Qi yang dipanen dari emisi penduduk kota. Xiao Hu bekerja dengan cepat, jemarinya yang lincah memanipulasi kabel-kabel mikro dengan presisi yang membuat Chen Xi terkesan.

"Selesai," bisik Xiao Hu. "Sekarang kita adalah hantu bagi radar mereka."

Sambil menunggu situasi di atas tenang, Xiao Hu mengeluarkan sebuah kaleng kecil dari tas pinggangnya. "Kalian pasti lapar. Ini mie kaleng terakhir yang ditinggalkan Kakak Han sebelum dia pergi. Dia bilang ini untuk perayaan jika dia pulang, tapi... aku rasa kalian lebih membutuhkannya sekarang."

Xiao Hu membuka kaleng itu, uap hangat yang berbau bumbu sederhana memenuhi ruangan sempit itu. Ia menyodorkan kaleng itu kepada Li Wei.

Li Wei menatap mie kaleng itu. Di tengah perang abadi yang dingin dan penuh teknologi penghancur, makanan hangat ini terasa begitu asing, begitu manusiawi. Ia mengambil sedikit, lalu memberikannya kepada Chen Xi. Mereka makan dalam keheningan, berbagi kehangatan kecil di tengah ancaman kematian yang mengintai di atas kepala mereka.

"Kak Li," Xiao Hu memecah kesunyian, "apa Kakak Han... apa dia masih tersenyum saat kau bertemu dengannya terakhir kali?"

Pertanyaan itu membuat Li Wei tersedak. Ia teringat tatapan kosong Han yang bersimbah darah, kode sandi terakhir di matanya, dan bagaimana pedang Bailong-Jian menembus tengkuk sahabatnya.

"Dia... dia selalu memikirkanmu, Xiao Hu," jawab Li Wei, matanya menatap tajam ke arah kegelapan lorong agar Xiao Hu tidak melihat keraguan di sana. "Dia tidak pernah berhenti berjuang untuk kembali ke sini."

Chen Xi menatap Li Wei dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada simpati, namun juga ada peringatan bahwa beban kebohongan ini akan semakin berat seiring berjalannya waktu.

"Aku tahu," Xiao Hu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan Han hingga membuat Li Wei ingin memalingkan wajah. "Dia tidak pernah ingkar janji. Dia pasti akan pulang."

Li Wei mengepalkan tangannya di balik zirah. Maafkan aku, Xiao Hu. Aku telah membunuh satu-satunya duniamu, dan sekarang aku harus berpura-pura menjadi penyelamatmu.

Suara razia di atas mulai menjauh, digantikan oleh deru mesin kendaraan yang bergerak meninggalkan lokasi. Namun, Li Wei tahu bahwa ini hanyalah permulaan. Nama mereka kini telah tersebar di setiap monitor patroli sebagai buronan tingkat tinggi.

"Kita tidak bisa tinggal di sini selamanya," ucap Chen Xi, berdiri dan merapikan senjatanya. "Jika mereka gagal menemukanku di sini, mereka akan menyisir Pasar Neon berikutnya. Kita butuh komponen untuk memperbaiki sistem Neural Overclock milikmu secara total sebelum kita melanjutkan perjalanan ke markas Void."

Li Wei bangkit, merasakan zirah yang tadi diperbaiki Xiao Hu terasa lebih stabil, meski ada rasa perih di sarafnya yang belum benar-benar hilang. "Kita akan menuju Pasar Neon. Xiao Hu, kau harus ikut dengan kami. Tempat ini tidak lagi aman bagimu."

Xiao Hu mengangguk kecil, mengemasi beberapa kunci inggris favoritnya ke dalam tas. "Aku akan membantu kalian. Aku mekanik terbaik di sektor ini, kalian akan butuh aku untuk melewati sensor-sensor di pasar itu."

Saat mereka melangkah lebih dalam ke lorong gelap menuju arah Pasar Neon, Li Wei menoleh sejenak ke arah pintu rahasia yang tertutup di atas sana. Ia meninggalkan masa lalunya sebagai perwira di sana, dan mulai melangkah sebagai seorang pelindung bagi anak yang telah ia hancurkan hidupnya secara tidak langsung. Emosi yang ia rasakan bukan lagi sekadar amarah, melainkan sebuah tekad dingin untuk memastikan pengorbanan Han tidak berakhir sia-sia di tangan sistem yang korup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!