NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Kartu Ucapan dan Pesan Teror

Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan bau kertas cetak biru memenuhi ruang rapat kecil di kantor Terra Architecture. Ruangan itu sederhana, jauh dari kemewahan lantai marmer kantor Wardhana Group, namun bagi Alana, tempat ini memiliki atmosfer yang jauh lebih murni: atmosfer kerja keras.

Rini mengetuk pintu kaca, wajahnya menyiratkan keraguan yang sudah Alana hafal. Di tangannya, sebuah tablet menyala menampilkan laman media sosial.

"Mbak Alana," panggil Rini pelan. "Saya rasa Mbak perlu lihat ini. Sebelum klien atau kontraktor lain mulai membicarakannya."

Alana meletakkan pena rotring-nya di atas meja. Ia tidak perlu melihat layar itu untuk menebak isinya. Kabar burung di Jakarta bergerak lebih cepat daripada arus lalu lintas di Sudirman.

"Siska hamil?" tanya Alana datar.

Rini mengangguk, meletakkan tablet itu di hadapan Alana. Foto itu diunggah lima belas menit yang lalu di akun pribadi Siska, namun sudah di-repost oleh beberapa akun gosip sosialita. Dalam foto itu, Siska mengenakan gaun putih longgar—pilihan busana yang disengaja untuk menonjolkan kesan rapuh dan keibuan—sambil memegang perutnya yang masih rata. Tangan Hendra, dengan jam tangan Patek Philippe emas yang mencolok, menangkup tangan Siska.

Caption-nya singkat namun mematikan: *"Berkah kecil di tengah badai. Our miracle."*

Alana menatap foto itu tanpa ekspresi. Tidak ada air mata, tidak ada rasa sakit hati layaknya seorang anak yang cemburu. Yang ada di kepalanya hanyalah kalkulasi dingin seorang arsitek yang melihat ada retakan pada struktur bangunan.

"Waktunya terlalu kebetulan," gumam Alana, jarinya mengetuk meja. "Minggu lalu Papa siap mempenjarakannya karena mark-up material. Sekarang, dia tiba-tiba jadi nyonya besar yang mengandung pewaris tahta?"

"Pak Hendra memang selalu terobsesi punya anak laki-laki, Mbak," Rini mengingatkan. "Sejak Ibu meninggal, itu satu-satunya hal yang sering beliau keluhkan saat mabuk. Siska tahu persis tombol mana yang harus ditekan."

"Benar. Ini bukan kehamilan. Ini polis asuransi," Alana berdiri, berjalan menuju papan tulis putih yang penuh dengan jadwal proyek Blue Coral. Ia mengambil spidol merah, lalu melingkari tanggal hari ini. "Siska membeli waktu. Papa tidak akan berani mengusir wanita yang mengandung anaknya, apalagi di usianya yang sekarang. Papa butuh validasi virilitas."

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Rini.

"Kirim bunga," jawab Alana singkat.

Rini terbelalak. "Mbak?"

"Kirim bunga papan paling besar. Tulis ucapan selamat yang sangat sopan, sangat formal, dan kirimkan langsung ke lobi apartemen, bukan ke unit. Pastikan semua tetangga, satpam, dan kurir melihatnya. Tulis: 'Selamat atas Kehamilan Ibu Siska Damayanti. Dari Alana Wardhana & Terra Architecture'."

Alana tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Biarkan publik tahu bahwa aku mengakuinya. Itu akan membuat Siska semakin paranoid. Dia akan bertanya-tanya, kenapa aku tidak marah? Apa yang aku rencanakan? Ketakutan adalah racun terbaik untuk wanita seperti dia."

***

Di Penthouse SCBD, suasana yang seharusnya penuh sukacita justru terasa mencekam bagi Siska. Ia duduk di tepi ranjang king size, memandangi puluhan buket bunga yang mulai berdatangan. Hendra sedang berada di kamar mandi, bersenandung pelan—suara yang sudah lama tidak terdengar di rumah ini.

