"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Fragmen Memori di Balik Pita
Api unggun kecil yang di nyalakan Miyuki mulai stabil, memancarkan cahaya jingga terang di wajah kami.
Sayuri menatap api itu dengan pandangan kosong, sementara Miyuki duduk di seberangnya, menunduk seolah masih merasa bersalah.
"Alexian," panggil Sayuri pelan.
"Apa kau ingin tahu lebih dalam tentang Pita jingga itu?"
Aku mengangguk pelan, membetulkan posisi duduk agar lebih dekat dengannya. Ken dan Mona pun terdiam, seolah ikut menahan napas untuk menyimak.
"Sepuluh tahun yang lalu," Sayuri memulai, suaranya terdengar setipis bisikan angin.
"Miyuki dan aku sedang bermain di taman Shinjuku Gyoen bersama Kakek. Saat itu sore hari, tepat saat langit berwarna sama dengan pita ini. Kami tidak tahu bahwa The Eraser sudah mengincar keluarga kami karena garis darah Kakek dan karena aku menolak tawaran perjodohan dengan seorang pria bernama Kaito."
"Kaito?" desisku. Nama itu seolah aku kenal, namun entah kenapa sulit bagiku untuk memahaminya.
"Iya. Dialah pemimpin tertinggi The Eraser yang sebenarnya," ucap Sayuri sambil menatapku dengan tatapan yang sangat serius.
"Aku menolak dia karena aku memang gak cinta sama dia. Dan dia... dia bukan tipe orang yang bisa menerima kata Nggak."
Miyuki mengangkat wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca mendengar nama pria yang telah menghancurkan masa kecil mereka disebut kembali.
"Pria berbaju hitam dengan badan tegap itu bukanlah pemimpin tertingginya, melainkan hanya bawahan dari Kaito.
Kakak melihat mereka lebih dulu. Pria-pria berjas hitam itu muncul dari balik pepohonan. Mereka lalu menangkap dan membunuh Kakek di Tempat itu. Mereka membawa senjata berupa tombak energi yang diujungnya terpancar listrik biru."
"Aku tahu mereka akan menangkap kami berdua karena Aku menolak perjodohan dengan Bos besar mereka," lanjut Sayuri.
"Jadi aku berlari menuju jembatan merah itu, mencoba mengalihkan perhatian mereka agar Miyuki bisa lari ke gerbang taman. Saat aku sampai di tengah jembatan, aku merasa realita di sekitarku mulai retak. Dunia mimpi dan dunia nyata seolah bertabrakan karena ketakutanku."
Sayuri menarik napas panjang, jemarinya mengelus pita yang kupakaikan di pergelangan tangannya.
"Aku melepaskan pita rambutku ini, menyelipkannya, mengikatnya di celah kayu jembatan dengan satu doa terakhir: Jika aku harus menghilang, biarkan bagian dari diriku tetap di sini agar adikku tahu ke mana aku pergi."
"Dan saat pita itu sudah terikat di sana," Miyuki menyambung dengan suara gemetar,
"aku melihat Kak Sayuri seperti tersedot ke dalam dimensi lain.
Dia tidak lari, dia tidak diculik secara fisik... dia hanya... memudar. Menjadi bagian dari senja itu sendiri. Pria-pria itu marah karena mereka kehilangan target mereka, lalu mereka menangkapku dan menghapus ingatanku tentang kejadian itu menggunakan alat mereka."
Aku tertegun.
"Lalu, kok kau bisa ingat lagi?"
"Mereka gagal total," jawab Miyuki dengan nada getir.
"Pita yang ditinggalkan Kak Sayuri di jembatan itu menjadi 'jangkar' memori bagiku. Setiap kali aku melewati taman itu, kepalaku sakit luar biasa, hingga akhirnya setahun yang lalu, ingatanku kembali pecah. Aku mulai mencari cara untuk menariknya kembali, sampai akhirnya aku bertemu dengan The Eraser lagi. Mereka menjanjikan kepulangan Kak Sayuri jika aku bisa menemukan seseorang yang 'melihat' manifestasi kakakku menyerupai diriku di dalam mimpi."
Sayuri menatap adiknya dengan kasih sayang yang dalam.
"Pita itu bukan hanya sebuah tanda, Alexian. Itu adalah janji. Dan selama sepuluh tahun aku berada di 'Sisi Lain', aku selalu berdiri di ujung jembatan itu, memegang sisi lain dari pita tersebut di alam mimpi, menunggu seseorang dengan hati yang cukup jernih untuk menemukanku."
Ia kemudian menatapku, matanya berkilau terkena pantulan api.
"Kau adalah orang itu, Alexian. Kau tidak hanya melihat pita itu dengan matamu, tapi kau merasakannya dengan jiwamu. Saat kau menyentuhnya, mengambilnya dan melilitkannya di tanganmu, kau tanpa sadar sedang menarik ujung tali yang sudah kugenggam selama sepuluh tahun."
"Tapi kenapa hanya aku?" tanyaku, suaraku mulai bergetar karena rasa tidak percaya.
"Ada ribuan orang melintasi jembatan itu. Ken dan Mona bahkan baru bisa melihatnya setelah aku menyentuhnya. Kenapa harus aku? Siapa aku sebenarnya?"
Aku menatap mereka dengan perasaan takut yang mulai merayap. Sayuri tersenyum lembut, matanya kembali menatap api unggun di depan kami.
"Apa kau benar-benar tidak ingat, Alexian? Di jembatan itu, kita dulu sering bermain bersama. Kakek percaya kau adalah anak yang baik. Beliau sering membawa aku, kau, dan Miyuki ke sana untuk bersenang-senang."
Jantungku seolah berhenti berdetak mendengarnya. Keheningan malam itu mendadak terasa menyesakkan.
"Jadi... itu alasannya kau datang ke mimpiku?" tanyaku nyaris berbisik.
"Ya, Alexian," jawabnya lembut.
"Aku datang ke mimpimu karena aku ingin kau ingat bahwa kita pernah bertemu. Sepuluh tahun yang lalu, kita adalah sahabat. Kita hanya anak-anak yang belum tahu betapa kejamnya dunia ini."
Aku termenung, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Sayuri. Tidak mungkin, batinku menolak. Aku hanya seorang perantau di kota ini. Tidak mungkin aku punya kehidupan sepuluh tahun yang lalu di tempat itu.
Namun, saat aku menatap Sayuri yang masih terpaku pada kobaran api, sesak di dadaku kembali hadir. Pantas saja mimpi itu terasa begitu nyata dan menyesakkan. Ternyata itu bukan sekadar bunga tidur.
Hening sejenak menyelimuti gubuk tua itu. Kami semua mulai menyadari bahwa pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan yang acak, melainkan rencana yang telah ditenun oleh takdir dan selembar pita jingga selama satu dekade.
"Jadi," Ken memecah kesunyian dengan suara serak, "Berarti, Kyoto bukan hanya tempat untuk mencari sebuah catatan? Disana juga tempat kalian berdua dilahirkan?"
Miyuki mengangguk pelan.
"Di sana ada rumah lama Kakek. Dan di sana jugalah, rahasia tentang bagaimana mengakhiri kutukan 'Sisi Lain' ini terkunci rapat."
Aku mengepalkan tangan, menatap kobaran api yang mulai mengecil. Kyoto bukan lagi sekadar titik di peta. Kyoto adalah jawaban atas siapa diriku sebenarnya.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.