Siska mengelus perutnya. Ada benih yang tumbuh di sana, itu fakta medis. Tiga test pack berbeda merek telah mengonfirmasinya pagi ini. Namun, matematika di kepalanya tidak memberikan hasil yang menenangkan.

Ia melirik ponselnya yang bergetar di atas nakas. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor yang tidak disimpan muncul di layar kunci.

*"Liat IG lo. Selamat ya. Yakin itu benih laki tua itu? Terakhir kita ketemu di Macau, lo nggak pakai pengaman, Sis."*

Jantung Siska serasa berhenti berdetak. Ia menyambar ponsel itu dengan tangan gemetar, segera menghapus pesan tersebut dan memblokir nomornya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Bayangan malam-malam liar di kasino Macau bulan lalu, saat ia frustrasi karena Hendra mulai membatasi limit kartu kreditnya, kembali menghantui.

"Sayang?"

Siska tersentak kaget, ponselnya hampir terlepas. Hendra keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Pria paruh baya itu menghampiri Siska, duduk di sampingnya, dan mencium keningnya dengan kelembutan yang membuat Siska mual.

"Kenapa pucat begitu? Mual?" tanya Hendra cemas.

"Iya, Mas. Sedikit pusing," Siska berbohong dengan fasih. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Hendra, menyembunyikan ekspresi ketakutannya. "Mungkin efek hormon."

"Nanti sore Dokter Gunawan akan datang," kata Hendra antusias. "Dokter kandungan terbaik di Jakarta. Aku sudah buat janji. Dia akan memantau kehamilanmu secara eksklusif di rumah. Aku tidak mau kamu capek-capek ke rumah sakit."

Tubuh Siska menegang. "Dokter... Gunawan? Mas, aku sudah punya rekomendasi dokter sendiri dari teman arisan. Dokter Linda, dia lebih paham... masalah wanita."

Hendra menggeleng tegas. "Tidak. Gunawan itu dokter keluarga Wardhana. Dia yang menangani ibunya Alana dulu. Aku hanya percaya padanya. Jangan membantah, ini demi anakku."

Kata *'anakku'* diucapkan dengan penekanan posesif yang membuat Siska merinding. Hendra tidak peduli pada Siska; dia peduli pada janin itu. Jika Hendra tahu ada kemungkinan 1% saja bahwa janin ini bukan miliknya, atau jika usia kehamilan di USG nanti tidak cocok dengan jadwal Hendra, tamatlah riwayat Siska.

"Baik, Mas," bisik Siska, otaknya berputar cepat mencari cara untuk memanipulasi hasil pemeriksaan nanti.

***

Sore harinya, Alana berdiri di area konstruksi proyek Blue Coral di pinggiran Jakarta. Debu beterbangan saat alat berat meratakan tanah. Ia mengenakan helm proyek putih, sepatu bot, dan rompi oranye, kontras dengan citra putri manja yang dulu melekat padanya.

Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di tepi area proyek. Elang Pradipta keluar, mengenakan kemeja biru tua yang digulung hingga siku. Ia berjalan melewati tumpukan besi beton tanpa kesulitan, matanya langsung terkunci pada Alana yang sedang berdebat dengan mandor.

"Campuran semennya harus sesuai spek, Pak!" suara Alana terdengar tegas, mengatasi deru ekskavator. "Kalau Bapak kurangi rasionya lagi demi hemat budget, saya minta Bapak angkat kaki dari proyek ini sekarang juga. Saya tidak peduli siapa yang merekomendasikan Bapak!"

Mandor itu, pria bertubuh gempal yang biasanya meremehkan arsitek wanita, tampak menciut. "Baik, Bu. Siap."

Alana berbalik dan mendapati Elang sedang mengamatinya. Ia menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan.

"Galak sekali," komentar Elang datar, namun ada kilatan apresiasi di matanya.

"Efisiensi bukan berarti menurunkan kualitas. Itu prinsip Terra," jawab Alana, menyerahkan papan jalan kepada asisten mandor. "Ada apa Tuan Investor datang ke lapangan kotor begini?"

"Memastikan uangku tidak ditanam di tanah sengketa," Elang berdiri di samping Alana, memandang hamparan lahan yang akan menjadi resor. "Dan memastikan partner bisnisku tidak kehilangan fokus karena drama keluarga."

Alana tertawa kecil, suara yang terdengar kering. "Maksudmu soal kehamilan Siska?"

"Berita itu bisa mempengaruhi persepsi investor," kata Elang. "Jika Hendra punya pewaris baru, posisi tawarmu sebagai ahli waris tunggal Wardhana Group akan melemah. Bank mungkin akan kembali melirik Hendra karena menganggap regenerasi perusahaannya aman."

"Itu kalau anaknya lahir," potong Alana dingin. "Dan kalau itu memang anak Hendra."

Elang menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Kau tahu sesuatu?"

"Aku tahu Siska," Alana menatap cakrawala, di mana matahari mulai terbenam di balik gedung-gedung pencakar langit yang jauh. "Dia penjudi, Elang. Bukan hanya di meja kasino, tapi dalam hidup. Dia mempertaruhkan segalanya di satu kartu terakhir ini. Tapi penjudi yang panik biasanya ceroboh."

Alana merogoh saku rompinya, mengeluarkan ponsel, dan menunjukkan bukti transfer yang baru saja dikirim Rini. Itu adalah data pengeluaran kartu kredit Siska bulan lalu yang sempat bocor sebelum diblokir Hendra.

"Lihat ini. Tiket ke Macau, hotel bintang lima, dan tagihan bar yang gila-gilaan. Tanggalnya bertepatan saat Papa sedang *business trip* ke Surabaya denganmu bulan lalu untuk menjegal proyek dermaga itu, kan?"

Elang mengamati tanggal di layar ponsel. Ia mengangguk perlahan. "Benar. Hendra bersamaku selama tiga hari penuh. Kami meeting sampai pagi."

"Jadi, secara biologis, jika usia kehamilannya cocok dengan tanggal itu, mustahil itu anak Papa," simpul Alana.

"Kau butuh bukti medis, Alana. Bukan asumsi," Elang mengingatkan, kembali ke mode pragmatis.

"Aku akan mendapatkannya. Tapi untuk sekarang, biarkan dia merasa aman. Biarkan perutnya membesar, biarkan dia merenovasi kamar bayi. Semakin tinggi dia terbang, semakin fatal jatuhnya nanti."

Elang menatap Alana lekat-lekat. Dua tahun lalu, gadis ini menangis karena anting plastik murah di jok mobil. Sekarang, dia merencanakan kehancuran ibu tirinya dengan ketenangan seorang jenderal perang.

"Fokus pada proyek ini, Alana," kata Elang akhirnya, suaranya melembut namun tetap tegas. "Cara terbaik membalas dendam adalah dengan menjadi lebih sukses daripada mereka. Buat Wardhana Group terlihat seperti warung kelontong dibandingkan apa yang akan kita bangun di sini."

"Setuju," Alana mengulurkan tangan. "Blue Coral akan jadi kuburan reputasi bisnis Papa."

Elang menjabat tangan itu. Kulit tangan Alana terasa kasar dan berdebu, jauh berbeda dari tangan halusnya dulu. Itu adalah tangan seorang pekerja. Dan bagi Elang, itu jauh lebih menarik daripada sutra manapun.

"Ngomong-ngomong," Elang melepaskan jabatannya. "Bunga papan yang kau kirim ke apartemen ayahmu? Jenius. Satpam di sana bilang Siska hampir pingsan saat melihatnya."

Alana menyeringai. "Itu baru hidangan pembuka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!